Breaking News
light_mode
Trending Tags

Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Jumat, 24 Jun 2022
  • visibility 63
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rumah besar berpenghuni banyak orang dengan banyak kamar besar serta halaman rumah yang luas, namun tak satupun orang-orang itu terlihat keluar dari rumahnya. Lampu halaman tak menyala, para tetangga tidak pernah disapa, bahkan para tetangga saja tidak mengenal setiap orang yang menghuni rumah besar itu. Karena mereka tak pernah terlihat bekerja menata lingkungan sekitar rumah. Mungkin rumah itu sengaja ditutup agar orang lain tidak bisa masuk dan mengambil alih rumah itu dengan semua aset yang dimiliki.

Kira-kira itu paragraf di atas bisa digunakan untuk menggambarkan realitas atau kondisi Nahdlatul Ulama Gorontalo saat ini sejak dari masa periode awal pelantikan hingga akan berakhir masa kepengurusan. Barangkali kalimat demi kalimat di atas dianggap sebagai suara penghakiman (voice of judgment)  terhadap perilaku psikologis para penghuni rumah yang dianggap  kurang  peka terhadap relasi tentang (neighbor), atau ini hanya pandangan spekulatif yang bernada sinis (voice of cynicism) yang berasal dari kelompok atau person yang kurang beroleh kesempatan untuk mengurus rumah besar itu. Tapi juga boleh jadi, kalimat di atas sebagai reaksi ketakutan (voice of fear) atas peran dari poros lama yang masih ingin kembali untuk memiliki rumah tersebut.

Keberadaan Nahdlatul Ulama Gorontalo yang cenderung stagnan dan tidak menjalankan fungsinya sebagai organisasi berbasis keumatan menjadi tren menarik untuk dikaji guna  membongkar struktur penyebab yang melatarinya.

Jika dirunut ke Surat Keputusan (SK) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU) sebenarnya masa kerja kepengurusan sudah berakhir, namun dikarenakan oleh sesuatu dan lain hal, maka masa kerja Pengurus Wilayah NU Gorontalo diperpanjang sampai pada batas waktu yang “disepakati”.  Artinya orang-orang masih menunggu kapan perhelatan konferensi wilayah digelar. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, tapi bagi orang lain perpanjangan “SK” boleh jadi merupakan masa yang mendebarkan, karena bisa jadi moment-moment yang tidak disenangi akan muncul sebagai reaksi atas kebijakan PBNU dalam memperpanjang masa kepengurusan. Pertanyaannya sederhana adalah apa gerangan yang terjadi?.

Organisasi Nahdlatul Ulama Gorontalo memang tidak pernah luput dari pengamatan baik secara internal (warga Nahdliyin) maupun secara eksternal (orang-orang di luar NU) itu sendiri. Pasalanya keberadaan NU secara organisatoris dinilai kurang memberi efek sosiologis terhadap keberadaan warga Nahdliyin  terutama mereka yang ada di perkampungan. Kegiatan-kegiatan keumatan di tingkat grassroots nyaris tidak pernah ada. Akibatnya tidak sedikit warga nahdliyin pindah (nyebrang) ke organisasi lainnya yang secara ideologis dan platform sangat bertentangan dengan NU. Namun disadari atau tidak bahwa NU mengalami distorsi halaqah dan harakah yang menjadi platform NU itu sendiri.  Pertanyaannya apa yang terjadi pula sehingga hal itu terjadi?.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, “mungkin” ada beberapa kondisi yang menjadi struktur penyebab ialah vakumnya organisasi Nahdlatul Ulama Gorontalo. Misalnya organisasi NU belum berperan dengan maksimal, pengurus tidak berperan atau bekerja dengan baik, faktor leadership yang belum bekerja dengan baik, cenderung membiarkan polemik di kalangan pengurus, hadirnya person-person yang pragmatis, para pengurus yang kurang dipercaya, tokoh-tokoh NU kurang memberi perhatian, para pengurus belum hadir sepenuhnya dalam berorganisasi, NU menjadi ruang kepentingan  (transaksional), dan warga nahdliyin kurang peduli. Ini mungkin beberapa yang menjadi faktor penyebabnya, boleh jadi masih banyak lagi faktor lainnya.

