Beban Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 139
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu datang dengan dua laporan keuangan: yang satu laporan arus kas, yang lain laporan arus “ke atas”. Yang pertama bikin kepala pening, yang kedua bikin hati bening. Di antara keduanya, manusia sering keliru membedakan mana beban operasional, mana beban langit.
Dalam akuntansi, kita mengenal beban (expense) sebagai pengurang laba. Listrik naik, harga cabai melonjak, THR keluar, semua dicatat sebagai beban. Tapi dalam Ramadhan, ada beban yang justru menambah “laba spiritual”: sahur meski ngantuk, menahan marah saat macet menjelang buka, dan tersenyum ketika dompet mulai kurus karena sedekah. Ini yang saya sebut sebagai beban langit—beban yang dicatat bukan di laporan laba rugi, tetapi di “neraca takwa”.
Orang sering panik ketika saldo rekening menipis di pekan ketiga Ramadhan. Padahal, bisa jadi itu tanda likuiditas akhirat sedang menguat. Dalam logika dunia, beban adalah sesuatu yang harus ditekan. Dalam logika langit, beban justru diuji: seberapa ikhlas ia ditanggung?
Humor ala Nahdlatul Ulama—dan tentu saja kita teringat gaya khas Gus Dur—mengajarkan bahwa hidup ini jangan terlalu tegang. Gus Dur pernah mengingatkan, Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela itu orang yang lapar. Dalam bahasa akuntansi, jangan sampai kita sibuk mengaudit dalil, tapi lupa mengaudit empati.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar