Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 1.124
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota

Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya baru saja menyaksikan sesuatu yang penting bagi masa depan Gorontalo.

Saya menulis sebagai seorang antropolog—dan sebagai warga yang mencintai kota ini. Dorongan ini tidak lahir dari kewajiban profesi atau agenda seremonial, melainkan dari intuisi lapangan: perasaan bahwa sebuah perubahan sedang dirintis bukan lewat slogan besar, melainkan melalui cara orang-orang duduk, berdiri, berbagi pandang, dan mengucapkan komitmen. Ada ide besar yang sedang tumbuh—tentang kolaborasi, tentang keikhlasan, tentang bagaimana sebuah kota pesisir berani memikirkan keselamatan warganya secara sistemik, jauh sebelum air meluap atau tanah bergerak.

Di forum pengukuhan itu, satu hal terasa berbeda. Sambutan Wali Kota Gorontalo, H. Adhan Dambea—yang disampaikan oleh Wakil Wali Kota Indra Gobel — mengalir bukan sebagai teks administratif, melainkan sebagai bahasa kepemimpinan yang hidup: langsung, jernih, tanpa retorika berlebih, tetapi sarat arah. Ia berbicara tentang dunia usaha bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penjaga kota. Tentang CSR bukan sebagai simbol, melainkan sebagai sistem yang dirancang. Tentang bencana bukan sebagai peristiwa yang hanya ditangisi, melainkan risiko yang mesti dihadapi bersama.

Bahasa semacam itu, dalam pengamatan antropologis, bekerja lebih kuat daripada perintah formal. Ia membentuk iklim moral. Ia menggeser suasana ruangan dari “acara seremonial” menjadi “ruang tanggung jawab kolektif.” Di sanalah etnografi bermula: bukan dari catatan notulen, melainkan dari reaksi spontan hadirin.

Seorang ketua terpilih H. Zainal Mappe berdiri dan menyebut angka partisipasi rupiahnya, disusul pengurus lain yang ikut menyatakan kesanggupan. Tidak ada dorongan mikrofon. Tidak ada tekanan simbolik. Yang ada hanyalah ruang kepercayaan yang dibuka oleh kepemimpinan yang konsisten.

Di situlah mata saya berkaca-kaca.

Bukan karena jumlahnya semata, melainkan karena maknanya. Di ruangan itu, uang tidak lagi tampil sebagai transaksi, melainkan pernyataan etis. Sebuah pengakuan bahwa kota ini tidak hanya dijaga oleh APBD, tetapi oleh kesadaran warganya sendiri, oleh pelaku usaha yang memutuskan berdiri karena merasa sedang menjaga rumah bersama.

Sebagai seorang Antropolog yang selama ini menulis tentang Gorontalo dan budaya pendidikan karakter, saya terbiasa menjaga jarak analitis. Namun malam itu, jarak tersebut runtuh. Saya merasakan aura keberkahan yang sulit diterjemahkan ke dalam grafik atau teori: sebuah resonansi kolektif ketika orang-orang sadar bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang benar. Dalam antropologi, momen seperti ini jarang terekam lewat angka. Ia hidup dalam nada suara, jeda kalimat, cara orang saling memandang, dan keyakinan yang muncul perlahan, bahwa sesuatu sedang dimulai.

Ada pula alasan lain mengapa saya menulisnya saat itu juga. Kedekatan personal saya dengan sang Mayor teddy Gorontalo, Dandy Datau—yang dipilih Wali Kota sebagai Pelaksana Tugas Kepala BPBD—membuat momentum ini terasa terlalu penting untuk dibiarkan menguap. Saya mengenal kehati-hatiannya membaca risiko, disiplin operasionalnya, serta caranya berbicara tentang keselamatan warga tanpa dramatika. Penunjukan itu, bagi saya, bukan sekadar administrasi; ia adalah pesan kebijakan: bahwa kota ini sedang menempatkan urusan paling genting di tangan figur yang dipercaya bekerja dalam diam.

Dalam konfigurasi inilah saya membaca seni mengelola kota. Seorang wali kota yang tidak gemar beretorika, tetapi konsisten menjaga wilayahnya. Seorang wakil yang memahami alur pikir pimpinan dan denyut sosial warga. Dan seorang kepala teknis kebencanaan yang dipilih karena kapasitas, bukan sensasi. Bagi seorang antropolog, pertemuan antara struktur birokrasi, figur kepemimpinan, dan kehendak kolektif semacam ini adalah bahan etnografi yang langka.

