Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
  • visibility 159
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak tempat, kita sering mendengar narasi tentang supremasi sipil, sebuah konsep di mana masyarakat sipil—atau masyarakat yang bebas dari pengaruh langsung negara atau militer—dianggap sebagai entitas yang memegang kendali atas jalannya pemerintahan. Idealnya, masyarakat sipil adalah ruang di luar struktur formal negara, tempat kebebasan berkembang dan hak-hak individu dihargai. Namun, bagaimana jika kenyataannya tidak se ideal itu? Jika sipil yang memimpin negara hanyalah sebuah gambaran simbolis dan bukan sebuah kenyataan? Dan lebih penting lagi, apa makna sebenarnya dari “supremasi sipil”?

Untuk menggali pertanyaan ini, mari kita mulai dengan merenung pada konsep yang dipaparkan oleh seorang pemikir besar, Antonio Gramsci. Gramsci membedakan dua jenis masyarakat: masyarakat politik dan masyarakat sipil. Masyarakat politik adalah ruang di mana negara beroperasi dengan semua perangkat kekuasaannya, sedangkan masyarakat sipil adalah ruang yang lebih bebas, tempat nilai-nilai sosial, budaya, dan norma berkembang tanpa tekanan langsung dari negara. Namun, dalam banyak kasus, perbedaan ini tidaklah sesederhana itu. Dalam banyak situasi, masyarakat sipil yang seharusnya bebas dari negara justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari struktur kekuasaan negara itu sendiri.

Supremasi Sipil: Antara Mitos dan Kenyataan

Ketika kita berbicara tentang supremasi sipil, seringkali kita mengasumsikan bahwa sipil benar-benar berdiri sebagai kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara atau militer. Masyarakat sipil, dalam pengertian ini, seolah memimpin negara dengan kebebasan yang mutlak. Namun, dalam kenyataannya, banyak kasus di mana sipil yang memimpin negara justru berada dalam ikatan kuat dengan kekuatan negara dan militer. Mereka mungkin terlihat sebagai pemimpin yang memiliki kendali penuh, tetapi sering kali mereka terperangkap dalam jaring kekuasaan yang lebih besar, yang mengikat mereka pada sistem aturan negara yang ketat.

Sebuah contoh yang bisa kita lihat di Indonesia adalah bagaimana sipil yang memimpin negara di beberapa periode sejarah justru terbentuk dari pola-pola kekuasaan yang terbatas dan sering kali terikat dengan politik identitas dan kekuatan militer. Ketika seorang pemimpin sipil tampaknya memegang kendali, dia tidak lagi berada dalam ranah masyarakat sipil yang bebas dan terbuka. Sebaliknya, mereka telah berubah menjadi bagian dari struktur negara yang lebih besar, yang sering kali mengarah pada pembentukan kebijakan dan praktik yang tidak jauh berbeda dari yang dijalankan oleh pemerintahan militer.

Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan: apakah benar-benar mungkin ada supremasi sipil yang tulus dan tidak terikat pada negara? Atau apakah itu hanya sebuah mitos—sebuah harapan ideal yang sulit diwujudkan dalam kondisi sosial dan politik yang terfragmentasi?

Gramsci dan Dunia yang Terfragmentasi

Gramsci mengajarkan kita bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang hanya bisa dilihat dari segi struktur formal negara saja, melainkan juga terjalin dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dalam pandangannya, masyarakat sipil adalah tempat pertempuran ideologi, tempat nilai-nilai dan norma-norma dibentuk. Namun, kekuasaan juga ada di sana, tersembunyi dalam bentuk kebiasaan, tradisi, dan bahkan dalam cara kita berpikir dan bertindak sehari-hari.

Di Indonesia, kita melihat bagaimana politik identitas seringkali mengarahkan arah kebijakan negara. Sektor-sektor dalam masyarakat sipil—baik itu kelompok agama, etnis, atau golongan—sering kali tetap terperangkap dalam sekat-sekat primordial yang menghambat terciptanya masyarakat sipil yang benar-benar inklusif. Dengan adanya sekat-sekat ini, negara menjadi mudah dipengaruhi untuk memihak pada salah satu kelompok, menciptakan ketidakadilan yang semakin mendalam.

