Breaking News
light_mode
Trending Tags

Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

  • account_circle Muh. Ersyad Mamonto
  • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
  • visibility 97
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kaligrafi atau dalam Islam biasa dikenal dengan istilah al-khat mempunyai makna yang serupa di antara kedua istilah tersebut yaitu “tulisan indah”. Kaligrafi sangat erat dengan peradaban dunia Islam, selain memang sebagai produk budaya yang digunakan dalam pembakuan mushaf Qur’an, juga adanya pandangan ikonoklasme dalam Islam sehingga menempatkan kaligrafi sebagai sentrum seninya seni rupa Islam.

Ikonoklasme ini merupakan hasil dari warisan monotheis abrahamic sebelumnya (Yahudi dan Kristen) yang dilanjutkan oleh Islam—di Kristen pandangan ini mengalami perubahan secara radikal setelah bertemu dengan kebudayaan Yunani dan Romawi.

Nurcholis Madjid dalam Kaki Langit Peradaban Islam (1997) menguraikan bahwa, ikonoklasme merupakan pandangan tabu pada seni melukis makhluk bernyawa (binatang dan manusia). Hal ini tumbuh kuat dalam Islam sebelum pandangan tentang seni rupa Islam mengalami pembaharuan, terutama dengan pandangan dalam Islam tentang seni rupa yang tidak semata media untuk praktek menyekutukan Tuhan tapi lebih kepada estetikanya.

Ada dua pandangan besar dalam seni : Pertama, seni untuk seni. Yaitu pandangan yang menempatkan seni untuk kepentingan seni. Kedua, seni yang digunakan untuk kepentingan di luar seni. Misalnya, agama atau politik. Seni Islam lebih banyak diarahkan pada pandangan ke dua. Sebab di dalam Islam, segala tindak-laku kahidupan manusia berhubungan dengan  penghambaan kepada Tuhan dan punya konsekuensi jika dianggap beretentangan dengan hak tersebut.

Untuk itu, dalam posisi ini ikonoklasme merupakan bentuk kecurigaan pandangan monoteis terhadap rupa tiga dan dua dimensi yang berpotensi menggugurkan pandangan keesaan.

Adanya pandangan ikonoklasme ini, membuat kehati-hatian atau bahkan cenderung menyerang seni melukis binatang, manusia dan mematung. Sehingga pencarian seni rupa dalam Islam lebih banyak jatuh ke pola tumbuhan atau bentuk geometri ke dalam media yang tersedia. Hal itu biasa disebut dengan istilah arabesk atau bentuk lainnya yaitu kaligrafi.

Penemuan Kaligrafi (sebagai) Seninya, Seni Rupa Islam

Titik pijak kaligrafi sebagai seninya seni rupa Islam ditemukan saat proses kodifikasi Qur’an. Awalnya kaligrafi/al-khat yang berasal dari aksara arab, oleh bangsa arab yang nomaden pada waktu itu tidak terlalu begitu penting secara fungsi maupun estetika. Sebab, masa itu kecenderungan intelektualitas lebih kepada hafalan (tutur) tidak dengan aksara (tulisan).
Setelah Qur’an turun, memungkinkan untuk perubahan intelektualitas di Arab karena menggunakan aksara sebagai media syiar Islam (penyusunan mushaf).

Salah satu karya kaligrafi milik Perupa Gorontalo terletak di sebelah kanan dekat pintu Aula Kantor PWNU Gorontalo/bakukabar.id

Untuk masa sekarang, yang populer dikenal jenis-jenis kaligrafi dalam penulisan Qur’an secara fungsi maupun estetik,  biasa dikenal dengan al-Aqlam as-Sittah, (naskhi, tsuluts, raihani, tauqi’, muhaqaq dan riq’ah).

Harus diakui, awal proses penggunaan kaligrafi secara serius baru sebagai fungsi (penulisan Qur’an) dan masih kesusahan untuk dibaca oleh khlayak umum. Kitab Athlas al-Khath wa al-Khuthûth karya Habibullah Fada’ili yang dikutip Sirajudin A.R (2014) mengemukakan bahwa, masa awal kaligrafi untuk penulisan Qur’an baru digunakan jenis tulisan kufi tanpa tanda baca. Nanti setelah Abu al-Aswad al-Du’ali (w 69 H) dan penerus-penerusnya, kesulitan tersebut dapat teratasi, setelah diberikan tanda baca.

