Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sejarah Peringatan 1 Muharram: Dari Zaman Nabi hingga Tradisi Nusantara

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
  • visibility 134
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

1 Muharram merupakan hari pertama dalam kalender Hijriah yang menandai pergantian tahun baru Islam. Bagi umat Muslim, Muharram memiliki makna spiritual yang mendalam.

Tak hanya bulan yang penuh keutamaan, tetapi juga menjadi simbol perubahan, hijrah, dan refleksi keagamaan.

Bulan Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam, melainkan momentum spiritual yang sarat nilai-nilai keutamaan seperti taqwa, muhasabah, perjuangan moral, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Ia mengajak umat Islam untuk memperkuat komitmen kepada Allah, menegakkan kebenaran, serta memperkuat solidaritas dan kedamaian sosial. Bagaimana sejarah peringatan 1 Muharram berkembang dari masa ke masa?

Awal Penetapan Kalender Hijriah

Sebelum kalender Hijriyah, umat Islam belum memiliki sistem penanggalan resmi. Surat-menyurat dan pencatatan peristiwa seringkali membingungkan karena tidak ada acuan waktu yang seragam.

Masalah ini muncul saat Abu Musa al-Ash’ari, gubernur Basrah, menerima surat dari Khalifah Umar yang tidak mencantumkan tahun, sehingga memicu usulan untuk menetapkan kalender resmi bagi umat Islam.

Kalender Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sekitar tahun ke-17 Hijriah. Saat itu, muncul kebutuhan untuk menetapkan sistem penanggalan resmi dalam administrasi pemerintahan Islam.

Setelah musyawarah, disepakati bahwa peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah menjadi titik tolak perhitungan tahun.

“Hijrah adalah pemisah antara yang haq dan yang batil.”— Khalifah Umar bin Khattab (HR. Ahmad)

Walau penanggalan Hijriah baru disahkan di masa Umar, peristiwa hijrah sendiri terjadi pada bulan Rabiul Awal, bukan Muharram.

Namun, Muharram dipilih sebagai awal tahun karena berdekatan dengan bulan Dzulhijjah (musim haji), saat umat Islam memperbarui komitmen keagamaannya.

Keutamaan Bulan Muharram

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…”
(QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan menjauhi segala bentuk kekerasan dan meningkatkan amal ibadah.

Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai “Syahrullah” (bulan Allah), menjadikannya satu dari empat bulan suci (al-asyhur al-hurum) dalam Islam.

Puasa pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura sangat dianjurkan.

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.”— (HR. Muslim)

Hari Asyura juga memperingati berbagai peristiwa penting dalam sejarah para nabi, seperti keselamatan Nabi Musa dari kejaran Firaun dan tobat Nabi Adam.

Peringatan Muharram di Masa Awal Islam

Tradisi paling menonjol yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat di bulan Muharram adalah puasa pada hari Asyura (10 Muharram). Bahkan sebelum puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura sudah dikenal dan dijalankan.

Dari Aisyah RA, ia berkata:
“Hari Asyura adalah hari yang biasa dipuasai oleh Quraisy pada masa Jahiliyah, dan Rasulullah SAW juga biasa berpuasa pada hari itu. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau juga berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dan tidak lagi wajib.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, 1 Muharram belum dijadikan hari perayaan tahunan seperti yang dikenal sekarang.

Namun puasa Asyura sangat dianjurkan. Setelah kewajiban puasa Ramadhan diturunkan, puasa Asyura menjadi sunah muakkadah (sangat dianjurkan).

Di masa Khulafaur Rasyidin dan pemerintahan Islam selanjutnya, bulan Muharram digunakan sebagai momen doa bersama, introspeksi diri, dan mengenang perjalanan hijrah Nabi.

Tragedi Karbala dan Peringatan Asyura

Tragedi Karbala adalah salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Islam, yang terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah (680 Masehi), di sebuah tempat bernama Karbala, yang sekarang berada di Irak.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perpecahan politik dan spiritual umat Islam, terutama antara kelompok Sunni dan Syiah.

Tokoh utama dalam tragedi ini adalah Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, putra dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra.

Ia menolak membaiat Yazid bin Muawiyah, khalifah dari dinasti Umayyah, yang dianggap zalim dan tidak layak memimpin umat Islam. Penolakan ini berujung pada konfrontasi berdarah.

Bagi kalangan Syiah, tanggal 10 Muharram juga menjadi hari duka karena mengenang syahidnya cucu Nabi Muhammad, Imam Husain bin Ali dalam tragedi Karbala (tahun 61 H). Sejak saat itu, peringatan Muharram, terutama Hari Asyura, juga menjadi ajang mengenang nilai perjuangan dan pengorbanan.

“Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala.”— Ungkapan populer Syiah untuk mengingat semangat perjuangan Husain

Tradisi Peringatan Muharram di Nusantara

Di berbagai wilayah Nusantara, bulan Muharram diperingati dengan cara yang khas. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), misalnya, Muharram dijadikan bulan santunan anak yatim. Hal ini didasarkan pada semangat kasih sayang dan kepedulian sosial.

Di banyak wilayah Jawa, Muharram dikenal sebagai bulan Suro. Masyarakat membuat “bubur suro” sebagai simbol keselamatan dan berkah. Bubur ini biasanya dibagikan kepada tetangga dan fakir miskin. Diiringi dengan pengajian, doa bersama, dan tahlilan.

Warga melakukan ritual tolak bala dengan berbagai bentuk: Membuat sesaji atau hidangan yang dibagikan ke laut atau sungai. Pembacaan doa keselamatan agar terhindar dari bencana selama setahun ke depan.

