Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
  • visibility 192
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setelah hijrah ke Madinah, Abu Dzar menjadi bagian dari komunitas sahabat yang hidup sangat sederhana di sekitar Masjid Nabawi. Di masjid itu terdapat sebuah serambi beratap yang dikenal sebagai Suffah. Di tempat inilah tinggal sekelompok sahabat yang tidak memiliki rumah atau penghasilan tetap. Mereka dikenal sebagai Ahlu Suffah. Jumlah mereka tidak selalu sama. Kadang sekitar beberapa puluh orang, kadang mencapai lebih dari tujuh puluh orang.

Para Ahlu Suffah hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidur di lantai masjid atau di serambi tersebut. Makanan mereka sering kali hanya beberapa butir kurma atau susu yang dibagikan oleh para sahabat yang memiliki kemampuan lebih. Kadang mereka menahan lapar sepanjang hari. Namun kehidupan di Suffah bukan sekadar simbol kemiskinan. Tempat itu menjadi ruang belajar yang sangat dekat dengan Nabi. Mereka mendengar langsung ajaran Nabi, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, dan menyaksikan bagaimana Islam dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Abu Dzar sering dikaitkan dengan kelompok ini karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan kedekatannya dengan nilai-nilai yang hidup di Suffah. Ia tidak tertarik pada kekayaan atau jabatan. Dalam banyak riwayat, Abu Dzar dikenal sebagai sahabat yang keras dalam mengkritik penumpukan harta. Ia sering mengingatkan ayat Al-Qur’an yang mengecam orang yang menimbun emas dan perak tanpa menggunakannya untuk kepentingan masyarakat.

Karakter Abu Dzar membuatnya sering dianggap sebagai simbol kehidupan zuhud dalam sejarah Islam. Ia tidak hanya hidup sederhana secara pribadi, tetapi juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada kekayaan dan kemewahan. Sikap ini membuat namanya sering disebut ketika para ulama membicarakan asal-usul tradisi asketisme dalam Islam.

Kehidupan Ahl al-Suffah sendiri memberi gambaran penting tentang fase awal masyarakat Muslim. Mereka adalah kelompok yang tidak memiliki kekuatan ekonomi, tetapi memiliki kedekatan spiritual yang sangat kuat dengan Nabi. Dari serambi sederhana di Masjid Nabawi itu lahir banyak perawi hadis dan sahabat yang kemudian menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah.

Kisah Abu Dzar dan para Ahl al-Suffah menunjukkan sisi lain dari sejarah Islam. Selain dakwah, peperangan dan ekspansi, ada kehidupan sederhana di serambi masjid yang diisi oleh orang-orang yang belajar langsung dari Nabi. Dari ruang kecil itu lahir tradisi pengetahuan, kesalehan, dan kesederhanaan yang kemudian menjadi bagian penting dari warisan spiritual Islam yang kita kenal dengan nama tasawuf.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tarawih Tanpa Manipulasi

    Tarawih Tanpa Manipulasi

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Jika kita pakai kerangka teori fraud triangle, tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi maka manipulasi ibadah sering lahir dari tekanan sosial. Lingkungan religius yang kompetitif bisa membuat orang merasa harus tampil saleh. Kesempatan terbuka karena niat tidak terlihat. Rasionalisasinya sederhana: “Biar jadi contoh.” Padahal contoh terbaik justru yang tidak merasa sedang memberi contoh. Ramadhan seharusnya menjadi bulan […]

  • LAUTRA Tingkatkan Konservasi Laut dan Kesejahteraan Masyarakat

    LAUTRA Tingkatkan Konservasi Laut dan Kesejahteraan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 128
    • 0Komentar

    KBRN, Gorontalo –  Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar menyelenggarakan Rapat Koordinasi pelaksanaan program di wilayah kerja Kawasan Konservasi Perairan Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Juli 2025, di Kantor BPSPL Makassar, Sulawesi Selatan. BPSPL merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) […]

  • Idul Fitri, Pakarena, dan Harmoni Jiwa: Ketika Tradisi Menari Mengajarkan Kesucian Hati

    Idul Fitri, Pakarena, dan Harmoni Jiwa: Ketika Tradisi Menari Mengajarkan Kesucian Hati

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Salah satu ekspresi budaya yang menarik untuk dibaca dalam kerangka ini adalah tari tradisional Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai Tari Pakarena. Tarian ini telah lama dikenal sebagai salah satu simbol kehalusan budi perempuan Bugis-Makassar. Gerakannya lembut, ritmenya terukur, dan keseluruhan pertunjukannya memancarkan kesan harmoni yang mendalam antara tubuh, musik, dan makna simbolik yang terkandung di […]

  • 17 Mahasantri Khatamun Nabiyyin Raih Sertifikasi CAP, Bukti Santri Unggul di Era Digital

    17 Mahasantri Khatamun Nabiyyin Raih Sertifikasi CAP, Bukti Santri Unggul di Era Digital

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 331
    • 0Komentar

    “Fiqih muamalah membutuhkan alat bantu modern. Menguasai Accurate adalah bentuk kesiapan kami menjaga transparansi dan akuntabilitas keuangan di masa depan,” ujarnya. Hal senada disampaikan oleh mahasantriwati Asri Nur Husaini. Ia menilai lingkungan pesantren justru sangat mendukung pembelajaran teknologi karena membentuk karakter disiplin dan pola pikir sistematis. “Belajar akuntansi membutuhkan ketelitian tinggi, sama seperti saat kami […]

  • Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    Mengulik “Haji Bawakaraeng”: Cerita dari Kaki Langit

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 143
    • 0Komentar

    “Panggilan haji Telah tiba lagi Menunaikan ibadah Panggilan Baitullah Tanah Suci Makkah Ya Makkatul Mukarramah” Lagu “Panggilan Haji”, dari grup Kasidah ‘Nasida Ria’ mengalun lembut dari pita kaset radio yang sudah terlihat kucar-kacir tersebut. Jangan heran, di tempat lain, kasidah bolehlah ditelan waktu, digilas masa dan ditinggalkan zaman, tetapi di kampungku, kasidahan, apalagi punya Nasida […]

  • Aliansi Pemuda Kalumbatan Soroti Lemahnya Pengawasan Proyek Kampung Nelayan Merah Putih

    Aliansi Pemuda Kalumbatan Soroti Lemahnya Pengawasan Proyek Kampung Nelayan Merah Putih

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Namun, apabila aktivitas masyarakat masih berlangsung tanpa pengendalian yang memadai, hal itu menunjukkan bahwa sistem pengawasan belum berjalan efektif. “Kalau imbauan pemerintah desa saja tidak mampu diimplementasikan di lapangan, lalu siapa yang bertanggung jawab mengendalikan kawasan proyek? Jangan sampai proyek nasional terlihat seperti proyek tanpa pengawasan yang jelas. Negara mengalokasikan anggaran besar, maka masyarakat juga […]

expand_less