Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Desensitisasi masyarakat bukan sekedar Problem sosial tapi Juga Kekeringan Spirtualitas

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
  • visibility 63
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam pandangan teologis, manusia diciptakan bukan hanya sebagai makhluk yang berpikir, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki qalb—hati yang menjadi pusat kesadaran moral dan spiritual. Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak membiarkan hati menjadi keras sehingga kehilangan kemampuan menangkap penderitaan sesamanya. Karena itu, kepekaan terhadap derita orang lain bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan bagian dari amanah kekhalifahan di bumi.

desensitisasi sosial tidak cukup dijelaskan melalui karakter individu, tetapi harus dibaca sebagai konsekuensi dari struktur masyarakat informasi. Sistem media, algoritma digital, dan ekonomi perhatian membentuk cara manusia melihat, mengingat, bahkan merasakan realitas. Karena itu, memulihkan kepekaan sosial tidak cukup dilakukan melalui seruan moral agar masyarakat lebih peduli. Yang jauh lebih mendesak adalah membangun ekosistem komunikasi yang memberi konteks, menjaga kesinambungan isu, dan memungkinkan tragedi dipahami sebagai persoalan bersama

Sialnya Salah satu kekeliruan yang sering muncul ketika membicarakan desensitisasi sosial adalah menganggapnya semata-mata sebagai kemerosotan moral. Masyarakat dinilai semakin kebal, tidak peduli, atau kehilangan belas kasih. Padahal persoalannya jauh lebih rumit. Yang berubah bukan selalu kemampuan manusia untuk berempati, melainkan cara empati itu bekerja di tengah kehidupan yang dibanjiri informasi tanpa jeda. Kita mungkin masih mampu merasakan penderitaan orang lain, tetapi kemampuan itu memiliki batas. Ia dapat melemah bukan karena hati menjadi keras, melainkan karena perhatian terus-menerus dipaksa berpindah dari satu tragedi ke tragedi berikutnya.

Hari ini hampir tidak ada ruang untuk benar-benar menghayati sebuah peristiwa. Sebelum kita sempat memahami satu bencana, muncul konflik baru. Sebelum duka atas satu korban menemukan tempatnya, layar kita sudah dipenuhi kekerasan lain, skandal politik, krisis ekonomi, atau kontroversi baru. Penderitaan tidak lagi hadir sebagai pengalaman yang memberi kesempatan untuk merenung, tetapi sebagai arus yang datang silih berganti tanpa henti. Akibatnya, bukan hanya berita yang terus berubah, melainkan juga cara kita mengalaminya.

Pada mulanya setiap tragedi mampu mengguncang kesadaran. Namun tidak ada manusia yang sanggup hidup dalam keadaan terus-menerus terguncang. Paparan yang berulang terhadap kabar buruk perlahan memunculkan mekanisme perlindungan diri. Bukan karena kita berhenti peduli, melainkan karena tubuh dan pikiran berusaha menjaga diri agar tidak terus-menerus diliputi rasa takut, sedih, atau marah. Apa yang dari luar tampak sebagai sikap dingin sering kali hanyalah bentuk adaptasi terhadap beban emosional yang terlalu berat.

Karena itu, desensitisasi lebih tepat dipahami sebagai kelelahan daripada hilangnya nurani. Banyak orang sesungguhnya masih ingin peduli, tetapi mereka lelah. Lelah menyaksikan jumlah korban yang terus bertambah, lelah mengikuti perkembangan yang tidak kunjung selesai, lelah melihat kekerasan diputar berulang kali, dan lelah berada di tengah perdebatan yang nyaris tak menghasilkan perubahan. Empati membutuhkan waktu untuk tumbuh menjadi pemahaman, sementara pemahaman membutuhkan konteks. Sayangnya, keduanya semakin langka dalam ekosistem informasi yang terus menuntut perhatian berpindah secepat mungkin.

