Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Di Meja Syukuran, Kita Menemukan Makna Indonesia

  • account_circle Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 11
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh:

Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M Founder Pemuda Nusantara Foundantion

Nulondalo.com – Setiap 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan dengan upacara, pengibaran bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan yang penuh semangat. Namun, di balik kemeriahan itu, ada bentuk perayaan yang jauh lebih sederhana, tetapi menyimpan makna kebangsaan yang dalam.

Di desa-desa dan kampung-kampung, hingga tingkat RT, masyarakat berkumpul untuk berdoa dan melaksanakan syukuran bersama. Ada yang membawa makanan, ada yang membawa sekadarnya, sesuai kemampuan dan keikhlasan. Tidak ada kewajiban untuk membawa sesuatu. Tidak pula ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

Semua duduk bersama.

Yang punya lebih berbagi dengan yang membutuhkan. Yang tidak membawa apa-apa tetap menjadi bagian dari kebersamaan. Tidak ada sekat status sosial, pekerjaan, maupun kemampuan ekonomi. Yang ada adalah rasa syukur karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup bersama sebagai satu bangsa.

Di meja syukuran yang sederhana itu, kita menemukan makna Indonesia.

Sesungguhnya nilai-nilai tersebut bukanlah sesuatu yang baru lahir setelah Indonesia merdeka. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, leluhur dan nenek moyang Nusantara telah mewariskan nilai kehidupan yang menjunjung tinggi gotong royong, musyawarah, kebersamaan, saling membantu, dan hidup dalam harmoni.

Dari kehidupan masyarakat adat, tradisi desa, hingga berbagai kearifan lokal di pelosok Nusantara, kita menemukan satu pesan yang sama: manusia tidak dapat hidup sendiri. Kepentingan bersama harus dijaga, karena kehidupan akan menjadi kuat ketika setiap orang saling menopang.

Nilai-nilai luhur itulah yang kemudian menemukan bentuknya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki akar yang panjang dalam pengalaman, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Nusantara.

Karena itu, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga merupakan kesempatan bagi kita untuk melanjutkan dan merawat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Pesan untuk Kita Semua

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin individualistis, dan di tengah dunia politik yang terkadang dipenuhi ego, kepentingan, serta ambisi kekuasaan, kita perlu kembali melihat ke akar kita sendiri.

Jangan sampai ambisi untuk menjadi besar justru membuat kita kehilangan nilai-nilai yang dahulu membuat bangsa ini mampu bertahan.

Jangan sampai kepentingan pribadi, kelompok, maupun kekuasaan mengorbankan gotong royong, persaudaraan, musyawarah, kepedulian, dan rasa kemanusiaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan Nusantara selama berabad-abad.

Kita tidak boleh menjadi bangsa yang maju secara pembangunan, tetapi mundur dalam nilai. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang kaya secara sumber daya, tetapi miskin dalam rasa persaudaraan.

Indonesia adalah gen besar Nusantara.

Bangsa yang lahir dari perjalanan panjang peradaban, dengan kekayaan alam, budaya, tradisi, dan kearifan yang luar biasa. Kita adalah bangsa yang besar, kuat, kaya, dan memiliki sejarah panjang untuk dihormati.

Karena itu, menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan akar. Menjadi maju tidak berarti harus melupakan leluhur. Justru bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.

Para pahlawan telah memperjuangkan kemerdekaan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Tugas kita hari ini adalah menjaga apa yang telah mereka perjuangkan sekaligus merawat warisan leluhur: persatuan, gotong royong, musyawarah, kemanusiaan, dan rasa persaudaraan.

Tidak perlu meja yang mewah. Tidak perlu hidangan yang berlimpah.

Cukup ada doa, rasa syukur, keikhlasan, dan kemauan untuk duduk bersama.

Karena di meja syukuran yang sederhana itulah, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: Indonesia yang berakar pada nilai luhur Nusantara—Indonesia yang hidup dalam gotong royong, persaudaraan, dan kebersamaan.

Dan mungkin, itulah salah satu cara paling sederhana untuk memahami arti merdeka: tetap menjadi manusia Indonesia yang tidak melupakan akar, tidak kehilangan persaudaraan, dan tidak meninggalkan gotong royong yang telah diwariskan leluhur jauh sebelum republik ini lahir.

  • Penulis: Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M
  • Editor: Risman Lutfi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Idham Arsyad Raih Gelar Doktor UB, Tawarkan Model Penguatan Kelembagaan Petani untuk Ketahanan Pangan Nasional

    Idham Arsyad Raih Gelar Doktor UB, Tawarkan Model Penguatan Kelembagaan Petani untuk Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 89
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MALANG – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani), Idham Arsyad, resmi menyandang gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB), setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang digelar di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang, Selasa (14/7). Dalam sidang promosi doktor […]

  • Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Jika Anda periang, suka bercanda, atau kadang sedikit usil, maka kisah Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah menarik untuk anda. Dalam keseharian komunitas Muslim di Madinah pada masa Nabi SAW, ada sahabat yang serius, ada sahabat yang tekun beribadah, dan ada pula yang suka usil. Nu’aiman termasuk yang terakhir: tingkahnya jenaka, sering bercanda, dan mampu membuat […]

  • Nota Bertemu Pasal

    Nota Bertemu Pasal

    • calendar_month Jumat, 24 Jul 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Konon, ada dua profesi yang paling ditakuti di negeri ini. Yang pertama adalah penagih utang. Yang kedua adalah penegak hukum. Bedanya, penagih utang datang membawa buku tagihan, sedangkan penegak hukum datang membawa pasal. Namun, bagaimana jadinya jika suatu hari penegak hukum justru menjadi pihak yang diperiksa oleh hukum? Di sinilah humor Indonesia sering kali mengalahkan […]

  • Klarifikasi SPBU Pertamina Patung Kuda Maros: Operator Disanksi, Insiden Jadi Pembelajaran Bersama

    Klarifikasi SPBU Pertamina Patung Kuda Maros: Operator Disanksi, Insiden Jadi Pembelajaran Bersama

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Menyusul pemberitaan terkait dugaan praktik tidak wajar dalam pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina kawasan Patung Kuda, dekat Pantai Tak Berombak (PTB), Kabupaten Maros, pihak pengawas SPBU akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Peristiwa yang sebelumnya dilaporkan terjadi pada Selasa siang sekitar pukul 11.30 WITA itu sempat menimbulkan kecurigaan dari seorang konsumen […]

  • Adhan Ultimatum Warga: 3 Hari Kosongkan Lahan Eks Terminal, Jika Tidak Dibongkar!

    Adhan Ultimatum Warga: 3 Hari Kosongkan Lahan Eks Terminal, Jika Tidak Dibongkar!

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 278
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo mempercepat pembangunan Kantor Wali Kota baru dengan mulai melakukan pembongkaran bangunan di kawasan eks Terminal 42 Andalas. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menegaskan bahwa langkah awal difokuskan pada pembongkaran aset milik pemerintah agar proses pembangunan dapat segera berjalan. “Untuk sementara kita bongkar yang milik pemerintah kota dulu,” ujar Adhan usai […]

  • Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 148
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi (KOMAKS) menyelenggarakan aksi damai di tiga titik, yakni di depan Polda Sulawesi Selatan, Polres Maros, dan DPRD Kabupaten Maros. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait pentingnya penegakan hukum dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya di wilayah Kabupaten Maros. Rabu (17/12/2026). Aksi tersebut melibatkan mahasiswa, perwakilan lembaga, serta […]

expand_less