Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Budak Ambisi

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 381
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada begitu banyak manusia meniti karier, namun tanpa sadar, mereka bukan lagi tuan atas dirinya, melainkan budak dari ambisi yang mereka pelihara. Khalid Bin Salih Al-Munif pernah mengingatkan, manusia bisa tenggelam dalam pekerjaan, entah mengumpulkan ilmu atau harta, tetapi tetap saja terjerat sebagai tawanan dari ambisi mereka sendiri.

Ambisi yang tak terkendali ibarat api. Ia bisa menghangatkan, tetapi juga bisa membakar habis jiwa dan raga. Lantas mengapa manusia begitu mudah diperbudak oleh ambisi?

Abraham Maslow lewat piramida kebutuhannya menjelaskan kebutuhan manusia dalam lima tingkatan, sebuah tangga yang berproses dari sejak lahir hingga akhir hayat. Langkah pertama dimulai dari makan, minum, dan tempat tinggal. Tanpa itu, tubuh tak akan bertahan, jiwa pun tak bisa tumbuh.

Begitu perut terisi dan tubuh terlindungi, manusia mencari rasa aman. Ia ingin perlindungan dari ancaman, kestabilan dalam hidup, dan kepastian bahwa hari esok tidak akan merenggut segalanya.

Namun, rasa aman saja tidak cukup. Hati manusia merindukan kehangatan. Maka ia mencari cinta, rasa memiliki, dan hubungan. Di sinilah manusia belajar bahwa hidup bukan sekadar bertahan, melainkan berbagi.

Setelah itu, muncul dorongan untuk diakui. Manusia ingin status, prestasi, dan pengakuan. Ia bekerja keras, berjuang, dan berharap dunia menoleh padanya. Di tahap ini, ambisi sering tumbuh subur, kadang menjadi sayap, kadang pula menjadi rantai.

Dan akhirnya, manusia mendaki ke puncak aktualisasi diri. Di sini, ia tak lagi sekadar ingin dipuji, melainkan ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ia mencipta, berkarya, dan mencari makna hidup yang lebih dalam.

Sumur Tanpa Dasar

Ambisi sering bersemayam di dua puncak terakhir, yaitu penghargaan dan aktualisasi diri. Di sana manusia terdorong untuk membuktikan diri, meraih prestasi, dan mencari makna hidup. Namun, dorongan itu bisa berubah menjadi rantai yang menjerat ketika keseimbangan hilang karena status dan pencapaian lebih diprioritaskan, sementara kebutuhan sosial dan rasa aman terabaikan.

Ambisi yang berlebihan adalah sumur tanpa dasar. Meski sudah tercapai, ia bisa melahirkan dahaga baru yang tak pernah selesai. Identitas pun melekat pada ambisi. Manusia merasa dirinya hanya bernilai jika ambisinya terwujud. Maka, hidup pun berubah menjadi lingkaran tak berujung, di mana kepuasan selalu berlari lebih cepat dari langkah manusia.

Maslow menekankan bahwa puncak piramida bukan sekadar materi atau status, melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ambisi yang diarahkan ke sana adalah cahaya yang membebaskan. Tetapi bila berhenti pada pujian dan pengakuan, ia bisa menjelma menjadi bayangan yang memperbudak.

Pujian, kata orang, tak ubahnya parfum; harum di hidung, tetapi menjadi racun bila diminum. Ambisi yang berlebihan tidak mendatangkan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan batin. Kehidupan yang sehat hanya mungkin terjadi bila pikiran, hati, dan tangan berjalan seimbang.

Khalid Bin Salih menegaskan, bila tangan produktif dan pikiran kuat tetapi hati lemah, maka kesengsaraanlah yang lahir. Karena itu, Islam mengajarkan sifat kanaah dan syukur sebagai rem yang menenangkan.

