Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

  • account_circle Muh. Ersyad Mamonto
  • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
  • visibility 209
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kaligrafi atau dalam Islam biasa dikenal dengan istilah al-khat mempunyai makna yang serupa di antara kedua istilah tersebut yaitu “tulisan indah”. Kaligrafi sangat erat dengan peradaban dunia Islam, selain memang sebagai produk budaya yang digunakan dalam pembakuan mushaf Qur’an, juga adanya pandangan ikonoklasme dalam Islam sehingga menempatkan kaligrafi sebagai sentrum seninya seni rupa Islam.

Ikonoklasme ini merupakan hasil dari warisan monotheis abrahamic sebelumnya (Yahudi dan Kristen) yang dilanjutkan oleh Islam—di Kristen pandangan ini mengalami perubahan secara radikal setelah bertemu dengan kebudayaan Yunani dan Romawi.

Nurcholis Madjid dalam Kaki Langit Peradaban Islam (1997) menguraikan bahwa, ikonoklasme merupakan pandangan tabu pada seni melukis makhluk bernyawa (binatang dan manusia). Hal ini tumbuh kuat dalam Islam sebelum pandangan tentang seni rupa Islam mengalami pembaharuan, terutama dengan pandangan dalam Islam tentang seni rupa yang tidak semata media untuk praktek menyekutukan Tuhan tapi lebih kepada estetikanya.

Ada dua pandangan besar dalam seni : Pertama, seni untuk seni. Yaitu pandangan yang menempatkan seni untuk kepentingan seni. Kedua, seni yang digunakan untuk kepentingan di luar seni. Misalnya, agama atau politik. Seni Islam lebih banyak diarahkan pada pandangan ke dua. Sebab di dalam Islam, segala tindak-laku kahidupan manusia berhubungan dengan  penghambaan kepada Tuhan dan punya konsekuensi jika dianggap beretentangan dengan hak tersebut.

Untuk itu, dalam posisi ini ikonoklasme merupakan bentuk kecurigaan pandangan monoteis terhadap rupa tiga dan dua dimensi yang berpotensi menggugurkan pandangan keesaan.

Adanya pandangan ikonoklasme ini, membuat kehati-hatian atau bahkan cenderung menyerang seni melukis binatang, manusia dan mematung. Sehingga pencarian seni rupa dalam Islam lebih banyak jatuh ke pola tumbuhan atau bentuk geometri ke dalam media yang tersedia. Hal itu biasa disebut dengan istilah arabesk atau bentuk lainnya yaitu kaligrafi.

Penemuan Kaligrafi (sebagai) Seninya, Seni Rupa Islam

Titik pijak kaligrafi sebagai seninya seni rupa Islam ditemukan saat proses kodifikasi Qur’an. Awalnya kaligrafi/al-khat yang berasal dari aksara arab, oleh bangsa arab yang nomaden pada waktu itu tidak terlalu begitu penting secara fungsi maupun estetika. Sebab, masa itu kecenderungan intelektualitas lebih kepada hafalan (tutur) tidak dengan aksara (tulisan).
Setelah Qur’an turun, memungkinkan untuk perubahan intelektualitas di Arab karena menggunakan aksara sebagai media syiar Islam (penyusunan mushaf).

Salah satu karya kaligrafi milik Perupa Gorontalo terletak di sebelah kanan dekat pintu Aula Kantor PWNU Gorontalo/bakukabar.id

Untuk masa sekarang, yang populer dikenal jenis-jenis kaligrafi dalam penulisan Qur’an secara fungsi maupun estetik,  biasa dikenal dengan al-Aqlam as-Sittah, (naskhi, tsuluts, raihani, tauqi’, muhaqaq dan riq’ah).

Harus diakui, awal proses penggunaan kaligrafi secara serius baru sebagai fungsi (penulisan Qur’an) dan masih kesusahan untuk dibaca oleh khlayak umum. Kitab Athlas al-Khath wa al-Khuthûth karya Habibullah Fada’ili yang dikutip Sirajudin A.R (2014) mengemukakan bahwa, masa awal kaligrafi untuk penulisan Qur’an baru digunakan jenis tulisan kufi tanpa tanda baca. Nanti setelah Abu al-Aswad al-Du’ali (w 69 H) dan penerus-penerusnya, kesulitan tersebut dapat teratasi, setelah diberikan tanda baca.

