Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 319
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kalau diperhatikan, kondisi itu terasa dekat dengan situasi hari ini. Perusahaan lebih nyaman merekrut pekerja kontrak dibanding pekerja tetap. Outsourcing diperluas. Anak muda diminta fleksibel, adaptif, dan kreatif, tetapi pada saat yang sama mereka dipaksa menerima ketidakpastian sebagai hal yang wajar. Bahkan sekarang muncul glorifikasi terhadap hustle culture—seolah kelelahan adalah tanda kesuksesan, dan bekerja tanpa jeda dianggap bentuk pencapaian hidup.

Padahal banyak orang sebenarnya hanya sedang bertahan. Kerja perlahan kehilangan makna sebagai ruang aktualisasi diri. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup lebih manusiawi, melainkan sekadar agar tidak tenggelam dalam tekanan ekonomi. Di titik tertentu, hidup terasa seperti siklus tanpa ujung: bangun, bekerja, lelah, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Yang membuat situasi ini lebih rumit adalah cara negara merespons masalah pengangguran sering kali terlalu administratif dan seremonial. Solusi yang muncul biasanya berkisar pada pelatihan singkat, seminar motivasi, atau jargon kewirausahaan. Semua itu tidak salah, tetapi terasa tidak menyentuh akar persoalan.

Sebab masalah utamanya bukan cuma keterampilan. Masalahnya ada pada model pembangunan yang tidak cukup berpihak pada pemerataan.

negara berkembang seperti indo ini sering terjebak dalam ketergantungan ekonomi global. Akibatnya, pembangunan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan investasi dibanding memperkuat fondasi ekonomi rakyat sendiri. Kita bisa melihat itu hari ini: pembangunan terlihat megah, tetapi tidak selalu menghadirkan rasa aman bagi masyarakat kecil.

Gedung bertambah tinggi, pusat perbelanjaan semakin banyak, teknologi semakin maju, tetapi pekerjaan layak tetap sulit dicari.

Di desa-desa, anak muda pergi karena merasa tidak ada masa depan. Di kota-kota, mereka berdesakan mencari peluang yang semakin sempit. Sementara negara lebih sibuk membicarakan angka pertumbuhan dibanding kualitas hidup manusia yang ada di balik angka tersebut.

Padahal pengangguran bukan sekadar statistik. Ia bisa berubah menjadi rasa putus asa yang panjang. Banyak anak muda mulai kehilangan kepercayaan pada masa depan. Ada yang merasa gagal sebelum benar-benar memulai hidup. Ada yang diam-diam kehilangan percaya diri karena terus ditolak kerja. Ada pula yang akhirnya merasa dirinya tidak berguna hanya karena tidak mampu memenuhi standar sosial tentang kesuksesan.

Situasi seperti ini pelan-pelan menciptakan keterasingan sosial, Sebab ketika rasionalitas ekonomi terlalu mendominasi kehidupan manusia sebagai kolonisasi dunia kehidupan. Segala sesuatu diukur dari produktivitas dan efisiensi, sementara sisi manusiawi perlahan disingkirkan. Orang dihargai sejauh ia menghasilkan. Ketika tidak produktif, ia dianggap beban.

Karena itu, pengangguran seharusnya tidak dibaca semata sebagai kegagalan individu mencari kerja. Ia adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dalam cara negara mengelola pembangunan dan mendistribusikan kesempatan hidup.

