Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tubuh sebagai Ruang Iman, Pengetahuan dan Penyembuhan

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 1 Des 2025
  • visibility 209
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Membaca Ketegangan Agama, Kesehatan Modern, Dan Pengobatan Tradisional dengan perspektif Moderasi Beragama.

Mungkinkah gagasan moderasi beragama digunakan untuk membaca ilmu kesehatan? Saya menjawabnya, mungkin. Dengan segala kehati-hatian agar tidak terkesan memaksakan.

Ruang perjumpaan agama dan ilmu kesehatan adalah tubuh. Sebagaimana ilmu kesahatan, agama juga berbicara tentang tubuh. Bagaimana tubuh dirawat, disembuhkan, dilindungi, bahkan dimuliakan. Tubuh bukan sekadar ciptaan biologis; ia adalah amanah, anugerah, dan ruang tempat manusia mengalami spritualitas dan prophan melalui rasa sakit dan rasa sembuh.

Ilmu kesehatan modern sering memandang tubuh sebagai mekanisme. Agama melihat tubuh sebagai ciptaan. Pengobatan lokal melihat tubuh sebagai bagian dari alam. Masing-masing benar, tetapi masing-masing juga hanya sepotong. Ketika satu perspektif merasa paling benar, di situlah masalahnya dimulai. Pengobatan lokal disebut klenik. Ritual dianggap bid’ah. Doa diperlakukan seolah tidak punya fungsi apa pun selain spiritual belaka. Padahal manusia tidak hidup di dalam pembagian-pembagian itu; manusia hidup di tengah hubungan-hubungan yang saling mempengaruhi.

Dalam tradisi keagamaan, penyembuhan tidak pernah hanya urusan obat. Ia terkait dengan niat, dengan keberkahan, dengan pasrah, dengan hubungan seseorang dengan dirinya dan Tuhannya. Karena itu ada doa penyembuhan, air berkah, sedekah sebagai penolak bala, bahkan anjuran menjaga makanan sebagai bentuk ibadah. Sementara sains modern menggenapi semua itu dengan alat diagnosis, obat, teknologi, dan metode yang ketat. Dua dunia ini sesungguhnya tidak perlu saling meniadakan; keduanya bekerja untuk tujuan yang sama: menjaga hidup.

Masalah muncul ketika agama modern dan kesehatan modern membangun aliansi diam-diam dalam satu hal yang sama: kebutuhan akan kepastian mutlak. Apa yang tidak bisa diukur dianggap salah. Apa yang tidak masuk tafsir resmi dianggap sesat. Dan di antara keduanya, pengalaman manusia terjepit: ia tidak diberi ruang untuk percaya bahwa ada kesembuhan yang bekerja melalui dimensi batin, atau melalui relasi sosial, atau melalui ritual yang diwariskan turun-temurun.

Padahal banyak ritual keagamaan—yang oleh sebagian orang dianggap bid’ah—secara sosial justru berfungsi sebagai distribusi gizi. Ada makanan yang dibagikan, sedekah yang diberikan, dan kebersamaan yang dibangun. Mungkin orang tidak menyebutnya program kesehatan masyarakat, tetapi ia bekerja seperti itu: memperkuat imun melalui makanan, dukungan sosial, dan rasa aman emosional.

Temuan riset Masaru Emoto tentang air, sebagai unsur terbesar tubuh manusia, dapat merespons kata-kata, niat, dan doa menjadi relevan dalam konteks ini. Terlepas dari kelemahan metodologinya, gagasan Emoto menyinggung sesuatu yang secara spiritual telah lama dipahami masyarakat lokak: bahwa doa tidak hanya naik ke langit, tetapi juga kembali ke tubuh. Kata-kata yang baik menenangkan hati, dan hati yang tenang mengubah cara tubuh bekerja. Dan, air bisa menjadi mediumnya.

Inilah ruang di mana moderasi beragama menjadi jembatan. Bukan jembatan kompromi, tetapi jembatan pengertian. Moderasi membantu melihat bahwa kesehatan bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam darah dan organ, tetapi juga apa yang terjadi di dalam makna. Bahwa obat bekerja, tetapi begitu juga harapan. Bahwa antibiotik penting, tetapi begitu juga kehadiran orang yang dicintai. Bahwa rumah sakit diperlukan, tetapi begitu juga komunitas yang saling menjaga.