Persoalan ini juga berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia mengolah informasi. Tidak mungkin seseorang memberi perhatian yang sama mendalam kepada begitu banyak peristiwa sekaligus. Ketika perhatian terus dipecah, tragedi kemanusiaan perlahan berubah menjadi sekadar konsumsi informasi. Berita dibaca cepat, diberi respons singkat, lalu segera tergeser oleh isu berikutnya. Perasaan masih muncul, tetapi tidak sempat berkembang menjadi kepedulian yang bertahan lama ataupun tindakan yang berarti.

Perubahan semacam ini berlangsung perlahan sehingga sering tidak disadari. Pada awalnya orang masih terdorong menyampaikan simpati, menggalang bantuan, atau menyuarakan protes. Namun ketika tragedi terus berulang sementara penyelesaiannya nyaris tidak pernah terlihat, muncul rasa tidak berdaya yang pelan-pelan mengikis semangat untuk terus terlibat. Dari sinilah lahir jarak emosional. Bukan karena penderitaan orang lain tidak lagi penting, tetapi karena harapan bahwa sesuatu benar-benar akan berubah semakin menipis.

Situasi menjadi lebih rumit ketika setiap tragedi segera berubah menjadi arena perebutan narasi. Perhatian publik bergeser dari nasib korban menuju perdebatan tentang siapa yang salah, siapa yang paling benar, dan kelompok mana yang harus dipersalahkan. Empati akhirnya terseret ke dalam polarisasi. Energi emosional habis untuk mempertahankan posisi, bukan untuk mencari jalan keluar. Dalam keadaan seperti itu, rasa iba mudah berubah menjadi kemarahan, kecurigaan, atau frustrasi yang sama-sama menguras tenaga batin.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh ruang publik. Solidaritas menjadi sangat bergantung pada viralitas. Ketika sebuah peristiwa ramai diperbincangkan, perhatian publik memuncak. Begitu isu lain muncul, perhatian itu ikut menghilang. Akibatnya, banyak persoalan struktural kehilangan tekanan sosial yang dibutuhkan agar benar-benar diselesaikan. Kita bergerak dari satu kemarahan ke kemarahan berikutnya tanpa pernah cukup lama bertahan pada satu persoalan hingga melahirkan perubahan.

Karena itu, menyalahkan individu sebagai “kurang empati” justru menutup mata terhadap persoalan yang lebih mendasar. Desensitisasi lahir bukan semata dari watak manusia, tetapi juga dari cara ruang komunikasi dibentuk. Arus informasi yang bergerak terlalu cepat membuat perhatian menjadi komoditas yang selalu diperebutkan. Dalam ritme seperti ini, kedalaman berpikir dan kedalaman merasa sama-sama sulit dipertahankan.

Maka desensitisasi sosial bukan sekadar kisah tentang masyarakat yang kehilangan belas kasih. Ia adalah gejala zaman ketika perhatian menjadi sumber daya yang terus dieksploitasi. Kepekaan tidak pernah hilang begitu saja, tetapi perlahan terkikis karena tidak diberi kesempatan untuk bertahan. Jika ingin memulihkan sensitivitas sosial, yang perlu dibangun bukan hanya ajakan agar orang “lebih peduli”, melainkan juga ruang yang memungkinkan empati berkembang menjadi pemahaman, pemahaman menjadi solidaritas, dan solidaritas menjelma menjadi tindakan yang berkelanjutan.

ancaman terbesar masyarakat modern bukanlah hilangnya kemampuan untuk berempati, melainkan hilangnya kesempatan untuk memelihara empati itu sendiri. Kepekaan hanya dapat tumbuh jika ada ruang untuk berhenti, merenung, dan memberi makna pada pengalaman. Ketika seluruh kehidupan dipercepat oleh logika informasi yang menuntut respons seketika, empati berubah menjadi reaksi sesaat, bukan komitmen yang bertahan. Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan krisis informasi, melainkan krisis perhatian. Dan selama perhatian terus diperlakukan sebagai komoditas yang diperebutkan, solidaritas akan semakin sulit bertahan melampaui satu siklus berita.

