Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bukan Sekadar Tradisi, Ini Makna Al-Barzanji Menurut KH. Abdul Rasyid Kamaru

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 631
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Qadi Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Abdul Rasyid Kamaru, menyampaikan pengajian mendalam mengenai kitab Al-Barzanji dalam rangkaian majelis rutin di Masjid Agung Baiturrahim, Kota Gorontalo. Pada pertemuan ketujuh ini, beliau masih memfokuskan pembahasan pada bagian mukadimah (ibtidā’ul imlā’) sebelum memasuki bab inti.

Dalam pengajiannya, KH. Abdul Rasyid menegaskan bahwa Kitab Al-Barzanji karya Sayyid Ja’far al-Barzanji (1128 H/1716 M), bukan sekadar kitab puji-pujian atau bacaan seremonial, melainkan karya ilmiah-keagamaan yang disusun dengan kehati-hatian tinggi untuk menjaga keotentikan sejarah hidup Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam.

Kitab ini ditulis oleh Syekh Ja‘far bin Hasan Al-Barzanji dengan metodologi yang matang agar riwayat Nabi tidak tercampur dengan kekeliruan, baik yang disengaja maupun tidak.

Menurut beliau, pemilihan kata ibtidā’ dalam mukadimah Al-Barzanji bukan tanpa maksud. Istilah tersebut mencerminkan sikap tawadhu‘, kehati-hatian, dan permohonan ridha Allah sebelum menuliskan sejarah Rasulullah. Hal ini menunjukkan adab keilmuan yang tinggi, sebagaimana tradisi ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah dalam menjaga kesucian ilmu.

Riwayat Nabi Harus Dijaga dari Kekeliruan

Kiai Rasyid mengibaratkan penulisan riwayat Rasulullah seperti penyusunan daftar riwayat hidup (DRH) dalam dunia modern. Jika riwayat hidup manusia biasa saja harus ditulis secara akurat, maka penulisan sejarah Nabi jauh lebih wajib dijaga dari kesalahan.

Karena itu, para ulama salaf selalu menutup karya-karya mereka dengan permohonan ampun kepada Allah, sebagai bentuk kerendahan hati jika terdapat kekhilafan dalam penulisan. Sikap ini, menurutnya, adalah bagian dari akhlak ilmiah yang mulai jarang diperhatikan di masa kini.

Beliau juga menegaskan bahwa Rasulullah tidak boleh diukur dengan standar manusia biasa. Walaupun Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia, beliau bukan manusia pada umumnya. Seluruh akhlak, tutur kata, perilaku, hingga cara hidup beliau merupakan teladan sempurna (uswatun ḥasanah), sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:

“Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Bahasa, Adab, dan Akhlak dalam Tradisi Keilmuan

Dalam kesempatan tersebut, KH. Abdul Rasyid juga mengulas keindahan bahasa Arab serta kaidah nahwu dan balaghah yang terkandung dalam Al-Barzanji. Ia mengingatkan bahwa pemahaman teks keagamaan tidak boleh serampangan, sebab satu kata dalam bahasa Arab bisa memiliki banyak makna.

Beliau mengaitkan hal ini dengan tradisi orang tua Gorontalo tempo dulu yang sangat menjaga adab dalam menyebut nama Rasulullah, termasuk kehati-hatian menuliskan lafaz-lafaz suci. Menurutnya, tradisi tersebut bukan budaya kosong, melainkan warisan akhlak Islam yang mencerminkan kecintaan mendalam kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam.

Al-Barzanji sebagai Media Dakwah dan Penyejuk Hati

Kiai Abdul Rasyid menegaskan bahwa pembacaan Al-Barzanji tidak boleh dipahami sebagai ritual tanpa makna. Kitab ini adalah media dakwah, sarana menumbuhkan cinta kepada Rasulullah, serta penyejuk hati umat. Kisah-kisah Nabi yang disampaikan dengan jujur dan penuh ketulusan mampu melembutkan hati dan memperbaiki akhlak.

Ia juga mengingatkan bahwa para ulama menulis manaqib dan sirah Nabi bukan untuk kepentingan duniawi, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah dan syafaat Rasulullah.

Menutup pengajiannya, KH. Abdul Rasyid Kamaru mengajak jamaah untuk terus menjaga tradisi keilmuan, adab, dan akhlak dalam mempelajari sejarah Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam. Ia berharap, waktu yang tersisa sebelum pergantian tahun dapat dimanfaatkan untuk muhasabah diri dan memperdalam ilmu agama.

“Jika dalam penyampaian ini terdapat kekurangan, mohon kiranya ditutupi dan dimaafkan,” tutup beliau diakhir pengajian menjelang Salat Jumat pada 2021‘.

Pengajian ini menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya dengan shalawat, tetapi juga dengan menjaga keaslian ajaran, adab, dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

KLIK DUKUNGAN TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

Embed HTML not available.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • (Korupsi) Bisnis Paling Rasional

    (Korupsi) Bisnis Paling Rasional

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Di negeri ini, senjata api diawasi ketat. Mau punya pistol saja izinnya panjang, bisa lebih panjang dari antrean sembako. Tapi laporan keuangan? Bebas berkeliaran, rapi, wangi, dan sering dielu-elukan, padahal isinya bisa bikin rakyat miskin seumur hidup. Gus Dur mungkin akan bilang, “Senjata itu membunuh orang. Laporan keuangan bisa membunuh akal sehat.” Korupsi pejabat publik […]

  • Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Jika Anda periang, suka bercanda, atau kadang sedikit usil, maka kisah Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah menarik untuk anda. Dalam keseharian komunitas Muslim di Madinah pada masa Nabi SAW, ada sahabat yang serius, ada sahabat yang tekun beribadah, dan ada pula yang suka usil. Nu’aiman termasuk yang terakhir: tingkahnya jenaka, sering bercanda, dan mampu membuat […]

  • Merayakan Kemerdekaan dalam Bayang Disparitas

    Merayakan Kemerdekaan dalam Bayang Disparitas

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Setiap Agustus, kita seperti punya kebiasaan yang sama: mengecat ulang kampung, memasang bendera, menyalakan lagu-lagu perjuangan, lalu sibuk mengingatkan satu sama lain bahwa kita pernah merdeka. Anak-anak berlarian mengejar hadiah lomba, ibu-ibu menyiapkan acara kampung, pemuda sibuk memasang umbul-umbul, dan para pejabat bergantian bicara tentang persatuan. Semuanya terasa akrab karena memang sudah kita lakukan bertahun-tahun. […]

  • Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Dr. Mismubarak, S.Hd., M.Ag., CLQ., MMG
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Misi utama katauhidan islam yang di ajarkan Nabi Muhammad adalah misi kemanusiaan yang luhur yaitu budi pekerti, moral dan akhlakul karimah. Dengan prinsip kitab suci, maka lahirlah konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Qs. Al-Anbiyah 107). Melalui ayat ini, Tuhan menggambarkan kepribadian Muhammad untuk ditegaskan kepada setiap generasi bahwa Risalah kenabian adalah rahmat yang akan membawa […]

  • Trump Umumkan Tiga Jet Tempur AS Hilang Akibat Tembakan Ramah di Kuwait

    Trump Umumkan Tiga Jet Tempur AS Hilang Akibat Tembakan Ramah di Kuwait

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 224
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan hilangnya tiga jet tempur F-15E milik Angkatan Udara AS akibat insiden tembakan ramah (friendly fire) dari sistem pertahanan udara Kuwait dalam operasi militer terbaru di Timur Tengah. Insiden tersebut terjadi dalam rangkaian misi yang disebut sebagai Operasi Epic Fury, yakni operasi pendukung Israel dalam eskalasi konflik melawan […]

  • Karya “Benang Pluralisme” Perupa Gorontalo Bikin Sinta Nuriyah Terpukau di Temu Nasional GUSDURian

    Karya “Benang Pluralisme” Perupa Gorontalo Bikin Sinta Nuriyah Terpukau di Temu Nasional GUSDURian

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 207
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Senyuman bahagia tak terbendung dari wajah Sinta Nuriyah Wahid saat berada di atas panggung megah Temu Nasional GUSDURian 2022 di Surabaya. Momen tersebut terjadi ketika ia menerima sebuah karya seni dari perupa Gorontalo, Akbar Hidayat. Karya berjudul “Benang Pluralisme” itu dibuat dari susunan benang dan paku yang membentuk wajah Abdurrahman Wahid atau Gus […]

expand_less