Estetika kaligrafi Islam sejatinya dirumuskan dari formula rasio, bentuk yang sederhana dengan proporsi yang tepat. Contohnya dalam jenis tulisan tsuluts, ada pandangan bahwa susunan huruf ini adalah bentukan dari golden ratio, dimana setiap 1/3 bagian (anatomi huruf) terdapat lengkungan yang proporsional, sehingga hal ini menimbulkan kesan estetika yang tinggi.

Kaligrafi Islam juga mempunyai ciri khas dalam mengukur proporsi setiap anatominya yaitu dengan titik mata pena atau tinggi huruf alif.

Penggunaan proporsi titik atau asas geometri ini dipandu kembali oleh Yaqut al-Musta’simi (w.698 H) dalam proses penetapan al-aqlam as-sittah. Yaqut mengembalikan hukum-hukum sebelumnya, yang ditetapkan oleh Ibn Muqlah dan Ibn Bawwab dikenal, juga dikenal dengan istilah al-Khat al-Mansub (kaligrafi berstandar) (Sirajudin, 2014).

Hingga kini kaligrafi Islam berkembang sangat pesat. Selain dipengaruhi oleh fungsinya dalam menuliskan Qur’an, dengan adanya kompetisi menulis kaligrafi di seluruh dunia melahirkan jenis dan gaya yang lebih kompleks dari sebelumnya.
Di Indonesia sendiri misalnya, seni ini (kaligrafi) ada berbagai jenis kompetisi dalam Musabaqah Khatil Qur’an (MKQ) terangkum dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diperlombakan.

Dua karya kaligrafi yang berada tepat di pintu masuk Aula Kantor PWNU Gorontalo/bakukabar.id

Di antara yang paling baru adalah jenis lomba kaligrafi kontemporer. Jenis kaligrafi ini tidak lagi terkungkung dengan kebakuan kaidah al-Khat al-Mansub. Sebab kaligrafi jenis ini dipadukan dengan gaya seni rupa pada umumnya, seperti surealis, naturalis, abstrak dll. Sehingga tidak heran anatomi huruf bisa hadir dalam berbagai rupa.

Perkembangan ini secara umum menimbulkan dua pandangan dalam kaligrafi Islam. Pertama hadir sebagai fungsi untuk penulisan Qur’an. Penggunaan al-Khat al-Mansub lebih ditekankan dan lebih banyak dikhususkan pada jenis huruf naskhi dengan alasan mudah dibaca. Kedua, sebagai dekoratif. Misalnya jenis tulisan seperti tsuluts dengan proporsi huruf yang disusun atau ditumpuk, dengan ditambahkan tazinat (hiasan untuk mengisi ruang-ruang yang kosong agar proporsional) membuat tulisan ini lebih cocok sebagai dekorasi karena keindahannya dan susah dibaca.

Jenis kaligrafi yang belakangan muncul seperti kontemporer atau modern art yang membebaskan penggunaan gaya baku, juga membuatnya sulit untuk dibaca dan lebih kepada dekoratif.

Kuatnya arus pandangan kedua, kaligrafi sebagai dekoratif, mengisyaratkan bahwa, seni ini hadir dan berkembang sebagai sentrum seni rupanya Islam. Sebab, keindahan yang dihadirkan bisa dinikmati khalayak umum—karena tidak hanya untuk ibadah. Meski memang kaligrafi masih  berkaitan dengan ekspresi berketuhanan, namun dengan adanya berbagai gaya dan jenis kaligrafi dalam Islam bisa merangkum semua kalangan dan tidak terbatas pada skop agama.

Belakangan juga muncul kaligrafi kontemporer dihadirkan dalam ruang yang lebih progresif. Misalnya karya Mohamad Katili dari Gorontalo, yang memotret kerusakan lingkungan dengan ayat-ayat tentang itu.

