Misteri Emas Molalahu dan Keserakahan yang Terus Berulang (Bagian 2)
- account_circle Momy Hunowu
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 88
- print Cetak

Jerigen-jerigen berisi solar yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas tambang ilegal ditemukan warga saat menyisir lokasi penambangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tak percaya pada berbagai cerita dan pantangan yang berkembang di tengah masyarakat, kaum penjajah Belanda tidak ambil pusing. Mereka justru semakin tergiur untuk memiliki bongkahan emas raksasa itu. Maklum, kedatangan penjajah ke negeri ini tak lain adalah untuk mengeruk kekayaan alam yang tersimpan di perut bumi pertiwi dan membawanya pulang demi kemakmuran negeri Kincir Angin. Maka berangkatlah serdadu-serdadu Belanda meninjau keberadaan emas yang konon berwujud dudangata (alat cukur kelapa tradisional). Bagaimana tidak menggiurkan? Lazimnya, emas harus ditambang dan didulang terlebih dahulu sebelum ditemukan dalam bentuk serpihan-serpihan kecil sebesar butiran pasir. Namun emas yang dikandung Molalahu, menurut cerita yang beredar, berukuran sebesar dudangata. Sebuah gambaran yang tentu saja sanggup membangkitkan hasrat siapa pun yang ingin memilikinya.
Dengan menempuh perjalanan jauh dari pusat Gorontalo hingga Datahu (warga menyebutnya Lalunga), mereka menyusuri jalan setapak yang nyaris tak berbekas, jalur yang sama dengan yang dilalui unsur kecamatan beberapa hari sebelumnya. Para serdadu Belanda menelusuri aliran sungai dengan menunggang kuda, dipandu oleh warga pribumi. Betapa takjubnya mereka ketika apa yang selama ini hanya terdengar sebagai kabar ternyata terpampang di depan mata. Kemilau emas yang memancar dari dalam air begitu menyilaukan mata (lalalalahu—menguning, yang diyakini menjadi asal-usul nama kampung ini). Maka warga pribumi diperintahkan menjangkau bongkahan emas tersebut dengan peralatan seadanya. Namun, menurut cerita yang diwariskan para tetua, orang-orang itu tewas sesaat setelah kembali ke daratan. Konon, siapa pun yang memaksa mengambil emas tersebut akan berakhir dengan kematian, seketika atau nanti.
Belanda tak patah semangat. Mereka terus memutar otak mencari cara untuk mengangkat bongkahan emas itu dari dasar sungai. Andai emas tersebut berhasil dibawa pulang, tentu keuntungan besar akan mengalir ke negeri Kincir Angin. Menurut penuturan para tetua, demi mendapatkan emas itu, dua orang pemuda bahkan diturunkan ke dasar sungai dengan membawa sebuah gergaji besar. Di dasar sungai, mereka menemukan sebongkah emas yang terjepit di antara dua batu besar dan menjulur ke atas. Kedua lelaki itu menggunakan alat bantu pernapasan sederhana yang konon telah disiapkan aparat kolonial agar mereka tidak kehabisan napas saat menyelam.
Setibanya di dasar sungai, keduanya duduk di atas dua sisi batu yang menjepit bongkahan emas itu. Lalu mulailah mereka menggergajinya. Namun belum lama bekerja, gerombolan ikan gabus datang menyerang. Kedua lelaki itu segera naik ke permukaan untuk menghindar, dengan harapan ikan-ikan tersebut akan menjauh. Beberapa saat kemudian mereka kembali menyelam untuk melanjutkan pekerjaan. Menurut cerita para tetua, sesampainya di dasar sungai, mereka mendapati gergaji yang sebelumnya ditinggalkan dalam keadaan menjepit bongkahan emas telah berpindah ke batu lain di sekitarnya. Tak seorang pun tahu bagaimana alat itu bisa bergeser. Seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menolak upaya mereka mencabik bongkahan emas tersebut. Padahal, mereka yakin hanya mereka berdua yang berada di dasar sungai. Tak ingin gagal, keduanya kembali mengerahkan tenaga untuk memotong bongkahan emas itu. Namun gerombolan ikan gabus kembali datang. Kali ini lebih ganas. Tubuh mereka dikerubuti dan dipatuk bertubi-tubi hingga berlumuran darah. Tak ayal, keduanya segera naik ke daratan untuk menyelamatkan diri.
