Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Desensitisasi masyarakat bukan sekedar Problem sosial tapi Juga Kekeringan Spirtualitas

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
  • visibility 153
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam pandangan teologis, manusia diciptakan bukan hanya sebagai makhluk yang berpikir, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki qalb—hati yang menjadi pusat kesadaran moral dan spiritual. Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak membiarkan hati menjadi keras sehingga kehilangan kemampuan menangkap penderitaan sesamanya. Karena itu, kepekaan terhadap derita orang lain bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan bagian dari amanah kekhalifahan di bumi.

desensitisasi sosial tidak cukup dijelaskan melalui karakter individu, tetapi harus dibaca sebagai konsekuensi dari struktur masyarakat informasi. Sistem media, algoritma digital, dan ekonomi perhatian membentuk cara manusia melihat, mengingat, bahkan merasakan realitas. Karena itu, memulihkan kepekaan sosial tidak cukup dilakukan melalui seruan moral agar masyarakat lebih peduli. Yang jauh lebih mendesak adalah membangun ekosistem komunikasi yang memberi konteks, menjaga kesinambungan isu, dan memungkinkan tragedi dipahami sebagai persoalan bersama

Sialnya Salah satu kekeliruan yang sering muncul ketika membicarakan desensitisasi sosial adalah menganggapnya semata-mata sebagai kemerosotan moral. Masyarakat dinilai semakin kebal, tidak peduli, atau kehilangan belas kasih. Padahal persoalannya jauh lebih rumit. Yang berubah bukan selalu kemampuan manusia untuk berempati, melainkan cara empati itu bekerja di tengah kehidupan yang dibanjiri informasi tanpa jeda. Kita mungkin masih mampu merasakan penderitaan orang lain, tetapi kemampuan itu memiliki batas. Ia dapat melemah bukan karena hati menjadi keras, melainkan karena perhatian terus-menerus dipaksa berpindah dari satu tragedi ke tragedi berikutnya.

Hari ini hampir tidak ada ruang untuk benar-benar menghayati sebuah peristiwa. Sebelum kita sempat memahami satu bencana, muncul konflik baru. Sebelum duka atas satu korban menemukan tempatnya, layar kita sudah dipenuhi kekerasan lain, skandal politik, krisis ekonomi, atau kontroversi baru. Penderitaan tidak lagi hadir sebagai pengalaman yang memberi kesempatan untuk merenung, tetapi sebagai arus yang datang silih berganti tanpa henti. Akibatnya, bukan hanya berita yang terus berubah, melainkan juga cara kita mengalaminya.

Pada mulanya setiap tragedi mampu mengguncang kesadaran. Namun tidak ada manusia yang sanggup hidup dalam keadaan terus-menerus terguncang. Paparan yang berulang terhadap kabar buruk perlahan memunculkan mekanisme perlindungan diri. Bukan karena kita berhenti peduli, melainkan karena tubuh dan pikiran berusaha menjaga diri agar tidak terus-menerus diliputi rasa takut, sedih, atau marah. Apa yang dari luar tampak sebagai sikap dingin sering kali hanyalah bentuk adaptasi terhadap beban emosional yang terlalu berat.

Karena itu, desensitisasi lebih tepat dipahami sebagai kelelahan daripada hilangnya nurani. Banyak orang sesungguhnya masih ingin peduli, tetapi mereka lelah. Lelah menyaksikan jumlah korban yang terus bertambah, lelah mengikuti perkembangan yang tidak kunjung selesai, lelah melihat kekerasan diputar berulang kali, dan lelah berada di tengah perdebatan yang nyaris tak menghasilkan perubahan. Empati membutuhkan waktu untuk tumbuh menjadi pemahaman, sementara pemahaman membutuhkan konteks. Sayangnya, keduanya semakin langka dalam ekosistem informasi yang terus menuntut perhatian berpindah secepat mungkin.

Persoalan ini juga berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia mengolah informasi. Tidak mungkin seseorang memberi perhatian yang sama mendalam kepada begitu banyak peristiwa sekaligus. Ketika perhatian terus dipecah, tragedi kemanusiaan perlahan berubah menjadi sekadar konsumsi informasi. Berita dibaca cepat, diberi respons singkat, lalu segera tergeser oleh isu berikutnya. Perasaan masih muncul, tetapi tidak sempat berkembang menjadi kepedulian yang bertahan lama ataupun tindakan yang berarti.

