Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 170
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jika pada awal tahun 2000-an Yasraf Amir Piliang berbicara tentang pelipatan ruang, waktu, dan tanda oleh media serta teknologi informasi, maka kecerdasan buatan hari ini membawa proses itu ke tingkat yang jauh lebih radikal. Bukan lagi sekadar pelipatan dunia, melainkan pelipatan pengetahuan, kreativitas, imajinasi, bahkan realitas itu sendiri. Kita sedang menyaksikan sebuah fase yang bisa disebut sebagai hiper-pelipatan, ketika mesin tidak lagi berfungsi sebagai medium yang menyalurkan informasi, melainkan perlahan menjelma menjadi arsitek utama yang membentuk cara manusia melihat, memahami, dan memaknai dunia.

Sampai dua atau tiga tahun lalu, banyak orang masih menganggap kecerdasan buatan (AI) sebagai teknologi masa depan. Sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, tetapi belum cukup dekat untuk mengubah kehidupan sehari-hari secara drastis. Hari ini, anggapan itu terasa usang.

Dalam waktu yang relatif singkat, AI telah masuk ke hampir semua ruang kehidupan. Ia membantu mahasiswa menyusun tugas, mempermudah pekerjaan kantor, membuat desain, menulis artikel, menerjemahkan bahasa, bahkan menjadi teman diskusi. Perubahannya begitu cepat sehingga banyak orang merasa tidak lagi mampu membayangkan seperti apa dunia dua atau tiga tahun ke depan.

Yang berubah bukan hanya teknologinya, melainkan ritme kehidupan kita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, perubahan sosial tidak lagi berlangsung dalam hitungan generasi, melainkan dalam hitungan pembaruan aplikasi. Ketika masyarakat belum selesai beradaptasi dengan satu inovasi, inovasi berikutnya sudah datang membawa perubahan baru.

Analisis Yasraf Amir Piliang dalam Dunia yang Dilipat menjadi semakin relevan. Jauh sebelum ledakan AI terjadi, Yasraf telah menuliskan bahwa perkembangan teknologi akan membuat ruang, waktu, dan berbagai tanda dalam kehidupan manusia mengalami “pelipatan”. Yang jauh menjadi dekat. Yang lampau dapat hadir kembali dalam sekejap. Yang semula hanya representasi perlahan memengaruhi bahkan menggantikan realitas itu sendiri.

Namun jika internet dan media sosial melipat informasi, AI tampaknya melipat sesuatu yang lebih mendasar yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan pengetahuan. Dulu seseorang membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyusun laporan, merangkum buku, atau membuat ilustrasi. Kini pekerjaan yang sama dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Tentu saja ini membawa banyak manfaat. Produktivitas meningkat. Akses terhadap pengetahuan menjadi lebih mudah. Hambatan teknis yang selama ini membatasi kreativitas semakin berkurang. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apa yang terjadi ketika manusia semakin terbiasa menerima hasil tanpa mengalami proses yang melahirkannya?

Pertanyaan ini penting karena pengetahuan tidak hanya soal menemukan jawaban yang benar. Pengetahuan juga lahir dari proses berpikir, keraguan, pencarian, dan kemampuan menghubungkan berbagai informasi menjadi pemahaman yang utuh. Ketika teknologi mampu menyediakan jawaban secara instan, ada risiko bahwa kita memperoleh lebih banyak informasi tetapi tidak selalu memperoleh pemahaman yang lebih dalam.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika bertemu dengan budaya media sosial di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kita semakin dipengaruhi oleh logika viralitas. Perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan. Akibatnya, banyak isu sosial dan politik dikemas agar mudah dibagikan, mudah dikomentari, dan mudah memancing emosi.

Di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai populisme disertai candaan receh. Sialnya Banyak aktor politik lebih mudah menjangkau publik melalui meme, humor, atau konten ringan dibandingkan melalui penjelasan kebijakan yang panjang. Politik perlahan bergerak mengikuti logika media sosial: yang penting bukan selalu yang paling substantif, melainkan yang paling mampu menarik perhatian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kita berpolitik dan memahami realitas. Ketika perhatian menjadi sumber daya yang paling berharga, maka kemampuan mengendalikan perhatian publik menjadi bentuk kekuasaan baru.

