Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

  • account_circle  Fadli Bina
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 251
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan.

Meski kita tidak benar-benar lapar, kita sering membeli makanan hanya karena melihat ada makanan yang lagi viral di media sosial dan kemudian makanan bisa kita buang jika tidak merasa cocok dengan lidah kita.

Kebiasaan mengkonsumsi makanan hanya karena mengikuti sesuatu yang lagi trend. Namun yang tak disadari justeru akan berdampak pada lingkungan. Karena sejatinya, apa yang kita konsumsi meninggalkan sampah sisa makanan.

Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) menemukan, bahwa Makanan yang tidak benar-benar dihabiskan ternyata bisa berdampak pada pemanasan global. Sisa makanan yang kita buang bisa menghasilkan karbon dioksida (CO2) melalui Gas Metana. Hingga tahun 2024 berdasarkan laporan UNEP, bahwa 8-10% sampah sisa makanan berkontribusi pada perubahan iklim.

Di indonesia sendiri berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2024, timbunan sampah nasional diestimasikan mencapai 33,79 hingga 34,26 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, sampah didominasi oleh sampah rumah tangga (50,8%-56,84%) dengan komposisi yang menyumbang sampah terbesar adalah sisa makanan, yakni sekitar 38,94% hingga 39,36%. Besarnya angka tersebut membuat Indonesia saat ini masuk dalam lima besar negara penyumbang sampah sisa makanan terbesar di dunia.

Berdasarkan besarnya angka sampah sisa makanan, hal ini tentu kontradiktif dengan teori dari seorang ekonom, yakni Robert Thomas Malthus (1766-1836). Ia menyebut bahwa pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur (geometric : 1,2,4,8,…..) sedangkan produksi pangan mengikuti deret hitung (aritmatik : 1,2,3,4,…).

Melalui teorinya, Malthus memproyeksikan masa depan, bahwa manusia akan mengalami ancaman kekurangan bahan pasok makanan karena pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali (over population). Namun nyatanya, sampai saat ini makanan menjadi penyumbang sampah terbesar di dunia maupun di indonesia.

Sampah Makanan dari Keinginan, bukan Kebutuhan

Budaya konsumtif berperan besar dalam meningkatnya sampah sisa makanan. Karena terpengaruh oleh over saturasi (pengaruh) media.  Kita menjadi terbiasa mengeluarkan uang, bahkan dalam hal-hal yang kita tidak butuhkan.

Makanan di era ini hanya dilihat sebagai komoditas semata. Akan tetapi, makanan tidak lagi dilihat sebagai pemberian alam yang punya perjalanan panjang hingga sampai di meja makan. Hal ini sesuai dengan gagasan Jean Baudrillard seorang filsuf dari Perancis, yang mengatakan bahwa konsumsi di era sekarang hanya sebagai bentuk legitimasi sosial.

Dalam masyarakat kontemporer menurut Jean Baudrillard, yang sering disajikan oleh gambar, tanda dan kode senantiasa menjadi indikator penentu realitas kita. Nilai guna dan nilai tukar suatu makanan tersubordinasi menjadi nilai simbolik. Alhasil, masyarakat tertarik pada suatu makanan dikarenakan ada nilai simbolik yang telah tertanam dalam suatu makanan. Dengan begitu, menunjukan status sosial seseorang.

Trend yang hari ini misalnya, seseorang yang tanpa membeli dan menikmati Mie Gacoan belum sempurna hidupnya. Trend membeli dan menikmati Mie Gacoan bukanlah kebutuhan, melainkan ada nilai simbolik dalam mengkonsumsi dan tak ingin ketinggalan zaman.

Dalam konteks ini, setiap individu kehilangan makna pada makanan. Ia  harus kembali dalam kesadaran diri, bahwa makanan harus dipandang sebagai komoditas yang punya perjalanan panjang hingga sampai di meja makan kita.

Makanan harus dilihat sebagai pemberian alam dan tidak begitu saja bisa dikonsumsi oleh kita. Makanan punya proses berlapis dan panjang. Dimulai melihat tanda alam dalam menanam, petani membajak lahan, memupuk, dan memanen yang tidak membutuhkan waktu sedikit.

Budaya Konsumtif tanpa kita sadari sedang mengabaikan rantai pasok sebuah makanan, dan tanpa kita sadari pula kita sedang merusak bumi dari sampah sisa makanan kita sendiri. Tidak sulit merubah mindset ini, bukan?

Penulis : Penggerak Gusdurian, Alumni Kelas Menulis Gusdurian, tinggal di Kelurahan Tenilo Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo

  • Penulis:  Fadli Bina
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui narasumbernya, Abdul Rahmat, mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Gorontalo agar mulai memanfaatkan skema crowdfunding sebagai alternatif pendanaan di luar sektor perbankan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan crowdfunding yang menjadi salah satu rangkaian Pekan Ekonomi Syariah (PES) yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, […]

  • IGIC 2026: Faried F. Saenong Sebut Imam Masjid Harus Menjadi Diplomat Peradaban

    IGIC 2026: Faried F. Saenong Sebut Imam Masjid Harus Menjadi Diplomat Peradaban

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    TANGERANG, NULONDALO.COM – Ketua Panitia International Grand Imam Conference (IGIC) 2026, Faried F. Saenong, Ph.D., menegaskan bahwa imam masjid di era global tidak lagi cukup menjalankan fungsi sebagai pemimpin ritual keagamaan. Menurutnya, imam juga harus tampil sebagai diplomat peradaban yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan berbagai tantangan kemanusiaan kontemporer. Pernyataan tersebut disampaikan Faried saat membuka […]

  • Waspada Normalisasi Kekerasan

    Waspada Normalisasi Kekerasan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini, konten media sosial dipenuhi fenomena yang menggelisahkan: domestifikasi kekerasan. Kekerasan, khususnya dalam rumah tangga, dikemas menjadi hiburan yang mudah dikonsumsi publik. Menariknya, latar rumah tangga dalam video-video ini sangat beragam, mulai dari keluarga mapan, keluarga miskin (terlihat dari kondisi rumah), hingga keluarga yang berpenampilan seperti tokoh agama. Meski biasanya korban kekerasan adalah suami, […]

  • Firman Soebagyo Usulkan Konsep Baru Swasembada Pangan, Anggaran Cetak Sawah Dialihkan untuk Beli Lahan Produktif

    Firman Soebagyo Usulkan Konsep Baru Swasembada Pangan, Anggaran Cetak Sawah Dialihkan untuk Beli Lahan Produktif

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mengusulkan konsep baru dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional. Usulan tersebut muncul setelah ia mencermati pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, terkait masifnya alih fungsi lahan sawah di Indonesia. Firman menyoroti data Kementerian ATR/BPN yang mencatat alih fungsi lahan pertanian mencapai […]

  • PCNU Kota Gorontalo Dukung Penuh Pekan Ekonomi Syariah 2025

    PCNU Kota Gorontalo Dukung Penuh Pekan Ekonomi Syariah 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Gorontalo menyatakan dukungan penuh terhadap Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025 yang diselenggarakan oleh PWNU Gorontalo pada 25–28 Oktober 2025 di halaman Kantor PWNU Gorontalo. Agenda ini bertujuan mempercepat penguatan ekosistem ekonomi umat melalui pengembangan UMKM halal, literasi keuangan syariah, serta kolaborasi pesantrenpreneur. “NU berkomitmen mendorong kemandirian ekonomi jamaah. Pekan […]

  • Kronologi Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Jadi Tersangka Kasus Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar

    Kronologi Mantan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin Jadi Tersangka Kasus Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 312
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bahtiar Baharuddin resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan bibit nanas senilai Rp60 miliar oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Penetapan tersangka tersebut diumumkan langsung oleh Kepala Kejati Sulsel, Didik Farkhan Alisyahdi, di kantor Kejati Sulsel di Makassar pada Senin malam, 9 Maret 2026. Berikut kronologi pengungkapan kasus tersebut: Proyek Pengadaan Bibit […]

expand_less