Breaking News
light_mode
Trending Tags

Covid-19 dan “Matinya” Agama

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
  • visibility 35
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini.

Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini.

Sebut saja physical distancing (jaga jarak), hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan, sering mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun, penyemprotan disinfektan di ruang-ruang publik bahkan hampir disetiap rumah masyarakat.

Namun upaya itu di anggap belum berhasil ditandai oleh makin meningkatnya angka oraang yang terinfeksi virus corona. Pemerintah tidak berhenti sampai disitu, keseriusan pemerintah kemudian disusul dengan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Hampir semua daerah mengajukan PSBB, namun pola ini dianggap masih belum mampu menekan angka kenaikan orang-orang terinfeksi virus. Pada akhirnya, beberapa wilayah, oleh pemerintah diberlakukan “new normal” atau hidup berdamai dengan corona.

Pertanyaannya bagaimana dengan agama? Bukankah agama sebagai penolong bagi pemeluknya? Ataukah agama tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai pengobat dikala umatnya ditimpa bencana? Ataukah agama telah mati?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dibenak pikiran saya ditengah pandemi saat ini. Saya sedang tidak berprasangka “buruk” terhadap agama. Karena saya percaya agama sebagai “way of life” yang tidak kosong secara dogmatis.

Agama bisa menjadi penghibur manusia dikala ia ditimpa bencana. Tapi saat ini, ditengah serangan virus corona, agama “kehilangan” fungsinya dalam kehidupan umat manusia.

Ada dua definsi agama menurut para ahli yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Menurut Milton Yinger (1957) agama sebagai pengetahuan kultural tentang sang supernatural yang digunakan oleh manusia untuk menghadapi masalah paling penting tentang keberadaan manusia di muka bumi ini” (Religion isthe cultural knowledge of the supernatural that people use to cope with the ultimate problem of human existence).

Selain itu definisi agama yang dikemukakan oleh Wallace (1966) bahwa “Agama adalah satu perangkat ritual, dirasionalisasikan oleh mitos-mitos, untuk menggerakkan kekuatan supernatural dengan tujuan untuk memperoleh, atau mencegah, dan mengubah keadaan manusia dan alam” (Religion is a set of rituals, rationalized by myth, which mobilizes supernatural powers for the purpose of achieving or preventing transformations of state in man and nature).

Kalau merujuk pada dua definisi agama di atas, seharusnya agama menjadi kekuatan pembebas dan penyelamat atas pemeluknya ketika ditimpa musibah. Agama dapat mencegah dan melindungi  pemeluknya  dari mara bahaya. Tapi, sepertinya benar kata Karl Marx (O’Dea 1966) bahwa agama begitu penting dalam kehidupan manusia, mengandung aspirasi-aspirasi manusia yang paling dalam (sublime), sumber dari semua budaya tinggi, bahkan candu bagi manusia.

Agama seyogyanya membawa ketenangan bathin dalam segala situasi dan kondisi. Karena agama memiliki lima prinsip jaminan keselamatan, dalam agama Islam disebut “maqasid syariah”. Lima prinsip ini antara lain keselamatan beragama (hifdzun din), keselamatan jiwa (hifdzun nafs), keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzun nasb), keselamatan akal (hifdzul ‘aql), dan keselamatan harta (hifdzul mal).

Lima prinsip ini adalah hal yang mendasar dalam beragama. Karena agama menjamin keselamatan (salvation) bagi setiap pemeluknya, dan semua agama mengajarkan prinsip-prinsip tersebut.

Jadi, ketika orang-orang berpendapat dan menyalahkan hingga menganggap bahwa bencana merupakan azab, saya kira ini terlalu berlebihan.  Justeru menurut saya disinilah tampaknya “agama” seakan mati dan tak berdaya ketika berhadapan dengan virus corona.

Agama tidak  lagi memberi “kehidupan”, justeru sebaliknya agama telah membawa ‘kematian’ dengan menyalahkan orang-orang yang membawa virus.

Nalar akan “kematian” agama oleh Mike Featherstone (1990) dalam bukunya “Global Culture: Nationalism, Globalization, and Modernity” memberikan tiga tanda sebagai pergeseran budaya dalam masyarakat diantaranya dominasi nilai barang, nilai estetika barang, hingga lemahnya referensi tradisional. Jika kita pahami dengan baik tiga tanda tersebut, maka pemahaman agamaisasi bencana dapat dilihat dalam tiga tanda serupa.

Dominasi agama dalam kehidupan umat manusia ditandai dengan menguatnya simbolisasi dan formalisasi agama dalam kehidupan masyarakat beragama. Tapi harus dicatat bahwa segala hal yang berlebihan akan senantiasa membawa kemudhorotan. Sehingga nalar beragama yang terlalu mendominasi dalam masyarakat menjadikan semua bencana yang menimpa masyarakat selalu ditafsirkan sebagai ketentuan Tuhan, berupa ujian hingga azab.

Pada akhirnya nalar semacam ini menyebabkan “kemalasan” dalam berijtihad guna memberikan solusi agar agama benar-benar menjalankan fungsinya. Bukan malah agama menjadi “tameng” untuk melawan dan berserah diri pada wabah yang mematikan. Sehingga muncul kalimat “Jangan takut kepada corona, tapi takutlah pada Tuhan”.

Disinilah bentuk“kepasrahan” seorang hamba dan sebagai tanda kematian agama. Seharunya agama harus mampu mengisi kekosongan “immun” spiritual dengan menjadikan agama hidup dan menghidupkan sisi kemanusiaan.(***)

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Kunjungan Safari Idulfitri 1447 Hijriah yang dilakukan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, disambut hangat oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, bersama Wakil Bupati Tonny S. Junus di Rumah Dinas Bupati, Selasa (24/03/2026). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini menjadi bagian dari tradisi tahunan pasca-Idulfitri yang tidak hanya dimaknai sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai […]

  • Wagub Tegaskan PLTMH Poduwoma Tetap Dituntaskan Meski Ditolak Warga

    Wagub Tegaskan PLTMH Poduwoma Tetap Dituntaskan Meski Ditolak Warga

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 112
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menegaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Desa Poduwoma, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, tetap akan dituntaskan meski sempat mendapat penolakan dari sejumlah warga. Penegasan tersebut disampaikan usai Idah meninjau langsung lokasi proyek PLTMH Poduwoma pada Minggu (8/2/2025). Kunjungan itu turut didampingi Kepala Dinas […]

  • Mulawarman Hannase: Perang AS–Israel–Iran Tak Akan Selesaikan Konflik, Diplomasi Harus Diperkuat

    Mulawarman Hannase: Perang AS–Israel–Iran Tak Akan Selesaikan Konflik, Diplomasi Harus Diperkuat

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    nulondalo.com  – Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memasuki pekan kedua setelah serangan udara besar-besaran pada akhir Februari telah memperluas ketegangan regional dan menimbulkan dampak serius bagi stabilitas kawasan hingga ekonomi dunia. Sejumlah pemimpin dunia mulai menyerukan penyelesaian politik guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. […]

  • Tragedi Laut di Pangkep: Kapal Tujuan Pulau Sarappo Terbalik, Tiga Nyawa Melayang

    Tragedi Laut di Pangkep: Kapal Tujuan Pulau Sarappo Terbalik, Tiga Nyawa Melayang

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Pangkep — Kapal kayu KLM Fitri Jaya dilaporkan tenggelam setelah terbalik di tengah perjalanan menuju Pulau Sarappo, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Sabtu (27/12/2025). Insiden kecelakaan laut tersebut menewaskan tiga orang penumpang. Peristiwa tragis ini diduga kuat dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang melanda perairan setempat. Kapal […]

  • Ma’ruf Amin Pilih Istirahat, PKB Serahkan Dewan Syura ke KH Manarul Hidayah

    Ma’ruf Amin Pilih Istirahat, PKB Serahkan Dewan Syura ke KH Manarul Hidayah

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menunjuk KH Manarul Hidayah sebagai pelaksana tugas (Plt) Ketua Dewan Syura PKB, menggantikan KH Ma’ruf Amin yang memutuskan mundur dari jabatannya. “Ketua Dewan Syura PKB sekarang dijabat oleh pelaksana tugas. Pelaksana tugasnya adalah K.H. Manarul Hidayah,” ujar […]

  • Ini Profil Anwar Sanjaya yang Disorot MUI: Dari Lulusan Tata Boga hingga Tersandung Konten Erotis di Siaran Ramadan

    Ini Profil Anwar Sanjaya yang Disorot MUI: Dari Lulusan Tata Boga hingga Tersandung Konten Erotis di Siaran Ramadan

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 321
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Anwar Sanjaya mendadak menjadi sorotan tajam publik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi merekomendasikan sanksi atas penampilannya dalam program televisi selama Ramadan 1447 Hijriah. Sosok yang selama ini dikenal sebagai presenter jenaka dan menghibur itu kini justru menuai kritik karena dinilai melampaui batas etika penyiaran. Dalam laporan hasil pemantauan siaran Ramadan […]

expand_less