Mungkin karena itu, ketika kita merasa masyarakat semakin kebal terhadap penderitaan, persoalan sebenarnya bukan terletak pada matinya hati. Yang semakin langka adalah kesempatan untuk benar-benar merasakan. Kita hidup dalam ritme yang terus menyita perhatian, memaksa setiap tragedi segera digantikan oleh tragedi berikutnya. Dalam dunia seperti itu, yang terkikis bukan hanya empati, melainkan juga ingatan kolektif dan kemampuan kita untuk bertahan bersama sebuah persoalan hingga menemukan jalan keluarnya.

Tugas kita bukan sekadar menjadi konsumen informasi yang bereaksi setiap kali sebuah tragedi menjadi viral, tetapi menjadi manusia yang mampu menjaga ingatan, merawat kepedulian, dan istiqamah dalam solidaritas meskipun sorotan publik telah berpindah ke isu lain. Barangkali di sinilah makna firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan itu dimulai dari hati yang terus dijaga agar tetap hidup, akal yang mampu memberi makna pada realitas, dan tindakan yang menjadikan belas kasih sebagai kerja sosial yang berkelanjutan.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Ketok Perda Pertanggungjawaban APBD 2024

    DPRD Ketok Perda Pertanggungjawaban APBD 2024

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2024 untuk menjadi perda. Hal tersebut dibahas pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Gorontalo ke-28, Selasa (8/7/2025). “Alhamdulillah, antara tim anggaran pemerintah dan badan anggaran serta para anggota dewan yang terhormat, kita bersepakat bahwa […]

  • Waspada Normalisasi Kekerasan

    Waspada Normalisasi Kekerasan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini, konten media sosial dipenuhi fenomena yang menggelisahkan: domestifikasi kekerasan. Kekerasan, khususnya dalam rumah tangga, dikemas menjadi hiburan yang mudah dikonsumsi publik. Menariknya, latar rumah tangga dalam video-video ini sangat beragam, mulai dari keluarga mapan, keluarga miskin (terlihat dari kondisi rumah), hingga keluarga yang berpenampilan seperti tokoh agama. Meski biasanya korban kekerasan adalah suami, […]

  • DPR Tetapkan Lima Calon Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua

    DPR Tetapkan Lima Calon Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menetapkan lima calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dalam Rapat Paripurna yang digelar di Gedung Nusantara II, Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Penetapan tersebut merupakan tindak lanjut dari proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang sebelumnya dilakukan oleh Komisi XI DPR RI terhadap […]

  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural

    Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 1.238
    • 0Komentar

    Tulisan sederhan ini sebenarnya memenuhi permohonan dari dua sahabat saya, Kyai Asrul Lasapa dan Dr. Funco Tanipu. Tulisan ini bukan saatu-satunya jawaban atas polemik yang lagi viral di media sosial (facebook). Tulisan ini akan mencoba memberikan perspektif historis, teologis dan sosiokultural termasuk sedikit sentuhan antropologis. Jika kita mempelajari budaya Gorontalo, sesungguhnya konstruksi kebudayaan Gorontalo yang […]

  • Jaringan Gusdurian Menilai Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Pengkhianatan terhadap Demokrasi

    Jaringan Gusdurian Menilai Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Pengkhianatan terhadap Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Momentum Hari Pahlawan yang seharusnya menjadi refleksi nilai-nilai perjuangan bangsa justru menimbulkan dilema nasional. Di tengah peringatan 10 November 2025, muncul polemik tajam atas keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto, sosok yang selama 32 tahun memimpin Indonesia di bawah rezim Orde Baru yang otoriter. Pemberian gelar tersebut menuai kritik keras dari […]

  • Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

    Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Dulu orang percaya ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa manusia pada kebebasan. Semakin modern sebuah masyarakat, semakin terbuka pula cara berpikirnya. Rasionalitas dianggap mampu membebaskan manusia dari kebodohan, mitos, dan penindasan. Tetapi hari ini kita justru melihat sesuatu yang dilematis, teknologi berkembang begitu cepat, informasi ada di mana-mana, namun masyarakat semakin mudah diarahkan, digiring, bahkan […]

expand_less