Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Maros dan Kemerdekaan yang Belum Selesai

  • account_circle Hardiansyah
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 14
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nulondalo.com–Maros,Seiring waktu berjalan, setidaknya berdasarkan pengamatan dari sebuah kelompok kecil, ada satu fenomena yang semakin sulit untuk tidak diperhatikan: pada berbagai agenda besar, sosok-sosok yang dimunculkan cenderung itu-itu saja.

Padahal, jika kita berbicara dalam perspektif pembangunan kepemudaan, Maros memiliki cukup banyak anak muda potensial dengan kapasitas, kompetensi, gagasan, serta pengalaman yang beragam,Mereka ada,Mereka bergerak,Mereka berkarya,Hanya saja, tidak semuanya berada di dalam “gerbong” yang sama.

Pertanyaannya kemudian sederhana, apakah ruang partisipasi publik memang terbuka secara proporsional, atau justru masih bekerja berdasarkan pola reproduksi sosial yang membuat nama-nama tertentu terus mendapatkan akses, sementara yang lainnya sekadar menjadi penonton?

Mungkin memang tidak perlu mendapatkan undangan khusus untuk sekadar hadir mengisi acara, membaca teks Proklamasi, membacakan Sumpah Pemuda, atau menjadi pelengkap seremoni lainnya.

Sebab,tentu saja,kapasitas anak muda tidak seharusnya diukur dari seberapa sering namanya muncul di panggung pemerintahan.

Atau jangan-jangan, persoalannya masih berada pada paradigma lama:“Inimo dipake, inimo kak, karna adek-adekku ini.” Entah apa istilah akademis yang tepat untuk praktik semacam itu. Mungkin bisa disebut sebagai patronase, eksklusivitas jejaring, reproduksi kekuasaan atau sederhananya: kalau bukan orang dalam, ya jangan terlalu berharap masuk dalam lingkaran.

Ironisnya, di dalam gerbong kecil kami, sebenarnya terdapat banyak aspirasi yang ingin disampaikan. Bahkan lebih dari sekadar menyampaikan kritik, banyak dari kami yang ingin terlibat langsung membantu pemerintah melalui gagasan, inovasi, program, maupun kerja-kerja kolaboratif.

Namun dari berbagai diskusi yang kami lakukan, persoalan yang berulang justru berada pada akses partisipasi. Tidak semua anak muda memiliki kanal yang cukup untuk menyampaikan gagasan. Tidak semua memiliki “orang” yang dapat membuka pintu. Dan pada akhirnya, ketika representasi anak muda selalu diisi oleh wajah yang relatif sama, inovasi pun berpotensi mengalami stagnasi karena perspektif yang digunakan terus berputar pada lingkaran yang sama.

Padahal, berbicara tentang pembangunan daerah seharusnya tidak hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, atau capaian administratif. Ada pula pembangunan manusia yang mencakup kesetaraan kesempatan, akses terhadap pendidikan, pekerjaan, ruang berekspresi, serta partisipasi dalam pengambilan keputusan publik.

Di titik inilah persoalan hak menjadi penting untuk dibicarakan.

Sebab setiap anak muda, terlepas dari apakah ia berada dalam organisasi tertentu, memiliki kedekatan dengan pejabat, atau mempunyai akses terhadap ruang-ruang kekuasaan, pada dasarnya memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berkontribusi terhadap daerahnya.

Kemerdekaan pun semestinya dimaknai lebih jauh daripada sekadar upacara dan pembacaan teks Proklamasi.

Kemerdekaan berarti terbebas dari ketakutan untuk menyampaikan gagasan. Merdeka untuk berbeda pendapat. Merdeka untuk mengkritik. Merdeka untuk menawarkan solusi. Merdeka untuk mendapatkan kesempatan berdasarkan kapasitas, bukan semata-mata berdasarkan kedekatan.

Karena jika akses terhadap kesempatan hanya berputar di antara kelompok yang sama, maka secara sosial kita sedang menciptakan bentuk eksklusivitas struktural, Tidak ada pagar yang terlihat, tetapi ada batas yang terasa.

Tidak ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa seseorang tidak boleh masuk. Tetapi mekanisme sosialnya membuat sebagian orang akhirnya memahami sendiri bahwa mereka bukan bagian dari lingkaran tersebut.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, ketika praktik semacam ini berlangsung terus-menerus, ia dapat mengalami proses normalisasi sosial. Sesuatu yang pada awalnya dianggap tidak adil perlahan dianggap biasa. Sesuatu yang seharusnya dipertanyakan akhirnya diterima sebagai tradisi.

