Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jokowi Yang Sedang Turun Kelas? (Refleksi tentang Kekuasaan, Politik, dan Kematangan Demokrasi Kita)

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 187
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang patut dibela atau digugat. Tulisan ini tidak berdiri di satu pihak, tidak pula hadir untuk menyokong atau menjatuhkan. Yang ingin disorot di sini adalah sebuah peristiwa politik yang mengandung makna lebih dalam: mantan Presiden Jokowi menggugat pihak-pihak yang menuduh ijazahnya palsu.

Langkah ini menggambarkan lebih dari sekadar upaya membela kehormatan pribadi. Ada pergeseran posisi yang terasa: dari simbol kenegaraan yang dulu berdiri paling tinggi, menjadi sosok yang harus menanggapi satu per satu suara bising dari lorong media dan ruang publik. Jokowi tampak kembali masuk ke dalam percakapan-percakapan yang mestinya sudah ia tinggalkan, bertukar peran dari negarawan menjadi penggugat. Ia tidak sedang melanggar hukum—tidak juga melanggar etika. Tetapi dalam gerak itu, ada sesuatu yang ia lepaskan: jarak simbolik yang selama ini memisahkan seorang mantan presiden dari kegaduhan politik harian.

Momen ini menyisakan kegelisahan. Apakah republik ini telah gagal menyediakan ruang tenang bagi seorang mantan pemimpin? Ataukah memang kekuasaan, sebagaimana pernah dibaca oleh Foucault, tidak benar-benar selesai, hanya berpindah bentuk dan strategi? Jokowi bukan sekadar individu; ia adalah teks yang hidup, simbol dari harapan, ketegangan, dan arah sejarah bangsa ini. Dan ketika ia turun kelas—dalam arti membuka kembali dirinya terhadap pertarungan-pertarungan publik yang kasar—maka yang sedang goyah bukan hanya citra personal, melainkan juga cara kita sebagai bangsa menempatkan kenegarawanan.

Kita bisa melihat ini juga dari kaca mata populisme. Pemimpin populis lahir dari kedekatan dengan rakyat, mencairkan jarak dan menyentuh emosi. Tapi ketika masa jabatan selesai, sisa-sisa logika populisme itu kerap menyeret sang pemimpin untuk tetap “hadir” dalam debat publik, bahkan ketika seharusnya ia sudah cukup dihormati dengan ketidakhadirannya. Populisme membuka ruang naik yang cepat, tetapi menutup jalan turun yang bermartabat.

Weber pernah menandai jenis kekuasaan kharismatik sebagai sesuatu yang ampuh, tetapi rapuh ketika tidak ditopang oleh institusi yang dewasa. Dalam kasus ini, kita menyaksikan betapa sistem kita belum sepenuhnya siap memberi transisi yang agung bagi seorang mantan presiden. Kita cepat dalam mengagungkan, tapi lamban dalam merawat kehormatan setelah kekuasaan.

Ironi itu semakin terang saat kasus hukum seperti tuduhan ijazah palsu harus ditanggapi sendiri oleh sosok yang pernah duduk di kursi nomor satu. Tentu, setiap orang berhak atas pembelaan. Namun, dalam pertarungan di arena yang mulai becek oleh prasangka, personalisasi masalah justru menurunkan kelas simbolik seorang mantan pemimpin. Jokowi boleh jadi menang secara hukum, tetapi apa yang sedang dipertaruhkan lebih dari itu: kepercayaan publik terhadap posisi kenegarawanan yang seharusnya tak lagi ikut rebutan suara di ruang gaduh.

Mungkin inilah saatnya kita bercermin: apakah republik ini terlalu mudah memberi tahta, tapi terlalu kaku memberi ruang istirahat? Apakah kekuasaan kita desain sebagai panggung tanpa pintu keluar? Jika seorang mantan presiden harus kembali turun ke gelanggang hanya untuk membela nama, maka sesungguhnya bukan hanya ia yang turun kelas—tapi kita, sebagai bangsa, sedang kehilangan ketinggian nilai.

