Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Membangun Dunia Baru: Prospek Dunia Pasca-Amerika di Tengah Kebangkitan China

  • account_circle Muhammad Suryadi R
  • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
  • visibility 401
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia di abad ke-21 bergerak kian cepat daripada kemampuan manusia untuk merenungkannya. Inovasi teknologi, kecerdasan buatan, dan konektivitas global menciptakan kesan bahwa umat manusia telah melampaui batas-batas lama sejarah. Tapi di balik kemajuan itu, dunia justru menampakkan kerapuhannya dengan telanjang bulat bahwa perang kembali menjadi bahasa politik, krisis kemanusiaan diperlakukan sebagai gangguan statistik, dan lembaga internasional kehilangan daya moralnya. Kita hidup di zaman ambivalen, yakni dimana dunia semakin terhubung, tetapi empati semakin membelum.

Dalam konteks inilah wacana tentang dunia pasca-Amerika menjadi relevan. Amerika Serikat tidak runtuh, tidak pula menghilang dari panggung global. Tapi ia tidak lagi menjadi sentral kekuatan tunggal dunia. Meminjam argumen Fareed Zakaria dalam bukunya The Post-American World, yang terjadi adalah perubahan struktur kekuasaan global, yakni bangkitnya aktor-aktor baru, terutama di Asia dan Global South, serta melemahnya dominasi tunggal Barat. Dunia tidak lagi unipolar, tetapi multipolar atau bahkan non-polar.

Dibalik perubahan ini muncul pertanyaan yang lebih fundamental daripada sekadar pertanyaan geopolitik: apakah dunia yang tidak lagi Amerika-sentris akan menjadi dunia yang lebih adil, atau justru lebih kacau? Apakah berakhirnya satu pusat kekuasaan berarti lahirnya tatanan yang lebih manusiawi, atau hanya memunculkan bayang-bayang imperium baru?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya bukan hal baru. Lebih dari enam dekade lalu, seorang pemimpin dari negara yang baru merdeka telah mengajukannya di forum internasional paling bergengsi di dunia.

Soekarno dan Imajinasi Dunia Tanpa Imperium

Pidato Soekarno di Sidang Umum PBB tahun 1957 berjudul To Build the World Anew adalah salah satu momen intelektual paling berani dalam sejarah diplomasi Global South. Soekarno tidak datang membawa senjata, modal, atau ancaman. Ia datang membawa gagasan dan keberanian moral untuk menantang fondasi tatanan dunia yang mapan.

Soekarno memahami bahwa kolonialisme tidak berhenti ketika bendera penjajah diturunkan. Ia hanya berganti bentuk. Dunia pasca-Perang Dunia II, menurut Soekarno, masih diatur oleh logika yang sama, yakni siapa yang paling kuat maka ia berhak menentukan, siapa yang lemah harus menyesuaikan diri. Perserikatan Bangsa-Bangsa memang lahir sebagai simbol perdamaian, tetapi struktur internalnya terutama hak veto menyimpan ketimpangan yang dilembagakan.

Sebab itu, seruan Soekarno untuk membangun dunia baru bukan sebatas romantisme republik muda, melainkan kritik struktural. Dunia tanpa imperium, dalam imajinasinya, bukan dunia tanpa kekuatan, tetapi dunia yang menolak menganggap kekuasaan sebagai sumber kebenaran moral. Bung Karno mengajak dunia untuk membayangkan tatanan global yang dibangun atas dasar kesetaraan bangsa dan martabat manusia, bukan atas hierarki sejarah.

Dalam bahasa hari ini, Soekarno sedang berbicara tentang dekolonisasi tatanan global dan lebih jauh lagi, dekolonisasi cara berpikir. Imajinasi ini terasa semakin futuristik ketika kita kemudian menyadari bahwa dunia abad ke-21 justru kembali berhadapan dengan problem serupa dimana dominasi, standar ganda, dan ketimpangan global dilegalkan.

Bagaimana Dunia Pasca-Amerika

Konsep dunia pasca-Amerika sering dipahami secara keliru sebagai dunia anti-Amerika. tetapi, sebagaimana Zakaria memahami bahwa Amerika tetap menjadi kekuatan utama. Yang berubah adalah fakta bahwa Amerika tidak lagi mampu dan mungkin tidak lagi bersedia menjadi penentu tunggal arah dunia.

Secara ekonomi, pusat pertumbuhan bergeser ke Asia. Secara politik, legitimasi intervensi sepihak semakin dipertanyakan. Secara kultural, narasi global tidak lagi dimonopoli oleh Barat. Dunia menjadi lebih plural, tetapi juga semakin tidak pasti.

