Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 91
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(catatan reflektif untuk gagasan penulisan ulang sejarah Indonesia)

Sejarah, pada hakikatnya, tidak pernah beku. Ia adalah aliran waktu yang terus bergerak, terus diinterpretasi ulang. Gagasan untuk menulis ulang sejarah, dalam kondisi tertentu, bukanlah hal yang tabu—bahkan sebaliknya, bisa menjadi langkah penting untuk menyembuhkan luka kolektif, membetulkan narasi yang timpang, dan membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini dibungkam. Menulis ulang sejarah dalam konteks ini menjadi sangat penting.

Karena itu, penulisan ulang ini harus menyertakan partisipasi publik yang luas. Bukan sekadar memberi ruang untuk bicara, tapi juga menyiapkan ruang untuk bersilang pendapat. Koreksi antar data, ketegangan tafsir, dan debat terbuka yang konstruktif bukan hambatan, melainkan fondasi. Sebab sejarah yang ditulis bersama tidak lahir dari keheningan, tetapi dari pertemuan tafsir yang bersedia saling menguji. Dari situlah spektrum sejarah yang luas dan inklusif bisa tumbuh—tidak seragam, tapi saling menyilang dan saling jaga.

Tapi proyek penulisan ulang sejarah ini akan problematik apabila dijalankan bukan dalam semangat keterbukaan, melainkan sebagai cara baru untuk menutup fakta, menghapus tragedi, dan menggantikan kebenaran dengan narasi kuasa. Ketika Fadly Zon, sebagai Menteri Kebudayaan, meragukan “fakta” pemerkosaan massal pada Mei 1998, kecurigaan publik pun muncul. Jangan-jangan keinginan untuk menulis ulang sejarah Indonesia untuk kepentingan politis, bukan kepentingan sejarah itu sendiri.

Dengan begitu, sejarah akan kehilangan peran sentrumnya sebagai cermin kebenaran. Ia berubah menjadi tembok: membatasi, menyaring, dan menolak yang tak sesuai dengan arah kekuasaan. Dalam logika semacam itu, yang dibungkam bukan hanya suara penyintas, tetapi juga kemungkinan bagi bangsa ini untuk menyusun ulang ingatannya secara jujur.

Fanon, dalam The Wretched of the Earth, mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar kronik. Ia adalah alat penjajahan—atau pembebasan. Sejarah bisa menciptakan rakyat yang tunduk atau membangkitkan kesadaran yang melawan. Maka, ketika sebuah otoritas mencoba menyusun ulang sejarah tanpa partisipasi korban, tanpa mendengar kesaksian yang getir, tanpa pengakuan akan luka, maka ia sedang menghapus eksistensi manusia itu sendiri.

Di sinilah bahayanya.

Sejarah, jika disulap menjadi versi steril dan menyenangkan bagi penguasa, akan menjelma menjadi mitos. Ia akan mengubah pelaku kekerasan menjadi pahlawan, dan para penyintas menjadi gangguan naratif. Padahal sejarah bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang keberanian menghadapi fakta, sepahit apapun itu. Jika luka itu disangkal, bukan hanya para korban yang dihianati—tetapi bangsa ini sedang menegasikan dirinya sendiri.

Penulisan ulang sejarah baru akan bermakna jika dilakukan dengan prinsip keberpihakan pada kejujuran. Ia harus membuka ruang arsip dan kesaksian. Harus menyediakan wadah bagi mereka yang selama ini tidak dianggap “layak dicatat.” Ia bukan tentang versi tunggal, tetapi tentang percakapan antar-versi—tentang mempersilakan NU menulis sejarah NU, Muhammadiyah menulis sejarah Muhammadiyah, perempuan menulis sejarah tubuh mereka, Tionghoa menulis tentang diskriminasi yang mereka hadapi, dan penyintas 98 menulis tentang malam-malam ketika hidup mereka tak lagi sama.

Semua itu ditulis bukan untuk saling mengalahkan narasi. Tetapi untuk mengakui bahwa sejarah Indonesia bukan satu sungai, tapi delta—bercabang, berliku, dan menyatu di hilir yang disebut bangsa.

Fanon menyebut bahwa untuk membebaskan diri, rakyat harus merebut kembali sejarahnya. “The colonized subject is always presumed to have no history; liberation begins when they begin to narrate.”

