Audit Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
- visibility 171
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu menghadirkan satu momentum yang jarang disadari para akuntan: musim “audit langit”. Jika di dunia kita mengenal audit laporan keuangan, audit kinerja, bahkan audit investigatif, maka di bulan suci ini umat Islam sedang menjalani audit paling canggih—tanpa surat tugas, tanpa fee, tanpa negosiasi opini. Auditor-Nya Maha Mengetahui, sistem-Nya real time, dan standar-Nya melampaui IFRS.
Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, hidup ini memang bukan sekadar soal untung-rugi duniawi. Ada dimensi barakah yang tak bisa dicatat dalam jurnal umum. Kita boleh saja menyusun laporan laba rugi dengan margin dua digit, tetapi kalau hati minus empati, maka neraca spiritual kita bisa defisit. Ramadhan hadir sebagai periode interim report: Q1 menuju akhirat.
Humor ala Gus Dur sering mengingatkan kita bahwa agama jangan dibawa tegang. Beliau pernah menyindir, “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela itu manusia.” Dalam konteks akuntansi, mungkin bisa ditambahkan: Tuhan juga tidak perlu diaudit, justru kitalah yang sedang diaudit. Dan uniknya, audit ini tidak bisa direkayasa dengan creative accounting.
Sebagai akuntan, saya sering membayangkan bagaimana jika konsep audit syariah ala dunia diterapkan secara metaforis dalam Ramadhan. Misalnya, ada uji kepatuhan terhadap PSAK—Pernyataan Standar Akhlak dan Kesalehan. Apakah kita patuh pada standar kejujuran? Apakah pengakuan (recognition) amal sudah sesuai substansi? Atau kita masih sibuk mengakui sedekah di media sosial sebelum diakui dalam catatan malaikat?
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar