Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
  • visibility 459
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang NU punya prinsip sederhana: kalau niatnya ibadah, jangan dibuat ribet. Sayangnya, urusan haji yang jelas-jelas ibadah sering kali justru paling ribet urusannya. Maka ketika Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) lahir, umat pun berharap: “Alhamdulillah, semoga haji tak lagi seperti antre sembako menjelang lebaran.” Tapi apa daya, harapan sering kalah cepat dari realitas birokrasi.

Sebagai kementerian baru, Kemenhaj seharusnya sibuk bekerja. Tapi yang terlihat justru seperti santri baru mondok: lebih semangat mengkritik seniornya ketimbang menghafal kitab sendiri. Pelaksanaan haji masa lalu dikritisi dari A sampai Z. Kritik memang perlu, kata Gus Dur, “kalau tidak dikritik, nanti dikira malaikat.” Tapi kalau kebanyakan kritik, takutnya malah lupa kerja. Umat ini butuh solusi, bukan ceramah evaluasi tiga juz tanpa praktik.

Dalam tradisi NU, orang yang kebanyakan membahas masa lalu biasanya sedang kehabisan ide masa depan. Inovasi yang ditunggu-tunggu belum juga kelihatan. Digitalisasi layanan masih seperti wifi di desa: ada namanya, tapi sinyalnya kadang muncul kadang menghilang. Padahal, kalau mau jujur, jamaah haji Indonesia itu sudah sangat siap digital yang belum siap sering kali justru sistemnya.

Yang lebih jenaka lagi, pejabat daerah Kemenhaj sudah dilantik, tapi struktur organisasi dan sarana-prasarananya belum jelas. Ini mirip orang NU yang sudah disuruh ceramah, tapi mic-nya belum dipasang dan panggungnya belum jadi. Pejabatnya ada, kantornya belum tentu ada. Kewenangannya belum jelas, tapi undangannya sudah jalan. Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan bilang, “Ini kementerian apa grup arisan?”

Akibatnya, koordinasi di daerah jadi seperti rebutan sandal di masjid: semua merasa punya hak, tapi tak ada yang benar-benar bertanggung jawab. Ini bukan sekadar persoalan administratif, tapi menyangkut pelayanan jamaah yang nyata-nyata akan berangkat ke Tanah Suci, bukan ke Tanah Imajinasi.

Masalah berikutnya yang tak kalah serius adalah rendahnya persentase pelunasan jamaah. Jamaah tampak ragu-ragu. Bukan karena mereka tidak niat ibadah, orang NU itu rela jual sawah demi haji, tetapi karena kepastian layanannya masih abu-abu. Orang mau bayar kalau jelas dapat apa. Kalau tidak jelas, jangankan jamaah, bendahara pesantren saja bisa mikir dua kali.

Rendahnya pelunasan ini adalah alarm kepercayaan publik. Artinya, masyarakat sedang berkata halus: “Kami menunggu, tapi jangan lama-lama.” Dalam bahasa Gus Dur: rakyat itu sabar, tapi bukan berarti bisa dipermainkan. Kepercayaan itu seperti gelas kaca, sekali retak, susah disambung.

Kemenhaj tampaknya ingin tampil ideal: bersih, rapi, sesuai aturan, dan berbeda dari masa lalu. Niat baik ini patut diapresiasi. Tapi dalam tradisi fiqih NU, ada kaidah penting: kesulitan itu menuntut kemudahan. Ideal boleh, tapi harus realistis. Jangan sampai idealisme birokrasi justru menyulitkan jamaah yang niatnya cuma satu: ibadah dengan tenang.

Haji itu bukan proyek percontohan kebijakan. Tidak bisa “kita lihat nanti hasilnya.” Jamaah berangkat dengan umur, kesehatan, dan tabungan yang terbatas. Maka yang dibutuhkan bukan wacana sempurna, tapi layanan yang pasti. Lebih baik sistem sederhana tapi jalan, daripada sistem canggih tapi hanya bagus di slide presentasi.

Masyarakat hari ini menagih Kemenhaj bukan dengan marah, tapi dengan harapan yang mulai menipis. Mereka tidak meminta mukjizat, cukup kerja nyata. Kurangi debat masa lalu, perbanyak inovasi masa depan. Fokuslah pada pelayanan, bukan sekadar pencitraan perubahan.

Gus Dur pernah berkata, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Dalam konteks haji, yang lebih penting dari kementerian baru adalah jamaah yang terlayani. Kalau Kemenhaj ingin dicintai umat, resepnya sederhana ala NU: kerja serius, jangan kebanyakan gaya, dan kalau belum siap ngaku saja, lalu segera berbenah. Sebab umat ini sabar, tapi juga ingat. Dan hari ini, masyarakat sedang menagih: bukan janji, tapi kinerja.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kekerasan Seksual adalah Kejahatan terhadap Martabat Kemanusiaan

    Kekerasan Seksual adalah Kejahatan terhadap Martabat Kemanusiaan

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Oleh : Siti Sara Malase Pengurus PB PMII Nulondalo.com – Kami mengecam dengan sekeras-kerasnya tindakan biadab, keji, dan tidak berperikemanusiaan yang diduga dilakukan oleh terduga pelaku terhadap korban pada Sabtu, 20 Juni 2026 sekitar pukul 19.53 WIT. Perbuatan tersebut bukan hanya merupakan pelanggaran hukum yang serius, tetapi juga bentuk penghancuran terhadap rasa aman, martabat, integritas […]

  • Kota Gorontalo Hidupkan Takbir Keliling untuk Perkuat Toleransi Antarwarga

    Kota Gorontalo Hidupkan Takbir Keliling untuk Perkuat Toleransi Antarwarga

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 233
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo berencana menghidupkan kembali tradisi takbir keliling pada malam Idulfitri mendatang. Kegiatan yang sempat lama vakum itu akan digelar kembali sebagai upaya memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga semangat toleransi di tengah masyarakat yang beragam. Wali Kota Adhan Dambea menegaskan bahwa dirinya memimpin seluruh masyarakat Kota Gorontalo tanpa memandang latar belakang agama maupun […]

  • Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat dan sukses

    Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat dan sukses

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Bontoa,17 Agustus 2026 – Camat Bontoa Muh Maudu S.Hut M.Sp memimpin Upacara Penurunan bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Bontoa pada Minggu sore Di lapangan Mannan talawe Upacara diikuti Forkopimcam, ASN,Kepala Desa/Kelurahan TNI-Polri,Ormas,OKP,pelajar,PKK dan Masyarakat.Petugas penurunan bendera adalah anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa 2026 Sebanyak 25 orang dari Perwakilan SMA/MA Sederajat se kecamatan Bontoa. Camat […]

  • Ada Apa di Balik Pertemuan Prabowo dan Lukashenko? Ternyata Ini Hasilnya

    Ada Apa di Balik Pertemuan Prabowo dan Lukashenko? Ternyata Ini Hasilnya

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Republik Belarus Aleksandr Lukashenko di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/7/2026), menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang menandai semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Lukashenko menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra penting Belarus di kawasan Asia Tenggara. Ia menyebut hubungan kedua negara terus […]

  • Pseudo-Ramadan

    Pseudo-Ramadan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Ramadan akan segera berlalu. Bagai seorang perempuan, Ramadan tampak anggun dan suci. Ramadan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu. Dalam Ramadan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan […]

  • Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo. Jika digali dari sejarah lokal dan […]

expand_less