Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Prabowo Bukanlah Gerindra di Gorontalo: Catatan Kritis Pada HUT Gerindra Ke-17

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Selasa, 26 Agt 2025
  • visibility 181
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Founder The Gorontalo Institute)

Memperbincangkan Gerindra adalah juga memperbincangkan Jendral Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 8. Perjalanan Prabowo, termasuk Gerindra memang berlika-liku, jatuh bangun, dan “berdarah-darah”. Hingga karena konsistensi serta sikap yang istiqomah, Prabowo pada akhirnya menjadi Presiden setelah 4 kali bertarung dalam Pemilihan Presiden dalam 20 tahun terakhir. Rasa-rasanya, jika melihat barisan elit politik Indonesia sejak republik ini berdiri, baru Prabowo yang memiliki daya tahan perjuangan yang konsisten dan istiqomah. Daya tahan tersebut tidak saja dimiliki Prabowo, tetapi juga sebagian besar rakyat Gorontalo.

Hal ini terlihat dari hasil perolehan suara Prabowo Subianto dalam 4 kali Pilpres. Pada Pilpres 2014 Prabowo – Hatta Rajasa meraih 378.735 suara. Pada Pilpres 2019, walaupun berpasangan dengan Sandiaga Uno putra asli Gorontalo, suara Prabowo malah turun menjadi 345.129 suara, dan pada Pilpres 2024 Prabowo meraih 504.662 suara.

Partisipasi warga Gorontalo yang “konsisten” dalam memilih Prabowo adalah hal yang perlu diapresiasi, tetapi konsistensi yang begitu tinggi tersebut beriringan dengan anomali. Dari data Pemilu dan Pilpres, sepertinya jargon Prabowo adalah Gerindra dan Gerindra adalah Prabowo, tidak berlaku di Gorontalo. Di Gorontalo, Prabowo bukanlah Gerindra.

Gorontalo Memilih Prabowo, Bukan Memilih Gerindra

Keterpilihan Prabowo yang konsisten tersebut rupanya tidak diikuti keterpilihan Gerindra di Gorontalo untuk DPR RI. Dari Pemilu 2014 hingga 2024, pemilih Gorontalo sepertinya enggan memilih Gerindra. Hal itu terlihat pada hasil Pemilu 2014, lambang partai Gerindra pada kartu suara pemilu hanya dicoblos oleh 6.399 orang. Pada Pemilu 2019, yang mencoblos Gerindra hanya 11.798 orang. Lebih aneh lagi pada Pemilu 2024, yang mencoblos Gerindra hanya bertambah 597 orang dibandingkan Pemilu 2019.

Pertanyaannya, mengapa orang Gorontalo cenderung senang pada Prabowo bahkan memilihnya secara konsisten namun enggan memilih Gerindra? Kenapa tidak linier antara pemilih Prabowo dan Gerindra di Gorontalo? Faktor-faktor apa saja yang membuat pemilih Gorontalo tidak menyukai dan bahkan tidak mau mencoblos lambang partai Gerindra pada surat suara?

Beberapa faktor yakni pertama, karena ketiadaan ideologi pembeda antara Gerindra sebagai partai dengan partai-partai yang lain, terutama partai-partai yang berideologi sama seperti Golkar, Nasdem dan PDI P. Padahal, ideologi kepartaian yang diusung Gerindra dianggap lebih “heroik” dibandingkan partai lain, di saat partai lain menganggap ideologi bukan sesuatu yang relevan dalam kampanye. Saat pemilih tidak menemukan pembeda secara ideologis, maka mereka cenderung menentukan pilihannya berdasarkan kejelasan.

Menguatnya pengaruh personal Prabowo yang beriringan dengan rendahnya Party ID membuat pemilih tidak lagi mengidentifikasi pilihan pada pilpres berdasarkan kedekatannya dengan partai politik. Survei yang dilakukan oleh Poltracking tahun 2022, memperlihatkan bahwa alasan publik yang dominan dalam memilih pada pilpres semata karena figur secara personal (51,4 persen).

Kedua, faktor sosio-antropologis yang tidak representasikan oleh Gerindra Gorontalo. Faktor ini memperlihatkan bahwa ada pengaruh antara nilai sosiologis-antropologis yang melekat pada partai secara kelembagaan yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam menentukan pilihan politik. Faktor tersebut seperti agama, kelas sosial, etnisitas, lokalitas, maupun tradisi serta adat istiadat. Padahal, dalam konteks Gorontalo, faktor sosio-antropologis adalah faktor penting, dan hal tersebut tidak dielaborasi dalam agenda dan program partai Gerindra di Gorontalo.

