Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jamaah sebagai Akar, Jamiyah sebagai Mesin: Teori Kekuasaan Versi NU

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 22 Des 2025
  • visibility 294
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NU tidak membangun kekuasaan dengan cara merebut pusat. Ia tidak lahir dari istana, parlemen, atau kantor administrasi. NU lahir dari pinggir—dari desa, dari surau kecil, dari pesantren kampung yang jauh dari kota, dari obrolan yang tidak pernah berniat menjadi wacana besar. Karena itu, teori kekuasaan NU sejak awal berlawanan dengan logika kekuasaan modern yang bertumpu pada struktur, komando, dan institusi.

Dalam NU, kekuasaan tidak berada di jamiyah, melainkan di jamaah.

Jamiyah hanyalah mesin. Ia mengatur ritme, mempercepat kerja, memberi bentuk administratif. Tapi mesin bukan sumber tenaga. Dalam teori kekuasaan NU, tenaga datang dari akar sosial—jamaah yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ketika jamiyah lupa pada sumber ini, berarti mengeringkan daya hidupnya sendiri.

Jika kita ingin menyebut ini secara teoretis, kekuasaan NU bukanlah power over (menguasai), melainkan power with (menyatu). Ia bekerja bukan melalui perintah, melainkan melalui kebiasaan. Bukan melalui regulasi, melainkan melalui penerimaan kultural. Di sini NU terlihat lebih dekat pada hegemoni ala Gramsci, tetapi dengan satu perbedaan penting: hegemoni NU tidak dibangun lewat aparatus negara, melainkan lewat ritme hidup jamaah.

Jamiyah sering tergoda untuk memusatkan kekuasaan. Ini wajar. Struktur selalu ingin stabil, ingin permanen, ingin terlihat penting. Namun dalam logika NU, pemusatan kekuasaan justru tanda awal kerapuhan. Kekuasaan yang terlalu terpusat mudah ditarik oleh politik dan ekonomi. Ia menjadi negosiatif, transaksional, dan akhirnya mudah retak. Jamiyah lalu berisik, panas, dan saling mencurigai—ciri klasik mesin yang dipaksa bekerja di luar fungsinya.

Sebaliknya, jamaah NU menjalankan apa yang bisa disebut sebagai kekuasaan tersebar. Ia tidak spektakuler, tidak terlihat di media, tapi bekerja terus-menerus. Inilah yang oleh James C. Scott disebut sebagai infrapolitics, tetapi dalam versi NU ia lebih dari sekadar resistensi diam-diam. Ia adalah cara hidup. Jamaah tidak melawan kekuasaan; mereka membuat kekuasaan menjadi tidak relevan.

Dalam kerangka ini, kopi bukan metafora romantik—ia adalah infrastruktur kekuasaan NU. Kopi kental nan panas memungkinkan pertemuan tanpa hirarki, tanpa podium, tanpa agenda tersembunyi. Semua duduk sejajar. Semua bicara. Semua mendengar. Kekuasaan beredar, bukan ditumpuk. Konsensus lahir bukan dari voting, tetapi dari waktu—kopi yang dibiarkan dingin sambil pembicaraan menemukan bentuknya sendiri.

Inilah sebabnya NU sulit ditaklukkan, tapi juga sulit dikendalikan sepenuhnya. Kekuasaan NU tidak bisa diambil alih dengan mengganti pengurus, karena ia tidak tinggal di sana. Ia hidup di jamaah, di habitus, di ingatan kolektif. Jamiyah bisa berubah, bahkan hancur, tetapi kekuasaan NU tetap ada selama jamaah masih berkumpul, masih berbincang, masih menyeruput kopi bersama.

Maka krisis NU hari ini bukan krisis jamaah, melainkan krisis salah paham tentang kekuasaan. Jamiyah terlalu sering mengira bahwa kekuasaan harus dikelola, diamankan, dan dinegosiasikan. Padahal dalam tradisi NU, kekuasaan justru harus dibiarkan mengalir. Ia hidup ketika tidak dipamerkan, bekerja ketika tidak diklaim.

Jika hari ini jamiyah NU mudah terombang-ambing oleh kepentingan politik dan ekonomi, barangkali itu bukan karena tekanan eksternal semata, melainkan karena mereka meninggalkan teori kekuasaan NU sendiri. Teori yang sederhana, membumi, dan terbukti bertahan hampir satu abad:

duduk bersama, bicara pelan, biarkan kopi dingin, dan jangan pernah merasa paling penting.

Jika jamiyah NU retak hari ini, mungkin mereka lupa satu hal paling mendasar dalam politik NU: ngopi bareng.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akuntan Langit

    Akuntan Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Di bulan Ramadhan, banyak orang tiba-tiba rajin menghitung. Ada yang menghitung jumlah rakaat tarawih, ada yang menghitung hari menuju Lebaran, dan ada pula yang sibuk menghitung diskon di pusat perbelanjaan. Namun, di balik semua hitung-hitungan itu, ada satu sistem akuntansi yang jauh lebih canggih daripada software keuangan mana pun: akuntansi langit. Jika akuntan di dunia […]

  • Dunia Musik Berduka, Vidi Aldiano Meninggal Dunia Usai 6 Tahun Berjuang Lawan Kanker

    Dunia Musik Berduka, Vidi Aldiano Meninggal Dunia Usai 6 Tahun Berjuang Lawan Kanker

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 361
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dunia hiburan Tanah Air kembali diselimuti kabar duka. Penyanyi pop Indonesia, Vidi Aldiano, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu (7/3/2026) pukul 16.33 WIB setelah berjuang melawan Kanker Ginjal yang dideritanya selama beberapa tahun terakhir. Kabar wafatnya pelantun lagu Nuansa Bening itu pertama kali diketahui publik melalui unggahan di media sosial oleh sahabatnya, Deddy Corbuzier. […]

  • Wali Band Bakal Meriahkan HUT ke-298 Kota Gorontalo

    Wali Band Bakal Meriahkan HUT ke-298 Kota Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 350
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo menyiapkan perayaan meriah dalam rangka hari ulang tahun (HUT) ke-298 Kota Gorontalo. Selain berbagai lomba dan kegiatan masyarakat, pemkot juga berencana menghadirkan grup musik papan atas Tanah Air, Wali, untuk menghibur warga pada malam puncak perayaan. Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, saat memimpin rapat persiapan […]

  • Kecelakaan Adu Banteng di KM 58 Samarinda–Bontang, Korban Sempat Terjebak di Dalam Mobil

    Kecelakaan Adu Banteng di KM 58 Samarinda–Bontang, Korban Sempat Terjebak di Dalam Mobil

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 317
    • 0Komentar

    nulondalo.com–  Kecelakaan lalu lintas terjadi di KM 58 jalur Samarinda–Bontang, Kalimantan Timur, pada Minggu (1/3/2026). Dua mobil, masing-masing berwarna hitam dan perak, terlibat tabrakan adu banteng dengan kondisi kendaraan mengalami kerusakan parah. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan bagian depan kedua mobil ringsek berat. Sejumlah korban tampak terjebak di dalam kendaraan dan harus dievakuasi […]

  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Tunis Tidak Pernah Usai

    Tunis Tidak Pernah Usai

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Di sebuah pagi yang bergerak perlahan di jantung Jakarta, Aula Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal tidak sekadar menjadi aula pertemuan. Ia berubah menjadi semacam ruang ingatan—tempat waktu tidak berjalan lurus, melainkan berputar, mempertemukan yang dulu pernah berangkat dengan yang baru saja pulang ke tanah air. Ahad, 12 April 2026, sekitar 80 orang berkumpul di aula […]

expand_less