Beberapa struktur penyebab di atas mungkin bisa dipahami. Karena boleh jadi ada hal-hal yang melatarinya. Misalnya di tingkat pengurus berfikir bahwa persoalan NU adalah persoalan bersama, pengurusnya sibuk dengan aktivitas lainnya, pemimpinnya (leadership) saling lempar tanggung jawab, melihat polemik adalah sesuatu yang wajar dalam berorganisasi, para pengurus dapat apa dari organisasi, tokoh-tokoh NU tidak mau ambil resiko, tidak ingin keluar dari zona nyaman. Warga Nahdliyin ikut apa kata Tokoh NU. Beberapa hal yang muncul itu bisa disebut sebagai mental model yang bisa kita tangkap.

Dalam menyikapi persoalan NU di Gorontalo memang bukan hal yang mudah, ia sangat kompleks apalagi dominasi struktural sangat kuat. Kemudian melahirkan watak elitisme yang pragmatis. Belum lagi beberapa variabel penting lainnya yang sangat mendukung ritme organisasi yang belum sepenuhnya dipahami oleh orang-orang yang terlibat didalamnya.

Kesadaran tentang pentingnya “perjumpaan” untuk membicarakan arah gerak NU ke depan, muncullah fenomena “19 resolusi” yang lahir dari kelompok yang ingin mengelusidasi pelbagai distorsi perjuangan organisasi, termasuk polemik yang terjadi di dalamnya. Dua hal yang penting dari 19 resolusi itu adalah menyangkut eksistensi syuriah yang selama ini dinilai tidak berfungsi (distorsi otoritas), yang kedua dan ini menarik yaitu soal kriteria yang harus dimiliki oleh seorang calon ketua tanfidziah yaitu “santri”.

Syuriah sejatinya dalam organisasi NU adalah “Sang Pemilik NU” selama ini seakan hanya jadi “penambal” struktur NU, dan kurang “dihormati”. Padahal syuriyah adalah yang punya otoritas penuh dalam NU. Sementara tanfidziah hanyalah kelompok orang yang menjalankan tugas dari si pemilik organisasi. Dalam 19 resolusi tersebut, poin penting adalah penegakan supremasi syuriah sesuai aturan dalam organisasi NU (PO).

Hal kedua adalah kriteria “santri”, kriteria ini sangat beralasan karena secara historis NU itu sejatinya dinahkodai oleh santri. Adapun yang dimaksud santri bukanlah berarti mereka yang pernah mondok di pesantren melainkan mereka yang memiliki akhlak santri, atau yang punya kesadaran secara lahir dan batin serta ikhlas dalam beramal. Kira-kira dua itu yang jadi krusial yang lahir dari 19 resolusi alim ulama atau dengan bahasa keren nya kyai kultur.

Ternyata kesadaran untuk menata masa depan NU tidak berhenti disitu. Ada momen penting yang lahir di bulan Juni yaitu temu 100 tokoh NU yang digelar di asrama haji Gorontalo. Pertemuan ini sangat menarik perhatian banyak kalangan warga Nahdliyin, bahkan orang-orang di luar NU juga ikut berkomentar terhadap pertemuan 100 tokoh ini. salah satu komentar yaitu “moment ini sebagai kebangkitan NU Gorontalo”.

Dalam perlintasan sejarah NU di Gorontalo yang terbentuk pada tahun tahun 1938 oleh Habib Salim bin Jindan (1906-1969) setelah ia berkunjung (berdakwah) di Ternate, Manado, Minahasa dan Tondano, belum pernah terjadi temu 100 tokoh NU. Fenomena ini menarik untuk diperbincangkan di warung kopi.

Temu 100 tokoh NU yang katanya dihadiri 150 orang tokoh dan warga Nahdliyin mampu menggetarkan singgasana surgawi kewalian NU Gorontalo. Ini merupakan bisikan dari para wali Gorontalo. Artinya kehadiran dan kebangkitan ini direstui oleh para wali NU Gorontalo. Sebab tidak mudah menghadirkan tokoh-tokoh NU dalam setiap momen kegiatan NU di Gorontalo. pertanyaannya ini pertanda apa?