Lalu kita mulai terbiasa dengan kalimat “Memang dari dulu begitu.”

Padahal, tidak semua yang berlangsung lama layak disebut sebagai sesuatu yang benar.

Sebagian mungkin hanya kebiasaan yang belum pernah berani dievaluasi.

Anak muda kemudian hanya menjadi penting ketika diperlukan untuk memenuhi sebuah agenda. Dipanggil ketika pemerintah membutuhkan massa. Dilibatkan ketika membutuhkan peserta. Diminta tampil ketika membutuhkan representasi. Diundang ketika membutuhkan dokumentasi.

Setelah itu?Kembali ke tempat masing-masing.

Padahal anak muda tidak selalu membutuhkan undangan untuk datang ke sebuah acara, duduk, makan, berfoto, lalu pulang membawa sertifikat atau dokumentasi.

Sebagian dari mereka mungkin jauh lebih bergairah jika ditawarkan program yang berkelanjutan (sustainable), ruang kolaborasi yang konkret, kesempatan untuk mengembangkan kapasitas, atau bahkan proyek yang memungkinkan gagasan mereka benar-benar diuji dan memberikan dampak.

Sebab pembangunan kepemudaan semestinya tidak berhenti pada seremonialisme partisipasi hadir, membaca teks, berfoto, lalu selesai.

Kalau memang serius ingin membangun ekosistem anak muda, mungkin yang perlu diperbanyak bukan panggung seremoni, tetapi akses terhadap program, pendidikan, beasiswa, lapangan kerja, pengembangan kapasitas, ruang berkarya, dan kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan.

Sebab tidak semua anak muda ingin menjadi tamu undangan,Sebagian hanya ingin diberikan kesempatan,Tidak semua ingin dipanggil untuk membaca teks,Sebagian ingin diberikan ruang untuk menulis gagasannya sendiri,Dan tidak semua membutuhkan kursi di acara seremonial.

Sebagian hanya ingin haknya sebagai generasi yang juga memiliki kepentingan atas masa depan tanah kelahirannya diakui secara layak.

Bahkan mungkin ada yang tidak membutuhkan bantuan dalam bentuk materi. Mereka hanya membutuhkan akses, kepercayaan, dan ruang untuk membuktikan kapasitasnya.

Karena terkadang yang membunuh potensi bukanlah ketidakmampuan seseorang, tetapi tidak pernah diberikannya kesempatan untuk mencoba.

Maka, jika kita benar-benar ingin berbicara tentang kemerdekaan, barangkali kita perlu mulai dari hal yang paling sederhana,memberikan kesempatan secara lebih adil.

Jangan sampai setiap tahun kita merayakan kemerdekaan dengan begitu meriah, tetapi dalam kehidupan sosial kita masih memelihara praktik yang membuat sebagian orang harus berjalan lebih jauh hanya untuk mendapatkan hak yang sama.

Jangan sampai kita begitu fasih berbicara tentang “Indonesia maju”, tetapi di tingkat lokal masih sulit memberikan ruang kepada mereka yang berbeda pandangan.

Dan jangan sampai slogan tentang pemuda sebagai “generasi penerus” hanya menjadi kalimat dekoratif di spanduk-spanduk kegiatan, sementara dalam praktiknya mereka hanya diposisikan sebagai generasi yang menunggu giliran.

Karena jika setiap kesempatan selalu berputar pada orang yang sama, jangan heran jika yang tumbuh bukan ekosistem kepemudaan, melainkan “ekosistem pertemanan yang kebetulan memiliki akses ke kekuasaan”

Dan kalau itu yang disebut representasi anak muda, mungkin yang perlu direpresentasikan bukan lagi anak mudanya—melainkan **kemapanan lingkarannya.**

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling sering tampil di panggung.

Tetapi “berapa banyak anak muda potensial yang belum pernah diberikan panggung?”

Bukan siapa yang paling dekat dengan kekuasaan.

Tetapi”berapa banyak gagasan yang belum pernah sampai kepada mereka yang memiliki kewenangan?”

Dan bukan siapa yang paling sering mendapatkan kesempatan.

