Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 20 jam yang lalu
  • visibility 138
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kalau diperhatikan, kondisi itu terasa dekat dengan situasi hari ini. Perusahaan lebih nyaman merekrut pekerja kontrak dibanding pekerja tetap. Outsourcing diperluas. Anak muda diminta fleksibel, adaptif, dan kreatif, tetapi pada saat yang sama mereka dipaksa menerima ketidakpastian sebagai hal yang wajar. Bahkan sekarang muncul glorifikasi terhadap hustle culture—seolah kelelahan adalah tanda kesuksesan, dan bekerja tanpa jeda dianggap bentuk pencapaian hidup.

Padahal banyak orang sebenarnya hanya sedang bertahan. Kerja perlahan kehilangan makna sebagai ruang aktualisasi diri. Orang bekerja bukan lagi untuk hidup lebih manusiawi, melainkan sekadar agar tidak tenggelam dalam tekanan ekonomi. Di titik tertentu, hidup terasa seperti siklus tanpa ujung: bangun, bekerja, lelah, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Yang membuat situasi ini lebih rumit adalah cara negara merespons masalah pengangguran sering kali terlalu administratif dan seremonial. Solusi yang muncul biasanya berkisar pada pelatihan singkat, seminar motivasi, atau jargon kewirausahaan. Semua itu tidak salah, tetapi terasa tidak menyentuh akar persoalan.

Sebab masalah utamanya bukan cuma keterampilan. Masalahnya ada pada model pembangunan yang tidak cukup berpihak pada pemerataan.

negara berkembang seperti indo ini sering terjebak dalam ketergantungan ekonomi global. Akibatnya, pembangunan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dan investasi dibanding memperkuat fondasi ekonomi rakyat sendiri. Kita bisa melihat itu hari ini: pembangunan terlihat megah, tetapi tidak selalu menghadirkan rasa aman bagi masyarakat kecil.

Gedung bertambah tinggi, pusat perbelanjaan semakin banyak, teknologi semakin maju, tetapi pekerjaan layak tetap sulit dicari.

Di desa-desa, anak muda pergi karena merasa tidak ada masa depan. Di kota-kota, mereka berdesakan mencari peluang yang semakin sempit. Sementara negara lebih sibuk membicarakan angka pertumbuhan dibanding kualitas hidup manusia yang ada di balik angka tersebut.

Padahal pengangguran bukan sekadar statistik. Ia bisa berubah menjadi rasa putus asa yang panjang. Banyak anak muda mulai kehilangan kepercayaan pada masa depan. Ada yang merasa gagal sebelum benar-benar memulai hidup. Ada yang diam-diam kehilangan percaya diri karena terus ditolak kerja. Ada pula yang akhirnya merasa dirinya tidak berguna hanya karena tidak mampu memenuhi standar sosial tentang kesuksesan.

Situasi seperti ini pelan-pelan menciptakan keterasingan sosial, Sebab ketika rasionalitas ekonomi terlalu mendominasi kehidupan manusia sebagai kolonisasi dunia kehidupan. Segala sesuatu diukur dari produktivitas dan efisiensi, sementara sisi manusiawi perlahan disingkirkan. Orang dihargai sejauh ia menghasilkan. Ketika tidak produktif, ia dianggap beban.

Karena itu, pengangguran seharusnya tidak dibaca semata sebagai kegagalan individu mencari kerja. Ia adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dalam cara negara mengelola pembangunan dan mendistribusikan kesempatan hidup.

Transformasi yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar slogan perubahan atau narasi optimisme ekonomi. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyentuh struktur: pemerataan industri, perlindungan pekerja, penguatan ekonomi lokal, akses pendidikan yang benar-benar setara, serta pembangunan yang tidak hanya berpusat di kota besar.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan terus memproduksi generasi yang penuh harapan, tetapi hidup dalam ketidakpastian, yang paling menyedihkan dari pengangguran bukan hanya soal tidak adanya pekerjaan. Melainkan ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya tidak lagi punya tempat di tengah masyarakatnya sendiri.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan menggelar Festival Green Tumbilotohe yang akan dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Sejumlah lomba pada Festival Green Tumbilotohe tersebut diantaranya lomba Koko’o, Vokalia Religi, Lomba Hamparan lampu antar kecamatan, lomba jalan paling tumbilotohe, Doorprise grebek rumah dan Festival ribuan lampu. Kepada bakukabar.id, Kepala Dinas Pariwitasa, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), […]

  • Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Bupati Halmahera Timur, Maluku Utara, Ubaid Yakub diwakili Nurdin Hadi Asisten ll Bidang Administrasi, dengan resmi membuak kegiatan Kursusu Wasit Bola Voli Lisensi Dasar. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Halmahera Timur di Aula Penginapan Rahmat, Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Rabu (26/11/2025). Dalam kesempatan tersebut. Nurdin Hadi dalam sambutannya mengatakan, atas […]

  • Atalia Praratya Soroti Maraknya Kekerasan Seksual di Kampus, Minta Tidak Dinormalisasi

    Atalia Praratya Soroti Maraknya Kekerasan Seksual di Kampus, Minta Tidak Dinormalisasi

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 157
    • 0Komentar

    “Kita tidak boleh menormalisasi kekerasan seksual, apalagi dengan alasan bercanda. Bahkan catcalling pun itu adalah hal yang salah,” tegas politisi dari Partai Golkar tersebut. Ia juga mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, yang mulai menunjukkan sikap tegas terhadap pelaku kekerasan seksual. Menurutnya, reaksi publik yang tidak mentoleransi tindakan tersebut menjadi langkah positif dalam menciptakan […]

  • Ramadhan dan Beban Lebih Kaum Perempuan

    Ramadhan dan Beban Lebih Kaum Perempuan

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Dangi Rami sibuk meracik menu istimewa makan sahur. Di tengah suara dengkur suami dan anaknya yang masih terlelap tidur. Jeritan belanga goreng Dangi terdengar gaduh. Bersahutan dengan botu poluleya yang sulit dikendalikan bunyinya. Tiga menu berbahan ayam kampung untuk suami dan anaknya telah menebarkan aroma sedap. Mereka dibangunkan tat kala menu makan sahur itu sudah […]

  • Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)

    Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Tetapi setiap orang memiliki titik lemah. Dalam kisah yang banyak diceritakan dalam literatur klasik, kelemahan Sam’un terletak pada rambutnya. Selama rambut itu tetap utuh, kekuatannya seakan tidak pernah habis. Rahasia ini tidak diketahui oleh banyak orang. Satu-satunya orang yang mengetahui kelemahan Sam’un adalah istrinya sendiri. Para penguasa yang ingin menjatuhkan Sam’un kemudian mendekati sang istri. […]

  • Kuasa Hukum Latif Mangan, Fakhrurrozi Arrusady Tegaskan Putusan NO Bukan Kemenangan Salah Satu Pihak

    Kuasa Hukum Latif Mangan, Fakhrurrozi Arrusady Tegaskan Putusan NO Bukan Kemenangan Salah Satu Pihak

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Putusan perkara perdata Nomor 19/Pdt.G/2025/PN Lbt yang diputus oleh Pengadilan Negeri Lembata pada 19 Februari 2026 memicu polemik di tengah masyarakat. Sengketa hak kepemilikan tanah antara Latif Mangan dan Mahmudin Tukang tersebut menuai beragam tafsir, khususnya terkait amar putusan yang menyatakan gugatan “niet ontvankelijke verklaard” (NO) atau tidak dapat diterima. Kuasa hukum Latif […]

expand_less