Pengukuhan Perhimpunan Dunia Usaha Peduli Bencana (PERDANA) Kota Gorontalo sendiri merupakan peristiwa sosial yang kaya lapisan makna. Di sana, Pelaku usaha, aparat kebencanaan, akademisi, dan warga duduk sejajar. Para pengusaha tidak lagi dipanggil hanya ketika bencana datang, melainkan diajak sejak tahap pencegahan. Gudang, armada distribusi, hotel, jaringan ritel, hingga UMKM mulai dibicarakan sebagai bagian dari sistem keselamatan kota.

Dalam bahasa antropologi, inilah proses institusionalisasi solidaritas. Gotong royong—nilai yang selama ini hidup dalam keseharian warga pesisir—diberi struktur agar tahan lama. Ia tidak dibiarkan cair lalu menguap setelah krisis berlalu, tetapi diikat dalam organisasi, pembagian peran, latihan bersama, dan mekanisme pertanggungjawaban. Budaya lokal tidak dihapus; ia dimodernkan tanpa kehilangan ruhnya.

Tulisan ini saya tujukan, secara khusus, kepada para pengusaha Gorontalo. Selama ini Bapak dan Ibu dikenal sebagai penggerak ekonomi, penyedia lapangan kerja, roda distribusi, denyut pasar. Pada fase ini, sejarah memberi Anda peran tambahan: penjaga kota. Ketika gudang disiapkan sebagai titik distribusi darurat, ketika armada dialokasikan untuk evakuasi, ketika modal digerakkan untuk memulihkan UMKM pascabencana, di situlah bisnis bertemu dengan etika kewargaan.

Semua gagasan yang saya uraikan di sini berangkat dari satu rasa: salut kepada kepemimpinan Wali Kota Adhan Dambea. Tanpa basa-basi, tanpa tekanan simbolik, keteladanan itulah yang menjadi pemantik. Dunia usaha bergerak bukan karena dipaksa, melainkan karena percaya. Para pengusaha berdiri bukan karena instruksi, melainkan karena rasa hormat. Inilah bentuk kepemimpinan yang paling sunyi sekaligus paling efektif: memantik tanpa memerintah, menggerakkan tanpa menggurui.

Dalam antropologi, kepemimpinan semacam ini sering disebut sebagai otoritas moral—kekuatan yang tidak bertumpu pada jabatan semata, melainkan pada konsistensi tindakan. Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang berulang, dari keberanian memulai, dari ketekunan menjaga arah. Di Gorontalo, otoritas moral itu tampak sedang bekerja.

Indonesia membutuhkan kota-kota seperti ini, daerah yang berani bereksperimen, yang melibatkan sektor privat tanpa melepas kendali publik, yang menjadikan kesiapsiagaan sebagai proyek kebudayaan, bukan sekadar proyek anggaran. Gorontalo punya peluang besar untuk dikenal bukan hanya karena geografi atau sejarahnya, tetapi karena keberaniannya merancang masa depan: penanggulangan bencana sebagai kerja bersama.

Dari perspektif antropologi, inilah yang saya sebut sebagai imajinasi sosial baru. Sebuah cara kolektif membayangkan masa depan: bahwa keselamatan bukan urusan satu lembaga, bahwa kesiapsiagaan bukan aktivitas musiman, bahwa kota dapat dirawat lewat relasi yang diperkuat sebelum krisis datang. Imajinasi inilah yang, jika dipelihara, dapat menular ke daerah lain, menjadi inspirasi nasional tentang bagaimana ketangguhan dibangun dari bawah, dari kepercayaan, dari teladan.

Di jam-jam sunyi seperti inilah tulisan-tulisan menemukan energinya. Ketika ambisi pribadi ditanggalkan, ketika kebijakan dibaca sebagai etika, ketika angka-angka berubah menjadi wajah-wajah warga yang ingin tetap hidup tenteram di rumah mereka. Saya menulis karena saya percaya: kota bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan persekutuan moral, ruang di mana orang-orang saling menjaga tanpa menunggu perintah.

Dan pada pergantian bulan ini, Gorontalo sedang menunjukkan bagaimana persekutuan itu dirawat dengan keteladanan, keikhlasan, dan keberanian untuk melangkah lebih dulu.

Tulisan ini adalah cara kecil saya memberi hormat pada momentum itu: sebuah catatan lapangan tentang kota yang sedang belajar bersiap, tentang pemimpin yang memilih bekerja dalam diam, tentang pengusaha yang bangkit tanpa dipaksa, dan tentang sebuah imajinasi baru, bahwa ketangguhan bukan sekadar respons terhadap bencana, melainkan kebudayaan yang ditumbuhkan hari demi hari.

