Neo-Tarbiyah : Apa Yang Dipertaruhkan Agama?
- account_circle Almunauwar Bin Rusli
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Almunauwar bin Rusli - Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kedua, pragmatisme adalah kondisi dimana manusia diajarkan untuk selalu beradaptasi dengan teknologi, berorientasi pada materi, terintegrasi dengan moral dan memelihara pola komunikasi dengan nilai deliberatif. Kurang lebih, inilah kerangka Parsonian. Ketiga, kepercayaan merupakan penekanan terhadap keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif antar-manusia berdasarkan norma yang mereka anut bersama. Pendidikan yang mendapat tingkat kepercayaan (trust) tertinggi warga negara pasti akan mengurangi biaya (cost), menciptakan penghematan (efficiency) lalu pada akhirnya membentuk kemakmuran (prosperity). Pada intinya, konsep “Neo-Tarbiyah” adalah upaya saya menjembatani polemik antara struktur (kubu idealis) dan agensi (kubu realis) melalui perspektif strukturasi Giddens (1984). Neo-Tarbiyah tidak hanya menjawab mengapa masyarakat terbentuk melainkan apa yang membuat mereka tetap terikat di dalamnya. Neo-Tarbiyah tidak hanya membuat ajaran agama konsisten tapi juga relevan.
Memperkuat Stabilitas Institusi
Jika pertanyaan awal di atas adalah apa yang dipertaruhkan agama, maka jawabannya ialah “personal branding”. Aspek ini merupakan persepsi publik terhadap keahlian, nilai dan kepribadian kita sehingga orang lain memandang institusi tarbiyah sebagai merek yang marketable. Oleh sebab itu, upaya memperkuat stabilitas institusi adalah harga mati. Status akreditasi yang kita peroleh jangan sampai hanya karena rasa belas kasihan atau sogokan, namun harus dicapai melalui keluasan intelektual, kecanggihan manajerial hingga kepiawaian finansial. Sayangnya, saya melihat masih ada segelintir generasi tua yang setengah hati dalam mengurus nasib institusi ini. Kadang-kadang tenaga mereka mulai cepat loyo hingga mengalami kelelahan berpikir. Meski sering ‘batuk-batuk’, mereka terus memaksakan diri untuk memimpin dengan jurus dewa mabuk. Akhirnya, banyak program kerja yang penuh sensasi namun sebetulnya miskin substansi. Masalah inkompentensi lahir ketika mayoritas memilih untuk diam (silent majority) dan pimpinannya terlalu banyak berkompromi karena tak bernyali. Akar objektif dari ketakutan adalah ketidaktahuan. Manusia tidak tahu sebab dia tidak sadar. Dan ketidaksadaran muncul kerena dirinya terhalang untuk mengenali realitas. Padahal, ketika kubu koalisi versus oposisi terlibat dalam pertengkaran pikiran, maka institusi kita akan terus bertumbuh dan bukan sekadar membengkak.
Tugas para dosen memang harus menciptakan perdebatan yang paling keras agar bisa menghasilkan kesimpulan yang paling bersih. Hanya dengan habit seperti itu, kebijakan akan menjadi kebajikan. Pada titik ini, keterampilan berfilsafat (philosophical skills) menjadi mutlak perlu. Argumen-argumen kritis selalu bermula dari pandangan-pandangan yang filosofis. Sebagai penutup, rasa-rasanya hari ini kita perlu mempelajari kembali bagaimana Roosevelt dan Obama mereformasi akses pendidikan pelajar di Amerika, bagaimana Deng Xiaoping merenovasi kreativitas murid di China atau bagaimana Lee Kuan Yew mengakselerasi bakat siswa di Singapura. Jika miskin ide, jangan malu meniru ide orang lain. Jika tidak punya otak, jangan malu meminjam otak orang lain. Gengsi adalah sumber kehancuran birokrasi. Tanpa formula seperti ini, maka produk tarbiyah hanya akan menjadi guru-guru berkepala batu granit yang dijauhi konsumen. Jangan sampai institusi tarbiyah menjadi sarang status quo, feodalisme dan hedonisme. Institusi tarbiyah mesti menjadi markas para pemikir, paedagog serta aktivis yang hidup dengan nilai-nilai humanisme, egalitarianisme dan kezuhudan. Sekian !
Penulis : Dosen IAIN Manado/Anggota KPPP MUI Sulawesi Utara
- Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Saat ini belum ada komentar