Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 316
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gagal membawa pulang bongkahan emas dari Lembah Tupalo, kaum kolonial Belanda tidak lantas meninggalkan kawasan itu. Mereka kemudian menyusuri aliran sungai dengan harapan menemukan bongkahan emas lain yang lebih mudah diangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menurut penututan warga, rombongan serdadu itu memutuskan berhenti di sebuah puncak perbukitan. Di tempat itulah mereka mendirikan sebuah pondok semi permanen dan menancapkan sebuah tugu berwarna kuning setinggi sekitar satu setengah meter dengan ukuran dasar kurang lebih 40 × 40 sentimeter.

Tampaknya mereka bermukim cukup lama di lokasi tersebut. Hal itu ditandai dengan keberadaan sebuah sumur di samping pondok yang hingga kini masih dikenang dalam cerita masyarakat. Selama menetap di sana, mereka mengembangkan perkebunan kayu manis dengan memanfaatkan tenaga warga pribumi secara paksa. Berkat kerja rodi itulah, kawasan perbukitan tersebut kemudian dipenuhi tanaman kayu manis yang kelak dikenal masyarakat sebagai Huludu Ayu Molingo, atau puncak perbukitan kayu manis.

Mereka yang tidak sanggup menjalani sistem kerja paksa diduga melarikan diri ke hutan belantara untuk menghindari kekuasaan kolonial. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas Polahi. Namun, pandangan tersebut dibantah oleh informan lain. Menurut mereka, komunitas Polahi telah ada jauh sebelum Belanda membuka kawasan itu. Perbedaan penuturan ini menunjukkan bahwa asal-usul komunitas Polahi masih menjadi bagian dari sejarah lisan yang menyimpan beragam versi.

Hingga kini, kawasan perbukitan bekas perkebunan kayu manis itu tetap dikenal masyarakat dengan nama Huludu Ayumolingo. Nama tersebut kemudian diabadikan sebagai nama Desa Ayumolingo, sebuah desa pemekaran dari Desa Molamahu.

Jejak keberadaan Belanda di Huludu Ayumolingo juga masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Salah satunya ialah kisah tentang sebuah rumah peninggalan Belanda yang konon ditemukan warga secara tidak sengaja. Mengenai bentuk bangunan tersebut, para informan memberikan keterangan yang berbeda. Sebagian menyebut rumah itu berupa rumah panggung berukuran sekitar 4 × 6 meter, berdinding papan, bertiang kayu, dan beratap seng. Sementara informan lain menggambarkannya sebagai rumah beton berukuran sekitar 4 × 5 meter dengan satu kamar dan berjendela kaca yang sangat tebal. Bahkan, menurut cerita mereka, kaca tersebut tidak pecah meskipun dilempari batu; batu yang dilempar justru memantul kembali.

Semua bahan bangunan rumah tersebut, menurut penuturan para informan, menggunakan material berkualitas tinggi sehingga mampu bertahan dimakan usia. Letaknya yang jauh di pedalaman membuat tidak banyak orang berkesempatan menyaksikannya secara langsung. Mereka yang pernah melihat rumah itu umumnya adalah para pencari rotan atau tenaga survei perusahaan tambang yang menjangkau kawasan tersebut.

Sayangnya, tugu yang dahulu berdiri kokoh di sekitar rumah itu kini dikabarkan telah dirobohkan. Sebagian informan menduga pelakunya adalah para pencari rotan. Konon, di dalam tugu tersebut tersimpan sejumlah buku tua berbahasa Belanda. Jika cerita ini benar, maka robohnya tugu itu tentu saja telah menghilangkan sebuah penanda sejarah, sekaligus juga mungkin mengubur dokumen-dokumen yang dapat menjelaskan jejak kolonial Belanda di kawasan Huludu Ayumolingo.

Mengenai kondisi rumah itu, para informan juga memberikan penuturan yang beragam. Sebagian menyebut bangunan tersebut masih berdiri kokoh dengan pintu dan jendela dari kayu. Di dalamnya terdapat sebuah lemari berkaca, sedangkan pintunya terkunci rapat menggunakan gembok sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di bawah kolong rumah tampak beberapa lingkar roda pedati yang disandarkan pada tiang-tiang bangunan. Keberadaan roda-roda pedati itu memberi isyarat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat aktivitas manusia, bahkan mungkin tidak jauh dari sebuah permukiman.

Menariknya, beberapa warga yang pernah mencapai lokasi itu mengaku pekarangan rumah selalu tampak bersih, seolah-olah ada seseorang yang setiap hari menyapu dedaunan yang gugur. Tak ada semak yang menutupi halaman, tak pula ranting-ranting kering yang berserakan. Rumah itu memang tak berpenghuni, tetapi menghadirkan kesan seakan-akan masih ada yang merawatnya. Namun, informan lainnya menuturkan kisah yang berbeda. Menurut mereka, rumah peninggalan Belanda tersebut kini telah tertutup rapat oleh pepohonan dan semak belukar, sehingga keberadaannya semakin sulit ditemukan.