Pertemuan 100 tokoh NU ternyata dianggap berlebihan oleh kelompok yang merasa terusik kekuasaannya (voice of fear). Hal itu sah-sah saja, namun pertemuan 100 tokoh NU harus dilihat sebagai bentuk dari rasa tanggung jawab (responsibility) dan perhatian dari para tokoh NU yang didalamnya kyai kultur. Semua warga NU harus open mindopen heart dan open will jika ingin NU Gorontalo mengalami kebangkitan. Sebab NU lahir karena keterpanggilan ummat dan masalah sosio-religius yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia ketika itu.  Semoga pertemuan 100 tokoh NU membawa angin segar (perubahan) untuk NU di masa-masa mendatang.  #hadirutuhsadarpenuh   

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Febrina, Dewan Pembina DPP GENINUSA : Intinya Geninusa Harus Tetap Kritis Mengawal Pemerintahan Prabowo-Gibran

    Febrina, Dewan Pembina DPP GENINUSA : Intinya Geninusa Harus Tetap Kritis Mengawal Pemerintahan Prabowo-Gibran

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Dewan Pengurus Pusat Gerakan Santripreneur Nusantara (DPP GENINUSA), menggelar buka puasa bersama dan berbagi takjil dengan ibu Febrina sebagai salah satu dewan pembina Geninusa di kediamannya, Jakarta Selatan, Jum’at 07 Maret 2025. Sebagai salah satu dewan pembina Geninusa, ibu Febrina juga memberikan pesan sebagai dorongan kepada pengurus DPP Geninusa. Harapannya geninusa harus tetap konsisten dan […]

  • Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Nulondalo.com –  Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan pembangunan Gorontalo Islamic Centre bertujuan mendorong pertumbuhan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga kemasyarakatan. Gusnar mengatakan, pembangunan berskala besar tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan ruang wilayah Kota Gorontalo agar tidak semakin padat. “Yang terpenting dalam pembangunan ini adalah pengembangan wilayah agar bisa tumbuh lebih […]

  • PBNU Percepat Penyelesaian SK, Prioritaskan Cegah Kevakuman Pengurus Cabang

    PBNU Percepat Penyelesaian SK, Prioritaskan Cegah Kevakuman Pengurus Cabang

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Persoalan ratusan Surat Keputusan (SK) pengurus cabang yang sempat mandek akhirnya mulai menemukan titik terang. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan percepatan penyelesaian SK melalui Rapat Harian Tanfidziyah yang digelar pada Rabu, 22 April 2026. Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, mengatakan bahwa percepatan ini menjadi agenda utama dengan tetap berpegang pada […]

  • Polda Kalsel Bongkar Jaringan Pemalsu STNK dan BPKB, Enam Tersangka Ditangkap

    Polda Kalsel Bongkar Jaringan Pemalsu STNK dan BPKB, Enam Tersangka Ditangkap

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalimantan Selatan menggelar konferensi pers terkait pengungkapan kasus jaringan pemalsuan dokumen kendaraan bermotor, Kamis (19/2/2026) pagi. Kegiatan berlangsung di Lobby Mapolda Kalsel, Banjarbaru, dipimpin langsung Kapolda Kalsel didampingi Irwasda, Dir Reskrimum, Dir Lantas, dan Kabid Humas. Kabid Humas Polda Kalsel, Adam Erwindi, menyampaikan bahwa Kapolda Kalsel, Rosyanto […]

  • Piagam Menara Gading

    Piagam Menara Gading

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Ruang berpendingin malam itu tidak kuasa menyingkirkan keringat yang terus merembes keluar dari pori-poriku. Adrenalin yang terpacu memaksa hormon-hormon dalam tubuhku memproduksi keringat dalam udara yang disemprot AC. Seiring dengan gemuruh aula megah itu, adrenalinku terasa makin bergerak cepat ketika namaku disebut. Dr. Maulana  Eka  Rasyid  Arfan  Saputra  Alamsyah  Taufik  Abdullah  Hafidz Umar, MA, M.Si, […]

  • Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat, Nahdliyin Berduka

    Ketua Umum Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat, Nahdliyin Berduka

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Fatayat NU. Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Hj Margaret Aliyatul Maimunah binti KH Faruq, wafat pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB setelah menjalani perawatan intensif di RSUP Fatmawati, Jakarta. Kabar berpulangnya almarhumah disampaikan langsung oleh suaminya, KH Abdullah Masud, yang juga menjabat sebagai Ketua PCNU Tangerang Selatan. […]

expand_less