Nilai Islam dan budaya lokal berpadu dalam semangat perlindungan dan pengharapan kepada Allah.

Berdasarkan hadis: “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim kelak seperti ini di surga.” (HR. Bukhari)

Banyak masjid dan pesantren di Indonesia mengadakan santunan anak yatim pada 10 Muharram (Asyura). Kegiatan ini menjadi ajang solidaritas sosial yang tinggi dalam masyarakat.

“Salah satu amalan utama di bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim. Ini sudah menjadi tradisi pesantren sejak dulu.” — KH. Abdul Wahab Chasbullah

Di Gorontalo, Sulawesi, masyarakat menggelar doa bersama dan makan kue khas Gorontalo, tradisi memasak dan berbagi makanan seperti kue apangi (apang colo), kue perahu, dan nasi kuning.

Di Aceh, ada tradisi Khanduri Asyura, yakni memasak bubur Asyura secara massal sebagai lambang kebersamaan.

Makna Reflektif Peringatan Muharram

Peringatan 1 Muharram bukanlah seremoni semata, melainkan ajakan untuk melakukan hijrah batin: berpindah dari gelap menuju terang, dari lalai menuju taat, dari ego menuju empati.

Ini menjadi relevan dalam kondisi umat hari ini yang memerlukan pembaruan moral dan spiritual.

“Hijrah adalah tentang perubahan diri, bukan hanya berpindah tempat. Inilah semangat 1 Muharram yang sejati.”— Syekh Nawawi al-Bantani, dalam tafsir Marah Labid

Peringatan 1 Muharram adalah warisan sejarah yang sarat makna. Ia mengajarkan nilai hijrah, keadilan, solidaritas, dan kemanusiaan.

Dari zaman Nabi hingga kini, Muharram terus hidup sebagai penanda pergantian waktu dan momentum spiritual untuk umat Islam di seluruh dunia.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Mandulnya Intelektual hingga Salah Paham Membaca Dunia

    Dari Mandulnya Intelektual hingga Salah Paham Membaca Dunia

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Kita sedang terbiasa menilai tanpa benar-benar memahami. Dunia dibaca dari permukaan, sementara fondasinya diabaikan. Kita bicara tentang kemajuan China tanpa menyentuh Marxism-nya, dan mengomentari Iran tanpa mengerti Syiah-nya. Di situlah letak masalahnya: pengetahuan tidak lagi dipakai untuk membongkar, tapi sekadar untuk ikut berbicara, itulah mengapa kebenaran sering kalah cepat dari hal yang sekadar menarik. Di […]

  • LBH PB PMII saat berada di ruang sidang untuk mengajukan permohonan penangguhan penahanan.

    Ibu dan Bayi 7 Bulan Mendekam di Balik Jeruji Besi, LBH PB PMII Nilai Keadilan Masih Setengah Hati

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, JAKARTA – Potret buram penegakan hukum di Indonesia kembali mencuat. Seorang ibu yang terjerat kasus dugaan penggelapan terpaksa membawa bayinya yang baru berusia 7 bulan ke dalam sel tahanan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara (Jakut) yang dibacakan pada, Kamis (2/4/2026). Meski upaya hukum telah dilakukan, jeritan bayi di balik terali besi seolah tak […]

  • Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, resmi mengukuhkan Muhammad Aras Prabowo sebagai Doktor Ilmu Akuntansi dalam sidang terbuka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Sabtu (27/9). Aras meraih gelar doktor lewat disertasi berjudul “Nilai-Nilai Teseng dalam Konstruksi Akuntabilitas di Sektor Pertanian”. Penelitiannya mengangkat kearifan lokal masyarakat Bugis Bone, khususnya […]

  • BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominasi Laporan 10–11 Februari 2026 di Jawa Tengah

    BNPB: Bencana Hidrometeorologi Dominasi Laporan 10–11 Februari 2026 di Jawa Tengah

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah kejadian bencana yang terjadi pada periode 10 hingga 11 Februari 2026. Dalam laporan tersebut, bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian di wilayah Provinsi Jawa Tengah akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. Hujan intensitas sedang disertai angin kencang melanda Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, pada […]

  • Media Thailand Sebut SEA Games ke-33 Ajang Paling Terlupakan dalam Sejarah

    Media Thailand Sebut SEA Games ke-33 Ajang Paling Terlupakan dalam Sejarah

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Surat kabar ternama Thailand, Thairath, secara terbuka mengakui bahwa SEA Games ke-33 yang digelar di negaranya sendiri merupakan salah satu ajang olahraga paling buruk penyelenggaraannya dan “tidak layak dikenang” dalam sejarah pesta olahraga Asia Tenggara. Dalam artikelnya yang berjudul “SEA Games yang Tidak Layak Dikenang”, Thairath memisahkan secara tegas antara prestasi atlet dan […]

  • Putra Banggai Murka di RDP: DPRD Sulteng Soroti Dugaan Kriminalisasi dan Izin Tambang PT Pantas Indomining

    Putra Banggai Murka di RDP: DPRD Sulteng Soroti Dugaan Kriminalisasi dan Izin Tambang PT Pantas Indomining

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Firman Dauda
    • visibility 361
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Sulteng – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tengah bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan PT Pantas Indomining berlangsung alot. Rapat tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi tegas menyangkut sengketa lahan, dugaan kriminalisasi warga, hingga persoalan dokumen perizinan perusahaan. Dalam forum itu, DPRD menyoroti aktivitas pertambangan […]

expand_less