Di sinilah ambivalensi dunia pasca-Amerika muncul. Ketika Amerika terlalu dominan, ia dikritik sebagai imperium modern. Ketika pengaruhnya berkurang, dunia justru menghadapi kekosongan kepemimpinan. Konflik regional berlangsung lama tanpa penyelesaian, krisis kemanusiaan ditangani secara dengan memihak, dan hukum internasional sering kalah oleh kepentingan kekuasaan.

Dengan demikian, dunia pasca setelah Amerika bukanlah dunia yang otomatis lebih baik. Dunia akan menuntut tanggung jawab kolektif yang lebih besar. Tanpa nilai bersama, multipolaritas bisa berubah menjadi fragmentasi global. Dunia kehilangan bukan hanya pemimpin, tetapi juga kompas moral. Kekosongan inilah yang kemudian diisi atau setidaknya dicoba untuk diisi oleh China.

Menatap Dunia di Tengah Kebangkitan China

Kebangkitan China adalah fakta geopolitik paling menentukan di abad ke-21. Dalam waktu relatif singkat, China bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia, pemain utama dalam teknologi strategis, serta aktor geopolitik yang semakin asertif. Dunia tidak bisa membicarakan masa depan tanpa membicarakan China. Sejarah dunia sedang menyaksikan China menjadi arsitek baru dunia.

Melalui inisiatif seperti BRI (Belt and Road Initiative), China menawarkan visi dunia yang terhubung melalui infrastruktur, perdagangan, dan investasi. Bagi banyak negara Global South, pendekatan China terasa berbeda dari Barat. Ia datang tanpa prasyarat demokrasi, tanpa retorika hak asasi manusia yang sering terasa sangat standar ganda, dan dengan fokus pada pembangunan konkret.

Kendati begitu, di sinilah ujian etis terbesar muncul. Apakah kebangkitan China mewakili lahirnya dunia tanpa imperium, atau justru membuka babak baru imperialisme dengan wajah yang lebih halus? Apakah dunia sedang menyaksikan alternatif sejati terhadap dominasi Barat, atau sekadar pergeseran pusat hegemoni?

Soekarno telah lama mengingatkan bahwa dunia baru tidak lahir dari pergantian aktor dominan. Jika ketergantungan global hanya berpindah dari Washington ke Beijing, maka struktur ketidakadilan tetap bertahan. Dunia pasca-Amerika yang jatuh ke dalam ketergantungan baru pada China bukanlah dunia tanpa imperium, melainkan dunia dengan imperium yang berbeda.

Karena itu, kebangkitan China seharusnya dipahami bukan sebagai jawaban final, melainkan sebagai ujian bagi kedewasaan dunia. Apakah dunia mampu belajar dari sejarahnya sendiri, atau kembali mengulangi pola lama dengan narasi baru?

Global South, Indonesia, dan Peluang Sejarah

Di tengah dinamika Amerika dan China, negara-negara Global South berada dalam posisi yang jauh lebih strategis dibanding masa lalu. Mereka tidak lagi sekadar objek perebutan pengaruh, tetapi aktor dengan daya tawar nyata. Namun daya tawar ini bisa menjadi kekuatan pembebasan atau jebakan baru.

Bahaya terbesar Global South adalah berpindah ketergantungan tanpa membangun kemandirian. Ketika negara-negara Selatan hanya mengganti patron lama dengan patron baru, mereka tidak membangun dunia baru, mereka hanya menyesuaikan diri dengan tatanan lama.

Di sinilah kerja sama Selatan-Selatan menemukan makna yang melampaui ekonomi. Kerjasama ini adalah sebentuk upaya membangun solidaritas politik, kemandirian teknologi, dan visi moral bersama. Kerja sama ini adalah eksperimen historis, yakni apakah bangsa-bangsa yang pernah dijajah mampu menciptakan tatanan global yang lebih adil ketika mereka memiliki kekuatan?

Indonesia memiliki posisi unik dalam percakapan global ini. Sebagai negara besar di Global South, dengan sejarah kolonialisme dan warisan pemikiran dan jejak Soekarno, Indonesia tidak hanya memiliki kepentingan nasional, tetapi juga tanggung jawab moral. Politik luar negeri bebas aktif bukan sekadar strategi bertahan, melainkan visi dunia tanpa imperium.

Indonesia tidak harus memilih antara Amerika atau China. Justru relevansi Indonesia terletak pada kemampuannya menolak dikotomi tersebut. Indonesia dapat -dan bahkan seharusnya- menjadi jembatan di dunia multipolar, yakni menyuarakan keadilan global, mendorong reformasi lembaga internasional, dan memperkuat kerja sama Selatan-Selatan yang setara.