Ketiga, faktor economic voting, yakni dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan, posisi elit partai yang menduduki kursi eksekutif turut memberikan insentif yang menentukan preferensi politik pemilih. Jika elit partai tersebut berkinerja baik, maka hal tersebut menjadi alasan pemilih untuk memilih partai pengusungnya. Tetapi, jika elit partai tersebut tidak memperlihatkan kinerja yang baik, maka pemilih akan memberikan hukuman dengan tidak memilihnya kembali termasuk partai yang mengusungnya. Pada konteks Gorontalo, ketiadaan elit Gerinda yang menduduki kursi eksekutif membuat pemilih tidak melihat bukti kinerja kelembagaan partai dalam memperbaiki daerah.

Keempat, tingginya volatilitas pilihan yakni gejala pergeseran pemilih dari satu partai politik ke partai politik lainnya termasuk dari pemilihan ke pemilihan lainnya. Selain hal itu, volatilitas tersebut ikut dipengaruhi oleh rendahnya Party ID dan faktor ekonomi yang mendominasi perilaku pemilih dalam menentukan pilihan elit hingga pada fenomena migrasi pemilih yang begitu dinamis dari pemilu ke pemilu. Di Gorontalo, volatilitas tersebut menghinggap di partai Gerindra. Pergeseran suara pemilih yang tinggi dan kecenderungan rendahnya tingkat kenaikan jumlah orang yang mencoblos partai Gerindra adalah hal yang harus dipecahkan.

Elnino Lebih Besar dari Gerindra Gorontalo

Selain empat faktor diatas, faktor kelima yang menjadi anomali rendahnya orang yang mencoblos lambang partai Gerindra adalah faktor popularitas Elnino yang lebih besar dibandingkan Gerindra sendiri. Struktur dan infrastruktur Gerindra Gorontalo terkesan lebih memilih mengkampanyekan dan mendorong pemilih untuk mencoblos foto Elnino dibandingkan mencoblos lambang partai Gerindra di surat suara pemilu.

Pada data yang dirilis KPU sejak tahun 2014 hingga 2024, sangat terlihat jelas margin yang begitu lebar antara pemilih Gerindra dan pemilih Elnino. Pemilu 2014, lambang partai Gerindra pada kartu suara pemilu hanya dicoblos oleh 6.399 orang, adapun foto Elnino dicoblos oleh 37.512 orang. Di Pemilu 2019, yang mencoblos Gerindra hanya 11.798 orang, itupun hanya naik 5.399 pemilih dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Tetapi, yang mencoblos Elnino sebanyak 67.515 orang atau naik 30.003 pemilih.

Anomali yang lebih terang terlihat pada Pemilu 2024, yang mencoblos Gerindra hanya 12.395 orang, atau hanya bertambah 597 orang dibandingkan pemilu sebelumnya. Tetapi, pemilih Elnino di Pemilu 2024 bertambah 58.880 suara menjadi 126.395 pemilih.

Hal diatas menunjukkan bahwa tanpa Elnino, maka Gerindra Gorontalo dipastikan tamat. Pertanyaannya, apakah Gerindra akan membiarkan faktor utama tersebut menjadi penentu masa depan partainya? Padahal kita tahu bersama, salah satu partai yang memliki proses kaderisasi yang ketat dan disiplin adalah partai Gerindra, hal ini bisa kita saksikan dari penjenjangan “pembaretan” kader partai yang dilaksanakan terpusat di Hambalang yang digagas dan dipantau langsung oleh 08, kode panggilan Jendral Prabowo Subianto.

The End of Gerindra?

Sebagaimana dituliskan pada paragraf sebelumnya, apakah Gerindra akan membiarkan lambang partainya hanya dicoblos belasan ribu orang dari pemilu ke pemilu? Ataukah Gerindra hanya lebih mementingkan aspek pencapaian jumlah kursi di parlemen semata? Lalu jika begitu halnya, apa yang membedakan Gerindra dengan partai lain yang juga memiliki agenda yang sama, pragmatis menambah kursi parlemen dan menjadikan partai hanya sebagai “perahu” semata.

Tentu saja, sebagai orang yang mengidam-idamkan adanya partai politik yang memiliki kelembagaan yang kuat, yang memiliki ideologi yang jelas dan berpihak pada kepentingan publik demi tegaknya demokrasi yang kuat di republik ini, maka tulisan ini diketengahkan dalam momentum perayaan Hari Ulang Tahun Partai Gerindra yang ke 17. Tulisan ini adalah refleksi kritis yang memandang serta mengamati Gerindra dari pinggiran.

