Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 174
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Indonesia sudah lama menerima demokrasi sebagai bentuk. bahkan sejak awal diproklamirkan, demokrasi diterima sebagai instrumen politik utama. Tetapi entah kenapa, selalu terasa ada yang kurang lengkap. Seolah ada satu puzzle yang hilang dan membuat demokrasi kita tak utuh. Yaitu partisipasi publik yang subtantif. Padahal, partisipasi publik adalah mandat utama demokrasi.

Selama bertahun-tahun, partisipasi publik dalam siklus demokrasi adalah sebatas mendatangi bilik suara. Publik memilih, lalu pulang. Setelah itu, suara rakyat berhenti. Menunggu lima tahun berikutnya.

Pemerintah menjalankan kekuasaan dengan sedikit sekali kontrol dari warga. Lembaga legislatif, yang seharusnya menjadi penghubung antara rakyat dan kebijakan, justru sering tampil sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Fungsi pengawasan melemah, fungsi representasi menguap.

Demokrasi akhirnya tereduksi menjadi rutinitas prosedural. Ia hidup dari satu jadwal ke jadwal berikutnya, tanpa diiringi kesadaran politik yang utuh. Partisipasi warga dibatasi pada euforia pemilu, lalu dibiarkan hilang begitu kekuasaan terbentuk.

Ruang-ruang partisipasi yang tersedia lebih banyak bersifat kosmetik: forum publik yang dikendalikan elit, uji publik yang hanya formalitas, dan mekanisme aduan yang tidak pernah sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan. Atau paling keras adalah demonstrasi mahasiswa yang berakhir bentrok.

Dalam situasi semacam itu, yang tumbuh bukan kesadaran kolektif, melainkan frustrasi kolektif. Frustrasi yang tidak diberi ruang justru menjelma menjadi ancaman diam-diam. Demokrasi yang kehilangan saluran partisipasi sejatinya sedang memelihara kemarahan. Ketika suara rakyat dipinggirkan, dan partisipasi dikunci rapat oleh elit, kemarahan itu tidak hilang—ia hanya menunggu tempat untuk meledak.

Ledakan itu tidak datang dari jalan. Tidak dari kampus. Tapi ruang yang tumbuh dan tak terkendali secara global: media digital.

Media sosial berbasis digital sejatinya tidak dirancang untuk urusan politik. Tapi justru di sanalah politik warga menemukan ekspresinya. Ruang digital memungkinkan rakyat berbicara tanpa batas dan tanpa izin siapa-siapa. Di sinilah publik mulai berbicara, mengorganisasi opini, menggalang solidaritas, bahkan bisa menekan kebijakan.

Contoh paling terlihat jelas terjadi pada 2020, saat Undang-Undang Cipta Kerja disahkan. Gelombang penolakan muncul bukan hanya dari jalanan, tapi juga dari jagat digital. Tagar #TolakOmnibusLaw menjadi trending. Ratusan desain poster, utas edukatif, dan video pendek menyebar luas, memperluas kesadaran publik tentang isi dan dampak regulasi tersebut.

Aksi digital itu bukan sekadar ekspresi—ia adalah intervensi. Bahkan Mahkamah Konstitusi akhirnya menyatakan UU tersebut “inkonstitusional bersyarat”. Ini bukan kemenangan instan, tapi menunjukkan bahwa ruang digital bisa menjadi kanal kontrol publik terhadap kekuasaan.

Transformasi ruang digital menjadi arena politik warga terjadi secara organik. Tidak dikoordinasikan negara, tidak dipandu oleh partai politik. Ia tumbuh dari kebutuhan untuk bersuara dan terlibat.

Ruang digital memberi peluang partisipasi yang lebih terbuka dan horizontal. Siapa pun bisa menyampaikan pendapatnya tanpa harus punya posisi formal. Seorang pelajar, nelayan, guru, atau pekerja informal bisa mengungkapkan kritiknya langsung kepada pemegang kebijakan—dan bisa viral.

Di sinilah demokrasi menemukan bentuk yang lebih lengkap. Bukan hanya soal memilih, tapi juga soal mengawasi. Bukan hanya suara lima tahunan, tapi suara harian yang bisa muncul dari mana saja.

Tentu ruang digital tidak tanpa masalah. Di sana juga ada hoaks, polarisasi, dan penggiringan opini oleh aktor politik. Tapi ruang yang bising lebih sehat bagi demokrasi dibanding ruang yang sunyi dan terkendali.