Tetapi peran ini menuntut keberanian politik dan konsistensi etik. Dunia pasca-Amerika membutuhkan negara-negara yang berani mengatakan bahwa kekuasaan lama maupun baru harus tunduk pada kemanusiaan. Tanpa keberanian itu, Global South hanya akan menjadi arena perebutan pengaruh, bukan perancang masa depan.

Abad ke-21 bisa digambarkan sebagai abad pasca-Amerika atau abad kebangkitan China. Tetapi sejarah tidak akan mengingat abad ini berdasarkan siapa yang paling kuat. Ia akan diingat berdasarkan apakah umat manusia berhasil meninggalkan logika imperium atau justru mengulanginya dalam bentuk baru.

Soekarno telah lama mengingatkan bahwa membangun dunia baru adalah proyek moral, bukan semata geopolitik. Fareed Zakaria memberi kita peta tentang perubahan kekuasaan global. Kebangkitan China menguji apakah dunia mampu belajar dari masa lalunya.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan siapa yang akan memimpin dunia, melainkan nilai apa yang akan memimpin umat manusia. Dunia pasca-Amerika di tengah kebangkitan China hanya akan menjadi dunia yang lebih manusiawi jika Global South termasuk Indonesia berani mengambil peran sebagai penjaga nurani global.

Jika tidak, dunia hanya akan bergerak dari satu pusat dominasi ke pusat dominasi lain tanpa pernah benar-benar membangun dunia baru yang dijanjikan sejarah.

(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Sekertaris PC GP Ansor Barru)

  • Penulis: Muhammad Suryadi R
  • Editor: Muhammad Suryadi R

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Peran dalam Reformasi dan Pemisahan TNI-Polri

    Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur di Jombang, Kenang Peran dalam Reformasi dan Pemisahan TNI-Polri

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 72
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kapolri Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang akan diperingati pada 1 Juli 2026 mendatang. Dalam prosesi ziarah, Kapolri hadir mengenakan peci dan melakukan doa bersama […]

  • Penumpang Berangkat Melalui Angkutan Laut Gorontalo Capai 3714 Orang

    Penumpang Berangkat Melalui Angkutan Laut Gorontalo Capai 3714 Orang

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Jumlah penumpang angkutan laut yang berangkat pada Mei 2025 di Provinsi Gorontalo sebanyak 3.714 orang atau menurun 36,88 persen dibandingkan dengan keadaan pada April 2025 yang tercatat sebanyak 5.884 orang. Sementara jumlah penumpang angkutan laut yang datang pada Mei 2025 sebanyak 3.036 orang, menurun 60,47 persen dibanding April 2025 yang sejumlah 7.680 orang. Jumlah barang […]

  • Idham Arsyad Raih Gelar Doktor UB, Tawarkan Model Penguatan Kelembagaan Petani untuk Ketahanan Pangan Nasional

    Idham Arsyad Raih Gelar Doktor UB, Tawarkan Model Penguatan Kelembagaan Petani untuk Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 96
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MALANG – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani), Idham Arsyad, resmi menyandang gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB), setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang digelar di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (14/7). Dalam sidang promosi doktor […]

  • PWNU Gorontalo Gelar PES Esport 2025: Ajang Turnamen Game dengan Total Hadiah Rp10 Juta

    PWNU Gorontalo Gelar PES Esport 2025: Ajang Turnamen Game dengan Total Hadiah Rp10 Juta

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Dalam rangkaian Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo menghadirkan kompetisi seru bertajuk PES Esport 2025 yang akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2025 di Pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U-I, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo. Turnamen ini menjadi salah satu terobosan kreatif PWNU Gorontalo dalam menggabungkan nilai-nilai syariah […]

  • Musrenbang Baji Pa’mai: Perkuat Pertanian dan Layanan Publik Lewat Jalan Tani dan Kantor Lurah

    Musrenbang Baji Pa’mai: Perkuat Pertanian dan Layanan Publik Lewat Jalan Tani dan Kantor Lurah

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Kelurahan Baji Pa’mai, Kecamatan Maros Baru, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tahun 2026 dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Pemerataan Pembangunan Wilayah, Konektivitas dan Infrastruktur yang Terintegrasi dan Adaptif.” Penekanan utama pada pembangunan jalan tani dan pembangunan kantor lurah sebagai prioritas di tengah […]

  • Ustadz “Tuhan Kecil”?

    Ustadz “Tuhan Kecil”?

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Jika ada pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini, maka jawabanya bukan. Ustadz bukan “Tuhan Kecil”. Tuhan yang sesungguhnya adalah dzat Yang Maha Besar dan tidak ada yang melebihi kebesaran-Nya. Kemahabesaran Tuhan ini dibarengi dengan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas termasuk kekuasaan untuk “menghukumi” segala sesuatu. Namun harus dipahami bahwa penghukuman Tuhan kepada segala sesuatu yang termaktub dalam […]

expand_less