Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Adab di Atas Algoritma

  • account_circle Ahmad Kadir
  • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
  • visibility 519
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Zaman terus bergerak. Teknologi melaju tanpa menunggu siapa pun. Informasi datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Apa yang dulu dibahas berjam-jam di pesantren, melalui kitab, halaqah-halaqah, dan bimbingan guru namun hari ini kerap hadir dalam potongan video berdurasi tiga puluh detik. Cepat, ringkas, tetapi sering kali tidak utuh.

Di tengah arus itu, santri hidup di ruang yang sama dengan semua orang: media sosial. Timeline menjadi ruang perjumpaan baru, tempat gagasan, emosi, dan opini saling berkejaran. Namun tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang ramai mengandung kebenaran.

Hari ini, tidak sedikit santri sebagaimana masyarakat luas, yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Satu potongan video, satu tangkapan layar, satu narasi sepihak; langsung dibagikan, dikomentari, bahkan dijadikan sikap. Padahal, para kiai sejak lama mengingatkan kaidah penting dalam ushul fikih: الحكم على الشيء فرع عن تصوره al-ḥukmu ‘alā asy-syai’ far‘un ‘an taṣawwurih (menilai sesuatu harus diawali dengan pemahaman yang utuh).

Fenomena ini kerap disorot para pendidik dan pengamat sosial. Media sosial membentuk opini dengan kecepatan tinggi, tetapi sering memotong konteks. Yang sampai ke layar bukan kebenaran seutuhnya, melainkan versi yang paling mudah memancing emosi: marah, simpati berlebihan, atau kebencian yang tergesa-gesa. Algoritma bekerja bukan untuk menuntun kebijaksanaan, melainkan untuk mempertahankan atensi.

Di sinilah santri diuji.

Pesantren tidak mendidik santri untuk reaktif, melainkan reflektif. Tidak membiasakan menyimpulkan sebelum tabayyun dan istiqra’ dengan meneliti, menimbang, dan memahami dari berbagai sisi. Tidak mengajarkan bersuara sebelum mempertimbangkan adab, dampak, dan niat di balik setiap sikap.

Santri boleh mengikuti isu. Peduli pada persoalan sosial adalah bagian dari tanggung jawab moral. Namun kepedulian tidak boleh menghilangkan akhlak. Santri boleh kritis, bahkan harus, akan tetapi tidak berubah menjadi kasar. Boleh bersuara, tetapi tidak menjadi penghakim. Sebab yang membedakan santri dengan sekadar orang berilmu bukan pada banyaknya informasi yang dimiliki, melainkan pada cara bersikap di tengah keramaian.

Ilmu tanpa adab mudah terseret emosi. Semangat tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi kegaduhan. Ketika komentar lebih cepat daripada pikiran, dan membagikan lebih cepat daripada memahami, disitulah nilai-nilai pesantren diuji secara nyata.

Hari ini, tantangan santri bukan lagi soal akses ilmu. Kitab, ceramah, dan diskusi tersedia luas di genggaman. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga arah di tengah banjir informasi. Santri tetap tenang ketika yang lain tergesa-gesa, tetap jernih ketika yang lain sibuk saling menyalahkan.

Maka dimanapun santri berpijak, baik di kampus, di ruang publik dan politik, atau di media sosial sekalipun, ia membawa satu kompas yang sama, yakni adab sebelum bicara, tabayyun dan istiqra’ sebelum menyimpulkan, serta niat lurus dalam bersikap. Zaman dan teknologi boleh berkembang, tetapi santri tidak boleh kehilangan arah.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk menunjuk siapa pun, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri. Di tengah derasnya informasi dan cepatnya pengambilan sikap, santri dituntut untuk lebih berhati-hati. Kesalahan adalah bagian dari sifat manusia; santri pun tidak luput darinya. Namun yang membedakan bukan pada pernah atau tidaknya salah, melainkan pada kesediaan untuk mengevaluasi, belajar kembali, dan memperbaiki arah.

Pesantren mengajarkan bahwa menjaga marwah santri bukan berarti merasa paling benar, melainkan tetap rendah hati ketika keliru, dan jujur pada diri sendiri saat perlu berbenah. Jatuh itu manusiawi, tetapi bangkit dengan kesadaran dan pembelajaran adalah jalan santri menjaga dirinya agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama.

