Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 224
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin sempit, sementara tuntutan untuk sukses datang dari mana-mana. Akhirnya, persoalan pengangguran sering berubah menjadi saling sindir antar-generasi, seolah masalah utamanya cuma soal mentalitas. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.

Sulit rasanya mengatakan pengangguran hanya lahir karena individu malas atau kurang berusaha. Banyak orang hari ini punya pendidikan, punya keterampilan, bahkan punya pengalaman organisasi yang baik, tetapi tetap kesulitan mendapat pekerjaan layak. Ada sarjana yang akhirnya bekerja serabutan, ada lulusan kampus yang bertahun-tahun menganggur, ada pula yang bekerja penuh waktu tetapi penghasilannya bahkan tidak cukup untuk hidup tenang.

Kupikir kita atau terkhusus penyelenggara negara perlu jujur melihat bahwa masalah pengangguran bukan semata persoalan individu. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bermasalah: struktur ekonomi dan arah pembangunan kita sendiri.

Giddens menjelaskan bahwa manusia memang punya kebebasan bertindak, tetapi kebebasan itu selalu dibatasi oleh struktur sosial tempat ia hidup. Sederhananya, orang bisa berusaha sekeras apa pun, tetapi ketika akses pekerjaan, distribusi ekonomi, dan kesempatan hidup sudah timpang sejak awal, maka tidak semua orang memulai dari garis yang sama.

Karena itu, narasi yang terlalu sibuk menyalahkan anak muda sering kali hanya menutupi kegagalan negara membaca masalah secara lebih mendasar.

Setiap tahun kampus meluluskan ribuan sarjana. Pendidikan terus dipromosikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Tetapi pertanyaannya: apakah sistem ekonomi kita benar-benar siap menampung mereka?
Di banyak daerah, jawabannya belum tentu.

Lapangan kerja terkonsentrasi di kota-kota tertentu. Industri tumbuh tidak merata. Sektor pertanian makin ditinggalkan, sementara pekerjaan formal semakin kompetitif. Akibatnya, banyak anak muda akhirnya masuk ke pekerjaan informal yang serba tidak pasti. Mereka bekerja sebagai pengemudi online, pekerja kontrak, freelance tanpa perlindungan, atau bahkan terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

Ironisnya, keadaan seperti ini sering dianggap normal. Padahal pendidikan dalam masyarakat modern pun sering kali tidak benar-benar menciptakan kesetaraan, melainkan justru mereproduksi ketimpangan. Mereka yang punya akses ekonomi, koneksi sosial, dan lingkungan yang mendukung akan lebih mudah memperoleh peluang. Sementara mereka yang berasal dari kelas bawah harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai titik yang sama.

Itulah sebabnya ijazah hari ini tidak selalu menjamin apa-apa. Banyak orang akhirnya hidup dalam kecemasan yang panjang. Bukan karena mereka tidak mau bekerja, tetapi karena sistem memang tidak menyediakan cukup ruang hidup yang layak. Kita hidup di zaman ketika orang dituntut terus produktif, terus berkembang, terus “upgrade diri”, tetapi negara sendiri tidak mampu memastikan apakah setelah semua usaha itu mereka benar-benar akan hidup lebih baik.

Dalam logika ekonomi kapitalistik, situasi ini sebenarnya bukan hal baru. Karl Marx sejak lama menyebut adanya reserve army of labour, yaitu cadangan tenaga kerja menganggur yang selalu tersedia dalam sistem kapitalisme. Kehadiran banyak pengangguran membuat posisi pekerja menjadi lemah. Upah bisa ditekan, kontrak kerja bisa dipermudah, dan perusahaan selalu punya pilihan untuk mengganti pekerja kapan saja.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GP Ansor Kota Gorontalo Gelar Pengajian Kitab Kifayatul Akhyar dan Fathul Qorib Peringati HUT RI ke-80

    GP Ansor Kota Gorontalo Gelar Pengajian Kitab Kifayatul Akhyar dan Fathul Qorib Peringati HUT RI ke-80

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Gorontalo menggelar pengajian kitab Kifayatul Akhyar dan Fathul Qorib dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2025, bertempat di Masjid At-Taubah, Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara. Pengajian diawali dengan pengantar dari Ketua GP Ansor Kota Gorontalo, […]

  • KH Rasyid Kamaru: Gorontalo Dibangun Dengan Dasar Pancasila

    KH Rasyid Kamaru: Gorontalo Dibangun Dengan Dasar Pancasila

    • calendar_month Minggu, 30 Jun 2019
    • account_circle Yusran Laindi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Gorontalo, KH. Abd Rasyid Kamaru mengatakan bahwa Provinsi Gorontalo dibangun dengan dasar Pancasila. Hal tersebut disampaikan dalam ‘Ngaji Kebangsaan’ yang digagas oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Gorontalo, Sabtu (29/6/2019). Dalam acara dialog yang di hadiri ratusan peserta dari berbagai lintas organisasi […]

  • Muhammad Dzikyan: Kebijakan Harus Utamakan Kemaslahatan Umat

    Muhammad Dzikyan: Kebijakan Harus Utamakan Kemaslahatan Umat

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 453
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kebijakan penutupan aktivitas pembelian emas dari penambang rakyat di Provinsi Gorontalo, khususnya Kabupaten Pohuwato, terus menuai sorotan. Langkah penegakan hukum yang menutup seluruh jalur pembelian emas, baik di tingkat lokal maupun luar daerah, dinilai berdampak langsung pada kondisi ekonomi masyarakat. Anggota DPRD Provinsi Gorontalo daerah pemilihan Boalemo–Pohuwato, Muhammad Dzikyan Nawawi, Rabu (4/3/2026), menyampaikan […]

  • Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    Pemerintah Jelaskan Penurunan Kuota Bansos Akibat Efisiensi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menjelaskan bahwa kuota penerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) pada tahun 2025 mengalami penyesuaian signifikan. Kebijakan ini diambil sebagai imbas dari efisiensi anggaran yang harus diterapkan oleh seluruh pemerintah daerah, termasuk di Provinsi Gorontalo. Hal ini disampaikan Wagub Idah saat menyerahkan bantuan BLP3G di dua kecamatan […]

  • Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Alam Khaerul Hidayat
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog. […]

  • Akuntansi Program Bantuan Sosial: Efektivitas Penyaluran dan Tantangan Pengawasan

    Akuntansi Program Bantuan Sosial: Efektivitas Penyaluran dan Tantangan Pengawasan

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Muhamad Pauzan
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Bangsa ini memikul tanggung jawab moral yang besar: memastikan setiap rupiah yang dialokasikan untuk program bantuan sosial benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Namun, realitas menunjukkan bahwa akuntansi program bantuan sosial masih menghadapi berbagai tantangan serius. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah: sejauh mana efektivitas penyaluran bantuan sosial, dan apa saja hambatan dalam pengawasannya? Indonesia, […]

expand_less