Perubahan semacam ini berlangsung perlahan sehingga sering tidak disadari. Pada awalnya orang masih terdorong menyampaikan simpati, menggalang bantuan, atau menyuarakan protes. Namun ketika tragedi terus berulang sementara penyelesaiannya nyaris tidak pernah terlihat, muncul rasa tidak berdaya yang pelan-pelan mengikis semangat untuk terus terlibat. Dari sinilah lahir jarak emosional. Bukan karena penderitaan orang lain tidak lagi penting, tetapi karena harapan bahwa sesuatu benar-benar akan berubah semakin menipis.

Situasi menjadi lebih rumit ketika setiap tragedi segera berubah menjadi arena perebutan narasi. Perhatian publik bergeser dari nasib korban menuju perdebatan tentang siapa yang salah, siapa yang paling benar, dan kelompok mana yang harus dipersalahkan. Empati akhirnya terseret ke dalam polarisasi. Energi emosional habis untuk mempertahankan posisi, bukan untuk mencari jalan keluar. Dalam keadaan seperti itu, rasa iba mudah berubah menjadi kemarahan, kecurigaan, atau frustrasi yang sama-sama menguras tenaga batin.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh ruang publik. Solidaritas menjadi sangat bergantung pada viralitas. Ketika sebuah peristiwa ramai diperbincangkan, perhatian publik memuncak. Begitu isu lain muncul, perhatian itu ikut menghilang. Akibatnya, banyak persoalan struktural kehilangan tekanan sosial yang dibutuhkan agar benar-benar diselesaikan. Kita bergerak dari satu kemarahan ke kemarahan berikutnya tanpa pernah cukup lama bertahan pada satu persoalan hingga melahirkan perubahan.

Karena itu, menyalahkan individu sebagai “kurang empati” justru menutup mata terhadap persoalan yang lebih mendasar. Desensitisasi lahir bukan semata dari watak manusia, tetapi juga dari cara ruang komunikasi dibentuk. Arus informasi yang bergerak terlalu cepat membuat perhatian menjadi komoditas yang selalu diperebutkan. Dalam ritme seperti ini, kedalaman berpikir dan kedalaman merasa sama-sama sulit dipertahankan.

Maka desensitisasi sosial bukan sekadar kisah tentang masyarakat yang kehilangan belas kasih. Ia adalah gejala zaman ketika perhatian menjadi sumber daya yang terus dieksploitasi. Kepekaan tidak pernah hilang begitu saja, tetapi perlahan terkikis karena tidak diberi kesempatan untuk bertahan. Jika ingin memulihkan sensitivitas sosial, yang perlu dibangun bukan hanya ajakan agar orang “lebih peduli”, melainkan juga ruang yang memungkinkan empati berkembang menjadi pemahaman, pemahaman menjadi solidaritas, dan solidaritas menjelma menjadi tindakan yang berkelanjutan.

ancaman terbesar masyarakat modern bukanlah hilangnya kemampuan untuk berempati, melainkan hilangnya kesempatan untuk memelihara empati itu sendiri. Kepekaan hanya dapat tumbuh jika ada ruang untuk berhenti, merenung, dan memberi makna pada pengalaman. Ketika seluruh kehidupan dipercepat oleh logika informasi yang menuntut respons seketika, empati berubah menjadi reaksi sesaat, bukan komitmen yang bertahan. Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan krisis informasi, melainkan krisis perhatian. Dan selama perhatian terus diperlakukan sebagai komoditas yang diperebutkan, solidaritas akan semakin sulit bertahan melampaui satu siklus berita.

Mungkin karena itu, ketika kita merasa masyarakat semakin kebal terhadap penderitaan, persoalan sebenarnya bukan terletak pada matinya hati. Yang semakin langka adalah kesempatan untuk benar-benar merasakan. Kita hidup dalam ritme yang terus menyita perhatian, memaksa setiap tragedi segera digantikan oleh tragedi berikutnya. Dalam dunia seperti itu, yang terkikis bukan hanya empati, melainkan juga ingatan kolektif dan kemampuan kita untuk bertahan bersama sebuah persoalan hingga menemukan jalan keluarnya.