Tetapi “apakah kesempatan itu sudah diberikan secara adil kepada mereka yang memang memiliki kapasitas untuk mengerjakannya,Sebab tanah kelahiran ini terlalu luas untuk hanya dikelola oleh lingkaran yang itu-itu saja.Dan masa depan Maros terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada mereka yang kebetulan memiliki akses.Mungkin sudah waktunya gerbong diperbanyak,Pintunya dibuka,Dan kursinya tidak lagi hanya untuk mereka yang sudah dikenal.Karena kami tidak sedang meminta untuk selalu berada di depan.

Pemuda hanya meminta agar jangan terus-menerus ditempatkan di belakang hanya karena tidak berada di dalam lingkaran yang sama.

Penulis: Guntur Rafsanjani (@tabiat.kelana_id)Aktivis Literasi, Penulis & Pegiat Lingkungan.

  • Penulis: Hardiansyah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sinergi Penguatan SDM Pertanian, Kemnaker RI Isi Talkshow Launching Agrinext Center KOPRI PB PMII

    Sinergi Penguatan SDM Pertanian, Kemnaker RI Isi Talkshow Launching Agrinext Center KOPRI PB PMII

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Dalam upaya mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian dan pangan, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Launching & Talkshow Agrinext Center yang diselenggarakan oleh Bidang Pertanian dan Pangan KOPRI PB PMII. Agenda kolaborasi diselenggarakan di perpustakaan Nasional RI, 20 Juni 2025. Kegiatan bertema “Akselerasi Peran Petani […]

  • Buron Interpol Kasus Suap PTSL Rp1,7 Miliar Ditangkap di Malaysia, Dibawa ke Jakarta

    Buron Interpol Kasus Suap PTSL Rp1,7 Miliar Ditangkap di Malaysia, Dibawa ke Jakarta

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 248
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri melalui Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia berhasil menangkap buron internasional bernama Jimmy Lie yang telah masuk dalam daftar red notice sejak 22 September 2025. Jimmy Lie diketahui merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap senilai Rp1,7 miliar terkait pengurusan sertifikat tanah melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap […]

  • Lawan Perampasan Lahan, Warga Maba Sangaji Hadang Alat Berat Industri Tambang PT Position

    Lawan Perampasan Lahan, Warga Maba Sangaji Hadang Alat Berat Industri Tambang PT Position

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Sejumlah warga Desa Maba Sangaji, Halmahera Timur, Maluku Utara, yang juga merupakan pemilik sah lahan adat, melakukan aksi boikot terhadap aktivitas penambangan oleh PT Position pada 18 April 2025. Aksi ini dilakukan warga dengan mendatangi langsung lokasi penambangan di hutan adat Maba Sangaji sebagai bentuk perlawanan atas penyerobotan dan penggusuran lahan yang dinilai dilakukan secara […]

  • Khutbah Jumat : Ikhlas, Jalan Sunyi Menuju Kedekatan dengan Allah

    Khutbah Jumat : Ikhlas, Jalan Sunyi Menuju Kedekatan dengan Allah

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin dipenuhi penilaian manusia tentang siapa yang paling terlihat baik, paling tampak berhasil, dan paling dipuji—kita sering lupa bahwa ukuran sejati amal bukanlah apa yang tampak di mata manusia, melainkan apa yang tersembunyi di hadapan Allah. Banyak perbuatan yang terlihat besar, dielu-elukan, bahkan dikagumi, namun ternyata kosong dari nilai karena […]

  • Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

    Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Saya belum genap sebulan tinggal di Bali. Tugas negara menuntut saya menetap di sini dalam waktu yang tidak sebentar, memberi kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan yang berbeda dari tempat asal saya. Setiap hari menghadirkan pengalaman baru: jalan-jalan yang ramai dengan upacara adat, aroma dupa dan bunga yang menghiasi pura, hingga langit yang memunculkan panorama yang […]

  • Akhirnya Anjing Masuk Surga

    Akhirnya Anjing Masuk Surga

    • calendar_month Sabtu, 26 Feb 2022
    • account_circle Dr. Hi. Mansur Basie
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Kalau ada hewan atau binatang yang berterima kasih (numpang viral) karena hiruk pikuk social media dua hari terakhir ini, maka binatang itu adalah anjing. Betapa tidak, tanpa diminta “persetujuannya”, ia disebut dan diviralkan oleh mungkin dari lebih separuh penduduk negeri +62. Berdasarkan laporan We Are Social dari situs dataIndonesia.com, jumlah pengguna aktif media sosial di […]

expand_less