Estetika kaligrafi Islam sejatinya dirumuskan dari formula rasio, bentuk yang sederhana dengan proporsi yang tepat. Contohnya dalam jenis tulisan tsuluts, ada pandangan bahwa susunan huruf ini adalah bentukan dari golden ratio, dimana setiap 1/3 bagian (anatomi huruf) terdapat lengkungan yang proporsional, sehingga hal ini menimbulkan kesan estetika yang tinggi.

Kaligrafi Islam juga mempunyai ciri khas dalam mengukur proporsi setiap anatominya yaitu dengan titik mata pena atau tinggi huruf alif.

Penggunaan proporsi titik atau asas geometri ini dipandu kembali oleh Yaqut al-Musta’simi (w.698 H) dalam proses penetapan al-aqlam as-sittah. Yaqut mengembalikan hukum-hukum sebelumnya, yang ditetapkan oleh Ibn Muqlah dan Ibn Bawwab dikenal, juga dikenal dengan istilah al-Khat al-Mansub (kaligrafi berstandar) (Sirajudin, 2014).

Hingga kini kaligrafi Islam berkembang sangat pesat. Selain dipengaruhi oleh fungsinya dalam menuliskan Qur’an, dengan adanya kompetisi menulis kaligrafi di seluruh dunia melahirkan jenis dan gaya yang lebih kompleks dari sebelumnya.
Di Indonesia sendiri misalnya, seni ini (kaligrafi) ada berbagai jenis kompetisi dalam Musabaqah Khatil Qur’an (MKQ) terangkum dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diperlombakan.

Dua karya kaligrafi yang berada tepat di pintu masuk Aula Kantor PWNU Gorontalo/bakukabar.id

Di antara yang paling baru adalah jenis lomba kaligrafi kontemporer. Jenis kaligrafi ini tidak lagi terkungkung dengan kebakuan kaidah al-Khat al-Mansub. Sebab kaligrafi jenis ini dipadukan dengan gaya seni rupa pada umumnya, seperti surealis, naturalis, abstrak dll. Sehingga tidak heran anatomi huruf bisa hadir dalam berbagai rupa.

Perkembangan ini secara umum menimbulkan dua pandangan dalam kaligrafi Islam. Pertama hadir sebagai fungsi untuk penulisan Qur’an. Penggunaan al-Khat al-Mansub lebih ditekankan dan lebih banyak dikhususkan pada jenis huruf naskhi dengan alasan mudah dibaca. Kedua, sebagai dekoratif. Misalnya jenis tulisan seperti tsuluts dengan proporsi huruf yang disusun atau ditumpuk, dengan ditambahkan tazinat (hiasan untuk mengisi ruang-ruang yang kosong agar proporsional) membuat tulisan ini lebih cocok sebagai dekorasi karena keindahannya dan susah dibaca.

Jenis kaligrafi yang belakangan muncul seperti kontemporer atau modern art yang membebaskan penggunaan gaya baku, juga membuatnya sulit untuk dibaca dan lebih kepada dekoratif.

Kuatnya arus pandangan kedua, kaligrafi sebagai dekoratif, mengisyaratkan bahwa, seni ini hadir dan berkembang sebagai sentrum seni rupanya Islam. Sebab, keindahan yang dihadirkan bisa dinikmati khalayak umum—karena tidak hanya untuk ibadah. Meski memang kaligrafi masih  berkaitan dengan ekspresi berketuhanan, namun dengan adanya berbagai gaya dan jenis kaligrafi dalam Islam bisa merangkum semua kalangan dan tidak terbatas pada skop agama.

Belakangan juga muncul kaligrafi kontemporer dihadirkan dalam ruang yang lebih progresif. Misalnya karya Mohamad Katili dari Gorontalo, yang memotret kerusakan lingkungan dengan ayat-ayat tentang itu.

Muh. Ersyad Mamonto

Ada dua karya : Pertama dengan judul “Al-Rum 41” (2017), yang memuat tentang keresahan manusia meruntuhkan batas nalar, batas laut dan daratan. Lukisan ini diilustrasikan dengan hutan mangrove yang gundul dengan tangan-tangan manusia yang merusaknya. Kedua, “Bulalo Limutu” (2018) dengan mengutip penggalan surat al-Anbiya ayat 30, yang artinya “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup”.