Kedepan, tentu saja kita semua berharap Gerindra di Gorontalo tidak akan tamat riwayatnya. Oleh karena itu, sebagai partai yang dikomandani oleh nasionalis sejati Jendral Prabowo Subianto, masa depan partai Gerindra boleh dibilang antara hidup dan mati. Bahwa kesuksesan partai dalam mengusung Jendral Prabowo selama empat kali hingga berhasil menduduki kursi Presiden RI, menjadi momentum untuk bisa membenahi partai secara internal. Termasuk kesuksesan meraih jumlah kursi di parlemen yang semakin meningkat. Peningkatan itu jika dilihat dari data diatas bukan peningkatan pemilih Gerindra, tetapi pemilih elit-elit internal yang secara politis sangat tergantung pada cuaca politik nasional dan dinamis dalam gerak-geriknya. Bisa saja, rendahnya ID Party juga berlaku pada ID Elite Gerindra. Bahwa elit partai terlihat solid dan taat karena Jendral Prabowo masih sebagai Ketua Umum, tetapi misalnya jika bukan Jendral Prabowo lagi, dan apalagi tidak menjabat sebagai Presiden, bagaimana nasib Gerindra selanjutnya?

Karenanya, dalam momentum HUT ke 17 ini, sebagai salah satu partai besar di Indonesia, sudah semestinya membangun kelembagaan partai yang berbasis pada penguatan sistem internal yang kuat, dan tidak saja bergantung pada popularitas person semata.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pra Konbes dan Munas Alim Ulama 2026 Bahas I’adatun Nazhar, NU Susun Pedoman Peninjauan Ulang Keputusan Bahtsul Masail

    Pra Konbes dan Munas Alim Ulama 2026 Bahas I’adatun Nazhar, NU Susun Pedoman Peninjauan Ulang Keputusan Bahtsul Masail

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 281
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mekanisme I’adatun Nazhar atau peninjauan ulang terhadap keputusan-keputusan Bahtsul Masail menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam Webinar Pra Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2026 yang digelar pada Ahad, 14 Juni 2026. Dalam pengantarnya, anggota Komisi Maudhu’iyah sekaligus pengurus LBM PBNU, KH Abdullah Aniq Nawawi, menjelaskan […]

  • Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Jika Anda periang, suka bercanda, atau kadang sedikit usil, maka kisah Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah menarik untuk anda. Dalam keseharian komunitas Muslim di Madinah pada masa Nabi SAW, ada sahabat yang serius, ada sahabat yang tekun beribadah, dan ada pula yang suka usil. Nu’aiman termasuk yang terakhir: tingkahnya jenaka, sering bercanda, dan mampu membuat […]

  • Bareskrim Polri Tahan Dua Petinggi PT Dana Syariah Indonesia Terkait Dugaan Penggelapan Dana dan TPPU

    Bareskrim Polri Tahan Dua Petinggi PT Dana Syariah Indonesia Terkait Dugaan Penggelapan Dana dan TPPU

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 318
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri resmi menahan dua petinggi PT Dana Syariah Indonesia (DSI), yakni Direktur Utama Taufiq Aljufri dan Komisaris Arie Rizal Lesmana, mulai Selasa (10/02/2026). Penahanan dilakukan untuk kepentingan penyidikan kasus dugaan penggelapan dana dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pada layanan pinjaman online (pinjol) DSI. Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus […]

  • Tiga Kecamatan di Boalemo Terima Paket Bantuan Pangan Pemprov Gorontalo

    Tiga Kecamatan di Boalemo Terima Paket Bantuan Pangan Pemprov Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jangkauan bantuan sosial. Kali ini, giliran tiga kecamatan di Kabupaten Boalemo yang menjadi titik penyaluran bantuan pada Selasa (1/7/2025), yakni Kecamatan Tilamuta, Botumoito, dan Mananggu. Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, turun langsung menyalurkan berbagai jenis bantuan, mulai dari Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G), […]

  • Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    Keluarga Berisiko Stunting Dapat Bantuan Internasional

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo menyampaikan apresiasi atas dukungan internasional dalam upaya percepatan penurunan stunting. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, yang mewakili Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, dalam acara penyerahan bantuan oleh Branch Singapore Aid kepada 150 keluarga berisiko stunting di Kota Gorontalo. Kegiatan ini merupakan bagian dari […]

  • Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

    Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Sebuah negara bisa merdeka secara politik, memiliki bendera, konstitusi, dan pemerintahan sendiri. Namun, kemerdekaan tidak selalu berarti rakyatnya terbebas dari praktik-praktik yang dahulu menjadi ciri kolonialisme. Penjajahan memang telah berakhir sebagai sistem pemerintahan, tetapi cara kerjanya bisa tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus. Ia berpindah dari medan perang ke ruang-ruang kebijakan, dari moncong senapan […]

expand_less