Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 186
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jika pada awal tahun 2000-an Yasraf Amir Piliang berbicara tentang pelipatan ruang, waktu, dan tanda oleh media serta teknologi informasi, maka kecerdasan buatan hari ini membawa proses itu ke tingkat yang jauh lebih radikal. Bukan lagi sekadar pelipatan dunia, melainkan pelipatan pengetahuan, kreativitas, imajinasi, bahkan realitas itu sendiri. Kita sedang menyaksikan sebuah fase yang bisa disebut sebagai hiper-pelipatan, ketika mesin tidak lagi berfungsi sebagai medium yang menyalurkan informasi, melainkan perlahan menjelma menjadi arsitek utama yang membentuk cara manusia melihat, memahami, dan memaknai dunia.

Sampai dua atau tiga tahun lalu, banyak orang masih menganggap kecerdasan buatan (AI) sebagai teknologi masa depan. Sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, tetapi belum cukup dekat untuk mengubah kehidupan sehari-hari secara drastis. Hari ini, anggapan itu terasa usang.

Dalam waktu yang relatif singkat, AI telah masuk ke hampir semua ruang kehidupan. Ia membantu mahasiswa menyusun tugas, mempermudah pekerjaan kantor, membuat desain, menulis artikel, menerjemahkan bahasa, bahkan menjadi teman diskusi. Perubahannya begitu cepat sehingga banyak orang merasa tidak lagi mampu membayangkan seperti apa dunia dua atau tiga tahun ke depan.

Yang berubah bukan hanya teknologinya, melainkan ritme kehidupan kita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, perubahan sosial tidak lagi berlangsung dalam hitungan generasi, melainkan dalam hitungan pembaruan aplikasi. Ketika masyarakat belum selesai beradaptasi dengan satu inovasi, inovasi berikutnya sudah datang membawa perubahan baru.

Analisis Yasraf Amir Piliang dalam Dunia yang Dilipat menjadi semakin relevan. Jauh sebelum ledakan AI terjadi, Yasraf telah menuliskan bahwa perkembangan teknologi akan membuat ruang, waktu, dan berbagai tanda dalam kehidupan manusia mengalami “pelipatan”. Yang jauh menjadi dekat. Yang lampau dapat hadir kembali dalam sekejap. Yang semula hanya representasi perlahan memengaruhi bahkan menggantikan realitas itu sendiri.

Namun jika internet dan media sosial melipat informasi, AI tampaknya melipat sesuatu yang lebih mendasar yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan pengetahuan. Dulu seseorang membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyusun laporan, merangkum buku, atau membuat ilustrasi. Kini pekerjaan yang sama dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Tentu saja ini membawa banyak manfaat. Produktivitas meningkat. Akses terhadap pengetahuan menjadi lebih mudah. Hambatan teknis yang selama ini membatasi kreativitas semakin berkurang. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apa yang terjadi ketika manusia semakin terbiasa menerima hasil tanpa mengalami proses yang melahirkannya?

Pertanyaan ini penting karena pengetahuan tidak hanya soal menemukan jawaban yang benar. Pengetahuan juga lahir dari proses berpikir, keraguan, pencarian, dan kemampuan menghubungkan berbagai informasi menjadi pemahaman yang utuh. Ketika teknologi mampu menyediakan jawaban secara instan, ada risiko bahwa kita memperoleh lebih banyak informasi tetapi tidak selalu memperoleh pemahaman yang lebih dalam.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika bertemu dengan budaya media sosial di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kita semakin dipengaruhi oleh logika viralitas. Perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan. Akibatnya, banyak isu sosial dan politik dikemas agar mudah dibagikan, mudah dikomentari, dan mudah memancing emosi.

Di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai populisme disertai candaan receh. Sialnya Banyak aktor politik lebih mudah menjangkau publik melalui meme, humor, atau konten ringan dibandingkan melalui penjelasan kebijakan yang panjang. Politik perlahan bergerak mengikuti logika media sosial: yang penting bukan selalu yang paling substantif, melainkan yang paling mampu menarik perhatian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kita berpolitik dan memahami realitas. Ketika perhatian menjadi sumber daya yang paling berharga, maka kemampuan mengendalikan perhatian publik menjadi bentuk kekuasaan baru.