AI berpotensi memperkuat kecenderungan ini. Teknologi tersebut memungkinkan produksi konten dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tulisan, gambar, video, hingga suara dapat dibuat secara cepat dan murah. Batas antara informasi, hiburan, promosi, dan propaganda menjadi semakin tipis. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan lagi menemukan informasi, melainkan memilah mana yang layak dipercaya.

Pemikir Prancis Guy Debord pernah memperingatkan tentang lahirnya masyarakat tontonan, yaitu masyarakat yang semakin banyak berhubungan dengan citra dibandingkan kenyataan. Jika konsep itu digunakan untuk membaca kondisi hari ini, kita mungkin sedang memasuki tahap yang lebih jauh. Kita tidak hanya hidup di tengah banjir citra, tetapi juga di tengah banjir citra yang dapat diproduksi tanpa batas oleh mesin.

Karena itu, perdebatan mengenai AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini akan menggantikan pekerjaan manusia atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikir kritis di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.

Sebab persoalan terbesar abad ini mungkin bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang tidak selalu menghasilkan pemahaman. Kita mengetahui lebih banyak hal dibanding generasi sebelumnya, tetapi belum tentu memahami dunia dengan lebih baik.

dalam percepatan yang nyaris tanpa jeda ini, kemampuan paling penting adalah membaca lebih dalam, berpikir lebih lambat, dan tidak terburu-buru mempercayai apa pun yang muncul di layar. Karena dalam era AI, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjaga agar akal sehat tidak tertinggal di belakangnya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menggelar kegiatan Diskusi Kontemporer GEMA APUPPT (Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme) pada Kamis, 6 November 2025, di Kampus UNUSIA Jakarta. Acara ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan dan lembaga negara untuk memperkuat literasi keuangan dan menolak segala […]

  • Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas Gelar Seminar Program Kerja untuk Bangun Ketahanan Lingkungan di Desa Pajukukang

    Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas Gelar Seminar Program Kerja untuk Bangun Ketahanan Lingkungan di Desa Pajukukang

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 128
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Pajukukang resmi mengawali rangkaian pengabdian kepada masyarakat melalui Seminar Rancangan Program Kerja yang digelar di Kantor Desa Pajukukang, Senin (13/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.30–12.00 WITA itu dihadiri Kepala Desa Pajukukang, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dosen […]

  • Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Nulondalo – Organisasi terlarang yang telah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali bangkit di beberapa titik di Indonesia. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Banser PP GP Ansor, H. Syafiq Syauqi menyampaikan bahwa HTI telah dibubarkan Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mengancam keutuhan NKRI. “GP […]

  • Firman Soebagyo Usulkan Konsep Baru Swasembada Pangan, Anggaran Cetak Sawah Dialihkan untuk Beli Lahan Produktif

    Firman Soebagyo Usulkan Konsep Baru Swasembada Pangan, Anggaran Cetak Sawah Dialihkan untuk Beli Lahan Produktif

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 171
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mengusulkan konsep baru dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional. Usulan tersebut muncul setelah ia mencermati pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, terkait masifnya alih fungsi lahan sawah di Indonesia. Firman menyoroti data Kementerian ATR/BPN yang mencatat alih fungsi lahan pertanian mencapai […]

  • Begal Tusuk Warga di Semarang Timur, Satu Pelaku Ditangkap Polisi

    Begal Tusuk Warga di Semarang Timur, Satu Pelaku Ditangkap Polisi

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 317
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aksi begal disertai kekerasan terjadi di Jalan Halmahera Raya, Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Minggu (6/4/2026) pagi. Seorang korban mengalami luka akibat serangan senjata tajam dalam kejadian tersebut. Kapolsek Semarang Timur, Andy Susanto, mengatakan peristiwa terjadi sekitar pukul 06.45 WIB saat korban berinisial ACH (31) tengah menjemput rekannya, Yovita Haryanto, untuk […]

  • Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS Play Button

    Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 416
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di hadapan para Alumni PMII se-Gorontalo, Wakapolres Pohuwato, dan kader organisasi lainnya, KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq membuka ceramahnya dengan satu kisah yang jarang disinggung dalam diskursus keislaman kontemporer, yakni lahirnya Nahdlatul Ulama yang terinspirasi melalui kisah Nabi Musa AS. Kisah ini, menurutnya, bukan dongeng spiritual belaka, melainkan fondasi filosofis […]

expand_less