Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bukan Sekadar Tradisi, Ini Makna Al-Barzanji Menurut KH. Abdul Rasyid Kamaru

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 545
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Qadi Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Abdul Rasyid Kamaru, menyampaikan pengajian mendalam mengenai kitab Al-Barzanji dalam rangkaian majelis rutin di Masjid Agung Baiturrahim, Kota Gorontalo. Pada pertemuan ketujuh ini, beliau masih memfokuskan pembahasan pada bagian mukadimah (ibtidā’ul imlā’) sebelum memasuki bab inti.

Dalam pengajiannya, KH. Abdul Rasyid menegaskan bahwa Kitab Al-Barzanji karya Sayyid Ja’far al-Barzanji (1128 H/1716 M), bukan sekadar kitab puji-pujian atau bacaan seremonial, melainkan karya ilmiah-keagamaan yang disusun dengan kehati-hatian tinggi untuk menjaga keotentikan sejarah hidup Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam.

Kitab ini ditulis oleh Syekh Ja‘far bin Hasan Al-Barzanji dengan metodologi yang matang agar riwayat Nabi tidak tercampur dengan kekeliruan, baik yang disengaja maupun tidak.

Menurut beliau, pemilihan kata ibtidā’ dalam mukadimah Al-Barzanji bukan tanpa maksud. Istilah tersebut mencerminkan sikap tawadhu‘, kehati-hatian, dan permohonan ridha Allah sebelum menuliskan sejarah Rasulullah. Hal ini menunjukkan adab keilmuan yang tinggi, sebagaimana tradisi ulama Ahlussunnah wal Jama‘ah dalam menjaga kesucian ilmu.

Riwayat Nabi Harus Dijaga dari Kekeliruan

Kiai Rasyid mengibaratkan penulisan riwayat Rasulullah seperti penyusunan daftar riwayat hidup (DRH) dalam dunia modern. Jika riwayat hidup manusia biasa saja harus ditulis secara akurat, maka penulisan sejarah Nabi jauh lebih wajib dijaga dari kesalahan.

Karena itu, para ulama salaf selalu menutup karya-karya mereka dengan permohonan ampun kepada Allah, sebagai bentuk kerendahan hati jika terdapat kekhilafan dalam penulisan. Sikap ini, menurutnya, adalah bagian dari akhlak ilmiah yang mulai jarang diperhatikan di masa kini.

Beliau juga menegaskan bahwa Rasulullah tidak boleh diukur dengan standar manusia biasa. Walaupun Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia, beliau bukan manusia pada umumnya. Seluruh akhlak, tutur kata, perilaku, hingga cara hidup beliau merupakan teladan sempurna (uswatun ḥasanah), sebagaimana ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:

“Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Bahasa, Adab, dan Akhlak dalam Tradisi Keilmuan

Dalam kesempatan tersebut, KH. Abdul Rasyid juga mengulas keindahan bahasa Arab serta kaidah nahwu dan balaghah yang terkandung dalam Al-Barzanji. Ia mengingatkan bahwa pemahaman teks keagamaan tidak boleh serampangan, sebab satu kata dalam bahasa Arab bisa memiliki banyak makna.

Beliau mengaitkan hal ini dengan tradisi orang tua Gorontalo tempo dulu yang sangat menjaga adab dalam menyebut nama Rasulullah, termasuk kehati-hatian menuliskan lafaz-lafaz suci. Menurutnya, tradisi tersebut bukan budaya kosong, melainkan warisan akhlak Islam yang mencerminkan kecintaan mendalam kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam.

Al-Barzanji sebagai Media Dakwah dan Penyejuk Hati

Kiai Abdul Rasyid menegaskan bahwa pembacaan Al-Barzanji tidak boleh dipahami sebagai ritual tanpa makna. Kitab ini adalah media dakwah, sarana menumbuhkan cinta kepada Rasulullah, serta penyejuk hati umat. Kisah-kisah Nabi yang disampaikan dengan jujur dan penuh ketulusan mampu melembutkan hati dan memperbaiki akhlak.

Ia juga mengingatkan bahwa para ulama menulis manaqib dan sirah Nabi bukan untuk kepentingan duniawi, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah dan syafaat Rasulullah.

Menutup pengajiannya, KH. Abdul Rasyid Kamaru mengajak jamaah untuk terus menjaga tradisi keilmuan, adab, dan akhlak dalam mempelajari sejarah Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wasallam. Ia berharap, waktu yang tersisa sebelum pergantian tahun dapat dimanfaatkan untuk muhasabah diri dan memperdalam ilmu agama.

“Jika dalam penyampaian ini terdapat kekurangan, mohon kiranya ditutupi dan dimaafkan,” tutup beliau diakhir pengajian menjelang Salat Jumat pada 2021‘.

Pengajian ini menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya dengan shalawat, tetapi juga dengan menjaga keaslian ajaran, adab, dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.

KLIK DUKUNGAN TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

Embed HTML not available.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu photo_camera 5

    Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 280
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dakwah merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, yaitu Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan dakwah tidak boleh berhenti hanya pada ruang-ruang tertentu, tetapi harus terus berkembang hingga mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dakwah juga perlu dilakukan dengan […]

  • Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)

    Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Edisi 17 Ramadhan ini, saya buat sedikit berbeda dan keluar dari tema besar. Ini karena 17 Ramadhan sering dianggap sebagai malam turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali, sekaligus menjadi penanda bahwa malam Lailatul Qadr akan segera datang pada malam-malam ganjil berikutnya di bulan Ramadhan. Turunnya Lailatul Qadr sering dikaitkan dengan kisah seorang tokoh dari zaman Bani […]

  • Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 695
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya sorotan terhadap kekayaan Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga, sebuah unggahan dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Kabupaten Pohuwato, KH. Abdullah Aniq Nawawi atau yang akrab disapa Gus Aniq, turut menarik perhatian publik. Unggahan yang dibuat pada 12 Maret 2026 tersebut dinilai relevan dengan maraknya perbincangan mengenai gaya hidup dan kekayaan sejumlah […]

  • Pribumisasi: Metode Berpikir Gus Dur

    Pribumisasi: Metode Berpikir Gus Dur

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Catatan dari Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Penulis Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Bagaimana memahami Gus Dur jika kita tak pernah bertemu dengannya? Bagaimana generasi sekarang dapat mendaurulang cara berpikirnya? Warisan Gus Dur sesungguhnya bukan sekedar gagasan, humor, atau praktik terbaik, melainkan metode berpikir yang bisa diterapkan hingga […]

  • Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 1.606
    • 1Komentar

    Alasan mengapa sadaka ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat Gorontalo beberapa hari ini sederhana: memberatkan. Perbincangan ini juga bukan barang baru. Sebelumnya, jika jeli membaca timeline Facebook, Anda akan menemukan berbagai postingan yang membeberkan keluh-kesah warga soal praktik ini. Masa iya misalnya, kita yang sedang berduka, lalu harus memberi sejumlah uang pada para elit, pembesar, pemangku […]

  • Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran Play Button

    Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Ingatan manusia sering kali tertuju pada hal-hal yang dianggap penting. Jika pernyataan ini benar, maka muncul pertanyaan: apakah kecenderungan ini termasuk dalam ranah emosi atau hal yang bersifat rasional? Banyak yang berpendapat bahwa ini lebih berkaitan dengan emosi. Sebab, ketika seseorang lebih mudah mengingat hal-hal yang bermakna secara pribadi, emosional, atau bernilai subjektif, itu menunjukkan […]

expand_less