Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 425
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gagal membawa pulang bongkahan emas dari Lembah Tupalo, kaum kolonial Belanda tidak lantas meninggalkan kawasan itu. Mereka kemudian menyusuri aliran sungai dengan harapan menemukan bongkahan emas lain yang lebih mudah diangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menurut penututan warga, rombongan serdadu itu memutuskan berhenti di sebuah puncak perbukitan. Di tempat itulah mereka mendirikan sebuah pondok semi permanen dan menancapkan sebuah tugu berwarna kuning setinggi sekitar satu setengah meter dengan ukuran dasar kurang lebih 40 × 40 sentimeter.

Tampaknya mereka bermukim cukup lama di lokasi tersebut. Hal itu ditandai dengan keberadaan sebuah sumur di samping pondok yang hingga kini masih dikenang dalam cerita masyarakat. Selama menetap di sana, mereka mengembangkan perkebunan kayu manis dengan memanfaatkan tenaga warga pribumi secara paksa. Berkat kerja rodi itulah, kawasan perbukitan tersebut kemudian dipenuhi tanaman kayu manis yang kelak dikenal masyarakat sebagai Huludu Ayu Molingo, atau puncak perbukitan kayu manis.

Mereka yang tidak sanggup menjalani sistem kerja paksa diduga melarikan diri ke hutan belantara untuk menghindari kekuasaan kolonial. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas Polahi. Namun, pandangan tersebut dibantah oleh informan lain. Menurut mereka, komunitas Polahi telah ada jauh sebelum Belanda membuka kawasan itu. Perbedaan penuturan ini menunjukkan bahwa asal-usul komunitas Polahi masih menjadi bagian dari sejarah lisan yang menyimpan beragam versi.

Hingga kini, kawasan perbukitan bekas perkebunan kayu manis itu tetap dikenal masyarakat dengan nama Huludu Ayumolingo. Nama tersebut kemudian diabadikan sebagai nama Desa Ayumolingo, sebuah desa pemekaran dari Desa Molamahu.

Jejak keberadaan Belanda di Huludu Ayumolingo juga masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Salah satunya ialah kisah tentang sebuah rumah peninggalan Belanda yang konon ditemukan warga secara tidak sengaja. Mengenai bentuk bangunan tersebut, para informan memberikan keterangan yang berbeda. Sebagian menyebut rumah itu berupa rumah panggung berukuran sekitar 4 × 6 meter, berdinding papan, bertiang kayu, dan beratap seng. Sementara informan lain menggambarkannya sebagai rumah beton berukuran sekitar 4 × 5 meter dengan satu kamar dan berjendela kaca yang sangat tebal. Bahkan, menurut cerita mereka, kaca tersebut tidak pecah meskipun dilempari batu; batu yang dilempar justru memantul kembali.

Semua bahan bangunan rumah tersebut, menurut penuturan para informan, menggunakan material berkualitas tinggi sehingga mampu bertahan dimakan usia. Letaknya yang jauh di pedalaman membuat tidak banyak orang berkesempatan menyaksikannya secara langsung. Mereka yang pernah melihat rumah itu umumnya adalah para pencari rotan atau tenaga survei perusahaan tambang yang menjangkau kawasan tersebut.

Sayangnya, tugu yang dahulu berdiri kokoh di sekitar rumah itu kini dikabarkan telah dirobohkan. Sebagian informan menduga pelakunya adalah para pencari rotan. Konon, di dalam tugu tersebut tersimpan sejumlah buku tua berbahasa Belanda. Jika cerita ini benar, maka robohnya tugu itu tentu saja telah menghilangkan sebuah penanda sejarah, sekaligus juga mungkin mengubur dokumen-dokumen yang dapat menjelaskan jejak kolonial Belanda di kawasan Huludu Ayumolingo.

Mengenai kondisi rumah itu, para informan juga memberikan penuturan yang beragam. Sebagian menyebut bangunan tersebut masih berdiri kokoh dengan pintu dan jendela dari kayu. Di dalamnya terdapat sebuah lemari berkaca, sedangkan pintunya terkunci rapat menggunakan gembok sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di bawah kolong rumah tampak beberapa lingkar roda pedati yang disandarkan pada tiang-tiang bangunan. Keberadaan roda-roda pedati itu memberi isyarat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat aktivitas manusia, bahkan mungkin tidak jauh dari sebuah permukiman.

Menariknya, beberapa warga yang pernah mencapai lokasi itu mengaku pekarangan rumah selalu tampak bersih, seolah-olah ada seseorang yang setiap hari menyapu dedaunan yang gugur. Tak ada semak yang menutupi halaman, tak pula ranting-ranting kering yang berserakan. Rumah itu memang tak berpenghuni, tetapi menghadirkan kesan seakan-akan masih ada yang merawatnya. Namun, informan lainnya menuturkan kisah yang berbeda. Menurut mereka, rumah peninggalan Belanda tersebut kini telah tertutup rapat oleh pepohonan dan semak belukar, sehingga keberadaannya semakin sulit ditemukan.

