Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Perempuan Berhenti Bekerja: Pengorbanan atau Investasi?

  • account_circle Sutanti Idris
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 186
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah semakin banyak perempuan yang memilih berhenti bekerja setelah menikah atau memiliki anak, muncul pertanyaan yang sering kali memicu perdebatan: apakah keputusan tersebut merupakan sebuah pengorbanan atau justru investasi?

Bagi saya, jawabannya bergantung pada alasan dan cara perempuan memaknai keputusan itu. Berhenti bekerja bukanlah tanda menyerah, bukan pula bukti bahwa perempuan kehilangan kemampuan. Sebaliknya, keputusan tersebut dapat menjadi investasi terbesar dalam hidup apabila diambil dengan kesadaran, perencanaan, dan tujuan yang jelas. Namun, jika dilakukan karena merasa tidak berharga, kehilangan kepercayaan diri, atau merasa tidak lagi memiliki pilihan, maka yang terjadi bukan investasi, melainkan pengorbanan yang menyisakan penyesalan.

Perempuan memiliki kemampuan untuk menjalankan banyak peran dalam kehidupannya. Menjadi ibu, istri, profesional, maupun pengusaha bukanlah identitas yang saling bertentangan. Yang berubah hanyalah fase kehidupan, bukan kapasitas untuk terus berkembang.

Tidak sedikit perempuan yang memilih mendampingi tumbuh kembang anak di masa emas kehidupannya. Pilihan ini layak dihormati karena keluarga adalah fondasi utama dalam membangun peradaban. Pendidikan pertama seorang anak lahir dari rumah, dan kualitas rumah sangat dipengaruhi oleh kualitas seorang ibu.

Namun, berhenti dari pekerjaan formal bukan berarti berhenti berkarya. Dunia telah berubah. Teknologi menghadirkan begitu banyak peluang yang memungkinkan perempuan tetap produktif dari mana saja. Menjadi penulis, mentor, konsultan, pelaku usaha digital, investor, hingga penggerak komunitas merupakan bentuk karya yang sama berharganya dengan pekerjaan di kantor.

Penelitian yang diterbitkan dalam Population and Development Review menunjukkan bahwa banyak perempuan di Indonesia keluar dari pekerjaan formal setelah memiliki anak pertama karena sulitnya menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa fleksibilitas kerja menjadi salah satu faktor penting yang mendorong perempuan tetap dapat berpartisipasi dalam dunia kerja. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan karena perempuan kehilangan kemampuan, melainkan karena sistem belum sepenuhnya mendukung mereka menjalankan dua peran sekaligus.

  • Penulis: Sutanti Idris

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Profil Anwar Sanjaya yang Disorot MUI: Dari Lulusan Tata Boga hingga Tersandung Konten Erotis di Siaran Ramadan

    Ini Profil Anwar Sanjaya yang Disorot MUI: Dari Lulusan Tata Boga hingga Tersandung Konten Erotis di Siaran Ramadan

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 629
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Anwar Sanjaya mendadak menjadi sorotan tajam publik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi merekomendasikan sanksi atas penampilannya dalam program televisi selama Ramadan 1447 Hijriah. Sosok yang selama ini dikenal sebagai presenter jenaka dan menghibur itu kini justru menuai kritik karena dinilai melampaui batas etika penyiaran. Dalam laporan hasil pemantauan siaran Ramadan […]

  • Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya […]

  • PP Gentuma Bina Wajib Retribusi Kepelabuhanan dan Kesyahbandaraan

    PP Gentuma Bina Wajib Retribusi Kepelabuhanan dan Kesyahbandaraan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan kepatuhan pengguna jasa terhadap kewajiban retribusi, Unit Pelaksana Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pelabuhan Perikanan (PP) Gentuma menyelenggarakan Pembinaan Wajib Retribusi Jasa Kepelabuhanan dan Optimalisasi Pelayanan Kesyahbandaraan, Kamis (3/7/2025). Plt. Kepala PP Gentuma Sitti Sabariah Machmud menegaskan pentingnya pemahaman bersama tentang retribusi dalam sambutannya. Sabariah menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan […]

  • Mencari Jalan Keluar dari Krisis Representasi Politik Indonesia

    Mencari Jalan Keluar dari Krisis Representasi Politik Indonesia

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Dalam krisis yang sedang dihadapi Indonesia Ini, penting untuk selalu Bertanya namun Substansi pertanyaan hari ini bukanlah siapa yang akan menjadi presiden berikutnya, partai mana yang akan menang pemilu, atau koalisi apa yang akan terbentuk setelah pemilihan. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: siapa yang mampu mengorganisasi kekuatan sosial untuk menandingi dominasi uang dalam politik? […]

  • Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 231
    • 0Komentar

    (Kader PMII dan Pembina GUSDURian Ternate). Fenomena alam harus dikaji secara mendalam karena memiliki asbab (akibat) dari terjadinya sesuatu, konstruksi makna menggunakan pendekatan hermeneutika memiliki banyak perspektif. Pertama, Ada yang menilai bahwa bencana alam adalah sebuah realitas yang alami dan merupakan hukum alam. Kedua, ada juga yang berpandangan bahwa tidak semua kejadian alam (bencana alam) […]

  • KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

    KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Moh. Rodney Neu
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Barangkali tidak semua orang mengenal sosok ulama masyhur Gorontalo yang satu ini. Namun di kalangan para santri, guru agama, dan tokoh masyarakat, nama KH. Adam Zakaria dikenang sebagai ulama yang tak pernah berhenti belajar, mengajar, dan berkhidmat untuk Islam. Ia adalah cerminan nyata dari kegigihan menuntut ilmu, meski tanpa pernah mencicipi pendidikan formal di pesantren. […]

expand_less