Dalam bahasa agama, tubuh dipahami sebagai tanda. Dalam bahasa sains, tubuh dipahami sebagai sistem. Dalam bahasa tradisi, tubuh dipahami sebagai bagian dari lingkungan. Moderasi beragama mengajak semua bahasa ini berbicara tanpa saling menenggelamkan. Ia tidak membubarkan perbedaan, tetapi memberi masing-masing ruang untuk duduk, mendengarkan, dan memberi makna.

Kesehatan modern dapat menyelamatkan nyawa, tetapi agama menyimpan cara untuk menjaga harapan. Pengobatan lokal menyimpan ingatan ekologis yang tidak dimiliki laboratorium, sementara sains menyimpan ketepatan yang tidak dimiliki tradisi. Ketika semuanya dipertemukan, tubuh manusia bukan lagi objek perebutan kebenaran, tetapi ruang perjumpaan iman, pengetahuan, dan pengalaman.

Mungkin, itulah inti paling sederhana dari moderasi beragama dalam dunia kesehatan: bahwa tidak ada satu jalan tunggal menuju penyembuhan. Penyembuhan tumbuh dari banyak sumber—dari obat, dari doa, dari perhatian, dari tradisi, dari teknologi, dari alam. Dari apa yang bisa diukur, dan dari apa yang hanya bisa dirasakan.

Moderasi beragama mengembalikan kita pada kerendahan hati di hadapan tubuh. Bahwa tubuh bukan milik sains, bukan milik agama, bukan milik tradisi. Tubuh adalah milik kehidupan itu sendiri.

(Penulis adalah Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie
  • Editor: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akuntansi Langit

    Akuntansi Langit

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan dua jenis laporan keuangan: laporan keuangan dunia dan laporan keuangan langit. Yang pertama disusun dengan standar PSAK, direviu auditor, lalu dipresentasikan dengan PowerPoint penuh grafik naik-turun. Yang kedua? Disusun tanpa Excel, tanpa auditor eksternal, tapi konon auditornya langsung Malaikat. Dan yang paling menegangkan, opini yang keluar bukan WTP, melainkan “diterima” atau “perlu […]

  • Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik. Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal […]

  • Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

    Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, kita melihat berbagai flyer, poster dan baliho, bertengger di sudut-sudut kota. Papan-papan iklan itu menampilkan wajah dari para elit yang tersenyum sumringah, mengenakan setelan jas atau baju koko, sarung, bahkan lengkap latar belakang partai politik yang memayungi mereka. Di tengah papan-papan iklan itu, tertulis ucapan menyambut Ramadan. Namun setelah dipikir-pikir, […]

  • KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    KH Abdul Ghofir Nawawi Wafat, Warga NU Gorontalo Berduka

    • calendar_month Senin, 20 Mei 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 177
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Warga Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo berduka atas wafatnya KH Abdul Ghofir Nawawi, Rais Syuriyah PWNU Gorontalo. Kabar wafatnya almarhum beredar luas di sejumlah grup WhatsApp dan pesan singkat yang diterima redaksi nulondalo online. Dalam pesan tersebut disampaikan bahwa KH Abdul Ghofir Nawawi mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.25 […]

  • Silaturahmi Kapolres Maros dan Kajari Maros Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum di Kabupaten Maros

    Silaturahmi Kapolres Maros dan Kajari Maros Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Komitmen memperkuat sinergitas antar Aparat Penegak Hukum (APH) terus dibangun di Kabupaten Maros. Melalui silaturahmi yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Polres Maros dan Kejaksaan Negeri Maros menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan koordinasi dalam mewujudkan penegakan hukum yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan terbaik bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui […]

  • Membangun Dunia Baru: Prospek Dunia Pasca-Amerika di Tengah Kebangkitan China

    Membangun Dunia Baru: Prospek Dunia Pasca-Amerika di Tengah Kebangkitan China

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Suryadi R
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Dunia di abad ke-21 bergerak kian cepat daripada kemampuan manusia untuk merenungkannya. Inovasi teknologi, kecerdasan buatan, dan konektivitas global menciptakan kesan bahwa umat manusia telah melampaui batas-batas lama sejarah. Tapi di balik kemajuan itu, dunia justru menampakkan kerapuhannya dengan telanjang bulat bahwa perang kembali menjadi bahasa politik, krisis kemanusiaan diperlakukan sebagai gangguan statistik, dan lembaga […]

expand_less