Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 383
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih.

Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU di Makassar dan di kelas pemikiran Gusdur (KPG), Mbak Alissa Wahid—Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian sekaligus mentor saya—menyebut BTS dengan cara yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa lirik-lirik BTS bukan sekadar manis, melainkan menyimpan bahasa perlawanan.

Rasa penasaran itu mendorong saya membuka mesin pencari dan berjumpa dengan lagu Bapsae. Dari situ muncul kejutan kecil yang menyenangkan. Di balik wajah-wajah sempurna dan koreografi yang nyaris tanpa celah, ternyata tersimpan kegelisahan sosial yang tajam, jujur, dan terasa dekat dengan pengalaman banyak generasi muda hari ini.

Melalui lagu Bapsae, BTS bercerita tentang dua generasi: bapsae, burung kecil dengan segala keterbatasannya, dan hwangsae, burung besar yang lebih dulu menikmati medan hidup yang lapang. Metafora ini diambil dari peribahasa Korea: burung pipit yang memaksakan diri berjalan seperti bangau hanya akan melukai kakinya sendiri. Sederhana, tapi menghantam. Bapsae dituntut terbang setinggi hwangsae, berlari secepat mereka, dan sukses dengan ukuran yang sama—tanpa pernah benar-benar dibekali alat yang setara.

Di sinilah kritiknya bekerja. Bapsae tidak sedang menyindir kemalasan generasi muda, justru sebaliknya. Lagu ini mengejek logika yang terlalu mudah menyalahkan individu. Kerja keras dijadikan mantra moral, seolah semua orang memulai dari titik yang sama. Padahal medan hidup sudah berubah. Ketika bapsae gagal, yang dipersoalkan bukan sistemnya, melainkan mentalnya. Kurang tahan banting, kurang sabar, kurang bersyukur.

Beberapa potongan lirik Bapsae terasa seperti gumaman yang akrab di telinga banyak anak muda: kelelahan karena terus dibandingkan, dinasihati, dan dituntut, tapi jarang didengarkan. Nada lagunya memang enerjik, hampir seperti pesta, tapi liriknya sinis dan sadar kelas. BTS seolah sedang berkata: kami tidak menolak kerja keras, tapi jangan pura-pura buta pada ketimpangan.

Yang membuat lagu ini menarik justru caranya menyampaikan kritik. Tidak menggurui. Tidak juga terasa seperti manifesto politik. Bapsae lebih mirip curhat kolektif—tentang rasa capek yang sering tidak punya bahasa. Dan karena dibungkus sebagai lagu pop, kritik itu terasa ringan, mudah diterima, bahkan nyaris lolos dari radar mereka yang menganggap budaya pop tidak pernah serius.

Jika ditarik ke konteks kita, Bapsae terasa akrab. Banyak generasi muda hari ini hidup di bawah tekanan yang serupa: biaya hidup yang terus naik, persaingan yang kian ketat, sementara standar sukses tetap tinggi dan jarang ditinjau ulang. Nasihat lama diwariskan dari generasi ke generasi, seolah medan hidup tidak pernah berubah.

Lagu ini juga berbicara kepada kita, generasi hwangsae. Kita harus menyadari bahwa struktur yang dibentuk di masa lalu mungkin tidak lagi cocok untuk mereka yang sedang tumbuh hari ini. Mengakui ketimpangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah sadar untuk memahami pengalaman generasi baru dan membuka ruang agar proses mereka tidak terus-menerus terbentur pada standar lama.

Refleksi semacam ini juga memberi kesempatan untuk membangun jembatan, bukan sekadar mengulang aturan lama. Generasi Hwangsae bisa memilih untuk mendengar, menyesuaikan ritme, dan menyadari  untuk menciptakan sistem yang memberi ruang bagi mereka yang masih belajar seperti burung kecil bapsae. 

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq Play Button

    Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 332
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketika keluarga berubah bentuk, orang tua bercerai, lalu masing-masing menikah lagi yang sering kebingungan bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak. Mereka tumbuh dengan ayah kandung, ibu kandung, sekaligus ayah tiri dan ibu tiri. Lalu pertanyaan muncul: bagaimana cara berbakti dalam keluarga seperti itu? Pertanyaan itulah yang dibahas KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA […]

  • Bawaslu Kota Gorontalo Perkuat Kapasitas Panwascam Hadapi Tahapan Verifikasi Faktual

    Bawaslu Kota Gorontalo Perkuat Kapasitas Panwascam Hadapi Tahapan Verifikasi Faktual

    • calendar_month Sabtu, 15 Jun 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bawaslu Kota Gorontalo menggelar kegiatan peningkatan kapasitas bagi Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) se-Kota Gorontalo dalam rangka mempersiapkan pengawasan tahapan Verifikasi Faktual (Verfak) dukungan calon perseorangan pada Pemilihan Serentak 2024. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Yulia pada Sabtu–Minggu, 15–16 Juni 2024. Anggota Bawaslu Kota Gorontalo, Herlina Antu, menjelaskan bahwa penguatan kapasitas ini bertujuan agar […]

  • SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Desa Majannang kembali menjadi sorotan setelah salah satu tokoh pemuda desa, Sakti, melontarkan kritik keras terhadap kondisi sebagian pemuda di Dusun Taipa, Desa Majannang, yang dinilai mulai kehilangan kepedulian terhadap masa depan desanya sendiri. Menurut Sakti, banyak pemuda saat ini lebih memilih diam dan acuh terhadap berbagai persoalan sosial di desa. Bahkan, […]

  • Saring Sebelum Sharing, Pesan Bhabinkamtibmas Usai Mediasi Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik

    Saring Sebelum Sharing, Pesan Bhabinkamtibmas Usai Mediasi Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Ikbal
    • visibility 189
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bhabinkamtibmas Desa Ilomangga, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Bripka Efendi Gusasi, SH, mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Imbauan tersebut disampaikan usai memfasilitasi mediasi penyelesaian dugaan pencemaran nama baik yang berlangsung di Kantor Desa Ilomangga, Rabu (10/6/2026). Kasus tersebut bermula dari beredarnya […]

  • Aliansi Pemuda Kalumbatan Gelar Aksi Jilid V, Desak Pemdes Segera Perbaiki Jembatan Rusak

    Aliansi Pemuda Kalumbatan Gelar Aksi Jilid V, Desak Pemdes Segera Perbaiki Jembatan Rusak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Banggai Kepulauan, nulondalo.com – Aliansi Pemuda Kalumbatan kembali menggelar aksi demonstrasi jilid V di depan Kantor Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Senin (6/7/2026). Aksi tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian perjuangan masyarakat yang telah berlangsung selama lebih dari empat bulan dalam mengawal berbagai persoalan tata kelola pemerintahan desa. Sejumlah isu menjadi sorotan massa aksi, mulai dari dugaan […]

  • Idham Arsyad Raih Gelar Doktor UB, Tawarkan Model Penguatan Kelembagaan Petani untuk Ketahanan Pangan Nasional

    Idham Arsyad Raih Gelar Doktor UB, Tawarkan Model Penguatan Kelembagaan Petani untuk Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MALANG – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani), Idham Arsyad, resmi menyandang gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB), setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang digelar di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (14/7). Dalam sidang promosi doktor […]

expand_less