Breaking News
dark_mode
Trending Tags

500 Tahun Ramadan di Gorontalo

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
  • visibility 134
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi.

Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan telah berlangsung lebih lama.

Pertanyaannya, jika Ramadan dianggap sebagai proses untuk menyucikan diri dan jiwa, apakah ada perubahan yang fundamental terjadi di Gorontalo selama 500 tahun ini?

Apakah puasa yang telah berlangsung selama 500 kali ini telah berhasil membawa perbaikan karakter bagi masyarakat Gorontalo secara umum? Dan jika misalnya (katakanlah) telah terjadi dari perbaikan karakter masyarakat tersebut, apakah berefek pada ; (1). Kemiskinan semakin berkurang. (2). Pengangguran semakin berkurang. (3). Ketimpangan semakin mengecil. (4). Lingkungan semakin asri. (5). Aktivitas keagamaan semakin meningkat. (6). Kriminalitas semakin berkurang. (7). Pelayanan publik semakin prima.

Apakah keberlangsungan puasa di bulan Ramadan selama 500 kali ini telah mencapai minimal 7 poin diatas? Ataukah, 7 poin diatas malah semakin minimal atau bahkan menurun?

Jika misalnya malah semakin memburuk, bagaimana kaitannya dengan puasa yang telah diulang-ulang selama 500 kali ini? Apakah puasa tidak memiliki kaitan yang signifikan dengan peningkatan kualitas masyarakat? Ataukah, puasa dianggap sebagai praktek yang terpisah dan tidak berkaitan dengan perubahan sosial?

Jika kita melihat data statistik tentang Gorontalo dalam beberapa dekade terakhir, sepertinya puasa tidak inheren dengan perubahan sosial. Bisa jadi, pada beberapa orang memang ada perubahan. Tapi pada masyarakat, sepertinya hal tersebut tidak linier.

Jika demikian keadaannya, apakah puasa sebagai salah satu instrumen untuk memperbaiki orang dan masyarakat masih “relevan” untuk dijadikan momentum perbaikan secara keseluruhan?

Bahwa puasa adalah salah satu syariat yang harus dijalankan adalah benar, dan bahkan sebuah kewajiban. Tetapi, mengapa perubahan sosial tidak menjadi lebih baik? Bukankah setiap perintahnya (melalui Nabi) adalah untuk memperbaiki akhlak budi pekerti dan peradaban itu sendiri, tetapi mengapa puasa sebagai salah satu instrumen perbaikan sepertinya tidak lagi “memadai” untuk menjadi instrumen perbaikan?

Pertanyaan lanjut, jika misalnya 500 kali puasa dianggap belum “memadai” untuk menjadi instrumen perbaikan, masih butuh berapa kali Ramadan lagi masyarakat Gorontalo secara keseluruhan agar kompak dan solid dalam menjadikan Ramadan sebagai proses refleksi dan koreksi kolektif demi terwujudnya jargon dan cita-cita (yang telah berulang-ulang menjadi judul spanduk) yakni Serambi Madinah.

Atau jangan-jangan puasa Ramadan sekedar hanya dijadikan ajang komodifikasi agenda-agenda yang bersifat seremonial : flyer ucapan puasa, pasang spanduk ucapan di tiap pagar masjid, story ayat-ayat suci beserta wajah elit di media sosial, story keutamaan tarawih dari malam pertama sampai terakhir, parade bukber komunitas, sahur on the road, lomba tumbilotohe dan berbagai atraksi yang seakan-akan religius.

Bahwa agenda-agenda tersebut adalah bagian dari menyemarakkan Ramadan bisa dimaklumi, tetapi seakan-akan yang hanya menjadi “bagian” malah dijadikan tujuan dari Ramadan itu sendiri.

Pun demikian jelang Idul Fitri, kegirangan beli baju baru, kursi di ruang tamu harus baru, mengecat, THR, bahkan di beberapa kalangan atraksi memakai sarung BHS agar tampak elit dibanding kaum miskin lain yang hanya bisa membeli sarung murah meriah di Pasar Senggol.

Hingga memasuki Idul Fitri yang hampir semua materi khotbah diisi oleh isak tangis saat Khatib menyampaikan tentang kehilangan orang tua dan sebagainya, dan selesai dari parade tangisan tersebut, kembali ke “setingan pabrik”. Tidak ada yang berubah.

Atau, jangan-jangan apa yang kita jalani dan praktekkan selama 500 tahun ini hanyalah seperti gambaran Rasulullah silam ; “hanya lapar dan haus”?

Tetapi, tentu saja Allah tak berdiam diri di singgasanaNya. Sebagaimana banyak peradaban-peradaban yang telah luluh lantak bahkan punah (mololopu) yang diakibatkan oleh pengabaian pada ketentuan dan aturanNya, maka apakah kita baru akan sadar dan bisa merefleksikan keadaan harus melalui proses “mololopu” tersebut agar kita bisa sadar dan disadarkan?

Ramadan masih beberapa hari lagi, kesempatan masih ada tentunya. Usia tak ada yang bisa menebak, apakah puasa tahun 2026 masih bisa diikuti, atau sudah menjadi bagian yang ditangisi pada saat khutbah Idul Fitri tahun 2026 nantinya? Semua terserah pada diri kita masing-masing. Petunjuk dan tanda telah ada, tergantung kita bagaimana membacanya dan merefleksikannya.

Penulis: Dr. Funco Tanipu, MA – (Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BBM Proyek Jalan Akses KA Labakkang–Ma’rang dari Sitaan Polisi, PERJOSI Pertanyakan Jaminan Asal-Usul

    BBM Proyek Jalan Akses KA Labakkang–Ma’rang dari Sitaan Polisi, PERJOSI Pertanyakan Jaminan Asal-Usul

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 363
    • 0Komentar
  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Udara Sulsel Memburuk, WALHI Desak Prabowo Hentikan Karhutla

    Udara Sulsel Memburuk, WALHI Desak Prabowo Hentikan Karhutla

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Makassar – Kualitas udara di Sulawesi Selatan memburuk dalam beberapa hari terakhir seiring meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Asap yang terbawa angin hingga ke Sulawesi Selatan tidak hanya menurunkan kualitas lingkungan, tetapi juga  mengancam kesehatan masyarakat. “Sebagai kepala negara, kami mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk segera menghentikan karhutla […]

  • Lewat Voting Terbuka, Pemuda Majannang Percayakan Karang Taruna ke Tangan Sakti

    Lewat Voting Terbuka, Pemuda Majannang Percayakan Karang Taruna ke Tangan Sakti

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros –  Karang Taruna Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, sukses menggelar Temu Karya sekaligus Pembentukan Pengurus Baru yang dirangkaikan dengan pemilihan Ketua Umum, Jumat (9/1/2026), bertempat di Kantor Desa Majannang. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh PJ Kepala Desa Majannang, Syamsir, S.S, Ketua Karang Taruna Kecamatan Maros Baru Syawir, Sekretaris Karang Taruna Kecamatan […]

  • Praperadilan Kandas, Yaqut Cholil Qoumas Langsung Ditahan KPK dalam Kasus Kuota Haji Rp622 Miliar

    Praperadilan Kandas, Yaqut Cholil Qoumas Langsung Ditahan KPK dalam Kasus Kuota Haji Rp622 Miliar

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 390
    • 0Komentar

    nulondalo.com- Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas resmi ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (12/3/2026) malam usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan kuota haji tambahan periode 2023–2024. Penahanan dilakukan tidak lama setelah gugatan praperadilan yang diajukan Yaqut ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Rabu (11/3/2026). Hakim menyatakan […]

  • Dari Skeptis ke Setuju? Sikap MUI soal Board of Peace Berubah Setelah Bertemu Prabowo

    Dari Skeptis ke Setuju? Sikap MUI soal Board of Peace Berubah Setelah Bertemu Prabowo

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 235
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) menjadi sorotan setelah pertemuan pimpinan ormas Islam dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026). Jika sebelumnya MUI menyuarakan keraguan, kini organisasi tersebut menunjukkan sikap yang lebih terbuka dengan sejumlah catatan. Wakil Ketua Umum MUI […]

expand_less