Kita sudah merdeka dari kolonialisme formal. Tapi kita belum sepenuhnya merdeka dari kolonialisme narasi—dari sejarah yang ditulis dari atas menara kekuasaan. Maka, menulis ulang sejarah bisa menjadi momentum pembebasan, asal bukan untuk membungkam, melainkan untuk menyuarakan.

Yang kita butuhkan bukan “versi baru” dari sejarah yang disusun ulang demi kenyamanan politik. Bukan narasi bersih yang menghapus bagian-bagian yang dianggap mengganggu. Yang kita butuhkan adalah ruang bagi kebenaran yang beragam, bagi kisah yang selama ini terabaikan, dan bagi rakyat yang selama ini hanya menjadi objek wacana untuk mulai berbicara atas nama dirinya sendiri.

Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang menyimpan sejarah yang rapi dan indah. Tetapi bangsa yang berani menulis sejarahnya sendiri—dengan kesediaan untuk jujur, keberanian untuk menghadapi kenyataan, dan komitmen untuk tidak mengulang kesalahan masa lalu.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera

    Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Gorontalo Utara, nulondalo.com – Seorang warga Gorontalo Utara, Sandy Syafrudin Nina, menyuarakan keprihatinan serius terhadap aktivitas truk pengangkut kayu bermuatan berlebih (overload) yang kerap melintas di wilayah Tomilito. Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Dalam kesaksiannya, Sandy mengungkapkan bahwa siang hari, jalanan dari arah Tomilito dipenuhi […]

  • Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    Dalam Bayang-bayang Raden Ayu: Kartini Sebagai Kesedaran Kolektif Emansipasi Perempuan

    • calendar_month Jumat, 28 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat yang sering dikenal dengan nama RA Kartini sebagai salah satu perempuan Indonesia asal jepara-jawa tengah, pejuang emansipasi perempuan itu selalu diperingati setiap tahun, tepatnya pada tanggal 21 April, tahun kelahirannya 1879. Dalam catatan sejarah, kartini menggores tinta perlawanan atas penjajahan yang dialami bangsa Indonesia. Doktrin Perjuangannya mengangkat martabat perempuan sebagai […]

  • Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

    Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 327
    • 0Komentar

    Orang NU punya prinsip sederhana: kalau niatnya ibadah, jangan dibuat ribet. Sayangnya, urusan haji yang jelas-jelas ibadah sering kali justru paling ribet urusannya. Maka ketika Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) lahir, umat pun berharap: “Alhamdulillah, semoga haji tak lagi seperti antre sembako menjelang lebaran.” Tapi apa daya, harapan sering kalah cepat dari realitas birokrasi. Sebagai […]

  • Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Agenda SANTRIPRENEUR TALKS dengan Tema “Peradaban santri: Berpendidian, Berdaya, Berkhidmat Membangun Negeri” merupakan kegiatan kolaboratif antara Dewan Pengurus Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA) dan LPDP PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) yang diselenggarakan di Aula Masjid Istiqlal pada Jum’at, 14 Maret 2025. Kegiatan SANTRIPRENEUR TALKS Dibuka secara resmi oleh ketua umum DPP GENINUSA, Zikal […]

  • Jurnal Langit

    Jurnal Langit

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan satu pertanyaan akuntansi yang tidak pernah masuk dalam PSAK mana pun: apakah amal kita sudah dijurnal dengan benar di “Sistem Informasi Akuntansi Langit”? Kita ini rajin mencatat pengeluaran buka puasa, cicilan THR, bahkan diskon sirup tiga botol seratus ribu. Tapi soal sedekah, ikhlas, dan sabar, sering kali pencatatannya masih single entry—masuk ke […]

  • Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS Play Button

    Gus Aniq Kisahkan Sejarah Lahirnya NU yang Terinspirasi dari Kisah Nabi Musa AS

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 248
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di hadapan para Alumni PMII se-Gorontalo, Wakapolres Pohuwato, dan kader organisasi lainnya, KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq membuka ceramahnya dengan satu kisah yang jarang disinggung dalam diskursus keislaman kontemporer, yakni lahirnya Nahdlatul Ulama yang terinspirasi melalui kisah Nabi Musa AS. Kisah ini, menurutnya, bukan dongeng spiritual belaka, melainkan fondasi filosofis […]

expand_less