Tugas kita bukan sekadar menjadi konsumen informasi yang bereaksi setiap kali sebuah tragedi menjadi viral, tetapi menjadi manusia yang mampu menjaga ingatan, merawat kepedulian, dan istiqamah dalam solidaritas meskipun sorotan publik telah berpindah ke isu lain. Barangkali di sinilah makna firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan itu dimulai dari hati yang terus dijaga agar tetap hidup, akal yang mampu memberi makna pada realitas, dan tindakan yang menjadikan belas kasih sebagai kerja sosial yang berkelanjutan.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 585
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pertahanan untuk segera menghentikan pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Desakan ini disampaikan menyusul dugaan bahwa proyek sarana prasarana ketahanan pangan tersebut dijalankan tanpa memenuhi ketentuan lingkungan hidup serta berpotensi melanggar hak masyarakat […]

  • Desa Bukan Sekadar laporan Dan infrastruktur. Ia Rasa kepemilikan kolektif

    Desa Bukan Sekadar laporan Dan infrastruktur. Ia Rasa kepemilikan kolektif

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 501
    • 0Komentar

    Pembangunan desa hari ini kerap berjalan dalam irama yang terlalu kaku: serba terukur, serba terlapor, tetapi kerap lupa untuk dirasakan. Desa dipaksa berbicara dalam bahasa angka—persentase pertumbuhan, serapan anggaran, dan indikator kinerja—seolah kemajuan hanya sah jika bisa dirumuskan dalam tabel dan grafik. Di tengah gegap gempita itu, sesuatu yang paling mendasar justru perlahan tersisih: manusia […]

  • Tuntaskan Amanah, Mahasantri Semester Akhir Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Sidang LPJ Santri Dakwah

    Tuntaskan Amanah, Mahasantri Semester Akhir Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Sidang LPJ Santri Dakwah

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 204
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jakarta – Mahasantri semester akhir Pondok Pesantren Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin resmi menggelar Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tabligh atau Santri Dakwah Khatamun Nabiyyin (SDKN), Rabu (07/05/2026). Sidang tersebut menjadi puncak dari rangkaian pengabdian dakwah yang sebelumnya dijalankan di berbagai wilayah Indonesia. Berbekal keilmuan dan semangat pengabdian, para mahasantri telah menuntaskan program tabligh di delapan […]

  • Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum untuk Membangun Kesadaran Kolektif Bangsa

    Tahun Baru Hijriyah sebagai Momentum untuk Membangun Kesadaran Kolektif Bangsa

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Pergantian tahun Hijriyah bukan sekadar penanda bertambahnya usia kalender Islam, melainkan momentum penting untuk melakukan refleksi dan pembenahan diri. Semangat hijrah yang diwariskan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari keberanian memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta menumbuhkan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam khutbah Jumat bertajuk “Tahun Baru Hijriyah sebagai […]

  • Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan istighosah sebagai salah satu rangkaian dari Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo . Kegiatan ini berlangsung di Kantor PWNU Gorontalo, dihadiri oleh jajaran pengurus, para kiai, tokoh agama, dan peserta dari berbagai kalangan serta seluruh masyarakat Nahdatul ulama, kamis  (30/10/2025) Istighosah tersebut dipimpin KH. Muhyidin Zeni Wakil […]

  • Akuntansi Utang Pemerintahan : Antara Kebutuhan Pembangunan dan Resiko Fiskal

    Akuntansi Utang Pemerintahan : Antara Kebutuhan Pembangunan dan Resiko Fiskal

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Hilda Anggraeni
    • visibility 336
    • 0Komentar

    Utang pemerintah kerap menjadi pisau bermata dua dalam tata kelola keuangan negara. Di satu sisi, pembiayaan melalui utang merupakan instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, akumulasi utang yang tidak terkendali berpotensi mengguncang stabilitas fiskal dan membebani generasi mendatang. Dalam konteks inilah, akuntansi utang pemerintahan memegang peran sentral—tidak sekadar […]

expand_less