Selain sebuah lemari berkaca, para informan juga menuturkan keberadaan sepasang ayam putih di dalam rumah itu. Tak seorang pun mengetahui dari mana asal ayam-ayam tersebut atau siapa yang memeliharanya. Namun, keberadaannya berulang kali muncul dalam penuturan para informan. Mereka juga menyebut adanya sebuah benda lain yang tak kalah misterius, yang oleh masyarakat setempat disebut bulahu lo sofa. Tak seorang pun dapat menjelaskan secara pasti makna sebutan tersebut. Wujudnya menyerupai seutas kabel listrik dengan diameter sebesar ibu jari orang dewasa. Namun, menurut cerita masyarakat, benda itu bukanlah kabel biasa. Benda ini diyakini sebagai ta’uwa lo’u bisa, penghulu segala yang berbisa. Konon, meskipun tidak tersambung dengan sumber listrik apa pun, bulahu lo sofa mampu menyengat siapa saja yang berani menyentuhnya, seolah dialiri tegangan listrik berkekuatan tinggi.

Tak jauh dari rumah itu terdapat sebuah sumur permanen berdinding semen dengan kedalaman sekitar empat meter. Letaknya berada di sisi utara rumah, berjarak kurang lebih 250 meter. Pada arah selatan, dengan jarak yang hampir sama, berdiri tugu peninggalan Belanda. Dengan demikian, rumah tersebut seolah menjadi titik tengah yang menghubungkan kedua penanda itu.

Di sekitar rumah terdapat pula sebuah goa kecil. Tidak jauh dari goa itu, masyarakat mengenal sebuah terowongan yang diyakini menembus hingga wilayah Gorontalo Utara. Beberapa orang pernah mencoba memasukinya. Namun, baru beberapa meter melangkah, napas mereka terasa sesak seolah kehabisan oksigen sehingga terpaksa kembali ke luar.

Kawasan itu juga diyakini memiliki pantangan yang hingga kini masih dipegang sebagian masyarakat. Orang yang memasuki kawasan tersebut tidak boleh berbicara sembarangan, apalagi mengucapkan kata-kata yang berkaitan dengan pembongkaran atau pengangkutan rumah, seperti linggis, kuda, mobil, atau ekskavator. Menurut penuturan seorang informan, pernah ada seseorang yang berseloroh akan membawa ekskavator untuk merobohkan rumah peninggalan Belanda itu. Belum lama ucapannya terlontar, tiba-tiba angin kencang datang disertai hujan deras. Lelaki itu dikisahkan terhempas hingga harus diusung turun dari perbukitan. Sejak peristiwa itu, keyakinan bahwa kawasan tersebut memiliki pantangan semakin mengakar dalam ingatan masyarakat. (BERSAMBUNG).

Penulis Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ustadz “Tuhan Kecil”?

    Ustadz “Tuhan Kecil”?

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Jika ada pertanyaan sebagaimana judul tulisan ini, maka jawabanya bukan. Ustadz bukan “Tuhan Kecil”. Tuhan yang sesungguhnya adalah dzat Yang Maha Besar dan tidak ada yang melebihi kebesaran-Nya. Kemahabesaran Tuhan ini dibarengi dengan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas termasuk kekuasaan untuk “menghukumi” segala sesuatu. Namun harus dipahami bahwa penghukuman Tuhan kepada segala sesuatu yang termaktub dalam […]

  • Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    Bupati Halmahera Timur Turut Resmikan Kursus Wasit Bola Voli Lisensi Dasar

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Bupati Halmahera Timur, Maluku Utara, Ubaid Yakub diwakili Nurdin Hadi Asisten ll Bidang Administrasi, dengan resmi membuak kegiatan Kursusu Wasit Bola Voli Lisensi Dasar. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Halmahera Timur di Aula Penginapan Rahmat, Desa Soagimalaha, Kecamatan Kota Maba, Rabu (26/11/2025). Dalam kesempatan tersebut. Nurdin Hadi dalam sambutannya mengatakan, atas […]

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

  • PT. STM di Halmahera Tentang Akan Digugat ke Disnaker dan Pengadilan 

    PT. STM di Halmahera Tentang Akan Digugat ke Disnaker dan Pengadilan 

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Perisilisihan Hubungan Industrial (PHI) yang mana terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakuan oleh PT. Sinar Terang Mandiri (PT. STM) kepada Karyawan-nya. Sekretaris Serikat Buruh Garda Nusantara (SBGN) Provinsi Maluku Utara, Sofyan Abubakar mengatakan bahwa Perundingan Bipartit dinyatakan Gagal dikarenakan tidak ada kesepahaman. Pria yang biasa disapa Black Panther itu dengan tegas akan mengawal hingga […]

  • Momen Penuh Makna! Doa Bado Ketupat Jadi Pembuka Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo

    Momen Penuh Makna! Doa Bado Ketupat Jadi Pembuka Tradisi Lebaran Ketupat di Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 379
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi Lebaran Ketupat di kawasan Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo, resmi dimulai dengan pelaksanaan doa Bado Ketupat yang berlangsung khidmat di Masjid Al Muttaqin, Sabtu (28/03/2026). Prosesi religius ini dihadiri langsung oleh Sofyan Puhi, didampingi Tonny S. Junus serta Sugondo Makmur. Kehadiran para pimpinan daerah ini menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi yang […]

  • Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    Mendesak Penetapan Bencana Nasional Untuk Aceh dan Sumatera

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Turmuji Jafar
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Oleh: Turmuji Jafar (Mahasiswa Pascasarjana UAC Mojokerto)   Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Terhitung sejak tanggal 25-30 November 2025, terus mendapatkan bantuan dari berbagai pihak untuk kemanusiaan dan juga pemulihan. Banjir yang terjadi di Aceh dan Sumatera bukan semata-mata karena faktor musim hujan dengan […]

expand_less