Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Benarkah Orang Gorontalo sebegitu Bencinya terhadap Yahudi? Tanggapan untuk tulisan Funco Tanipu

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 502
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tulisan Funco Tanipu yang berjudul Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi yang terbit di kanal bakukabar.id pada 4 April 2025 adalah tulisan yang bagi saya tidak menggambarkan apa-apa, selain menguatkan stigma negatif serta menembakkan tuduhan serius terhadap Yahudi (baik agama maupun komunitas) dengan dalih adat istiadat serta agama, khususnya Islam, di Gorontalo. Tulisan tersebut berangkat dari fenomena Goyang THR yang belakangan diidentifikasi sebagai tarian orang-orang Yahudi—padahal juga sebenarnya hal ini tidak jelas asal-usulnya—melalui sebuah video yang diunggah beberapa hari kemarin dalam momen Idul Fitri. Dalam tulisan tersebut, Funco menulis bahwa ia tidak ingin terjebak dalam konundrum benar-salah karena itu bukan ranahnya, melainkan memberikan perspektif antropologis tentang bagaimana orang-orang Gorontalo memaknai “Yahudi” sebagai kata yang begitu negatif. Dalam berbagai makna Gorontalo terkait kata tersebut, Funco, dengan perspektif antropologisnya menulis: “Yahudi adalah bagian dari bahasa cacian, makian dan padanan kata ‘sifat’ yang buruk.

Setelah membaca catatan tersebut, saya mengernyitkan dahi. Saya sadar memiliki pengetahuan yang begitu dangkal soal bahasa dan kebudayaan Gorontalo. Saya juga barangkali kurang “mengalami Gorontalo” sebaik dirinya. Namun bagi saya, ini adalah klaim yang serius yang meniscayakan beban pembuktian (burden of proof) yang serius pula. Sayangnya, di seluruh isi tulisan, tak saya temukan misalnya, dari mana penulis tahu bahwa Yahudi adalah kata yang terasosiasi dengan caci-maki? Siapa masyarakat Gorontalo yang dirujuknya mengatakan hal tersebut? Jika itu dari tradisi oral, pada komunitas masyarakat Gorontalo seperti apa dan kapan itu muncul? Selanjutnya, benar bahwa, di Gorontalo, tata aturan adat memang tidak tertulis, namun argumen adat istiadat mana yang jadi rujukan utamanya dan secara eksplisit menyebut bahwa hukuman bagi mereka yang ter-Yahudi-kan secara asosiatif harus dijauhi dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat? Bahkan yang paling serius, ia menulis konsekuensi dari mereka yang telah dijauhi itu mendapat kemarahan kolektif dan “biasanya disarankan untuk mobite (berlayar/bepergian jauh)”.

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan Funco tersebut. Argumen kunci saya dalam hal ini berdiri pada premis bahwa pelembagaan atas sebuah pengetahuan dan tradisi, setidak-tidaknya, harus memiliki basis materil yang, dalam konteks ini, bisa berupa perjumpaan antara dua identitas: masyarakat Gorontalo dan orang Yahudi. Persoalannya, saya belum menemukan satupun catatan, baik kolonial maupun dalam adat istiadat, menyebut keberadaan Yahudi sebagai “agama” di Gorontalo. Sebaliknya, dalam sejarah Gorontalo, agama-agama yang seringkali disebut selain Islam, adalah Kristen—khususnya seturut kedatangan kolonial. Dengan demikian, jika tak ada Agama Yahudi di Gorontalo—atau setidak-tidaknya pernah mendengar kata Yahudi—bagaimana bisa orang-orang Gorontalo memahami bahwa kata Yahudi adalah caci-maki? Selanjutnya, tidak adanya agama Yahudi, belum tentu berarti tidak adanya komunitas Yahudi. Kontak orang Indonesia dengan komunitas Yahudi terjadi sejak abad 13 sebagai pedagang, sebelum menjadi staf dan pedagang VOC di abad ke-18.

  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Di tanah Bugis, ada selembar kain yang tidak sekadar kain. Ia adalah cerita tentang kesabaran, ketelitian, dan peradaban yang panjang. Kain itu dikenal dengan nama Lipa’ Sa’be. Di balik setiap helai benang sutra itu, ada tangan-tangan perempuan Bugis yang bekerja dengan ketelitian dan kesabaran. Mereka duduk berjam-jam di depan alat tenun, menggerakkan benang demi benang […]

  • LBH Papua Desak Kapolri Usut Dugaan Penyiksaan dan Penangkapan Sewenang-wenang oleh Oknum Polisi

    LBH Papua Desak Kapolri Usut Dugaan Penyiksaan dan Penangkapan Sewenang-wenang oleh Oknum Polisi

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jayapura – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua mendesak Kapolri segera memerintahkan Kapolda Papua untuk menangkap dan memproses hukum oknum anggota kepolisian yang diduga terlibat dalam kasus penyiksaan, penangkapan sewenang-wenang, serta berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di wilayah hukum Polda Papua. Desakan tersebut disampaikan LBH Papua dalam siaran pers yang diterbitkan bertepatan dengan momentum […]

  • DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    DPR Dorong Sinergi Pusat–Daerah Demi Jaminan Kesehatan Warga Kurang Mampu

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 278
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mendorong penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah guna memastikan jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap terlayani secara optimal dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan Kunjungan Kerja Reses Komisi IX DPR RI bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur, Makassar, Jumat (20/2/2026). […]

  • Butuhkah Peningkatan SDM di Gorontalo?

    Butuhkah Peningkatan SDM di Gorontalo?

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Peningkatan Sumber Daya Manusia menjadi isu yang sangat krusial untuk didiskusikan, apalagi peningkatan Sumber Daya Manusia menjadi program unggulan Gubernur Provinsi Gorontalo dengan dalih meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan provinsi Gorontalo, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah dengan peningkatan Sumber Daya Manusia yang akan dilakukan melalui program pemberian beasiswa terhadap putra daerah untuk melanjutkan pendidikan ke luar […]

  • Polda NTB Catat Penurunan Kriminalitas Signifikan Sepanjang 2025, Wakapolda Apresiasi Dukungan Masyarakat

    Polda NTB Catat Penurunan Kriminalitas Signifikan Sepanjang 2025, Wakapolda Apresiasi Dukungan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mataram — Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Wakapolda NTB), Brigjen Pol. Hari Nugroho, memimpin Jumpa Pers Akhir Tahun 2025 Polda NTB pada Senin (29/12/2025) pukul 08.00 WITA di Gedung Sasana Dharma Polda NTB. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk komitmen Polda NTB untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat terkait capaian kinerja […]

  • Saldo Akhir

    Saldo Akhir

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Setelah Ramadhan berlalu dan gema takbir Idul Fitri mulai mereda, kita seperti akuntan yang baru saja menutup buku besar tahunan: lega, tapi juga sedikit was-was. Lega karena “laporan ibadah” sudah disusun sebulan penuh, was-was karena pertanyaan klasik muncul: ini saldo akhirnya bagaimana? Dalam dunia akuntansi, saldo akhir bukan sekadar angka. Ia adalah hasil dari seluruh […]

expand_less