Breaking News
dark_mode
Trending Tags

GUSDURian Makassar Wakili GUSDURian Peduli, Serahkan Tali Asih pada Keluarga Dandi

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
  • visibility 159
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di bawah langit Makassar yang terik, lorong sempit di Kelurahan Karampuang, Kecamatan Panakukang, menjadi saksi bisu langkah-langkah penuh empati. Sejumlah penggerak inti GUSDURian Makassar menyusuri lorong itu, bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa dukungan kemanusiaan ke sebuah rumah yang kini menyimpan kenangan tentang Rusdamdiansyah (Dandi), pemuda yang gugur dalam gelombang demonstrasi di Jalan Urip Sumoharjo, Jumat, 29 Agustus 2025 lalu.

Di rumah sederhana itu, Saerah, ibunda almarhum Dandi, menyambut dengan mata yang menyimpan luka yang belum sempat mengering. Baginya, kehadiran para penggerak GUSDURian Makassar dikediamannya tidak hanya sekadar membawa tali asih, tetapi juga membawa pelukan solidaritas yang tak terucap.

Di tengah sunyi yang menggantung, suara Saerah pecah pelan, menyampaikan rasa terima kasih kepada mereka yang datang membawa harapan. “Sampaikan salam hangat kami sekeluarga, terkhusus kepada Ibu Alissa Wahid. Semoga beliau dan keluarga GUSDUR senantiasa diberi kesehatan dan dilindungi oleh Allah SWT,” ucap Saerah dengan suara terdengar parau.

Kunjungan itu berlangsung pada Jumat, 12 September 2025. Dipimpin langsung oleh Fathurrahman Marzuki, Koordinator GUSDURian Makassar, rombongan tak hanya membawa santunan, tetapi juga membawa harapan, bahwa duka tak harus berjalan sendiri.

Setelah memanjatkan doa secara berjamaah untuk almarhum, tali asih kemudian diserahkan secara simbolis. Di hadapan keluarga dan para penggerak komunitas, pria yang akrab disapa Fatul itu, menyampaikan bahwa ini bukan sekadar santunan, tetapi juga bentuk kepedulian akan kemanusiaan yang telah lama menjadi bagian dari kerja-kerja kemanusiaan di lembaga Gusdurian Peduli.

“Kami berduka atas kepergian Dandi. Keadilan harus ditegakkan. Kami mendesak aparat untuk mengusut tuntas pelaku pengeroyokan,” tegas Fatul usai menyerahkan santunan GUSDURian Peduli.

Tak hanya Dandi, Fatul juga menyampaikan simpati kepada para korban lain yang turut terdampak dalam rentetan demonstrasi akhir Agustus kemarin. Ia berharap negeri ini segera pulih dari luka-luka sosial yang menganga.

“Kami tak ingin tragedi seperti ini terulang. Negeri ini terlalu berharga untuk terus berdarah dan menelan korban,” pungkasnya.

Dalam kunjungan singkat itu, hadir pula wajah-wajah yang telah lama menjadi bagian dari penggerak GUSDURian, diantaranya mantan koordinator Gusdurian Makassar, Ince Arif, mantan Koodinator GUSDURian Soppeng, Megawati, Penggerak Senior GUSDURian Makassar, Fitrianingsih, dan sejumlah penggerak muda GUSDURian Makassar.

“Mereka datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai saudara dalam kemanusiaan,” ujar salah seorang warga di lorong tersebut.

Sekedar diketahui, Rusdamdiansyah atau yang akrab disapa Dandi, kesehariannya bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol). Berdasarkan informasi yang dilansir katadata.co.id, Jumat malam, 29 Agustus 2025, Dandi keluar dari rumahnya untuk  menemui tantenya. Namun, langkahnya tak sengaja membawanya melintasi titik aksi demonstrasi yang sedang berlangsung di depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Di tengah keramaian itu, Dandi sempat merekam suasana demo dengan ponselnya. Sayangnya, tubuhnya yang tinggi memicu kecurigaan dari massa. Ia diteriaki sebagai “intel”, tuduhan yang langsung menyulut emosi sekelompok orang. Tanpa sempat menjelaskan, Dandi menjadi korban pengeroyokan brutal. Ia mengalami luka serius, termasuk pendarahan otak dan retak pada tengkorak, yang membuatnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Kementerian Kesehatan CPI.

Meski telah mendapat perawatan intensif, nyawanya tak tertolong. Dandi menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Awalnya, keluarga menerima kabar bahwa Dandi mengalami kecelakaan. Namun, fakta yang terungkap kemudian jauh lebih memilukan. Dandi bukan korban kecelakaan biasa, melainkan korban kekerasan massa dalam aksi demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang aspirasi, bukan tragedi.

  • Penulis: Suaib Pr
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa Ruhani: Madrasah Pengendalian Diri

    Puasa Ruhani: Madrasah Pengendalian Diri

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu 
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Setiap tahun, bulan Ramadhan datang membawa suasana yang berbeda dalam kehidupan umat Islam. Masjid-masjid menjadi lebih hidup, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di berbagai tempat, dan masyarakat berlomba-lomba memperbanyak ibadah. Namun di balik semua itu, ada pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah puasa yang kita jalankan benar-benar telah menyentuh dimensi terdalam dari diri kita, ataukah […]

  • Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

    Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan Pesan Kebangsaan, Desak Pemerintah Jaga Politik Luar Negeri Bebas Aktif

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 294
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sejumlah tokoh lintas agama, intelektual, dan budayawan yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan Pesan Kebangsaan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia terkait situasi geopolitik global yang semakin memanas. Pesan tersebut disampaikan di Jakarta pada 6 Maret 2026, sebagai respons atas meningkatnya ketegangan internasional, khususnya setelah serangan Amerika Serikat dan Israel […]

  • Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 361
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus, memasuki babak baru. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengungkap keterlibatan empat anggota TNI yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Komandan Puspom TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, menyatakan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari penyelidikan internal yang […]

  • Penerapan Prinsip Pembangunan Hijau dalam Kebijakan Pangan dan Energi Nasional

    Penerapan Prinsip Pembangunan Hijau dalam Kebijakan Pangan dan Energi Nasional

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Pemerintahan Presiden Prabowo telah menetapkan Misi lima tahun pembangunan dalam masa pemerintahannya yang dikenal dengan Asta Cita. Berlandaskan pada Prinsip Ekonomi Pancasila, Asta Cita menempatkan ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia sebagai pilar utama pembangunan berlandaskan religiositas kehidupan berbangsa dan persatuan nasional yang kuat. Cita kedua adalah memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong […]

  • Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Datang Tanpa Didampingi Mensos

    Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Datang Tanpa Didampingi Mensos

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 454
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan mendadak ke permukiman padat warga di Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/03/2026) sore. Berbeda dari kunjungan resmi pada umumnya, Presiden datang tanpa didampingi Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu secara tiba-tiba langsung menyedot perhatian warga, khususnya yang tinggal di kawasan bantaran […]

  • Generasi Stroberi: Fakta atau Stigma?

    Generasi Stroberi: Fakta atau Stigma?

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Ada pola yang terus berulang dalam setiap fase zaman. Biasanya, generasi terdahulu menjustifikasi generasi setelahnya. Setiap peralihan era selalu akrab dengan kalimat semacam ini: “Generasi sekarang tidak seperti dulu, mereka sekarang….” Titik-titik itu hampir selalu diisi dengan narasi yang menegaskan keunggulan masa lalu sekaligus meragukan masa kini. Dulu, saya akrab dengan ceramah Zainuddin MZ yang menyebut generasi […]

expand_less