Breaking News
dark_mode
Trending Tags

KH. Adam Zakaria: Ulama Tanpa Pesantren yang Melahirkan Banyak Ulama

  • account_circle Moh. Rodney Neu
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 368
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Barangkali tidak semua orang mengenal sosok ulama masyhur Gorontalo yang satu ini. Namun di kalangan para santri, guru agama, dan tokoh masyarakat, nama KH. Adam Zakaria dikenang sebagai ulama yang tak pernah berhenti belajar, mengajar, dan berkhidmat untuk Islam. Ia adalah cerminan nyata dari kegigihan menuntut ilmu, meski tanpa pernah mencicipi pendidikan formal di pesantren.

Ulama Tanpa Pesantren

KH. Adam Zakaria memang tak pernah menempuh pendidikan di pesantren sebagaimana sahabat sekaligus gurunya, KH. Ridwan Podungge (Aba Idu). Namun siapa sangka, ia justru menjadi pengajar berbagai kitab kuning yang lazim diajarkan di lembaga-lembaga pesantren.

Ia belajar dari banyak guru, dengan semangat yang tak mengenal lelah. Kitab-kitab seperti Risalatul Mu’awanah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad — yang juga pengarang Ratibul Haddad dan Wirdul Lathif — menjadi bacaan utamanya. Dari kitab tersebut, ia menyerap pelajaran adab dan akhlak, yang kemudian ia wariskan kepada murid-muridnya.

Salah satunya adalah KH. Abdul Rasyid Kamaru, yang kelak menggantikan posisi Kiai Adam sebagai Qadhi di Kota Gorontalo. Selain Risalatul Mu’awanah, Kiai Adam juga mendalami Alfiyah Ibnu Malik, sebuah karya klasik dalam ilmu nahwu dan shorof, juga kitab-kitab fikih serta manasik haji. Semua itu ia pelajari bukan di pesantren, tetapi dari para guru yang ia datangi secara langsung — dengan sepeda ontel, melintasi jarak jauh demi secercah ilmu.

Kelahiran dan Tanda Keistimewaan

KH. Adam Zakaria lahir di Gorontalo pada 21 Juli 1924 dari pasangan Zakaria Soi dan Afifah Ismail. Meski berasal dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya dikenal sebagai sosok yang taat beribadah. Sebuah kisah turun-temurun menyebutkan bahwa sang ibu pernah bermimpi melihat anaknya — Kiai Adam kecil — berada di atas bumbungan rumah. Dalam tradisi Gorontalo, mimpi semacam itu adalah pertanda bahwa anak tersebut kelak akan menjadi tokoh besar. Mimpi itu terbukti nyata.

Sanad Keilmuan dan Guru-Gurunya

Sanad keilmuan KH. Adam Zakaria bersambung pada para ulama besar Gorontalo. Ia adalah murid dari: KH. Abas Rauf (1921–1980), Qadhi Kota Gorontalo era 1970-an, KH. Abdussamad Ota (Tuan Samadi), KH. Yahya Podungge (Paci Nurjana), Kali Hundu, Habib Ahmad bin Alwi Almasyhur, dan Habib Bin Lamin Al-Jufri. Para guru inilah yang mengasah dan menanamkan ilmu-ilmu agama pada Kiai Adam. Ia tidak pernah membeda-bedakan latar belakang para guru — apakah dari Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. Bagi Kiai Adam, siapa pun yang berilmu adalah tempat belajar yang layak dihormati.

Kisah Inspiratif: Ilmu di Balik Baju

Salah satu kisah menarik dalam perjalanannya menuntut ilmu terjadi saat Kiai Adam hendak mengikuti pengajian fikih di rumah Tuan Samadi. Dalam perjalanan, ia sadar bahwa kitab fikih tertinggal di rumah, sementara yang terbawa hanya kitab Risalatul Mu’awanah. Alih-alih kembali, ia tetap melanjutkan perjalanan. Begitu tiba, Tuan Samadi justru berkata:

“Hari ini kita belum belajar Fiqih. Kayaknya ada kitab yang harus kita baca hari ini, yakni Risalatul Mu’awanah. Ayo cepat keluarkan kitab itu dari balik bajumu.”

Kiai Adam terperanjat. Ia tidak menyangka bahwa gurunya mengetahui kitab apa yang sedang ia bawa — seolah hubungan batin murid dan guru begitu erat. Ia memang dikenal sebagai murid istimewa dari KH. Abas Rauf dan Tuan Samadi. Bahkan, KH. Abas Rauf pernah berpesan kepada para muridnya: “Jika ada pertanyaan dan aku sudah tiada, tanyalah kepada KH. Adam Zakaria.”

Ulama yang Melahirkan Ulama

Berkat ketekunan dan kesungguhannya, KH. Adam Zakaria berhasil melahirkan banyak ulama dan dai di Gorontalo. Beberapa di antaranya adalah: KH. Armin Otoluwa (alm), KH. Yusuf Mopangga (alm), Ustadz Basi Jidi (alm), KH. Abdulla Hippi (Imam Hippi), KH. Muin Mooduto (Pimpinan Ponpes Alkhairaat dan Ketua MUI Kota Gorontalo), KH Abdul Rasyid Kamaru, Ustadz Safrudin Mahmud dan masih banyak lagi.

