Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 226
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kalau diperhatikan, kondisi itu terasa dekat dengan situasi hari ini. Perusahaan lebih nyaman merekrut pekerja kontrak dibanding pekerja tetap. Outsourcing diperluas. Anak muda diminta fleksibel, adaptif, dan kreatif, tetapi pada saat yang sama mereka dipaksa menerima ketidakpastian sebagai hal yang wajar. Bahkan sekarang muncul glorifikasi terhadap hustle culture—seolah kelelahan adalah tanda kesuksesan, dan bekerja tanpa jeda dianggap bentuk pencapaian hidup.

Padahal banyak orang sebenarnya hanya sedang bertahan. Kerja perlahan kehilangan makna sebagai ruang aktualisasi diri. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup lebih manusiawi, melainkan sekadar agar tidak tenggelam dalam tekanan ekonomi. Di titik tertentu, hidup terasa seperti siklus tanpa ujung: bangun, bekerja, lelah, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Yang membuat situasi ini lebih rumit adalah cara negara merespons masalah pengangguran sering kali terlalu administratif dan seremonial. Solusi yang muncul biasanya berkisar pada pelatihan singkat, seminar motivasi, atau jargon kewirausahaan. Semua itu tidak salah, tetapi terasa tidak menyentuh akar persoalan.

Sebab masalah utamanya bukan cuma keterampilan. Masalahnya ada pada model pembangunan yang tidak cukup berpihak pada pemerataan.

negara berkembang seperti indo ini sering terjebak dalam ketergantungan ekonomi global. Akibatnya, pembangunan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan investasi dibanding memperkuat fondasi ekonomi rakyat sendiri. Kita bisa melihat itu hari ini: pembangunan terlihat megah, tetapi tidak selalu menghadirkan rasa aman bagi masyarakat kecil.

Gedung bertambah tinggi, pusat perbelanjaan semakin banyak, teknologi semakin maju, tetapi pekerjaan layak tetap sulit dicari.

Di desa-desa, anak muda pergi karena merasa tidak ada masa depan. Di kota-kota, mereka berdesakan mencari peluang yang semakin sempit. Sementara negara lebih sibuk membicarakan angka pertumbuhan dibanding kualitas hidup manusia yang ada di balik angka tersebut.

Padahal pengangguran bukan sekadar statistik. Ia bisa berubah menjadi rasa putus asa yang panjang. Banyak anak muda mulai kehilangan kepercayaan pada masa depan. Ada yang merasa gagal sebelum benar-benar memulai hidup. Ada yang diam-diam kehilangan percaya diri karena terus ditolak kerja. Ada pula yang akhirnya merasa dirinya tidak berguna hanya karena tidak mampu memenuhi standar sosial tentang kesuksesan.

Situasi seperti ini pelan-pelan menciptakan keterasingan sosial, Sebab ketika rasionalitas ekonomi terlalu mendominasi kehidupan manusia sebagai kolonisasi dunia kehidupan. Segala sesuatu diukur dari produktivitas dan efisiensi, sementara sisi manusiawi perlahan disingkirkan. Orang dihargai sejauh ia menghasilkan. Ketika tidak produktif, ia dianggap beban.

Karena itu, pengangguran seharusnya tidak dibaca semata sebagai kegagalan individu mencari kerja. Ia adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dalam cara negara mengelola pembangunan dan mendistribusikan kesempatan hidup.

Transformasi yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar slogan perubahan atau narasi optimisme ekonomi. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyentuh struktur: pemerataan industri, perlindungan pekerja, penguatan ekonomi lokal, akses pendidikan yang benar-benar setara, serta pembangunan yang tidak hanya berpusat di kota besar.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan terus memproduksi generasi yang penuh harapan, tetapi hidup dalam ketidakpastian, yang paling menyedihkan dari pengangguran bukan hanya soal tidak adanya pekerjaan. Melainkan ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya tidak lagi punya tempat di tengah masyarakatnya sendiri.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lebaran Dua Versi

    Lebaran Dua Versi

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 705
    • 0Komentar

    “Sepanjang metode yang digunakan berbeda, potensi berbeda pasti terjadi. Itu sudah terjadi dan akan terjadi. Kita juga sudah terbiasa menjalaninya. Jadi saya rasa sudah bukan masalah. Besok masing-masing kembali bekerja. Kita sudah lupa karena kembali ke kesibukan masing-masing,” jawab Kyai Saleh, menyeruput kopi dan meraih pisang goreng yang baru saja diantarkan oleh istri Sampara. “Bulannya […]

  • Bayangkan Jika Anda Seorang LGBT: Sebuah Eksperimen Imajinasi dan Refleksi Sosial-Religius

    Bayangkan Jika Anda Seorang LGBT: Sebuah Eksperimen Imajinasi dan Refleksi Sosial-Religius

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Fanridhal Engo
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Di sini Anda merasa menemukan dalil baru—dalil sekuler—yang memberi legitimasi terhadap eksistensi dan ekspresi Anda sebagai LGBT. Bahwa setiap manusia berhak menentukan cara hidupnya, termasuk orientasi dan ekspresi seksual. Namun pertanyaan selanjutnya muncul: Bagaimana mungkin hak asasi manusia bisa diterapkan di tengah masyarakat yang begitu agamis dan konservatif? Di sinilah konflik batin dimulai. Anda merasa […]

  • Gorontalo Masuk Daftar Aksi Bela Palestina Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    Gorontalo Masuk Daftar Aksi Bela Palestina Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Nulondalo – Aksi Bela Palestina digelar serentak di sejumlah kota di Indonesia. Ratusan massa aksi terun ke jalan menyuarakan kependulian untuk Palestina. Kota – kota di Indonesia yang menggelar aksi bela  Palestina menggunakan simbol organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) diantaranya; Kota Palembang, Surabaya, Yogyakarta dan Gorontalo, Senin (3/2/2025). Namun aksi bela Palestina dinilai ditunggangi […]

  • Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq Play Button

    Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 262
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketika keluarga berubah bentuk, orang tua bercerai, lalu masing-masing menikah lagi yang sering kebingungan bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak. Mereka tumbuh dengan ayah kandung, ibu kandung, sekaligus ayah tiri dan ibu tiri. Lalu pertanyaan muncul: bagaimana cara berbakti dalam keluarga seperti itu? Pertanyaan itulah yang dibahas KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA […]

  • Jokowi Yang Sedang Turun Kelas? (Refleksi tentang Kekuasaan, Politik, dan Kematangan Demokrasi Kita)

    Jokowi Yang Sedang Turun Kelas? (Refleksi tentang Kekuasaan, Politik, dan Kematangan Demokrasi Kita)

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang patut dibela atau digugat. Tulisan ini tidak berdiri di satu pihak, tidak pula hadir untuk menyokong atau menjatuhkan. Yang ingin disorot di sini adalah sebuah peristiwa politik yang mengandung makna lebih dalam: mantan Presiden Jokowi menggugat pihak-pihak yang menuduh ijazahnya palsu. […]

  • PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 100
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo terus mendorong lembaga-lembaga semi otonom di bawah naungannya untuk aktif menjalankan tugas dan fungsi masing-masing. Langkah ini dilakukan guna mendukung kerja-kerja Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dalam mewujudkan program-program strategis dan taktis demi mencapai sasaran program NU di tingkat wilayah. Salah satu lembaga yang diharapkan berperan aktif adalah Lembaga […]

expand_less