Breaking News
dark_mode
Trending Tags

500 Tahun Ramadan di Gorontalo

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
  • visibility 95
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi.

Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan telah berlangsung lebih lama.

Pertanyaannya, jika Ramadan dianggap sebagai proses untuk menyucikan diri dan jiwa, apakah ada perubahan yang fundamental terjadi di Gorontalo selama 500 tahun ini?

Apakah puasa yang telah berlangsung selama 500 kali ini telah berhasil membawa perbaikan karakter bagi masyarakat Gorontalo secara umum? Dan jika misalnya (katakanlah) telah terjadi dari perbaikan karakter masyarakat tersebut, apakah berefek pada ; (1). Kemiskinan semakin berkurang. (2). Pengangguran semakin berkurang. (3). Ketimpangan semakin mengecil. (4). Lingkungan semakin asri. (5). Aktivitas keagamaan semakin meningkat. (6). Kriminalitas semakin berkurang. (7). Pelayanan publik semakin prima.

Apakah keberlangsungan puasa di bulan Ramadan selama 500 kali ini telah mencapai minimal 7 poin diatas? Ataukah, 7 poin diatas malah semakin minimal atau bahkan menurun?

Jika misalnya malah semakin memburuk, bagaimana kaitannya dengan puasa yang telah diulang-ulang selama 500 kali ini? Apakah puasa tidak memiliki kaitan yang signifikan dengan peningkatan kualitas masyarakat? Ataukah, puasa dianggap sebagai praktek yang terpisah dan tidak berkaitan dengan perubahan sosial?

Jika kita melihat data statistik tentang Gorontalo dalam beberapa dekade terakhir, sepertinya puasa tidak inheren dengan perubahan sosial. Bisa jadi, pada beberapa orang memang ada perubahan. Tapi pada masyarakat, sepertinya hal tersebut tidak linier.

Jika demikian keadaannya, apakah puasa sebagai salah satu instrumen untuk memperbaiki orang dan masyarakat masih “relevan” untuk dijadikan momentum perbaikan secara keseluruhan?

Bahwa puasa adalah salah satu syariat yang harus dijalankan adalah benar, dan bahkan sebuah kewajiban. Tetapi, mengapa perubahan sosial tidak menjadi lebih baik? Bukankah setiap perintahnya (melalui Nabi) adalah untuk memperbaiki akhlak budi pekerti dan peradaban itu sendiri, tetapi mengapa puasa sebagai salah satu instrumen perbaikan sepertinya tidak lagi “memadai” untuk menjadi instrumen perbaikan?

Pertanyaan lanjut, jika misalnya 500 kali puasa dianggap belum “memadai” untuk menjadi instrumen perbaikan, masih butuh berapa kali Ramadan lagi masyarakat Gorontalo secara keseluruhan agar kompak dan solid dalam menjadikan Ramadan sebagai proses refleksi dan koreksi kolektif demi terwujudnya jargon dan cita-cita (yang telah berulang-ulang menjadi judul spanduk) yakni Serambi Madinah.

Atau jangan-jangan puasa Ramadan sekedar hanya dijadikan ajang komodifikasi agenda-agenda yang bersifat seremonial : flyer ucapan puasa, pasang spanduk ucapan di tiap pagar masjid, story ayat-ayat suci beserta wajah elit di media sosial, story keutamaan tarawih dari malam pertama sampai terakhir, parade bukber komunitas, sahur on the road, lomba tumbilotohe dan berbagai atraksi yang seakan-akan religius.

Bahwa agenda-agenda tersebut adalah bagian dari menyemarakkan Ramadan bisa dimaklumi, tetapi seakan-akan yang hanya menjadi “bagian” malah dijadikan tujuan dari Ramadan itu sendiri.

Pun demikian jelang Idul Fitri, kegirangan beli baju baru, kursi di ruang tamu harus baru, mengecat, THR, bahkan di beberapa kalangan atraksi memakai sarung BHS agar tampak elit dibanding kaum miskin lain yang hanya bisa membeli sarung murah meriah di Pasar Senggol.

Hingga memasuki Idul Fitri yang hampir semua materi khotbah diisi oleh isak tangis saat Khatib menyampaikan tentang kehilangan orang tua dan sebagainya, dan selesai dari parade tangisan tersebut, kembali ke “setingan pabrik”. Tidak ada yang berubah.

