Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
- visibility 115
- print Cetak

Ilustrasi suasana Ahlu Suffah di serambi Masjid Nabawi pada masa awal Islam, tempat para sahabat hidup sederhana, belajar langsung dari Nabi Muhammad SAW, serta menumbuhkan tradisi kesalehan dan pengetahuan yang kemudian menjadi salah satu akar spiritualitas dalam Islam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Abu Dzar al-Ghifari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kehidupan zuhudnya. Ia berasal dari kabilah Ghifar, sebuah kabilah Arab yang tinggal di jalur perdagangan antara Makkah dan Syam. Sebelum masuk Islam, kabilah ini dikenal keras dan hidup dari merampok kafilah dagang. Namun Abu Dzar memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan orang di lingkungannya. Ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, berani, dan memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan.
Ketika kabar tentang seorang nabi baru di Makkah sampai kepadanya, Abu Dzar tidak menunggu lama. Ia mengutus saudaranya untuk mencari informasi. Setelah mendengar berita tentang ajaran Nabi Muhammad SAW, ia memutuskan datang sendiri ke Makkah untuk memastikan kebenaran berita itu. Perjalanannya penuh risiko. Pada masa itu kaum Quraisy sangat keras terhadap siapa pun yang menunjukkan simpati kepada Nabi. Abu Dzar datang secara diam-diam dan tinggal beberapa hari tanpa berani menanyakan langsung tentang Nabi di depan umum.
Pertemuan dengan Nabi akhirnya terjadi melalui bantuan Ali bin Abi Thalib r.a. Setelah berbicara dengan Nabi dan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, Abu Dzar segera menyatakan keislamannya. Ia termasuk orang yang sangat awal menerima Islam. Namun keberanian Abu Dzar tampak sejak awal. Nabi menyarankan agar ia merahasiakan keislamannya karena situasi di Makkah masih berbahaya. Tetapi Abu Dzar justru pergi ke sekitar Ka’bah dan menyatakan keislamannya di hadapan kaum Quraisy. Ia dipukuli hingga hampir pingsan. Peristiwa itu menunjukkan karakter Abu Dzar: berani dan tidak mudah berkompromi dengan tekanan sosial.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar