Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 183
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(catatan reflektif untuk gagasan penulisan ulang sejarah Indonesia)

Sejarah, pada hakikatnya, tidak pernah beku. Ia adalah aliran waktu yang terus bergerak, terus diinterpretasi ulang. Gagasan untuk menulis ulang sejarah, dalam kondisi tertentu, bukanlah hal yang tabu—bahkan sebaliknya, bisa menjadi langkah penting untuk menyembuhkan luka kolektif, membetulkan narasi yang timpang, dan membuka ruang bagi suara-suara yang selama ini dibungkam. Menulis ulang sejarah dalam konteks ini menjadi sangat penting.

Karena itu, penulisan ulang ini harus menyertakan partisipasi publik yang luas. Bukan sekadar memberi ruang untuk bicara, tapi juga menyiapkan ruang untuk bersilang pendapat. Koreksi antar data, ketegangan tafsir, dan debat terbuka yang konstruktif bukan hambatan, melainkan fondasi. Sebab sejarah yang ditulis bersama tidak lahir dari keheningan, tetapi dari pertemuan tafsir yang bersedia saling menguji. Dari situlah spektrum sejarah yang luas dan inklusif bisa tumbuh—tidak seragam, tapi saling menyilang dan saling jaga.

Tapi proyek penulisan ulang sejarah ini akan problematik apabila dijalankan bukan dalam semangat keterbukaan, melainkan sebagai cara baru untuk menutup fakta, menghapus tragedi, dan menggantikan kebenaran dengan narasi kuasa. Ketika Fadly Zon, sebagai Menteri Kebudayaan, meragukan “fakta” pemerkosaan massal pada Mei 1998, kecurigaan publik pun muncul. Jangan-jangan keinginan untuk menulis ulang sejarah Indonesia untuk kepentingan politis, bukan kepentingan sejarah itu sendiri.

Dengan begitu, sejarah akan kehilangan peran sentrumnya sebagai cermin kebenaran. Ia berubah menjadi tembok: membatasi, menyaring, dan menolak yang tak sesuai dengan arah kekuasaan. Dalam logika semacam itu, yang dibungkam bukan hanya suara penyintas, tetapi juga kemungkinan bagi bangsa ini untuk menyusun ulang ingatannya secara jujur.

Fanon, dalam The Wretched of the Earth, mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar kronik. Ia adalah alat penjajahan—atau pembebasan. Sejarah bisa menciptakan rakyat yang tunduk atau membangkitkan kesadaran yang melawan. Maka, ketika sebuah otoritas mencoba menyusun ulang sejarah tanpa partisipasi korban, tanpa mendengar kesaksian yang getir, tanpa pengakuan akan luka, maka ia sedang menghapus eksistensi manusia itu sendiri.

Di sinilah bahayanya.

Sejarah, jika disulap menjadi versi steril dan menyenangkan bagi penguasa, akan menjelma menjadi mitos. Ia akan mengubah pelaku kekerasan menjadi pahlawan, dan para penyintas menjadi gangguan naratif. Padahal sejarah bukan tentang kenyamanan, melainkan tentang keberanian menghadapi fakta, sepahit apapun itu. Jika luka itu disangkal, bukan hanya para korban yang dihianati—tetapi bangsa ini sedang menegasikan dirinya sendiri.

Penulisan ulang sejarah baru akan bermakna jika dilakukan dengan prinsip keberpihakan pada kejujuran. Ia harus membuka ruang arsip dan kesaksian. Harus menyediakan wadah bagi mereka yang selama ini tidak dianggap “layak dicatat.” Ia bukan tentang versi tunggal, tetapi tentang percakapan antar-versi—tentang mempersilakan NU menulis sejarah NU, Muhammadiyah menulis sejarah Muhammadiyah, perempuan menulis sejarah tubuh mereka, Tionghoa menulis tentang diskriminasi yang mereka hadapi, dan penyintas 98 menulis tentang malam-malam ketika hidup mereka tak lagi sama.

Semua itu ditulis bukan untuk saling mengalahkan narasi. Tetapi untuk mengakui bahwa sejarah Indonesia bukan satu sungai, tapi delta—bercabang, berliku, dan menyatu di hilir yang disebut bangsa.

Fanon menyebut bahwa untuk membebaskan diri, rakyat harus merebut kembali sejarahnya. “The colonized subject is always presumed to have no history; liberation begins when they begin to narrate.”

Kita sudah merdeka dari kolonialisme formal. Tapi kita belum sepenuhnya merdeka dari kolonialisme narasi—dari sejarah yang ditulis dari atas menara kekuasaan. Maka, menulis ulang sejarah bisa menjadi momentum pembebasan, asal bukan untuk membungkam, melainkan untuk menyuarakan.

Yang kita butuhkan bukan “versi baru” dari sejarah yang disusun ulang demi kenyamanan politik. Bukan narasi bersih yang menghapus bagian-bagian yang dianggap mengganggu. Yang kita butuhkan adalah ruang bagi kebenaran yang beragam, bagi kisah yang selama ini terabaikan, dan bagi rakyat yang selama ini hanya menjadi objek wacana untuk mulai berbicara atas nama dirinya sendiri.

Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang menyimpan sejarah yang rapi dan indah. Tetapi bangsa yang berani menulis sejarahnya sendiri—dengan kesediaan untuk jujur, keberanian untuk menghadapi kenyataan, dan komitmen untuk tidak mengulang kesalahan masa lalu.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasal Penghasutan KUHP Digugat ke MK, Pemohon Nilai Ancam Kebebasan Berpendapat

    Pasal Penghasutan KUHP Digugat ke MK, Pemohon Nilai Ancam Kebebasan Berpendapat

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 113
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dua warga negara, Matluk dan Chambali Safaludin, mengajukan uji materiil terhadap Pasal 246 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ke Mahkamah Konstitusi (MK). Permohonan tersebut diperiksa dalam Sidang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 202/PUU-XXIV/2026 yang digelar pada Kamis (18/6/2026). Sidang yang dipimpin Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi, Saldi Isra, membahas […]

  • Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu […]

  • IGIC 2026 Dimulai, Menag Dorong Imam Masjid Berperan dalam Diplomasi Keagamaan Global

    IGIC 2026 Dimulai, Menag Dorong Imam Masjid Berperan dalam Diplomasi Keagamaan Global

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 189
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Pengurus Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (PP IPIM), Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa imam masjid memiliki peran strategis sebagai agen transformasi masyarakat, bukan sekadar memimpin salat. Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) dan MTQ Imam Masjid Provinsi […]

  • Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik. Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal […]

  • Ramadhan Momentum Menakar Diri

    Ramadhan Momentum Menakar Diri

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Pelan namun pasti, Ramadhan terus merangkak. Ada hari yang telah terlewati. Setuju atau tidak, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menakar dan mengukur diri. Pasti ada yang bertanya-tanya, mengapa harus Ramadhan ? Bukankah ada bulan lainnya. Muharram misalnya ? Alasannya sederhana. Meski baru beberapa hari menjalani kawah candradimuka Ramadhan, kuantitas dan kualitas ibadah kita  telah terukur […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi

    Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah SMP karena Faktor Ekonomi Keluarga di Provinsi Gorontalo”. Kegiatan ini berlangsung di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, senin (27 Oktober 2025). Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris […]

expand_less