Atau, jangan-jangan apa yang kita jalani dan praktekkan selama 500 tahun ini hanyalah seperti gambaran Rasulullah silam ; “hanya lapar dan haus”?

Tetapi, tentu saja Allah tak berdiam diri di singgasanaNya. Sebagaimana banyak peradaban-peradaban yang telah luluh lantak bahkan punah (mololopu) yang diakibatkan oleh pengabaian pada ketentuan dan aturanNya, maka apakah kita baru akan sadar dan bisa merefleksikan keadaan harus melalui proses “mololopu” tersebut agar kita bisa sadar dan disadarkan?

Ramadan masih beberapa hari lagi, kesempatan masih ada tentunya. Usia tak ada yang bisa menebak, apakah puasa tahun 2026 masih bisa diikuti, atau sudah menjadi bagian yang ditangisi pada saat khutbah Idul Fitri tahun 2026 nantinya? Semua terserah pada diri kita masing-masing. Petunjuk dan tanda telah ada, tergantung kita bagaimana membacanya dan merefleksikannya.

Penulis: Dr. Funco Tanipu, MA(Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

    Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Gagal membawa pulang bongkahan emas dari Lembah Tupalo, kaum kolonial Belanda tidak lantas meninggalkan kawasan itu. Mereka kemudian menyusuri aliran sungai dengan harapan menemukan bongkahan emas lain yang lebih mudah diangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menurut penututan warga, rombongan serdadu itu memutuskan berhenti di sebuah puncak perbukitan. Di tempat itulah mereka mendirikan sebuah […]

  • Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    Dampak Kerusakan Ekologis Batang Toru, Direktur APPRI: Bencana Ini Bukan Kebetulan

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Banjir bandang dan longsor kembali meluluhlantakkan Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan. Sungai Batang Toru — nadi kehidupan masyarakat Tapanuli dan habitat terakhir orangutan Tapanuli — meluap luar biasa, membawa batu-batu besar dan gelondongan kayu raksasa dari hulu. Hal tersebut mendapat perhatian khusus dengan perspektif yang berbeda oleh Direktur Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia […]

  • Empat Desa di Molalahu Mulolo Merajut Ingatan Bersama di Tengah Isu Lingkungan

    Empat Desa di Molalahu Mulolo Merajut Ingatan Bersama di Tengah Isu Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Gorontalo – Komunitas Molalahu Mulolo yang digagas oleh mantan aktivis tahun 2000 menggelar pertemuan bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, akademisi, dan generasi muda di Aula Kantor Desa Molalahu, Kabupaten Gorontalo, Kamis, 2 Juli 2026. Pertemuan yang dihadiri sekitar 30 tokoh dari empat desa, yakni Molalahu, Molamahu, Toyidito, dan Ayumolingo, ini menjadi ruang konsolidasi bersama […]

  • PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Di negeri yang segala sesuatunya ingin distandarkan, dari Standar Nasional Pendidikan sampai Standar Operasional Prosedur parkir motor di minimarket, kita mengenal PSAK sebagai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Biasanya tebal, serius, dan membuat mahasiswa akuntansi lebih cepat mengantuk daripada khutbah tarawih 23 rakaat plus witir tiga. Tapi Ramadhan ini, izinkan saya mengusulkan PSAK versi lain: Pernyataan […]

  • Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, resmi mengukuhkan Muhammad Aras Prabowo sebagai Doktor Ilmu Akuntansi dalam sidang terbuka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Sabtu (27/9). Aras meraih gelar doktor lewat disertasi berjudul “Nilai-Nilai Teseng dalam Konstruksi Akuntabilitas di Sektor Pertanian”. Penelitiannya mengangkat kearifan lokal masyarakat Bugis Bone, khususnya […]

  • BSG Dukung Skema Pembiayaan Melawan Rentenir, Tutup Rangkaian PES PWNU Gorontalo 2025

    BSG Dukung Skema Pembiayaan Melawan Rentenir, Tutup Rangkaian PES PWNU Gorontalo 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025 yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo resmi ditutup dengan seminar bertema “Skema Pembiayaan Melawan Rentenir”, Kamis (30/10/2025). Acara yang berlangsung di pelataran Kantor PWNU Gorontalo ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan PES yang telah diselenggarakan sejak 28 Oktober 2025. Seminar tersebut menghadirkan narasumber dari […]

expand_less