Jika Gorontalo konsisten merawat imajinasi ini, kepemimpinan yang memantik, dunia usaha yang bergerak sukarela, dan negara lokal yang mengorkestrasi tanpa memonopoli, maka kota ini tidak hanya sedang membangun kesiapsiagaan, melainkan sedang menulis model baru penanggulangan bencana dari daerah untuk Indonesia. Di tengah negeri yang kerap bergerak setelah terluka, Gorontalo sedang mencoba bersiap sebelum terlambat. Dan barangkali, justru dari kota-kota seperti inilah masa depan ketangguhan nasional akan dilahirkan.

Penulis : Antropolog dan Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Gorontalo dan Kotak Macis

    NU Gorontalo dan Kotak Macis

    • calendar_month Senin, 13 Sep 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 180
    • 0Komentar

    NU memang terlalu seksi bagi kalangan internal maupun eksternal atau bagi siapa saja yang memandangnya. Apalagi jika dipandang dari luar bangunan ke-NU-an dengan menggunakan frame subjektif, sosial dan politik. Dalam konteks ini, NU tidak hanya sekedar seksi tapi ternyata juga begitu mempesona. Maka tidak heran jika perebutan tampuk kepemimpinan di NU menjadi sesuatu yang sangat […]

  • Kampung Adalah Awal Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

    Kampung Adalah Awal Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 669
    • 0Komentar

    Gorontalo, NULONDALO.com – Hingga saat ini di Provinsi Gorontalo telah ada 18 desa yang masuk dalam program kampung iklim (Proklim), belum banyak namun pemerintah daerah bertekad untuk menambahnya secara bertahap. Untuk dapat menjadi kampung Proklim ada sejumlah syarat dan yang utama adalah desa tersebut sudah melakukan aksi dan mitigasi bencana selama 2 tahun. Pekerjaan untuk […]

  • IKAMI Sulsel Gelar Sarasehan Ramadan di Istiqlal, Perkuat Solidaritas Diaspora Bugis-Makassar photo_camera 2

    IKAMI Sulsel Gelar Sarasehan Ramadan di Istiqlal, Perkuat Solidaritas Diaspora Bugis-Makassar

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 416
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jakarta-Suasana Ramadan yang penuh berkah terasa hangat di Aula PKUMI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Lebih dari 200 peserta yang terdiri dari politisi, akademisi, pengusaha, ulama, serta mahasiswa asal Sulawesi Selatan di DKI Jakarta berkumpul dalam kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar IKAMI Sulsel. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan santunan kepada […]

  • Wajar Tapi Palsu

    Wajar Tapi Palsu

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 609
    • 0Komentar

    Gus Dur pernah bilang, “Yang lebih lucu dari politik adalah orang yang menganggap politik itu serius.” Dalam konteks audit negara, barangkali yang lebih lucu dari korupsi adalah keyakinan bahwa WTP berarti pemerintah sudah beres. WTP itu sebenarnya sederhana: laporan keuangan tidak melanggar SAP. Titik. Tapi di negeri ini, WTP diperlakukan seperti air zam-zam—disiramkan ke mana-mana […]

  • Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    Gubernur Gorontalo Sambut Hangat Kedatangan Jemaah Haji Kloter 28

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut kepulangan Jemaah Haji Kloter 28 UPG asal Kota Gorontalo yang tiba Selasa, (2/7/2025). Jemaah kembali dengan jumlah utuh 393 orang dan disambut di Asrama Haji. “Alhamdulillah, berangkat 393 dan kembali juga 393. Artinya, dua kemungkinan yang biasa terjadi namun tidak terjadi di kloter ini, tidak ada yang wafat di Tanah […]

  • Abdul Kadir Diko/FOTO: Istimewa Play Button photo_camera 14

    Gorontalo Green School: Langkah Kecil Menahan Krisis Lingkungan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Abdullah K. Diko
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Kerusakan lingkungan tidak pernah hadir sebagai peristiwa tunggal. Ia tumbuh perlahan—dari tanah yang kehilangan kesuburan, sungai yang kian tercemar, hingga bencana alam yang makin sering dan sulit diprediksi. Dalam banyak kasus, respons kita justru terjebak pada solusi jangka pendek: proyek cepat, jargon hijau, dan seremoni tanam pohon. Padahal, di balik krisis itu terdapat persoalan yang […]

expand_less