Pada era 1990-an, setiap kelurahan di Kota Gorontalo bahkan mengirimkan dua orang untuk belajar langsung kepada Kiai Adam.

Dalam setiap pertemuan mingguan di berbagai masjid, para murid belajar membaca dan memahami kitab kuning. Ia dikenal sabar membimbing; tidak pernah menyuruh berhenti membaca sebelum ia sendiri yang memberi aba-aba.

Tak Pernah Lelah Mengajar

Semangat KH. Adam Zakaria dalam mendidik tak luntur oleh usia maupun perjalanan jauh. Suatu ketika, para murid sempat hendak pulang karena guru mereka belum tiba dari perjalanan dari Manado. Namun sebelum langkah mereka menjauh dari tempat pengajian, mobil yang ditumpangi Kiai Adam sudah terparkir di depan mereka. Ia langsung turun dan mulai mengajar seperti biasa, seakan tak ada rasa lelah yang menghampiri. “Mestinya ia istirahat karena perjalanan jauh. Tapi beliau tetap mendampingi murid-muridnya,” kenang Ustadz Safrudin Mahmud.

KH. Adam Zakaria wafat pada tahun 2006. Namun warisan ilmunya masih hidup dalam diri para murid dan pengagumnya. Ia adalah cermin dari seorang ulama sejati — yang meski tanpa pesantren, mampu menjadi samudera ilmu yang dalam dan luas. Ia menunjukkan bahwa semangat belajar, adab terhadap guru, dan kesungguhan hati jauh lebih penting daripada gelar formal.

  • Penulis: Moh. Rodney Neu
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alissa Wahid: Merawat Indonesia Tidak Cukup Hanya dengan Kata-kata

    Alissa Wahid: Merawat Indonesia Tidak Cukup Hanya dengan Kata-kata

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Yogyakarta- Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid, menyampaikan bahwa merawat Indonesia tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi juga membutuhkan kerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurut Alissa, menjaga dan merawat Indonesia bukanlah pekerjaan mudah seperti menyampaikan pidato di depan umum. Merawat Indonesia berarti harus hadir secara nyata dalam memelihara keberagaman dan kebersamaan di antara […]

  • Nihayatul Wafiroh Resmikan Kantor Baru DPW PKB Gorontalo

    Nihayatul Wafiroh Resmikan Kantor Baru DPW PKB Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menghadiri peresmian Sekretariat Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Gorontalo, Selasa (12/8/2025). Acara berlangsung di kantor baru PKB di Jalan KH. Adam Zakaria, Dembe II, Kota Gorontalo. Dalam sambutannya, Nihayatul menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus DPW PKB atas peresmian sekretariat baru. Ia berharap ke depan […]

  • Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat dan sukses

    Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat dan sukses

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Bontoa,17 Agustus 2026 – Camat Bontoa Muh Maudu S.Hut M.Sp memimpin Upacara Penurunan bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Bontoa pada Minggu sore Di lapangan Mannan talawe Upacara diikuti Forkopimcam, ASN,Kepala Desa/Kelurahan TNI-Polri,Ormas,OKP,pelajar,PKK dan Masyarakat.Petugas penurunan bendera adalah anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa 2026 Sebanyak 25 orang dari Perwakilan SMA/MA Sederajat se kecamatan Bontoa. Camat […]

  • Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    Wacana Pilkada Lewat DPRD Dinilai Bertentangan dengan Putusan MK

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 403
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Wacana sejumlah partai politik besar untuk mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD dinilai bertentangan dengan konstitusi dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan MK Nomor 110/PUU-XXII/2025 secara tegas menempatkan pilkada sebagai bagian dari rezim pemilu yang harus dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Pengajar Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo, Eka Putra B. Santoso, […]

  • Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan Play Button

    Rajab dan Kepulangan yang Sunyi: Bayi, Pohon, dan Rahmat Tuhan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 276
    • 0Komentar

    Rajab selalu datang dengan sunyi yang disengaja. Ia tidak meminta sorak, hanya ruang untuk merenung. Di bulan inilah sebuah budaya tentang kematian bayi di Toraja yang belum tumbuh gigi dan “dipulangkan” ke pohon mengajak kita menimbang ulang makna hidup, iman, dan kemanusiaan. Rajab adalah bulan yang tidak riuh. Ia berdiri tenang di antara kalender hijriah, […]

  • Manfaat Kapulaga untuk Wanita, dari Redakan Nyeri Haid hingga Jaga Kecantikan

    Manfaat Kapulaga untuk Wanita, dari Redakan Nyeri Haid hingga Jaga Kecantikan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 201
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Manfaat kapulaga untuk wanita tidak hanya terbatas pada membantu meredakan nyeri haid. Rempah aromatik ini juga dikenal memiliki berbagai khasiat alami yang mendukung kesehatan tubuh dan kecantikan dari dalam. Kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral di dalam kapulaga membuatnya kerap dimanfaatkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kapulaga merupakan rempah yang berasal dari biji […]

expand_less