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Gus Dur, “Negara ini bukan milik satu golongan, tetapi milik kita semua.” Tapi, bisakah kita mengatakan bahwa negara benar-benar milik kita semua jika masyarakat sipil kita sendiri masih terpecah oleh garis-garis identitas yang sempit? Jika solidaritas kita masih dibatasi oleh perbedaan agama, etnis, dan golongan, apakah kita bisa menyebutnya sebagai masyarakat sipil yang berdaulat?

Sipil yang Berdaulat: Sebuah Proses yang Belum Selesai

Sipil yang berdaulat bukanlah sebuah konsep yang bisa dicapai dalam semalam. Untuk mencapainya, kita perlu melewati tantangan besar, salah satunya adalah mengatasi sekat-sekat primordial yang menghalangi kita untuk melihat satu sama lain sebagai sesama warga negara yang setara. Saat ini, masyarakat sipil Indonesia masih dibatasi oleh berbagai identitas yang tidak jarang menjadi alat untuk memecah belah dan menghalangi terciptanya keadilan dan kebebasan sejati.

Namun, kita juga harus mengakui bahwa sipil yang berdaulat hanya bisa terwujud jika kita bersedia untuk meruntuhkan tembok-tembok pemisah itu. Kita membutuhkan sebuah masyarakat yang tidak hanya toleran, tetapi juga inklusif, yang mampu menggabungkan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai ancaman. Solidaritas yang dibangun harus melampaui identitas-identitas primordial yang seringkali membatasi ruang gerak kita untuk bersama-sama mewujudkan tujuan bersama.

Gerakan Moderasi beragama bisa menjadi salah satu jalan untuk mulai mengikis sekat-sekat sektarian yang selama ini membatasi masyarakat sipil. Dengan memperbanyak ruang perjumpaan yang aktif, moderasi beragama membuka kemungkinan bagi lahirnya pemahaman lintas identitas yang lebih mendalam. Namun, ini hanya mungkin terjadi jika kepentingan politik yang kerap membayangi ide tersebut benar-benar disingkirkan. Ketika moderasi beragama dijalankan secara tulus, ia bisa menjadi arena di mana negara dan masyarakat sipil saling memahami, atau bahkan lebih jauh, menjadi jembatan antar kelompok dalam masyarakat sipil itu sendiri—yang selama ini terkotak oleh warisan identitas, sejarah luka, atau kepentingan kelompok. Dalam perjumpaan semacam itu, harapan akan sipil yang berdaulat bisa mulai dirajut perlahan, melalui pengalaman bersama yang lebih manusiawi.

Refleksi untuk Masa Depan

Jika kita ingin membangun sipil yang berdaulat, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Kita harus belajar untuk melihat keberagaman sebagai hal yang memperkaya, bukan memecah belah. Kita juga harus memperkuat sistem pendidikan yang mengajarkan toleransi dan inklusivitas, yang tidak hanya mengajarkan bagaimana hidup berdampingan, tetapi juga bagaimana kita bisa menghargai perbedaan itu sebagai bagian dari kekayaan bersama.

Seperti yang pernah Gus Dur katakan, “Dalam keberagaman, kita bukan hanya harus hidup berdampingan, tetapi juga harus belajar untuk menghargai perbedaan itu sebagai kekayaan.” Sipil yang berdaulat memang sebuah tantangan besar, tetapi bukan berarti sebuah utopia. Ini adalah proses yang terus-menerus berkembang, sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, tekad, dan kemauan untuk bekerja bersama, mengatasi perbedaan, dan menciptakan ruang yang benar-benar inklusif bagi semua.