Transformasi yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar slogan perubahan atau narasi optimisme ekonomi. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyentuh struktur: pemerataan industri, perlindungan pekerja, penguatan ekonomi lokal, akses pendidikan yang benar-benar setara, serta pembangunan yang tidak hanya berpusat di kota besar.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan terus memproduksi generasi yang penuh harapan, tetapi hidup dalam ketidakpastian, yang paling menyedihkan dari pengangguran bukan hanya soal tidak adanya pekerjaan. Melainkan ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya tidak lagi punya tempat di tengah masyarakatnya sendiri.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PMII Kota Gorontalo dan SMPN 2 Satap Bulango Ulu Gelar Peringatan Hari Pramuka dan HUT RI ke-80 di Mongiilo Utara

    PMII Kota Gorontalo dan SMPN 2 Satap Bulango Ulu Gelar Peringatan Hari Pramuka dan HUT RI ke-80 di Mongiilo Utara

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Dalam semangat memperkuat nilai solidaritas dan nasionalisme, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Gorontalo bekerja sama dengan SMP Negeri 2 Satap Bulango Ulu menggelar serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Pramuka dan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi, dengan […]

  • Tindakan Tak Terpuji, Dosen UIM Makassar Dipecat Usai Viral Play Button

    Tindakan Tak Terpuji, Dosen UIM Makassar Dipecat Usai Viral

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    nulondalo.com-Universitas Islam Makassar (UIM) resmi memberhentikan dosennya, Amal Said alias AS, setelah aksinya meludahi kasir swalayan di Makassar viral di media sosial. Peristiwa tersebut terekam kamera CCTV dan menuai kecaman publik. Insiden itu terjadi pada Rabu (24/12). Dalam video yang beredar, AS tampak meludahi kasir saat hendak membayar belanjaan. Aksi tersebut diduga dipicu teguran karena […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah 2025: Perkuat Ekonomi Umat Menuju Kemandirian

    PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah 2025: Perkuat Ekonomi Umat Menuju Kemandirian

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025 pada 28–30 Oktober 2025. Agenda besar ini mengusung tema “Memperkuat Peran Ekonomi Syariah untuk Kesejahteraan dan Kemandirian Umat.” PES 2025 menjadi wadah kolaborasi antara PWNU Gorontalo dengan berbagai lembaga keuangan, regulator, serta pelaku ekonomi syariah nasional. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat literasi […]

  • GUSDURian Mamasa Gelar Kegiatan “Jaga Jagat Kita” untuk Edukasi Ekologi Generasi Muda

    GUSDURian Mamasa Gelar Kegiatan “Jaga Jagat Kita” untuk Edukasi Ekologi Generasi Muda

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Guswandri
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Komunitas GUSDURian Mamasa kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan bertajuk “Jaga Jagat Kita”, yang dilaksanakan pada Jumat, 8 Agustus 2025 di Gereja Toraja Mamasa Jemaat Buntu Tanete. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Sekolah Jagat GUSDURian, yang sebelumnya diikuti oleh beberapa penggerak komunitas. Dalam sambutannya, Febry, perwakilan GUSDURian dan alumni Sekolah Jagat, menekankan […]

  • Raih WTP, Gubernur Sherly Didesak Buktikan Komitmen Selamatkan Lingkungan

    Raih WTP, Gubernur Sherly Didesak Buktikan Komitmen Selamatkan Lingkungan

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Menurut Nazlatan, pencemaran lingkungan di Maluku Utara tidak terlepas dari aktivitas perusahaan-perusahaan ekstraktif yang beroperasi di sejumlah daerah. “Persoalan lingkungan ini sudah harus menjadi atensi kita semua untuk menyelamatkan ekosistem di Maluku Utara,” tegasnya. Menanggapi hal itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengatakan pemerintah provinsi telah membahas persoalan lingkungan, termasuk pengakuan tanah adat, bersama Balai […]

  • (Korupsi) Bisnis Paling Rasional

    (Korupsi) Bisnis Paling Rasional

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Di negeri ini, senjata api diawasi ketat. Mau punya pistol saja izinnya panjang, bisa lebih panjang dari antrean sembako. Tapi laporan keuangan? Bebas berkeliaran, rapi, wangi, dan sering dielu-elukan, padahal isinya bisa bikin rakyat miskin seumur hidup. Gus Dur mungkin akan bilang, “Senjata itu membunuh orang. Laporan keuangan bisa membunuh akal sehat.” Korupsi pejabat publik […]

expand_less