Yang Luput dari yang Luput: Respon Atas Tulisan Arief Abas
- account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 182
- print Cetak

Ilustrasi yang menggambarkan ketegangan antara praktik sadaka dalam adat Gorontalo dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat, menampilkan beban warga, stratifikasi penerima, serta upaya mencari keseimbangan antara penghormatan tradisi, nilai agama, dan keadilan sosial melalui ruang musyawarah bersama. (Sumber Gambar AI. Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam tulisan arif yang sangat panjang yang berjudul “Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan Soal Sadakah”, ada 3 hal yang dianggap Arief luput dalam beberapa tulisan Momy Hunowu, dan saya sebelumnya sebagai berikut:
Dalam perdebatan soal sadaka beberapa hari belakangan, Arief menggarisbawahi beberapa hal yang barangkali luput dibaca. Meskipun orang-orang bilang “seikhlasnya”, praktik ini terlembaga, beratasnamakan adat dan Islam Gorontalo. Memori kolektif orang-orang Gorontalo mengingatnya dalam-dalam. Tapi, ada konsekuensi: ia mengabaikan kondisi sosial-ekonomi warga yang rentan.
Kedua, praktik ini berpotensi membelah hubungan sosial antarwarga sebab, tak ada ukuran dari kata “seikhlasnya”. Jika si A tidak mengundang pembesar karena tidak mampu, maka ia berpotensi dilabeli “hajatannya tidak sesuai dengan adat” atau “sudah semiskin apa sampai dia tidak bisa mengeluarkan uang?”.
Ketiga, praktik ini menciptakan heroisme di kalangan pembesar dan pemangku adat karena secara eksplisit sadaka adalah bentuk penghormatan kepada mereka. Sehingga, jika tidak dilakukan, maka akan kembali pada premis “tidak sesuai dengan adat” atau “tidak berkah”.
Di sisi yang lain, problem sadaka yang memberatkan ini tidak bukan barang baru. Setiap tahun ada keluhan. Intinya sama: memberatkan. Tapi apakah merekonfigurasi adat akan menyelesaikan persoalan? Arief pikir tidak juga. Tidak sesederhana itu.
Tulisan Arief Abas memberikan kritik sosiologis yang tajam terhadap “sisi gelap” institusionalisasi adat, namun sebagai sebuah argumen diskursif, terdapat beberapa celah metodologis dan perspektif yang bisa dikritisi guna memperkaya debat mengenai sadakah di Gorontalo. Adalah beberapa poin kritik terhadap kelemahan atau keterbatasan argumen dalam tulisan Arief. Tulisan Arief Abas kuat dalam menangkap keresahan sosial, namun lemah dalam memberikan landasan empiris yang sistematis dan cenderung terjebak pada dikotomi biner antara “adat” dan “kondisi ekonomi” tanpa menawarkan sintesis solusi yang konkret.
- Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Saat ini belum ada komentar