Selain sebuah lemari berkaca, para informan juga menuturkan keberadaan sepasang ayam putih di dalam rumah itu. Tak seorang pun mengetahui dari mana asal ayam-ayam tersebut atau siapa yang memeliharanya. Namun, keberadaannya berulang kali muncul dalam penuturan para informan. Mereka juga menyebut adanya sebuah benda lain yang tak kalah misterius, yang oleh masyarakat setempat disebut bulahu lo sofa. Tak seorang pun dapat menjelaskan secara pasti makna sebutan tersebut. Wujudnya menyerupai seutas kabel listrik dengan diameter sebesar ibu jari orang dewasa. Namun, menurut cerita masyarakat, benda itu bukanlah kabel biasa. Benda ini diyakini sebagai ta’uwa lo’u bisa, penghulu segala yang berbisa. Konon, meskipun tidak tersambung dengan sumber listrik apa pun, bulahu lo sofa mampu menyengat siapa saja yang berani menyentuhnya, seolah dialiri tegangan listrik berkekuatan tinggi.

Tak jauh dari rumah itu terdapat sebuah sumur permanen berdinding semen dengan kedalaman sekitar empat meter. Letaknya berada di sisi utara rumah, berjarak kurang lebih 250 meter. Pada arah selatan, dengan jarak yang hampir sama, berdiri tugu peninggalan Belanda. Dengan demikian, rumah tersebut seolah menjadi titik tengah yang menghubungkan kedua penanda itu.

Di sekitar rumah terdapat pula sebuah goa kecil. Tidak jauh dari goa itu, masyarakat mengenal sebuah terowongan yang diyakini menembus hingga wilayah Gorontalo Utara. Beberapa orang pernah mencoba memasukinya. Namun, baru beberapa meter melangkah, napas mereka terasa sesak seolah kehabisan oksigen sehingga terpaksa kembali ke luar.

Kawasan itu juga diyakini memiliki pantangan yang hingga kini masih dipegang sebagian masyarakat. Orang yang memasuki kawasan tersebut tidak boleh berbicara sembarangan, apalagi mengucapkan kata-kata yang berkaitan dengan pembongkaran atau pengangkutan rumah, seperti linggis, kuda, mobil, atau ekskavator. Menurut penuturan seorang informan, pernah ada seseorang yang berseloroh akan membawa ekskavator untuk merobohkan rumah peninggalan Belanda itu. Belum lama ucapannya terlontar, tiba-tiba angin kencang datang disertai hujan deras. Lelaki itu dikisahkan terhempas hingga harus diusung turun dari perbukitan. Sejak peristiwa itu, keyakinan bahwa kawasan tersebut memiliki pantangan semakin mengakar dalam ingatan masyarakat. (BERSAMBUNG).

Penulis Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Senja di Panti Waluya: Luka Anak Bangsa dan Rumah bagi Mereka yang Pernah Dibuang

    Senja di Panti Waluya: Luka Anak Bangsa dan Rumah bagi Mereka yang Pernah Dibuang

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Siang itu, Jakarta enggan berkompromi. Matahari menyengat tanpa ampun, membakar aspal dan menyilaukan pandangan. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, rombongan peserta Temu Nasional Gusdurian 2025 melangkah pelan, menyusuri lorong-lorong sejarah yang tak tercatat dalam buku pelajaran. Tujuan mereka bukan gedung megah atau aula ber-AC, melainkan sebuah bangunan sederhana di Jalan Kramat V Jakarta Pusat: Panti […]

  • PWNU Gorontalo Imbau Tunda Kegiatan Besar, Ikuti Arahan PBNU untuk Perbanyak Zikir

    PWNU Gorontalo Imbau Tunda Kegiatan Besar, Ikuti Arahan PBNU untuk Perbanyak Zikir

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, Drs. H. Ibrahim T. Sore, mengimbau seluruh warga dan pengurus NU di daerahnya agar menunda sementara kegiatan seremonial yang melibatkan massa dalam jumlah besar. Langkah ini sejalan dengan arahan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) guna menjaga kondusivitas di tengah situasi daerah yang belum stabil. “Untuk mengantisipasi keadaan, […]

  • Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo

    Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 162
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri puncak pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII yang akan berlangsung di Kabupaten Gorontalo pada 24 Juni 2026. Kepastian jadwal tersebut diperoleh setelah panitia pusat, panitia provinsi, dan panitia kabupaten menggelar rapat koordinasi bersama pada Kamis (11/6/2026). Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menjelaskan bahwa rangkaian PENAS […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, […]

  • Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) baru saja meluncurkan (launching) program Ngaji KUPI Ramadan 1446 Hijriah pada Jumat, 28 Februari 2025. Acara pembukaan tersebut digelar secara daring melalui Zoom Meeting yang dihadiri oleh puluhan ulama perempuan dan lembaga jejaring KUPI. Pertemuan dipandu langsung oleh penulis dan pegiat isu gender, Kalis Mardiasih. Melalui rangkaian pengajian […]

expand_less