Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Adab di Atas Algoritma

  • account_circle Ahmad Kadir
  • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
  • visibility 360
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Zaman terus bergerak. Teknologi melaju tanpa menunggu siapa pun. Informasi datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Apa yang dulu dibahas berjam-jam di pesantren, melalui kitab, halaqah-halaqah, dan bimbingan guru namun hari ini kerap hadir dalam potongan video berdurasi tiga puluh detik. Cepat, ringkas, tetapi sering kali tidak utuh.

Di tengah arus itu, santri hidup di ruang yang sama dengan semua orang: media sosial. Timeline menjadi ruang perjumpaan baru, tempat gagasan, emosi, dan opini saling berkejaran. Namun tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang ramai mengandung kebenaran.

Hari ini, tidak sedikit santri sebagaimana masyarakat luas, yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Satu potongan video, satu tangkapan layar, satu narasi sepihak; langsung dibagikan, dikomentari, bahkan dijadikan sikap. Padahal, para kiai sejak lama mengingatkan kaidah penting dalam ushul fikih: الحكم على الشيء فرع عن تصوره al-ḥukmu ‘alā asy-syai’ far‘un ‘an taṣawwurih (menilai sesuatu harus diawali dengan pemahaman yang utuh).

Fenomena ini kerap disorot para pendidik dan pengamat sosial. Media sosial membentuk opini dengan kecepatan tinggi, tetapi sering memotong konteks. Yang sampai ke layar bukan kebenaran seutuhnya, melainkan versi yang paling mudah memancing emosi: marah, simpati berlebihan, atau kebencian yang tergesa-gesa. Algoritma bekerja bukan untuk menuntun kebijaksanaan, melainkan untuk mempertahankan atensi.

Di sinilah santri diuji.

Pesantren tidak mendidik santri untuk reaktif, melainkan reflektif. Tidak membiasakan menyimpulkan sebelum tabayyun dan istiqra’ dengan meneliti, menimbang, dan memahami dari berbagai sisi. Tidak mengajarkan bersuara sebelum mempertimbangkan adab, dampak, dan niat di balik setiap sikap.

Santri boleh mengikuti isu. Peduli pada persoalan sosial adalah bagian dari tanggung jawab moral. Namun kepedulian tidak boleh menghilangkan akhlak. Santri boleh kritis, bahkan harus, akan tetapi tidak berubah menjadi kasar. Boleh bersuara, tetapi tidak menjadi penghakim. Sebab yang membedakan santri dengan sekadar orang berilmu bukan pada banyaknya informasi yang dimiliki, melainkan pada cara bersikap di tengah keramaian.

Ilmu tanpa adab mudah terseret emosi. Semangat tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi kegaduhan. Ketika komentar lebih cepat daripada pikiran, dan membagikan lebih cepat daripada memahami, disitulah nilai-nilai pesantren diuji secara nyata.

Hari ini, tantangan santri bukan lagi soal akses ilmu. Kitab, ceramah, dan diskusi tersedia luas di genggaman. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga arah di tengah banjir informasi. Santri tetap tenang ketika yang lain tergesa-gesa, tetap jernih ketika yang lain sibuk saling menyalahkan.

Maka dimanapun santri berpijak, baik di kampus, di ruang publik dan politik, atau di media sosial sekalipun, ia membawa satu kompas yang sama, yakni adab sebelum bicara, tabayyun dan istiqra’ sebelum menyimpulkan, serta niat lurus dalam bersikap. Zaman dan teknologi boleh berkembang, tetapi santri tidak boleh kehilangan arah.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk menunjuk siapa pun, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri. Di tengah derasnya informasi dan cepatnya pengambilan sikap, santri dituntut untuk lebih berhati-hati. Kesalahan adalah bagian dari sifat manusia; santri pun tidak luput darinya. Namun yang membedakan bukan pada pernah atau tidaknya salah, melainkan pada kesediaan untuk mengevaluasi, belajar kembali, dan memperbaiki arah.

Pesantren mengajarkan bahwa menjaga marwah santri bukan berarti merasa paling benar, melainkan tetap rendah hati ketika keliru, dan jujur pada diri sendiri saat perlu berbenah. Jatuh itu manusiawi, tetapi bangkit dengan kesadaran dan pembelajaran adalah jalan santri menjaga dirinya agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama.

Refleksi ini tidak hanya ditujukan kepada santri, tetapi kepada siapa pun yang kerap mengambil sikap dengan tergesa-gesa di tengah arus informasi yang deras. Semoga kita semua lebih mampu mencerna, menimbang, dan mengelola setiap isu sebelum menjadikannya kesimpulan dan sikap.

Sebab santri sejati bukan yang paling cepat merespons isu, melainkan yang paling bijak menjaga nilai, lalu menghadirkan ketenangan di tengah kebisingan zaman.

Wallahu’alam

Penulis adalah Santri di Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah Gorontalo



DUKUNG TIM PENULIS NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Ahmad Kadir
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menjelaskan bahwa kuota penerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) pada tahun 2025 mengalami penyesuaian signifikan. Kebijakan ini diambil sebagai imbas dari efisiensi anggaran yang harus diterapkan oleh seluruh pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hal ini disampaikan Wagub Idah saat menyerahkan bantuan BLP3G di dua kecamatan […]

  • Menag: Presiden Dukung Penuh Pengembangan PKUMI, Dorong Percepatan Kaderisasi Ulama Global

    Menag: Presiden Dukung Penuh Pengembangan PKUMI, Dorong Percepatan Kaderisasi Ulama Global

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 282
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI). Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi dan persiapan perpanjangan Nota Kesepahaman (NK) antara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, PKUMI, dan Universitas PTIQ Jakarta. Dalam sambutannya, Menag menekankan pentingnya percepatan kaderisasi ulama […]

  • Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema […]

  • Jaringan Gusdurian Tolak Board of Peace Gagasan Trump, Desak Indonesia Mundur

    Jaringan Gusdurian Tolak Board of Peace Gagasan Trump, Desak Indonesia Mundur

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 487
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Jaringan Gusdurian Indonesia secara tegas menolak inisiatif internasional Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penolakan tersebut disampaikan melalui Pernyataan Sikap yang dikeluarkan di Yogyakarta, 2 Februari 2026. Board of Peace diluncurkan Donald Trump pada 22 Januari 2026 di sela Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos, Swiss. Inisiatif […]

  • Forum 17-an GUSDURian Polman Bahas Stoikisme dan Polemik Tarian Yahudi

    Forum 17-an GUSDURian Polman Bahas Stoikisme dan Polemik Tarian Yahudi

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti pelataran rumah Imam Masjid Agung Syuhada, Annangguru Sayyid Ahmad Fadl Almahdaly, pada Senin malam, 28 April 2025. Malam itu, puluhan aktivis dari berbagai latar belakang berkumpul dalam Forum 17-an, sebuah diskusi lintas komunitas yang digagas oleh Komunitas GUSDURian Polman dan jejaringnya, termasuk Lembaga Inspirasi dan Advokasi Rakyat (LIAR) Sulbar, […]

  • Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 142
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengaku pesimis terhadap implementasi reformasi kepolisian meskipun tim reformasi yang dibentuk pemerintah telah menghasilkan rekomendasi yang dinilainya sangat baik. Pernyataan itu disampaikan Mahfud dalam sebuah diskusi podcast yang membahas pidato Presiden Prabowo Subianto di Gedung DPR RI. Dalam perbincangan tersebut, Mahfud menjelaskan bahwa substansi […]

expand_less