Pada akhirnya, supremasi sipil bukanlah soal siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana kita, sebagai bagian dari masyarakat sipil, dapat berperan dalam menciptakan negara yang lebih adil, lebih inklusif, dan lebih berdaulat. Sebuah negara yang tidak hanya dipimpin oleh sipil, tetapi juga dibentuk oleh nilai-nilai sipil yang melampaui kekuasaan dan politik identitas, menuju suatu kesatuan yang benar-benar menghargai keberagaman.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polda Bali Deportasi Buronan Interpol Asal Inggris, Pimpinan Sindikat Narkotika Internasional

    Polda Bali Deportasi Buronan Interpol Asal Inggris, Pimpinan Sindikat Narkotika Internasional

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 245
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Bali – Kepolisian Daerah (Polda) Bali resmi mendeportasi buronan internasional berinisial SL, warga negara Inggris yang diduga sebagai pimpinan sindikat kriminal transnasional. Deportasi dilakukan setelah tersangka ditangkap dalam operasi gabungan bersama Divhubinter Polri dan Imigrasi, Selasa (31/3/2026). Keterangan tersebut disampaikan oleh Kasubid Penmas Polda Bali, Rina Isriana Dewi, mewakili Kabid Humas Polda Bali. Ia […]

  • DPR Setujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI

    DPR Setujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 342
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi XI DPR RI secara resmi menetapkan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Penetapan tersebut diambil melalui rapat internal Komisi XI yang digelar usai pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) pada Senin (26/1/2026). Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada kesepakatan seluruh […]

  • Ketika Alam Bicara

    Ketika Alam Bicara

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 448
    • 0Komentar

    Alam kembali bersuara. Kali ini, ia berteriak lantang lewat banjir bandang dan tanah lonsor yang meluluhlantakkan pemukiman warga di tiga provinsi; Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bukan hanya rumah dan harta benda yang hanyut dan tertimbun, tetapi juga nyawa manusia yang tak bersalah. Berdasarkan data yang dilansir BNPB,  29 November 2025, total 303 orang […]

  • Wujudkan Generasi Emas, Kemkomdigi Perkuat Komunikasi Publik dan Konten Positif

    Wujudkan Generasi Emas, Kemkomdigi Perkuat Komunikasi Publik dan Konten Positif

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus memperkuat kapasitas dan jejaring komunikasi publik pemerintah agar makin adaptif, profesional, dan kolaboratif di tengah derasnya transformasi digital. Upaya itu diwujudkan melalui tiga kegiatan strategis yang digelar serentak di Denpasar, Bali, Rabu (29/10/2025), yakni Indonesia.go.id (IGID) Menyapa, Forum Media Monitoring (FoMo), dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Standardisasi Konten Pemerintah. Ketiga […]

  • Praka Mohammad Basri, Babinsa Desa Buti yang Selalu Siap Berdiri di Garda Terdepan untuk Warga

    Praka Mohammad Basri, Babinsa Desa Buti yang Selalu Siap Berdiri di Garda Terdepan untuk Warga

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 97
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM-BOALEMO- Di balik seragam loreng yang dikenakannya, Praka Mohammad Basri bukan sekadar menjalankan tugas sebagai Bintang Pembina Desa (Babinsa) di Desa Buti, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Kamis (20/8/26). Seperti yang diutarakan Husain Thalib, salah seorang warga, menilai kepedulian Basri terhadap masyarakat bukan sesuatu yang dibuat-buat. Menurut Husain, kepedulian tersebut terlihat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, […]

  • Semangat Gotong Royong Warga Salarang Percepat Pembangunan Masjid Nurul Akhlak Desa Borimasunggu

    Semangat Gotong Royong Warga Salarang Percepat Pembangunan Masjid Nurul Akhlak Desa Borimasunggu

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Semangat kebersamaan dan budaya gotong royong kembali ditunjukkan masyarakat Dusun Salarang, Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Hal itu terlihat dalam kegiatan pengecoran pembangunan Masjid Nurul Akhlak yang dilaksanakan secara swadaya oleh warga setempat. Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi pembangunan masjid. Dengan penuh antusias, mereka bahu-membahu […]

expand_less