Muh. Ersyad Mamonto

Ada dua karya : Pertama dengan judul “Al-Rum 41” (2017), yang memuat tentang keresahan manusia meruntuhkan batas nalar, batas laut dan daratan. Lukisan ini diilustrasikan dengan hutan mangrove yang gundul dengan tangan-tangan manusia yang merusaknya. Kedua, “Bulalo Limutu” (2018) dengan mengutip penggalan surat al-Anbiya ayat 30, yang artinya “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”.

Lukisan ini memotret danau Limboto yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang mengalami perubahan dan kerusakan lambat laun. Katili merupakan lukisan ini dengan relief yang mencatat tahun-tahun beserta keadaan danau limboto tiap-tiap masa dan perubahannya.

Kaligrafi kontemporer Katili ini, bisa dipandang sebagai warna yang lebih segar. Menunjukan optimisme seni rupa Islam yang berkembang pesat, dan peka dengan manusia dan alam. Tidak menutup kemungkinan kaligrafi sebagai seni rupanya Islam bisa menjadi wacana kuat yang lebih progresif dan tidak sekedar fungsinya dalam penulisan Qur’an atau bentuk dekoratif. Hal ini akan mengarahkan arus kaligrafi Islam sebagai seni rupa yang bergerak lebih dinamis.

(Peneliti di Inomasa Study Club)

  • Penulis: Muh. Ersyad Mamonto

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Makassar – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan resmi merilis pernyataan sikap terkait polemik dugaan penyimpangan kuota haji yang menyeret nama mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut). Ketua GP Ansor Sulsel, Muhammad Ridwan Yusuf, menegaskan bahwa seluruh kader di daerah tetap berada dalam satu komando yang solid. Ia menyatakan bahwa GP […]

  • Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Jembatani Komunikasi Warga Tuli

    Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Jembatani Komunikasi Warga Tuli

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Komitmen untuk membangun masyarakat yang inklusif terus digalakkan oleh Yayasan Gorontalo Baik Indonesia (Goroba). Bersama Gerakan Kesejahteraan Untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) cabang Gorontalo, Goroba menggelar kelas bahasa isyarat yang diikuti oleh 50 relawan, Minggu (4/10/20225). Kelas bahasa isyarat  ini mendapat dukungan anggota DPR Rachmat Gobel yang langsung memfasilitasi ruang kelas kantor DPW NasDem sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan. Kelas […]

  • Lalampa: Kue Tradisional Gorontalo yang Kaya Cita Rasa dan Sejarah

    Lalampa: Kue Tradisional Gorontalo yang Kaya Cita Rasa dan Sejarah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Di antara beragam kuliner Nusantara yang menggoda selera, Lalampa menjadi salah satu kue tradisional khas Gorontalo yang patut diperkenalkan lebih luas. Kue ini merupakan simbol kekayaan kuliner pesisir Sulawesi, terutama dari masyarakat Gorontalo yang kaya akan rempah dan hasil laut. Sekilas, Lalampa terlihat seperti lemper dari Jawa. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan keunikan […]

  • Berita Duka: Dunia Hiburan Indonesia Kehilangan Mat Solar

    Berita Duka: Dunia Hiburan Indonesia Kehilangan Mat Solar

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Mat Solar, yang memiliki nama asli Nasrullah, dikabarkan telah meninggal dunia pada pukul 22.30 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Senin, 17 Maret 2025. Berita ini dikonfirmasi oleh Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka melalui unggahannya di akun X. Ia […]

  • “Re-historiografi Gorontalo”

    “Re-historiografi Gorontalo”

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Dalam sebuah obrolan melalui whatsApp, sahabat saya Arief Abbas mencoba mengajak saya untuk membincang kembali Gorontalo, yang dimaksud adalah “Re-historigrafi Gorontalo”. Menurut Arief selama ini sejarah Gorontalo hanya menjelaskan Sultan Amai, Matolodulakiki, Raja Eyato dan beberapa lainnya. Bagi Arief banyak hal soal Gorontalo yang kurang diulas misalnya Wato, Dayango, Sejarah mengenai orang-orang tertindas/terpinggirkan dan lain […]

  • Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo. Jika digali dari sejarah lokal dan […]

expand_less