Tak ingin kehilangan buruannya, aparat kolonial kembali memaksa dua lelaki lainnya untuk turun menyelam. Namun nasib mereka tak berbeda dengan para penyelam sebelumnya. Tubuh keduanya dipenuhi luka dan berlumuran darah akibat patukan ikan gabus. Menurut keyakinan para tetua, ikan-ikan itu bukanlah ikan gabus biasa, melainkan jelmaan para putri penjaga emas yang mendiami kawasan tersebut. Tak lama kemudian, luka-luka itu semakin parah hingga merenggut nyawa mereka.
Kegagalan demi kegagalan tidak membuat penguasa kolonial menyerah. Mereka kembali memutar otak. Jika upaya menggergaji selalu digagalkan oleh serangan ikan gabus, maka pada kunjungan berikutnya mereka datang dengan siasat baru untuk menyeret bongkahan emas itu ke permukaan. Selain linggis, mereka membawa rantai baja dan beberapa ekor kerbau. Setibanya di lokasi, seorang warga yang direkrut untuk menjalankan pekerjaan berisiko itu diperintahkan menyelam dan mengikatkan rantai baja pada bongkahan emas yang berkilauan di dasar sungai. Ketakutan terhadap kematian akhirnya kalah oleh ketakutan terhadap senjata laras panjang yang tak pernah lepas dari tangan para serdadu Belanda.
Setelah berhasil mengikatkan rantai baja pada bongkahan emas itu, pria malang tersebut naik ke permukaan dengan napas tersengal-sengal. Ujung rantai kemudian diikatkan pada sepasang kerbau yang telah disiapkan. Namun tak ada tanda-tanda bahwa bongkahan emas itu bergeser sedikit pun. Kekuatan penarik pun ditambah. Dua ekor kerbau lagi didatangkan. Pada hitungan ketiga, kerbau-kerbau itu dicambuk agar mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyeret bongkahan emas dari tempatnya. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Bongkahan emas itu tetap tak bergeming, sementara rantai baja yang menjeratnya putus berkeping-keping. Walhasil, bukannya emas yang didapat, para pekerja beserta kerbau-kerbau penarik itu justru mati terkapar.
Penguasa kolonial mengernyitkan dahi. Masa iya kekuatan empat ekor kerbau tidak mampu menggoyahkan bongkahan emas itu dari dudukannya? Jangan-jangan benar juga keyakinan orang-orang yang menyebut bahwa emas tersebut memiliki penunggu. Kabar kegagalan serdadu Belanda memperoleh emas itu segera tersiar ke berbagai penjuru, terlebih setelah disertai kisah kematian warga yang mengerikan. Sejak saat itu, untuk waktu yang sangat lama, tak seorang pun berani usil menyentuh bongkahan emas tersebut.
Menurut keyakinan masyarakat setempat, bongkahan emas yang terkandung di perut bumi Molalahu Mulolo itu berada dalam penjagaan gaib dan hanya dapat diambil atas izin spiritual dari aulia Poliduhelo yang dimakamkan di kawasan tersebut. Dalam istilah lokal, emas itu disebut ladu-ladungo—emas yang terjaga secara mistis. Tak sembarang orang dapat mengambilnya. Konon, suatu saat emas itu akan dapat diangkat melalui ritual dan persyaratan tertentu, serta oleh orang-orang tertentu pula. Salah satu syarat yang sering diceritakan para tetua adalah penyembelihan seorang perempuan cantik berkulit putih (ta hula) sebagai tumbal. Setelah Belanda gagal mendapatkannya, mungkinkah suatu hari ada warga pribumi yang berhasil memperoleh emas itu melalui cara tersebut? Jangan-jangan para penambang ilegal itu diam-diam telah menyiapkan tumbalnya? (BERSAMBUNG).
- Penulis: Momy Hunowu

Saat ini belum ada komentar