Breaking News
light_mode
Trending Tags

GUSDURian Makassar Wakili GUSDURian Peduli, Serahkan Tali Asih pada Keluarga Dandi

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
  • visibility 82
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di bawah langit Makassar yang terik, lorong sempit di Kelurahan Karampuang, Kecamatan Panakukang, menjadi saksi bisu langkah-langkah penuh empati. Sejumlah penggerak inti GUSDURian Makassar menyusuri lorong itu, bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa dukungan kemanusiaan ke sebuah rumah yang kini menyimpan kenangan tentang Rusdamdiansyah (Dandi), pemuda yang gugur dalam gelombang demonstrasi di Jalan Urip Sumoharjo, Jumat, 29 Agustus 2025 lalu.

Di rumah sederhana itu, Saerah, ibunda almarhum Dandi, menyambut dengan mata yang menyimpan luka yang belum sempat mengering. Baginya, kehadiran para penggerak GUSDURian Makassar dikediamannya tidak hanya sekadar membawa tali asih, tetapi juga membawa pelukan solidaritas yang tak terucap.

Di tengah sunyi yang menggantung, suara Saerah pecah pelan, menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka yang datang membawa harapan. “Sampaikan salam hangat kami sekeluarga, terkhusus kepada Ibu Alissa Wahid. Semoga beliau dan keluarga GUSDUR senantiasa diberi kesehatan dan dilindungi oleh Allah SWT,” ucap Saerah dengan suara terdengar parau.

Kunjungan itu berlangsung pada Jumat, 12 September 2025. Dipimpin langsung oleh Fathurrahman Marzuki, Koordinator GUSDURian Makassar, rombongan tak hanya membawa santunan, tetapi juga membawa harapan, bahwa duka tak harus berjalan sendiri.

Setelah memanjatkan doa secara berjamaah untuk almarhum, tali asih kemudian diserahkan secara simbolis. Di hadapan keluarga dan para penggerak komunitas, pria yang akrab disapa Fatul itu, menyampaikan bahwa ini bukan sekadar santunan, tetapi juga bentuk kepedulian akan kemanusiaan yang telah lama menjadi bagian dari kerja-kerja kemanusiaan di lembaga Gusdurian Peduli.

“Kami berduka atas kepergian Dandi. Keadilan harus ditegakkan. Kami mendesak aparat untuk mengusut tuntas pelaku pengeroyokan,” tegas Fatul usai menyerahkan santunan GUSDURian Peduli.

Tak hanya Dandi, Fatul juga menyampaikan simpati kepada para korban lain yang turut terdampak dalam rentetan demonstrasi akhir Agustus kemarin. Ia berharap negeri ini segera pulih dari luka-luka sosial yang menganga.

“Kami tak ingin tragedi seperti ini terulang. Negeri ini terlalu berharga untuk terus berdarah dan menelan korban,” pungkasnya.

Dalam kunjungan singkat itu, hadir pula wajah-wajah yang telah lama menjadi bagian dari penggerak GUSDURian, diantaranya mantan koordinator Gusdurian Makassar, Ince Arif, mantan Koodinator GUSDURian Soppeng, Megawati, Penggerak Senior GUSDURian Makassar, Fitrianingsih, dan sejumlah penggerak muda GUSDURian Makassar.

“Mereka datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai saudara dalam kemanusiaan,” ujar salah seorang warga di lorong tersebut.

Sekedar diketahui, Rusdamdiansyah atau yang akrab disapa Dandi, kesehariannya bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Berdasarkan informasi yang dilansir katadata.co.id, Jumat malam, 29 Agustus 2025, Dandi keluar dari rumahnya untuk  menemui tantenya. Namun, langkahnya tak sengaja membawanya melintasi titik aksi demonstrasi yang sedang berlangsung di depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Di tengah keramaian itu, Dandi sempat merekam suasana demo dengan ponselnya. Sayangnya, tubuhnya yang tinggi memicu kecurigaan dari massa. Ia diteriaki sebagai “intel”, tuduhan yang langsung menyulut emosi sekelompok orang. Tanpa sempat menjelaskan, Dandi menjadi korban pengeroyokan brutal. Ia mengalami luka serius, termasuk pendarahan otak dan retak pada tengkorak, yang membuatnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Kementerian Kesehatan CPI.

Meski telah mendapat perawatan intensif, nyawanya tak tertolong. Dandi menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Awalnya, keluarga menerima kabar bahwa Dandi mengalami kecelakaan. Namun, fakta yang terungkap kemudian jauh lebih memilukan. Dandi bukan korban kecelakaan biasa, melainkan korban kekerasan massa dalam aksi demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang aspirasi, bukan tragedi.

  • Penulis: Suaib Pr
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Bupati Halmahera Timur, Maluku Utara, Ubaid Yakub diwakili Nurdin Hadi Asisten ll Bidang Administrasi, dengan resmi membuak kegiatan Kursusu Wasit Bola Voli Lisensi Dasar. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Halmahera Timur di Aula Penginapan Rahmat, Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Rabu (26/11/2025). Dalam kesempatan tersebut. Nurdin Hadi dalam sambutannya mengatakan, atas […]

  • Jemaat Ahmadiyah dan Ilusi Negeri Moderasi Beragama

    Jemaat Ahmadiyah dan Ilusi Negeri Moderasi Beragama

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Aneh bin ajaib. Kira-kira itu paling tepat untuk ditegaskan bagi bangsa yang katanya negeri penuh toleransi. Semua agama (6 agama), aliran kepercayaan dan pandangan keyakinan ada di negeri ini, beragam suku bangsa merupakan aneka kekayaan bangsa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di seantero dunia. Tapi sayangnya toleransi yang terbangun dalam diri sebagian masyarakat Muslim […]

  • KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah Play Button

    KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid-masjid kembali penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih panjang dari biasanya, dan umat Islam berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih. Namun di balik semarak itu, tidak sedikit pertanyaan yang terus berulang dari tahun ke tahun tentang sejarahnya, dalilnya, hingga perbedaan jumlah rakaat yang sering memantik perbincangan. Wakil Rais Syuriyah […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terkait potensi dan pengelolaan dana umat kembali memantik diskursus publik mengenai peran keuangan sosial Islam dalam pembangunan nasional. Menanggapi hal tersebut, Ekonom Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menegaskan bahwa pengelolaan dana umat tidak boleh berhenti pada zakat semata. “Zakat adalah fondasi. Namun, ekosistem dana […]

  • Covid-19 dan “Matinya” Agama

    Covid-19 dan “Matinya” Agama

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini. Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini. Sebut saja physical distancing (jaga jarak), […]

expand_less