Persoalannya hari ini justru terletak pada negara. Apakah negara siap mengakui ruang digital sebagai bagian dari demokrasi? Atau justru merasa terganggu dan ingin menertibkannya dengan dalih keamanan atau ketertiban?

Beberapa kebijakan yang lahir belakangan ini menunjukkan kecenderungan mengawasi dan membatasi ruang digital, bukan memperkuatnya sebagai kanal partisipasi. Ini berbahaya. Karena akan membawa kita mundur ke demokrasi prosedural yang semu.

Jika demokrasi ingin hidup, maka partisipasi publik tidak boleh dimarjinalkan. Dan hari ini, partisipasi itu nyata hadir di ruang digital. Bukan hanya sebagai ekspresi, tetapi sebagai pengaruh.

Puzzle terakhir demokrasi akhirnya ditemukan. Bukan di kantor pemerintahan. Bukan di gedung parlemen. Tapi di layar ponsel warga biasa.

Dan dari situ, demokrasi Indonesia pelan-pelan mulai berbentuk lebih utuh.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konten Kreator Gorontalo Ditetapkan Tersangka, Kasus Ini Jadi Pengingat Etika Bermedia Sosial Menurut Islam

    Konten Kreator Gorontalo Ditetapkan Tersangka, Kasus Ini Jadi Pengingat Etika Bermedia Sosial Menurut Islam

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 404
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Setelah melalui proses penyidikan yang cukup panjang, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Gorontalo resmi menetapkan konten kreator ZH alias Ka Kuhu sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran hak cipta. Penetapan tersangka tersebut diketahui berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang diterima oleh pihak pelapor. Kuasa hukum pelapor, Rongki Ali Gobel, membenarkan […]

  • Kas Langit

    Kas Langit

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Ramadhan itu unik. Ia seperti auditor independen yang datang tanpa diundang, memeriksa laporan keuangan batin kita. Bedanya, auditor ini tidak membawa kertas kerja, tapi membawa pahala. Ia tidak bertanya soal aset lancar, tetapi soal amal lancar. Dan yang paling penting, ia tidak bisa “diajak negosiasi”. Sebagai orang akuntansi, saya sering merenung: mengapa kita begitu teliti […]

  • Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    Pemkab Maros Segarkan Birokrasi, A. Abbas Maskur Resmi Nahkodai Dinas Perhubungan

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 313
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros– Pemerintah Kabupaten Maros kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun birokrasi yang bersih, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik. Melalui perombakan jabatan struktural, Pemkab Maros melakukan penyegaran organisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat kinerja pemerintahan daerah. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros, Senin (5/1/2025), dan dihadiri oleh jajaran pejabat […]

  • GP Ansor Kota Gorontalo Gelar Istighosah dan Doa Jaga Aspirasi Indonesia

    GP Ansor Kota Gorontalo Gelar Istighosah dan Doa Jaga Aspirasi Indonesia

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Gorontalo menggelar istighosa dan Doa dengan tema “Jaga Aspirasi Jaga Indonesia“ dalam rangka melaksanakan instuksi pengurus pusat (PP)Ansor . kegiatan ini berlangsung pada Minggu (31 /8/2025), bertempat di Masjid At Takwa, Kel Bulotada Timur, Kec. Sipatana . Ketua PC GP Ansor Kota Gorontalo, Ustadz Yajib Alhabsi, […]

  • Tempat Kemarin, Kedai Baru Favorit Mahasiswa dan Aktivis di Pusat Kota Gorontalo Play Button photo_camera 4

    Tempat Kemarin, Kedai Baru Favorit Mahasiswa dan Aktivis di Pusat Kota Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 364
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kedai kopi baru bernama Tempat Kemarin perlahan menjelma menjadi ruang favorit anak muda lintas generasi di Kota Gorontalo. Mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga warga umum, kedai ini ramai dikunjungi terutama pada sore hingga malam hari. Terletak di Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U-1, Kecamatan Kota Selatan, posisi kedai ini terbilang sangat strategis. Di […]

  • Beban Langit

    Beban Langit

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 315
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang dengan dua laporan keuangan: yang satu laporan arus kas, yang lain laporan arus “ke atas”. Yang pertama bikin kepala pening, yang kedua bikin hati bening. Di antara keduanya, manusia sering keliru membedakan mana beban operasional, mana beban langit. Dalam akuntansi, kita mengenal beban (expense) sebagai pengurang laba. Listrik naik, harga cabai melonjak, […]

expand_less