Lukisan ini memotret danau Limboto yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang mengalami perubahan dan kerusakan lambat laun. Katili merupakan lukisan ini dengan relief yang mencatat tahun-tahun beserta keadaan danau limboto tiap-tiap masa dan perubahannya.

Kaligrafi kontemporer Katili ini, bisa dipandang sebagai warna yang lebih segar. Menunjukan optimisme seni rupa Islam yang berkembang pesat, dan peka dengan manusia dan alam. Tidak menutup kemungkinan kaligrafi sebagai seni rupanya Islam bisa menjadi wacana kuat yang lebih progresif dan tidak sekedar fungsinya dalam penulisan Qur’an atau bentuk dekoratif. Hal ini akan mengarahkan arus kaligrafi Islam sebagai seni rupa yang bergerak lebih dinamis.

(Peneliti di Inomasa Study Club)

  • Penulis: Muh. Ersyad Mamonto

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Apa di Balik Pertemuan Prabowo dan Lukashenko? Ternyata Ini Hasilnya

    Ada Apa di Balik Pertemuan Prabowo dan Lukashenko? Ternyata Ini Hasilnya

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 328
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Republik Belarus Aleksandr Lukashenko di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/7/2026), menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang menandai semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Lukashenko menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra penting Belarus di kawasan Asia Tenggara. Ia menyebut hubungan kedua negara terus […]

  • Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan Play Button

    Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 216
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama KH Said Aqil Siradj bukan sosok asing dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Selama dua periode memimpin PBNU, ia dikenal sebagai kiai yang vokal dan tak segan mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk di era Presiden Joko Widodo, terutama ketika kebijakan dinilai merugikan rakyat kecil dan kaum lemah. Dalam sejumlah pernyataan yang kembali ramai dibicarakan, Said […]

  • KH Zulfa Mustofa: NU Sedang Menata Diri, Bukan Berkonflik

    KH Zulfa Mustofa: NU Sedang Menata Diri, Bukan Berkonflik

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 201
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya perbincangan di media sosial mengenai kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU), Penjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Rapat Pleno PBNU kelompok Sultan, KH Zulfa Mustofa, memilih untuk meluruskan keadaan dengan nada yang menyejukkan. Ia menegaskan bahwa NU tidak sedang berada dalam pusaran konflik, melainkan tengah menjalani proses penegakan […]

  • Gus Yahya: Muktamar PBNU Bisa Digelar Kapan Saja Asal Penuhi Syarat Konstitusional

    Gus Yahya: Muktamar PBNU Bisa Digelar Kapan Saja Asal Penuhi Syarat Konstitusional

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 204
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan usulan percepatan pelaksanaan Muktamar PBNU selama seluruh ketentuan konstitusional organisasi dipenuhi. Gus Yahya menyatakan, Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi NU bisa digelar kapan saja, bahkan “besok pagi”, asalkan dipimpin oleh dua pemegang mandat tertinggi organisasi, yakni Rais Aam PBNU […]

  • Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 457
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar (Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto)   Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Terhitung sejak tanggal 25-30 November 2025, terus mendapatkan bantuan dari berbagai pihak untuk kemanusiaan dan juga pemulihan. Banjir yang terjadi di Aceh dan Sumatera bukan semata-mata karena faktor musim hujan dengan […]

  • Nelayan Terselamatkan Setelah 4 Jam Terapung di Laut Muara Berau, Solidaritas Komunitas Nelayan Tersorot

    Nelayan Terselamatkan Setelah 4 Jam Terapung di Laut Muara Berau, Solidaritas Komunitas Nelayan Tersorot

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 378
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kejadian menegangkan terjadi di perairan Muara Berau, Kalimantan Timur, ketika seorang nelayan bernama Pak Usman terombang-ambing di laut selama sekitar empat jam setelah perahunya tenggelam akibat menabrak kayu yang mengapung, Selasa (24/3/2026). Insiden ini terjadi tanpa pelampung keselamatan, namun beruntung nelayan lain yang berada di sekitar lokasi berhasil mengevakuasi Pak Usman dengan selamat. […]

expand_less