Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Neo-Tarbiyah : Apa Yang Dipertaruhkan Agama?

  • account_circle Almunauwar Bin Rusli
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 360
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Akhir-akhir ini, telah terjadi sebuah pertarungan sengit antara kubu idealis versus kubu realis mengenai fungsi aktual agama di dunia kontemporer. Diri kita pun sebaiknya tidak berdiam diri, harus  keluar kandang, lalu ikut menentukan peran strategis di dalam arena. Sebab, fungsi aktual agama hanya dapat diidentifikasi secara presisi melalui perubahan perilaku manusia. Sedangkan perilaku manusia dibentuk oleh budaya pembelajaran yang memadukan potensi kebiasaan (behavioral potentiality) sekaligus praktik yang diperkuat (reinforced practice). Turner (2010) misalnya berpendapat bahwa kubu pertama optimis apabila agama tidak mungkin hancur berantakan akibat pemberontakan metafisik. Karena, agama telah kuat mengakar dalam struktur sosial serta memuat dasar-dasar fundamental dari manifestasi kehidupan komunal. Sedangkan Bellah (1964) berpendapat bahwa kubu kedua pesimis dengan agama. Karena, identitas masyarakat modern terletak pada preferensi individu, penghapusan otoritas institusi tradisional dan kesadaran bahwa simbol-simbol sakral hanyalah  konstruksi manusia yang tidak kompeten.

Jika kubu pertama berangkat dari paham gnostik yang berorientasi pada keimanan (intuisi), maka kubu kedua bergerak dari paham agnostik yang berorientasi pada kesejahteraan (industri). Studi Pew Research Center 2018 misalnya  menyebut 98%  masyarakat Indonesia menganggap agama sangat penting  dan 95% rutin berdoa.  Tetapi, pada tahun 2023, mereka juga melaporkan ada sekitar 20-22% masyarakat Singapura yang tidak lagi berafiliasi dengan agama tertentu. Sebagai mantan guru yang pernah mengajar di Thailand Selatan sejak 2014-2015, saya mengamati bahwa memang telah terjadi  inflasi sekaligus defisit pada tradisi pengajaran agama dikalangan keluarga Muslim Asia. Di satu sisi, betul pandangan Casanova (1994) bahwa agama sudah menjadi komponen kebudayaan publik  daripada sekadar urusan kepercayaan dan praktik pribadi. Namun, di sisi lain, Berger (1969) justru  menyebut jika masyarakat modern terus mengalami krisis kebenaran karena kebutuhan spiritual mereka tidak terpuaskan oleh ajaran agama arus utama. Berger menegaskan, jika agama ingin bertahan maka ia harus menjadi  komoditas yang laris di pasar spiritual (spiritual marketplace).  Tulisan ini hadir untuk memberikan pikiran alternatif  agar ajaran agama  tidak mengalami kedaluwarsa di tengah situasi guncangan besar (the great disruption) sebagaimana disinggung oleh Fukuyama (1999).

Neo-Tarbiyah Dalam Tatanan Sosial Dunia

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajukan pembaharuan atau paling tidak penyegaran kembali terkait satu sistem pemikiran yang disebut sebagai “Neo-Tarbiyah”. Neo-Tarbiyah merupakan paham untuk membangkitkan kembali hakikat dasar manusia (fitrah) yakni dimensi al-basyar (fisik-biologis), al-insan (spiritual-psikologis) dan an-nas (sosial-kultural) yang digabungkan dengan teknik meritokrasi (meritocracy), pragmatisme (pragmatism) dan kepercayaan (trust). Pertama, meritokrasi ialah pengakuan fungsi, penempatan posisi dan penghargaan prestasi manusia berdasarkan kepakaran (expertise) yang diperoleh dari berbagai jenjang pendidikan. Meritokrasi akan membongkar kronisme, favoritisme atau mitos yang menutupi suatu objek sehingga menjadi lebih rasional, realistis, dan mudah dipahami oleh nalar. Meritokrasi akan mengubah kealiman tekstual menjadi profesional, popularitas menjadi integritas dan dogma menjadi dialektika. Meritokrasi adalah tindakan memanusiakan manusia. Marleau-Ponty (1948) pernah berkata bahwa manusia tidak bisa bereksistensi di luar sistem makna.

  • Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Julman Hente
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Oleh: Julman Hente, SH., MH (Penulis) Demokrasi kita hari ini seperti pohon yang tumbuh tanpa akar. Tampak hijau di permukaan, penuh daun dan ranting yang menjulang, tetapi mudah roboh ketika angin kencang datang. Ia berdiri di atas tanah yang semakin rapuh, tanah yang terus terkikis oleh keputusan-keputusan yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengkhianati bumi tempat rakyat […]

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • PPATK, Rekening Dormant dan Gagal Nalar Instabilitas Ekonomi

    PPATK, Rekening Dormant dan Gagal Nalar Instabilitas Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Muh. Gifari Bachmid
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Penulis adalah Praktisi Perbankan/ Pengurus Lakpesdam NU Kota Gorontalo Sebelum dihebohkan oleh pemblokiran rekening berstatus dormant oleh PPATK, praktik tersebut ternyata lazim diterapkan didunia perbankan. Rekening yang tidak aktif atau tidak memiliki transaksi dalam kurun waktu 3 sampai 12 bulan maka status rekeningnya akan berubah menjadi status dormant. Jika rekening nasabah berstatus dormant, maka rekening […]

  • Musdes Penetapan APBDes 2026 Desa Majannang Digelar di Hari Libur, Dorong Percepatan dan Transparansi

    Musdes Penetapan APBDes 2026 Desa Majannang Digelar di Hari Libur, Dorong Percepatan dan Transparansi

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pemerintah Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, menggelar Musyawarah Desa (Musdes) Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2026 pada Sabtu (27/12/2025). Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Desa Majannang dan menjadi perhatian karena dilaksanakan di hari libur. Musdes dihadiri oleh PJ Kepala Desa Majannang, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pendamping […]

  • Dari Dapur ke Masjid: Maulid Nabi, Walima, dan Ingatan Kepemimpinan Gorontalo dari Masa ke Masa

    Dari Dapur ke Masjid: Maulid Nabi, Walima, dan Ingatan Kepemimpinan Gorontalo dari Masa ke Masa

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Husin Ali
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Ada sebuah pertanyaan yang terus mengikuti saya sejak senin sore kemarin: siapa sebenarnya yang menggerakkan Walima? Pertanyaan itu muncul ketika saya melihat seorang anak sekolah berlari kecil menuju warung. Di tangannya ada uang seadanya. Ia membeli beberapa butir telur untuk direbus. Tidak jauh dari situ, seorang ibu berjalan menuju warung lain. Ia membeli bahan untuk […]

  • Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Kemarahan masyarakat adat Maba, Halmahera Timur mencapai puncaknya. Mereka menuding Amin Bahrun, yang hanya berstatus Pjs KTT PT ANI, bertindak semena-mena dengan menjadikan laut Maba sebagai lokasi parkir tongkang berminggu-minggu. Hal ini sengaja tongkang tersebut telah di Sandra oleh saudara Amin Bahrun sangat berbahaya terhadap pencemaran laut dan akan menghancurkan mata pencaharian nelayan tradisional. ” […]

expand_less