Keduanya menjaga agar ambisi tidak menjelma menjadi bara yang membakar, sebab manusia lebih suka berselisih daripada berkompromi. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Namun kompromi hanya mungkin lahir bila seseorang mampu mengenali dan mengendalikan ambisinya, bukan semata untuk dirinya sendiri, melainkan juga demi orang lain.

Hikmah Ramadan

Dalam Ramadan, manusia diajak untuk kembali ke akar kebutuhan paling mendasar; menahan lapar dan dahaga. Dari sana, ia belajar bahwa fisiologis hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Puasa mengajarkan rasa aman dalam perlindungan Allah, menumbuhkan cinta dan kebersamaan lewat berbagi dan silaturahmi, serta menundukkan ambisi akan penghargaan duniawi dengan mengingat bahwa pengakuan sejati datang dari Sang Pencipta.

Sebagai bulan pendidikan  (syahru tarbiyah), Ramadan mengarahkan manusia pada aktualisasi diri yang sejati, bukan sekadar pencapaian materi atau status, melainkan menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih dekat dengan makna hidup.

Ramadan adalah pengingat bahwa ambisi hanya akan membebaskan bila ia ditundukkan oleh iman. Bulan ini mengajarkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri.

  • Penulis: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PB PMII Laporkan Kasus Perusakan Sekretariat ke Polisi

    PB PMII Laporkan Kasus Perusakan Sekretariat ke Polisi

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 207
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) resmi membawa kasus perusakan sekretariat organisasi ke ranah hukum. Laporan tersebut diajukan ke Polres Metro Jakarta Pusat setelah insiden yang terjadi pada Selasa malam, 10 Februari 2026. Laporan itu disampaikan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PB PMII dan teregister dengan Nomor LP/B/446/II/2026/SPKT/Polres Metro Jakpus/Polda Metro Jaya […]

  • GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    GP Ansor Sulsel Tegaskan Satu Komando Pimpinan Pusat Soal Kasus Kuota Haji

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 258
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Makassar – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan resmi merilis pernyataan sikap terkait polemik dugaan penyimpangan kuota haji yang menyeret nama mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut). Ketua GP Ansor Sulsel, Muhammad Ridwan Yusuf, menegaskan bahwa seluruh kader di daerah tetap berada dalam satu komando yang solid. Ia menyatakan bahwa GP […]

  • UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    UNUSIA Bersama PPATK Tolak Tindak Pidana Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menggelar kegiatan Diskusi Kontemporer GEMA APUPPT (Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme) pada Kamis, 6 November 2025, di Kampus UNUSIA Jakarta. Acara ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan dan lembaga negara untuk memperkuat literasi keuangan dan menolak segala […]

  • Wagub Gorontalo Terima Audiensi Mata Garuda, Dorong Alumni LPDP Berkontribusi untuk Daerah

    Wagub Gorontalo Terima Audiensi Mata Garuda, Dorong Alumni LPDP Berkontribusi untuk Daerah

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 227
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menerima audiensi Organisasi Mata Garuda Gorontalo, komunitas penerima dan alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), di Rumah Dinas Wakil Gubernur, Selasa (7/4/2026). Pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus perkenalan resmi organisasi, serta penegasan komitmen alumni LPDP untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Salah satu pengurus Mata […]

  • Harga Jagung dan Gabah Mahal, Petani: Kami Bangga Dengan Gubernur Gusnar Ismail

    Harga Jagung dan Gabah Mahal, Petani: Kami Bangga Dengan Gubernur Gusnar Ismail

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Petani Gorontalo menyambut baik dan gembira dengan kebijakan baru yang memberikan kepastian harga hasil panen untuk para petani.  Salah satu warga yang hadir pada kegiatan Panen Raya Padi di Desa Suka Makmur Utara, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo bernama Rajak, mengungkapkan rasa bangganya terhadap kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail. “Kami sangat bangga dengan kepemimpinan Pak Gusnar yang […]

  • Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan. Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan. Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh […]

expand_less