Refleksi ini tidak hanya ditujukan kepada santri, tetapi kepada siapa pun yang kerap mengambil sikap dengan tergesa-gesa di tengah arus informasi yang deras. Semoga kita semua lebih mampu mencerna, menimbang, dan mengelola setiap isu sebelum menjadikannya kesimpulan dan sikap.

Sebab santri sejati bukan yang paling cepat merespons isu, melainkan yang paling bijak menjaga nilai, lalu menghadirkan ketenangan di tengah kebisingan zaman.

Wallahu’alam

Penulis adalah Santri di Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah Gorontalo



DUKUNG TIM PENULIS NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Ahmad Kadir
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PAMSIMAS Majannang Ambruk Sebelum Dimanfaatkan: Mutu Diduga Buruk, Perencanaan Lemah, dan Pengawasan Layak Dipertanyakan

    PAMSIMAS Majannang Ambruk Sebelum Dimanfaatkan: Mutu Diduga Buruk, Perencanaan Lemah, dan Pengawasan Layak Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros, Majannang — Harapan warga Desa Majannang untuk menikmati akses air bersih kembali pupus. Bangunan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang dibiayai APBD Tahun 2023 roboh pada Minggu malam, 7 Desember 2025, sekitar pukul 23.00 WITA. Ironisnya, fasilitas ini runtuh sebelum satu tetes air pun mengalir ke rumah warga. Peristiwa […]

  • Desensitisasi masyarakat bukan sekedar Problem sosial tapi Juga Kekeringan Spirtualitas

    Desensitisasi masyarakat bukan sekedar Problem sosial tapi Juga Kekeringan Spirtualitas

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Dalam pandangan teologis, manusia diciptakan bukan hanya sebagai makhluk yang berpikir, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki qalb—hati yang menjadi pusat kesadaran moral dan spiritual. Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak membiarkan hati menjadi keras sehingga kehilangan kemampuan menangkap penderitaan sesamanya. Karena itu, kepekaan terhadap derita orang lain bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan bagian […]

  • Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 577
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam menghargai dedikasi para pahlawan tanpa tanda jasa. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pengabdian guru, Wali Kota Adhan Dambea resmi menetapkan kebijakan perubahan jam kerja khusus bagi guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan strategis ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 April 2026 dan menyasar seluruh tenaga pendidik berstatus […]

  • Nasaruddin Umar Office Apresiasi Komitmen MNC Asset Management Jaga Tata Kelola Investasi Syariah

    Nasaruddin Umar Office Apresiasi Komitmen MNC Asset Management Jaga Tata Kelola Investasi Syariah

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Direktur Keuangan Nasaruddin Umar Office, Karim Bakri, mengapresiasi komitmen MNC Asset Management dalam menjaga tata kelola investasi syariah melalui penyaluran dana pembersihan (cleansing) reksa dana syariah kepada lembaga sosial dan keagamaan. Apresiasi tersebut disampaikan menyusul penyaluran dana pembersihan reksa dana syariah sebesar Rp35 juta kepada Nasaruddin Umar Office dan Rp35 juta kepada Lazismu. […]

  • Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 199
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Pallantikang, Maryam, akhirnya angkat bicara menanggapi pemberitaan yang beredar terkait dugaan permasalahan pendataan penerima bantuan dan isu pemungutan biaya administrasi bantuan sosial. Klarifikasi ini disampaikan secara terbuka sebagai upaya meredam polemik yang dinilai telah mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat. Maryam menegaskan bahwa proses pendataan penerima manfaat […]

  • Utang Langit

    Utang Langit

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu punya cara unik mengajarkan akuntansi kepada umat. Bedanya, ini bukan akuntansi laba-rugi perusahaan, melainkan laporan keuangan batin. Dalam bahasa sederhana: kita semua punya “Utang Langit”. Bedanya dengan utang bank, yang ini tidak ditagih debt collector, tapi oleh nurani. Di bulan suci, manusia mendadak rajin menghitung. Menghitung pahala, menghitung takjil, menghitung THR, bahkan menghitung […]

expand_less