Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 318
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin sempit, sementara tuntutan untuk sukses datang dari mana-mana. Akhirnya, persoalan pengangguran sering berubah menjadi saling sindir antar-generasi, seolah masalah utamanya cuma soal mentalitas. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.

Sulit rasanya mengatakan pengangguran hanya lahir karena individu malas atau kurang berusaha. Banyak orang hari ini punya pendidikan, punya keterampilan, bahkan punya pengalaman organisasi yang baik, tetapi tetap kesulitan mendapat pekerjaan layak. Ada sarjana yang akhirnya bekerja serabutan, ada lulusan kampus yang bertahun-tahun menganggur, ada pula yang bekerja penuh waktu tetapi penghasilannya bahkan tidak cukup untuk hidup tenang.

Kupikir kita atau terkhusus penyelenggara negara perlu jujur melihat bahwa masalah pengangguran bukan semata persoalan individu. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bermasalah: struktur ekonomi dan arah pembangunan kita sendiri.

Giddens menjelaskan bahwa manusia memang punya kebebasan bertindak, tetapi kebebasan itu selalu dibatasi oleh struktur sosial tempat ia hidup. Sederhananya, orang bisa berusaha sekeras apa pun, tetapi ketika akses pekerjaan, distribusi ekonomi, dan kesempatan hidup sudah timpang sejak awal, maka tidak semua orang memulai dari garis yang sama.

Karena itu, narasi yang terlalu sibuk menyalahkan anak muda sering kali hanya menutupi kegagalan negara membaca masalah secara lebih mendasar.

Setiap tahun kampus meluluskan ribuan sarjana. Pendidikan terus dipromosikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Tetapi pertanyaannya: apakah sistem ekonomi kita benar-benar siap menampung mereka?
Di banyak daerah, jawabannya belum tentu.

Lapangan kerja terkonsentrasi di kota-kota tertentu. Industri tumbuh tidak merata. Sektor pertanian makin ditinggalkan, sementara pekerjaan formal semakin kompetitif. Akibatnya, banyak anak muda akhirnya masuk ke pekerjaan informal yang serba tidak pasti. Mereka bekerja sebagai pengemudi online, pekerja kontrak, freelance tanpa perlindungan, atau bahkan terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

Ironisnya, keadaan seperti ini sering dianggap normal. Padahal pendidikan dalam masyarakat modern pun sering kali tidak benar-benar menciptakan kesetaraan, melainkan justru mereproduksi ketimpangan. Mereka yang punya akses ekonomi, koneksi sosial, dan lingkungan yang mendukung akan lebih mudah memperoleh peluang. Sementara mereka yang berasal dari kelas bawah harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai titik yang sama.

Itulah sebabnya ijazah hari ini tidak selalu menjamin apa-apa. Banyak orang akhirnya hidup dalam kecemasan yang panjang. Bukan karena mereka tidak mau bekerja, tetapi karena sistem memang tidak menyediakan cukup ruang hidup yang layak. Kita hidup di zaman ketika orang dituntut terus produktif, terus berkembang, terus “upgrade diri”, tetapi negara sendiri tidak mampu memastikan apakah setelah semua usaha itu mereka benar-benar akan hidup lebih baik.

Dalam logika ekonomi kapitalistik, situasi ini sebenarnya bukan hal baru. Karl Marx sejak lama menyebut adanya reserve army of labour, yaitu cadangan tenaga kerja menganggur yang selalu tersedia dalam sistem kapitalisme. Kehadiran banyak pengangguran membuat posisi pekerja menjadi lemah. Upah bisa ditekan, kontrak kerja bisa dipermudah, dan perusahaan selalu punya pilihan untuk mengganti pekerja kapan saja.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjelang Akhir Tahun, Sekda Sultra Ingatkan Disiplin ASN dan Keamanan Dokumen Kantor

    Menjelang Akhir Tahun, Sekda Sultra Ingatkan Disiplin ASN dan Keamanan Dokumen Kantor

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 181
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Lapangan Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara tampak berbeda pada Senin pagi (15/12/2025). Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai instansi berkumpul dalam Apel Gabungan lingkup Pemerintah Provinsi Sultra, sebagai bagian dari konsolidasi menjelang penutupan tahun anggaran 2025. Apel tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D., […]

  • Dikejar Notifikasi

    Dikejar Notifikasi

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Di zaman sekarang, manusia tidak lagi dikejar macan, tapi dikejar notifikasi. Dulu orang bangun subuh karena azan, sekarang karena pesan WhatsApp bertuliskan: “Segera lunasi pinjaman Anda!” Inilah zaman ketika rezeki datang lewat transfer, tapi musibah juga ikut nyempil lewat aplikasi bernama pinjaman online, atau yang lebih akrab disebut: pinjol. Awalnya pinjol katanya solusi. Cepat, mudah, […]

  • Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 183
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan dan penjagaan keamanan terus diperketat oleh berbagai instansi dan institusi di Kabupaten Maros. Langkah ini dilakukan guna memastikan keamanan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat selama momentum akhir tahun, sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros terkait pengamanan Nataru. Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Camat Maros Baru, A. […]

  • Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    Ekoteologi sebagai Upaya Resakralisasi Alam

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Refleksi atas Sambutan Menag pada Acara Peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, tampaknya menaruh perhatian yang sangat serius pada gagasan ekoteologi. Dalam berbagai forum resmi Kementerian Agama, beliau secara konsisten memperkenalkan dan mengelaborasi konsep ini. Hampir setiap sambutan selalu membicarakan relasi agama dan lingkungan sebagai tema utama atau tema […]

  • Sawah dan Masa Depan Sebuah Bangsa

    Sawah dan Masa Depan Sebuah Bangsa

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Membaca Kepemimpinan Dr. Yasir Machmud dalam Perspektif Ibnu Khaldun, Muhammad al-Tahir bin Asyur, dan Nabi Yusuf a.s. “Peradaban tidak lahir dari istana. Ia tumbuh dari tanah yang diolah dengan amanah.” Suatu pagi, ribuan tahun yang lalu, seorang raja Mesir terbangun dengan wajah yang tidak biasa. Malam sebelumnya ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan […]

  • Aleg PKB Gorontalo Berharap Program Cek Kesehatan Gratis Prabowo Tidak Menyulitkan Warga

    Aleg PKB Gorontalo Berharap Program Cek Kesehatan Gratis Prabowo Tidak Menyulitkan Warga

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Program Kesehatan Gratis Pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk warga akan segera dijalankan mulai Senin 10 Februari 2025. Hal tersebut merupakan salah satu program yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, khususnya di Gorontalo. Anggota Komisi IV DPRD Muhammad Dzikyan mengingatkan agar program tersebut dijalankan dengan mudah dan tidak menyulitkan warga masyarakat. Mengingat pendaftaran […]

expand_less