AI berpotensi memperkuat kecenderungan ini. Teknologi tersebut memungkinkan produksi konten dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tulisan, gambar, video, hingga suara dapat dibuat secara cepat dan murah. Batas antara informasi, hiburan, promosi, dan propaganda menjadi semakin tipis. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan lagi menemukan informasi, melainkan memilah mana yang layak dipercaya.

Pemikir Prancis Guy Debord pernah memperingatkan tentang lahirnya masyarakat tontonan, yaitu masyarakat yang semakin banyak berhubungan dengan citra dibandingkan kenyataan. Jika konsep itu digunakan untuk membaca kondisi hari ini, kita mungkin sedang memasuki tahap yang lebih jauh. Kita tidak hanya hidup di tengah banjir citra, tetapi juga di tengah banjir citra yang dapat diproduksi tanpa batas oleh mesin.

Karena itu, perdebatan mengenai AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini akan menggantikan pekerjaan manusia atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikir kritis di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.

Sebab persoalan terbesar abad ini mungkin bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang tidak selalu menghasilkan pemahaman. Kita mengetahui lebih banyak hal dibanding generasi sebelumnya, tetapi belum tentu memahami dunia dengan lebih baik.

dalam percepatan yang nyaris tanpa jeda ini, kemampuan paling penting adalah membaca lebih dalam, berpikir lebih lambat, dan tidak terburu-buru mempercayai apa pun yang muncul di layar. Karena dalam era AI, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjaga agar akal sehat tidak tertinggal di belakangnya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Dugaan pungutan liar (pungli) di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sumatera Utara kembali mencuat. Hal ini disampaikan oleh Nirwan Pumah Siregar, pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GENINUSA bidang pendidikan dan ekonomi, yang menyoroti praktik pungutan yang berkedok sukarela namun bersifat wajib. “Pendidikan gratis di sekolah negeri sudah diatur dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur, […]

  • LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Provinsi Gorontalo, dr. Sri Manovita Pateda, M.Kes., Ph.D, menegaskan bahwa pelaksanaan Pekan Ekonomi Syariah memiliki nilai strategis yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan masyarakat (Selasa, 28/10/2025). Menurut dr. Sri Manovita, ekonomi syariah tidak dapat dipisahkan dari kesehatan karena keduanya saling menguatkan. “Kesehatan adalah modal dasar produktivitas, […]

  • DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 242
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mendorong penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah guna memastikan jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap terlayani secara optimal dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur, Makassar, Jumat (20/2/2026). […]

  • 1 Muharram, Amor Fati, dan Keberanian untuk Berhijrah

    1 Muharram, Amor Fati, dan Keberanian untuk Berhijrah

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriah sebenarnya berawal dari keresahan praktis di era Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, administrasi negara mulai berkembang pesat, namun kekacauan muncul karena dokumen-dokumen resmi tidak memiliki penanggalan yang jelas. Untuk mengatasi ambiguitas ini, para sahabat akhirnya bersepakat untuk menetapkan sebuah titik tolak waktu yang tak terbantahkan. Mereka memilih […]

  • Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (4)

    Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (4)

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Banyak orang mengetahui cerita tentang rumah peninggalan Belanda di Huludu Ayumolingo. Namun, hanya segelintir yang mengaku pernah berdiri di depannya. Tidak ada penunjuk jalan, tidak ada koordinat pasti, bahkan masyarakat setempat pun tidak berani menjamin dapat menemukannya kembali. Anehnya, rumah itu justru lebih sering ditemukan oleh mereka yang tidak sedang mencarinya.  Mari kita simak lanjutan […]

  • PBNU Buka Lembaran Baru, Rapat Pleno Putuskan Rekonsiliasi dan Pemulihan Kepengurusan

    PBNU Buka Lembaran Baru, Rapat Pleno Putuskan Rekonsiliasi dan Pemulihan Kepengurusan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 171
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi membuka lembaran baru organisasi setelah menggelar Rapat Pleno, dikutip Jumat, 30 Januari 2026. Rapat tersebut menghasilkan sejumlah keputusan penting yang menandai berakhirnya polemik internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu keputusan utama rapat pleno adalah diterimanya permohonan maaf Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atas […]

expand_less