Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)
- account_circle Momy Hunowu
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 50
- print Cetak

Jerigen-jerigen berisi solar yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas tambang ilegal ditemukan warga saat menyisir lokasi penambangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Berselang dua hari setelah Camat dan unsur Tripika melakukan sidak ke lokasi penambangan, sejumlah warga Molamahu bergerak memasuki areal tambang tanpa izin itu. Rupanya, tak ada lagi aktivitas di sekitar lokasi. Yang tersisa hanyalah hamparan tanah penuh luka cabik. Sepertinya para pemburu harta karun itu telah menjauh. Entah lari atau sekadar bersembunyi. Warga segera mengeksekusi tenda-tenda yang masih berdiri tegak tanpa terpal. Bagai dikomando, mereka layaknya Satpol PP yang menertibkan lapak-lapak tak berijin. Tak ketinggalan alat penapis tanah yang terbuat dari rangka kayu, ikut dibakar warga. Warga juga menemukan sejumlah jerigen besar berisi solar yang sengaja ditimbun dalam tanah. Sebagian warga menelusuri jejak eskapator dan akhirnya menemukan dua buah cangkul raksasa itu terparkir di kebun warga. Belum diketahui, apakah para penambang tanpa ijin itu benar-benar pergi, atau menunggu kondisi tenang lalu kembali beraksi? Jika benar mereka akan kembali, sebegitu beranikah mereka dibandingkan kaum penjajah Belanda yang pada akhirnya angkat kaki dari wilayah pencabut nyawa itu? Berikut kisah penguasa kolonial yang berupaya mencerabut bongkahan emas dan berakhir dengan kematian yang mengenaskan, sebagaimana dituturkan para tetua kampung kepada penulis 20 tahun silam.
Ketika Belanda Memburu Emas Molalahu
Dalam beberapa bagian, kisah ini tentu sulit diuji secara historis, namun narasi tersebut hidup dan terus diwariskan dalam ingatan kolektif masyarakat Molalahu. Meskipun Lembah Tupalo (Molalahu Mulolo) merupakan kawasan yang terpencil dan tersembunyi, kaum penjajah Belanda akhirnya sampai juga ke wilayah ini. Mereka bahkan menjangkau wilayah yang lebih jauh hingga Huludu Ayu Molingo, atau puncak perbukitan kayu manis, yang kisahnya akan diceritakan tersendiri. Konon, kawasan ini menarik perhatian kaum penjajah karena diyakini menyimpan kandungan emas yang tak terbayangkan besarnya, apatahlagi nilainya. Menurut penuturan orang-orang tua dahulu, emas yang memancarkan sinar keemasan di sungai lembah Tupalo tak dapat dijamah apalagi dimiliki manusia. Siapa yang coba-coba mengusik, pasti tidak akan selamat. Demikianlah keyakinan yang hidup di tengah masyarakat dan masih sanggup merindingkan bulu kuduk hingga hari ini.
- Penulis: Momy Hunowu

Saat ini belum ada komentar