Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Siapa Mengototkan Tambang Ormas? Yeni Wahid Sebut Peran Menteri

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
  • visibility 243
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Polemik izin pengelolaan tambang bagi organisasi kemasyarakatan keagamaan kembali memanas. Kali ini datang dari pernyataan terbuka Zanuba Arifah Chafso Wahid atau Yeni Wahid, putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid. Di hadapan ribuan jamaah Haul Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, Yeni mengungkap adanya peran seorang menteri yang disebut paling ngotot mendorong pemberian konsesi tambang kepada ormas.

Pernyataan itu disampaikan Yeni saat memberikan sambutan pada Haul ke-16 Gus Dur dan para masyayikh, Rabu malam, 17 September 2025. Dengan nada serius, Yeni menyebut dirinya sengaja berbicara terbuka karena melihat risiko besar yang mengancam persatuan Nahdlatul Ulama (NU).

“Saya mohon maaf saya terbuka mengungkapkannya di titik ini,” kata Yeni di awal pidatonya.

Luhut Justru Menolak

Yeni mengungkapkan bahwa sebelum berangkat ke Jombang, ia sempat makan siang dan berbincang dengan Luhut Binsar Pandjaitan, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Dari percakapan itu, menurut Yeni, terungkap fakta yang selama ini luput dari perhatian publik: Luhut justru menolak pemberian tambang kepada ormas sejak awal.

“Beliau bilang, sejak awal saya tidak setuju ormas itu diberi tambang. Saya tidak mau tanda tangan,” ujar Yeni menirukan pernyataan Luhut.

Alasan penolakan itu, kata Yeni, sederhana sekaligus krusial. Luhut memahami betul kerasnya industri pertambangan. “Saya punya tambang, saya tahu susahnya mengelola tambang itu,” kata Yeni mengutip Luhut.

Menurut Yeni, pengalaman tersebut membuat Luhut menilai pengelolaan tambang bukan hanya soal modal, tetapi juga soal risiko konflik sosial. Bahkan, Luhut disebut mengutip pandangan bahwa tambang hanya bisa dikelola oleh “tangan dingin”. Tanpa itu, yang muncul justru perpecahan.

Menteri dan Afiliasi Politik

Bagian paling sensitif dari pernyataan Yeni muncul ketika ia menyebut aktor lain di balik kebijakan tersebut. Menurut Yeni, Luhut mengatakan ada seorang menteri yang sangat ngotot agar Presiden Joko Widodo kala itu segera meneken kebijakan izin tambang untuk ormas.

Belakangan, kata Yeni, sejumlah wartawan menyampaikan kepadanya bahwa menteri yang sama justru memberikan izin tambang kepada ormas-ormas keagamaan yang berafiliasi dengan partai politiknya.

“Nah, ini berarti NU hanya dipakai sebagai muhalil saja, alat legitimasi saja,” ujar Yeni.

Ia mengingatkan agar NU tidak terjebak dalam skema semacam itu. “NU jangan masuk ke dalam jebakan Batman seperti ini,” katanya, disambut riuh jamaah.

Ancaman Perpecahan

Bagi Yeni, persoalan tambang ormas bukan sekadar polemik kebijakan publik. Ia melihatnya sebagai ancaman serius terhadap keutuhan NU. Ia menyebut situasi saat ini sebagai momen yang memprihatinkan, terutama dengan munculnya kegelisahan di kalangan warga NU atas dinamika di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Yang di depan mata kita sekarang adalah mudarat besar, yaitu perpecahan,” kata Yeni.

Ia mengingatkan kembali prinsip awal pendirian NU yang berlandaskan persatuan, cinta, dan kebersamaan, bukan kepentingan duniawi. Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, Yeni menegaskan bahwa menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya hanya akan membawa kehancuran.

Usul Dikembalikan ke Negara

Dalam pidatonya, Yeni juga menyatakan dukungannya terhadap pandangan sejumlah ulama senior NU yang mengusulkan agar konsesi tambang untuk ormas dikembalikan kepada negara. Jika pemerintah ingin membantu ormas keagamaan, kata dia, bantuan sebaiknya diberikan dalam bentuk dana langsung.

“Uang itu bisa dipakai untuk membangun sekolah, pesantren, rumah sakit. Jauh lebih maslahat,” ujarnya. “Kalau tambang seperti ini, mudaratnya jauh lebih besar.”

Menutup sambutannya, Yeni menegaskan bahwa NU jauh lebih besar daripada kepentingan ekonomi apa pun.

“Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini bukan hanya milik umat Islam Indonesia, tapi juga dunia. Karena itu, tugas kita semua untuk menjaganya,” kata Yeni.

Ia kembali menyampaikan permohonan maaf jika pernyataannya menyinggung banyak pihak. Namun, menurutnya, kegelisahan itu perlu disuarakan sebagai seruan moral, agar NU tidak terseret lebih jauh ke pusaran kepentingan politik dan ekonomi.

  • Penulis: Tim Redaksi
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU dan PR Kesenjangan Kultur dan Struktur (Bagian 1)

    NU dan PR Kesenjangan Kultur dan Struktur (Bagian 1)

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
    • visibility 1.096
    • 0Komentar

    Bukan rahasia umum bahwa di dalam Nahdlatul Ulama terdapat dua lapisan keanggotaan yang sering disebut sebagai NU struktural dan NU kultural. Yang pertama adalah NU struktural, yaitu mereka yang berada dalam kepengurusan organisasi secara formal. Kelompok ini biasanya menjadi representasi resmi NU dalam berbagai agenda kelembagaan, seperti pertemuan resmi, surat-menyurat, maupun kegiatan organisasi lainnya. NU […]

  • Bersuara

    Bersuara

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Dunia maya kembali bergeliat. Kali ini di sebuah ajang cerdas cermat setingkat SMA terjadi peristiwa. Boleh jadi, peristiwa seperti ini sudah sering terjadi, tetapi baru kali ini terblow up.  Salah seorang peserta  dari kelompok C menginterupsi keputusan juri yang memberinya nilai minus untuk jawaban yang sama yang justru diberi nilai plus kepada kelompok lain. Sang peserta mencoba […]

  • Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    • calendar_month Rabu, 3 Jan 2024
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Tidak bisa dipungkiri bahwa keragaman merupakan karakter utama bangsa Indonesia. Karakter inilah yang membedakannya dengan bangsa lain yang cenderung homogen. Mengorganisir keragaman bukanlah sesuatu yang mudah. Mengorganisir keragaman membutuhkan metode dan strategi khusus. Tidak mudah menyamakan persepsi tentang kedamaian dan perdamaian. Tidak mudah memberi arti  betapa berharganya nilai-nilai persaudaraan. Tidak mudah memberikan pemahaman tentang pentingnya […]

  • DPP PKB Tetapkan Abdullah Kadir Diko sebagai Ketua DPC PKB Pohuwato, Ini Profilnya

    DPP PKB Tetapkan Abdullah Kadir Diko sebagai Ketua DPC PKB Pohuwato, Ini Profilnya

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 234
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB menetapkan Abdullah Kadir Diko, S.Pt. sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kabupaten Pohuwato masa khidmat 2026–2031. Penetapan tersebut menandai estafet kepemimpinan DPC PKB Pohuwato dari ketua sebelumnya, Idris Kadji. Abdullah Kadir Diko merupakan salah satu kader PKB yang telah lama berkiprah di dunia politik, pemberdayaan masyarakat, dan advokasi […]

  • Post-Tarbiyah : Akhir Politik Kebencian

    Post-Tarbiyah : Akhir Politik Kebencian

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Almunauwar Bin Rusli
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Sejak pertama kali Asef Bayat menggempur ruang publik melalui pemikiran Post-Islamism: The Changing Faces of Political Islam (2013), negara yang berpenduduk mayoritas Muslim-termasuk Indonesia- tiba-tiba tersentak karena ternyata tubuh Islam  tidak pernah mengalami stagnasi tapi terus memperlihatkan sinyal transformasi. Para kaum Islamis terdidik pun segera banting setir lalu  melayangkan protes tanpa ampun apabila Islam bukanlah […]

  • Sebanyak 39 Pejabat Fungsional Dilantik Gubernur Gorontalo

    Sebanyak 39 Pejabat Fungsional Dilantik Gubernur Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 276
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Sebanyak 39 pejabat fungsional dilantik Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (23/12/2025). Pelantikan tersebut dilakukan untuk mengisi jabatan fungsional melalui penyesuaian jabatan, promosi kenaikan jenjang, serta perpindahan dari jabatan lain di lingkungan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Pelantikan dilaksanakan berdasarkan tiga Keputusan Gubernur Gorontalo, masing-masing Nomor 800.1.3.3/JF/BKD/SK/1327/XII/2025 tentang pengangkatan melalui penyesuaian […]

expand_less