Breaking News
dark_mode
Trending Tags

PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
  • visibility 323
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Kisruh di PBNU bukan hal mengejutkan. NU sejak dulu hidup dengan perdebatan. Organisasi sebesar ini wajar kalau penuh pandangan, ego, dan aspirasi. Tapi kisruh kali ini berbeda: ia terjadi di era digital—era ketika gesekan kecil langsung berubah jadi tontonan nasional sebelum ada kesempatan duduk bareng.

NU selama ini dikenal sebagai rumah yang sangat terbuka. Bahtsul masail, obrolan selepas ngaji, dan diskusi panjang di teras pesantren membentuk kultur dialog yang jarang dimiliki organisasi lain. Meski pesantren berpusat pada otoritas kiai, tradisi intelektualnya justru membesarkan santri yang kritis dan tidak takut bertanya. Demokrasi Indonesia hanya memperkuat watak itu.

Tapi justru sikap NU yang terlalu terbuka dan akomodatif inilah yang menciptakan masalah baru: NU sering kebobolan kepentingan pragmatisme dunia politik dan korporasi. Karena pintu selalu terbuka, siapa pun bisa masuk membawa agenda masing-masing. Ironisnya, banyak dari aktor politik itu adalah orang NU sendiri—yang paham jalur kultural NU, paham dinamika internalnya, dan paham bagaimana memanfaatkan keterbukaan organisasi.

Di era digital, situasinya makin runyam. Pertarungan wacana tidak lagi terjadi lewat musyawarah yang penuh adab, tetapi lewat potongan video, komentar cepat, dan opini bersayap. Media sosial tidak mengikuti akhlak pesantren; ia mengikuti algoritma. Dan algoritma hanya peduli satu hal: apa yang paling memicu emosi.

Di sinilah kita melihat problem akademisnya: NU sedang menghadapi mismatch antara kultur komunikasi tradisional dan realitas media digital. Struktur organisasi yang lambat tidak mampu mengimbangi kecepatan narasi digital yang liar. Akhirnya, konflik internal tidak hanya membesar, tetapi juga kehilangan kontrol naratif.

NU sebenarnya punya mekanisme penyelesaian konflik yang sangat baik: Islah. Sejak dulu Islah menjadi jalan damai, jalan tengah, jalan merawat silaturahmi meski berbeda pandangan. Tetapi problemnya, dalam praktik organisasi, Islah sering dijadikan “jalan terakhir”—dipakai ketika konflik sudah telanjur membara dan publik sudah geger.

Padahal dalam kondisi hari ini, Islah harus dipikirkan ulang. Islah tidak boleh hanya menjadi upaya pemadam kebakaran. Ia perlu diperkuat secara kelembagaan, dibuat mengikat, memiliki langkah-langkah yang jelas, dan berjalan di awal proses konflik, bukan di ujung. Jika tidak, energi Islah hanya akan terpakai untuk menutup konflik, bukan mencegahnya.

Dengan kata lain: Islah harus naik kelas—dari tradisi moral menjadi instrumen organisasi. NU butuh mekanisme resolusi konflik yang lebih terukur, yang dapat bekerja di dua dunia: dunia pesantren yang penuh adab, dan dunia digital yang penuh percepatan. Keterbukaan NU harus dibarengi proteksi yang wajar. Kalau tidak, pintu yang selalu terbuka itu akan terus dimasuki kepentingan pragmatis, yang pada gilirannya memicu kisruh berulang.

Karena itu, PBNU perlu membangun sistem yang memastikan konflik tidak dibiarkan liar, apalagi dimanfaatkan oleh kelompok yang sekadar ingin menunggangi nama NU. Mekanisme ini harus mampu melibatkan ulama sepuh, kader muda, dan aktor digital NU—semua yang hari ini punya pengaruh naratif.

NU tidak perlu bebas dari konflik—itu utopia. Tapi NU harus mampu menjadikan konflik sebagai energi, bukan beban. Dan di sinilah Islah yang diperkuat bisa menjadi kunci: bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi mencegah masuknya virus baru.

Pada akhirnya, seperti obrolan warung kopi bilang: “NU itu besar karena terbuka. Tapi kalau terlalu terbuka, yang masuk kadang bukan maslahat—melainkan masalah.”

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie
  • Editor: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Menjelang pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Tani Merdeka Indonesia di Jakarta, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Gorontalo menyatakan dukungan penuh dan memastikan kehadiran dalam agenda nasional tersebut. RAPIMNAS Tani Merdeka Indonesia akan digelar di Gedung Kementerian, Jakarta, pada 27–28 Agustus 2025. Forum ini menjadi ajang strategis konsolidasi nasional untuk memperkuat peran petani dalam […]

  • Yudi Latif Soroti Sengkarut Pendidikan Nasional: Negara Dinilai Kehilangan Arah Besar Pendidikan

    Yudi Latif Soroti Sengkarut Pendidikan Nasional: Negara Dinilai Kehilangan Arah Besar Pendidikan

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 222
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Cendekiawan dan budayawan Yudi Latif menyoroti berbagai persoalan mendasar dalam tata kelola pendidikan nasional yang dinilainya semakin kehilangan arah peradaban. Dalam tulisannya berjudul “Sengkarut Dunia Pendidikan” yang dimuat di Kompas pada Kamis (21/5/2026), Yudi menilai problem utama pendidikan Indonesia terletak pada kesenjangan antara apa yang disuarakan pemerintah dan kebijakan yang benar-benar dipilih. Menurutnya, […]

  • Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 409
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Amerika Serikat hingga kini belum menandatangani United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), meskipun konvensi tersebut telah menjadi rezim hukum internasional utama yang mengatur tata kelola laut global. Keputusan ini didorong oleh sejumlah pertimbangan strategis, ekonomi, dan politik luar negeri. Salah satu alasan utama penolakan Amerika Serikat terhadap UNCLOS adalah […]

  • Kiai Ahmad Masduki Ajak Nahdliyin Teladani Rasulullah dan Hormati Hasil Muktamar NU ke-35

    Kiai Ahmad Masduki Ajak Nahdliyin Teladani Rasulullah dan Hormati Hasil Muktamar NU ke-35

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    KABUPATEN GORONTALO, NULONDALO.COM – Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Gorontalo, KH Ahmad Masduki Al-Jabalani, mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam seluruh aspek kehidupan serta menghormati hasil keputusan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Ajakan tersebut disampaikan Kiai Ahmad Masduki saat memberikan sambutan dalam kegiatan Ta’dim Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan […]

  • Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle -
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Kasus tragis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada penghujung Januari 2026, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena, adalah tamparan keras bagi nurani bangsa. Membaca berita tentang seorang anak kecil yang memilih “pergi” selamanya hanya karena selembar buku dan sebatang pena […]

  • Aliansi Gerakan Masyarakat Merdeka Desak Pertamina Tindak Tegas Dugaan Pelanggaran Harga Solar di SPBU Mananggu

    Aliansi Gerakan Masyarakat Merdeka Desak Pertamina Tindak Tegas Dugaan Pelanggaran Harga Solar di SPBU Mananggu

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Ikbal
    • visibility 468
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Aliansi Gerakan Masyarakat Merdeka (AGMM) Provinsi Gorontalo menggelar audiensi dengan pihak Pertamina Patra Niaga Gorontalo dan perwakilan PT Arba selaku pengelola SPBU Mananggu pada Kamis (11/06/2026) di kantor Pertamina Patra Niaga Kota Gorontalo. Audiensi tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat terkait dugaan penjualan BBM jenis solar subsidi yang melebihi Harga Eceran Tertinggi […]

expand_less