Kita pernah percaya bahwa politik adalah jalan luhur untuk melayani. Tapi jika setelah semua pencapaian itu, seorang pemimpin harus kembali bertarung di tengah lumpur sangka dan curiga, maka pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah. Pertanyaannya adalah: sudah sedewasa apa demokrasi kita menempatkan bekas pemimpinnya?

Jokowi bukan orang biasa. Ia adalah teks, simbol, dan bayangan tentang siapa kita sebagai bangsa. Dan hari ini, saat ia turun kelas, bukan hanya sejarah yang mencatat langkahnya—tapi juga kebijaksanaan kolektif kita, yang mungkin sedang diuji paling keras.

Oleh: Pepy Albayqunie  – (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gorontalo Kawal Keberlanjutan Hiu Paus Lewat Program LAUTRA

    Gorontalo Kawal Keberlanjutan Hiu Paus Lewat Program LAUTRA

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Sebagai bentuk implementasi Program Oceans for Prosperity Project – Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA), Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar melaksanakan kegiatan monitoring habitat Hiu Paus (Rhincodon typus) di Kawasan Konservasi Wilayah Perairan Teluk Gorontalo pada tahun 2025, Kamis, 3/7/2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program LAUTRA Komponen 1, yang berfokus pada pengembangan […]

  • Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Julman Hente
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Oleh: Julman Hente, SH., MH (Penulis) Demokrasi kita hari ini seperti pohon yang tumbuh tanpa akar. Tampak hijau di permukaan, penuh daun dan ranting yang menjulang, tetapi mudah roboh ketika angin kencang datang. Ia berdiri di atas tanah yang semakin rapuh, tanah yang terus terkikis oleh keputusan-keputusan yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengkhianati bumi tempat rakyat […]

  • Trump Umumkan Tiga Jet Tempur AS Hilang Akibat Tembakan Ramah di Kuwait

    Trump Umumkan Tiga Jet Tempur AS Hilang Akibat Tembakan Ramah di Kuwait

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 224
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan hilangnya tiga jet tempur F-15E milik Angkatan Udara AS akibat insiden tembakan ramah (friendly fire) dari sistem pertahanan udara Kuwait dalam operasi militer terbaru di Timur Tengah. Insiden tersebut terjadi dalam rangkaian misi yang disebut sebagai Operasi Epic Fury, yakni operasi pendukung Israel dalam eskalasi konflik melawan […]

  • Kiai Ahmad Masduki Ajak Nahdliyin Teladani Rasulullah dan Hormati Hasil Muktamar NU ke-35

    Kiai Ahmad Masduki Ajak Nahdliyin Teladani Rasulullah dan Hormati Hasil Muktamar NU ke-35

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    KABUPATEN GORONTALO, NULONDALO.COM – Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Gorontalo, KH Ahmad Masduki Al-Jabalani, mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam seluruh aspek kehidupan serta menghormati hasil keputusan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Ajakan tersebut disampaikan Kiai Ahmad Masduki saat memberikan sambutan dalam kegiatan Ta’dim Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan […]

  • Wali Band Bakal Meriahkan HUT ke-298 Kota Gorontalo

    Wali Band Bakal Meriahkan HUT ke-298 Kota Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 352
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo menyiapkan perayaan meriah dalam rangka hari ulang tahun (HUT) ke-298 Kota Gorontalo. Selain berbagai lomba dan kegiatan masyarakat, pemkot juga berencana menghadirkan grup musik papan atas Tanah Air, Wali, untuk menghibur warga pada malam puncak perayaan. Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, saat memimpin rapat persiapan […]

  • Kasus Dugaan Kekerasan Oknum Polisi di Maros Naik ke Penyidikan, Publik Desak Segera Tetapkan Tersangka

    Kasus Dugaan Kekerasan Oknum Polisi di Maros Naik ke Penyidikan, Publik Desak Segera Tetapkan Tersangka

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Keputusan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros menaikkan status perkara dugaan tindakan represif oknum anggotanya dari tahap penyelidikan ke penyidikan menuai sorotan tajam dari publik. Meski langkah ini diklaim sebagai bentuk keseriusan institusi, hingga kini belum adanya penetapan tersangka justru memicu kekhawatiran akan adanya upaya perlindungan terhadap pelaku serta pengabaian prinsip Hak […]

expand_less