Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Neo-Tarbiyah : Apa Yang Dipertaruhkan Agama?

  • account_circle Almunauwar Bin Rusli
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 443
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kedua, pragmatisme adalah kondisi dimana manusia diajarkan untuk selalu beradaptasi dengan teknologi, berorientasi pada materi, terintegrasi dengan moral dan memelihara pola komunikasi dengan nilai deliberatif. Kurang lebih, inilah kerangka Parsonian. Ketiga, kepercayaan merupakan penekanan terhadap keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif antar-manusia berdasarkan norma yang mereka anut bersama. Pendidikan yang mendapat tingkat kepercayaan (trust) tertinggi warga negara pasti  akan mengurangi biaya (cost), menciptakan penghematan (efficiency) lalu pada akhirnya membentuk kemakmuran (prosperity). Pada intinya, konsep “Neo-Tarbiyah” adalah upaya saya menjembatani polemik antara struktur (kubu idealis) dan agensi (kubu realis) melalui perspektif strukturasi Giddens (1984). Neo-Tarbiyah tidak hanya menjawab mengapa masyarakat terbentuk melainkan  apa yang membuat mereka tetap terikat di dalamnya. Neo-Tarbiyah tidak hanya membuat ajaran agama konsisten tapi juga relevan.

Memperkuat Stabilitas Institusi

Jika pertanyaan awal di atas adalah apa yang dipertaruhkan agama, maka jawabannya ialah “personal branding”. Aspek ini merupakan persepsi publik terhadap keahlian, nilai dan kepribadian kita sehingga orang lain memandang institusi tarbiyah sebagai merek yang marketable. Oleh sebab itu, upaya memperkuat stabilitas institusi adalah  harga mati. Status akreditasi yang kita peroleh jangan sampai hanya  karena rasa belas kasihan atau  sogokan, namun harus dicapai melalui keluasan intelektual, kecanggihan manajerial hingga kepiawaian finansial. Sayangnya, saya melihat masih ada segelintir generasi tua yang setengah hati dalam mengurus nasib institusi ini. Kadang-kadang tenaga mereka mulai cepat loyo hingga mengalami kelelahan berpikir. Meski sering ‘batuk-batuk’, mereka terus memaksakan diri untuk memimpin dengan jurus dewa mabuk.  Akhirnya, banyak program kerja yang penuh sensasi namun sebetulnya miskin substansi. Masalah inkompentensi lahir ketika mayoritas memilih untuk diam (silent majority) dan pimpinannya terlalu banyak berkompromi karena tak bernyali. Akar objektif dari ketakutan adalah ketidaktahuan. Manusia tidak tahu sebab dia tidak sadar. Dan ketidaksadaran muncul kerena dirinya terhalang untuk mengenali realitas. Padahal, ketika kubu koalisi versus oposisi terlibat dalam pertengkaran pikiran, maka  institusi kita akan terus bertumbuh dan bukan sekadar membengkak.

Tugas para dosen memang  harus menciptakan perdebatan yang paling keras agar bisa menghasilkan kesimpulan yang paling bersih. Hanya dengan habit seperti itu, kebijakan akan menjadi kebajikan. Pada titik ini, keterampilan berfilsafat (philosophical skills) menjadi mutlak perlu. Argumen-argumen kritis selalu bermula dari pandangan-pandangan yang filosofis. Sebagai penutup, rasa-rasanya hari ini kita perlu mempelajari kembali bagaimana Roosevelt dan Obama mereformasi akses pendidikan pelajar di Amerika, bagaimana Deng Xiaoping merenovasi kreativitas murid di China atau bagaimana Lee Kuan Yew mengakselerasi bakat siswa di Singapura. Jika miskin ide, jangan malu meniru ide orang lain. Jika tidak punya otak, jangan malu  meminjam otak orang lain. Gengsi adalah sumber kehancuran birokrasi. Tanpa formula seperti ini, maka produk tarbiyah hanya akan menjadi guru-guru berkepala batu granit yang dijauhi konsumen. Jangan sampai  institusi tarbiyah menjadi sarang status quo, feodalisme dan hedonisme. Institusi tarbiyah mesti menjadi markas para pemikir, paedagog serta aktivis yang hidup dengan nilai-nilai humanisme, egalitarianisme dan kezuhudan. Sekian !

Penulis : Dosen IAIN Manado/Anggota KPPP MUI Sulawesi Utara

  • Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Transparansi APBN di Era Digital: Menyeimbangkan Keterbukaan Data dan Literasi Publik

    Transparansi APBN di Era Digital: Menyeimbangkan Keterbukaan Data dan Literasi Publik

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Isla Aulia'i Wasi Suhada
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Selain itu, kolaborasi lintas sektor patut ditingkatkan. Lembaga seperti Indonesia Corruption Watch (ICW) dan media independen dapat menjadi mitra dalam memproduksi konten edukatif, sementara perusahaan teknologi membantu mengembangkan AI sederhana untuk menjawab pertanyaan publik tentang APBN. Pengalaman negara seperti Estonia, yang sukses dengan e-governance transparan berkat literasi digital tinggi, bisa menjadi inspirasi. Di Indonesia, langkah […]

  • Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Meninggalnya Mahasiswa UNG dalam Diksar Mapala Butoiyo Nusa

    Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu Keluarkan Pernyataan Sikap Atas Meninggalnya Mahasiswa UNG dalam Diksar Mapala Butoiyo Nusa

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dunia pendidikan Gorontalo berduka setelah meninggalnya salah seorang mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG), almarhum Muhammad Jeksen, dalam kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Butoiyo Nusa. Menanggapi peristiwa ini, Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipuu mengeluarkan pernyataan sikap resmi yang disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan, Abdul Kadir Lawero. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Peristiwa ini bukan hanya […]

  • Kasus Narkoba Kian Marak, Legislator Maros Minta Pencegahan Diperkuat

    Kasus Narkoba Kian Marak, Legislator Maros Minta Pencegahan Diperkuat

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Anggota DPRD Maros, Rahmat Hidayat memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Satuan Reserse Narkoba Polres Maros yang dinilai konsisten dan intens menindak penyalahgunaan narkoba sepanjang tahun 2025. Apresiasi tersebut ia sampaikan langsung saat menghadiri pemusnahan barang bukti narkoba di Mapolres Maros, Jumat (5/12/2025). “Kami sangat mengapresiasi kinerja Polres Maros dan jajarannya atas keberhasilan […]

  • Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Padahal kesabaran sejati tidak pernah identik dengan diam. Dalam pemikiran Max Weber tentang ethic of responsibility, kedewasaan sosial justru lahir dari kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap keadaan di sekitarnya. Artinya, menerima kenyataan hari ini bukan berarti berhenti mengubah hari esok. Kesabaran seharusnya menjadi daya tahan moral agar seseorang tidak mudah patah, sambil tetap […]

  • Ketika Simbol Diserang: Analisis Sosiologi Politik atas Tuduhan Ijazah Palsu Presiden Jokowi

    Ketika Simbol Diserang: Analisis Sosiologi Politik atas Tuduhan Ijazah Palsu Presiden Jokowi

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Oleh : Mukari – (Dosen Sosiologi Fisipol Undar) Perdebatan sengit tentang kredibilitas ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mewarnai ruang publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun beberapa klarifikasi resmi telah diberikan, masalah ini terus muncul, terutama melalui media sosial dan jaringan komunikasi alternatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa tuduhan tersebut telah menjadi bagian dari pertarungan […]

  • Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu […]

expand_less