Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Catatan Kecil Seorang Anak PNS

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 512
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, menyampaikan amanah kepeduliaan Walikota Gorontalo Bapak H. Adhan Dambea dan masyarakat dari Kota Gorontalo untuk saudara-saudara kita yang dilanda bencana banjir bandang disana.

Ia adalah Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Gorontalo, yang akrab disapa Mayor Teddy Gorontalo, atau lebih hangat dikenal sebagai Om Dandy. Profesi kami sejalur, irama hidup kami pun hampir sama. Di ruang tunggu itu, kami duduk berdampingan—lelah yang serupa, pikiran yang penuh, dan cerita hidup yang nyaris identik.

Tanpa rencana, obrolan kami mengalir ke satu tema yang sama: keluarga, anak-anak, dan waktu yang sering kali terasa tak pernah cukup. Di antara diskusi tentang logistik, medan bencana, dan koordinasi lintas daerah, terselip percakapan paling personal—tentang rumah yang ditinggalkan sementara, dan keluarga yang selalu menunggu dengan doa.

Ada jeda sunyi di antara kami. Jeda yang biasanya diisi dengan rindu. Rindu pada anak-anak. Rindu pada rumah. Dan rindu pada istri tercinta yang, dengan caranya sendiri, kadang menyampaikan protes paling lembut: “Waktu kita kok makin sedikit ya…”

Protes itu tidak pernah keras. Tidak menyalahkan. Justru karena kelembutannya, ia terasa jauh lebih dalam. Ia bukan penolakan terhadap pengabdian, melainkan pengingat bahwa di balik tugas kemanusiaan, ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran. Namun sebagai orang tua, sebagai aparatur negara, ada satu hal yang seolah menjadi kesepakatan tak tertulis: kata lelah tidak boleh diucapkan di depan anak-anak. Bukan karena kita tidak lelah, tetapi karena keluarga membutuhkan keteguhan, bukan keluhan.

Di sanalah ingatan saya kembali pada satu pertanyaan kecil yang kerap muncul di rumah:
“Papa nggak capek?”

Pertanyaan polos itu, jika dilihat dari kacamata antropologi pendidikan karakter, bukan sekadar empati anak. Ia adalah hasil dari pengamatan panjang. Anak-anak membaca dunia melalui perilaku orang tuanya. Mereka melihat ayah atau ibu berangkat pagi, pulang dengan sisa tenaga, kadang membawa cerita bencana, rapat, dan tanggung jawab yang tak selesai di jam kantor. Dari situlah mereka belajar—diam-diam—tentang tanggung jawab, keteguhan, dan arti berdiri tegak di tengah tekanan.

Keluarga adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah kurikulum hidupnya. Anak tidak belajar karakter dari nasihat panjang, tetapi dari sikap orang tuanya dalam menghadapi lelah. Ketika orang tua tetap berdiri, tetap bekerja, tetap mengabdi—anak belajar bahwa hidup bukan soal menghindari capek, melainkan tentang menemukan alasan untuk tetap kuat.

Sebagai orang tua, sesungguhnya kita memang diciptakan untuk anak-anak kita. Untuk putera-puteri tercinta. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi untuk menyiapkan masa depan mereka. Karena itu, bekerja keras bukan sekadar kewajiban struktural, melainkan bentuk cinta yang paling nyata. Berdiri tegak di tengah tekanan pekerjaan adalah cara sunyi seorang orang tua berkata: “Kamu boleh bermimpi besar, Papa dan Mama yang akan menahan lelahnya karena Allah.”

Dalam perspektif antropologi, empati anak lahir dari pengalaman bersama. Anak yang bertanya “Papa nggak capek?” sesungguhnya sedang belajar merawat perasaan orang lain. Ia tumbuh dalam rumah yang mungkin tak selalu penuh waktu, tetapi penuh makna. Ia memahami bahwa pengabdian kadang menuntut jarak, tetapi tidak pernah menghapus cinta.

Yang sering luput kita sadari, bukan ketidakhadiran fisik yang paling membekas, melainkan ketiadaan makna. Ketika orang tua mampu menjelaskan bahwa lelah ini adalah bagian dari tanggung jawab, bagian dari pengabdian, bagian dari doa—anak akan tumbuh dengan orientasi hidup yang kuat. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hadiah, melainkan buah dari keteguhan banyak orang, terutama orang tuanya.

Tulisan kecil ini lahir dari ruang tunggu bandara, dari obrolan dua orang PNS, dari rindu pada keluarga, dan dari lembutnya protes seorang istri tercinta. Ia ingin menyapa siapa saja yang membacanya: para orang tua, para aparatur, para pengabdi senyap. Bahwa di balik setiap tugas negara, ada anak-anak yang sedang belajar tentang hidup dari cara kita menjalani lelah.

Maka, jika suatu hari seorang anak bertanya, “Papa nggak capek?”

Jawablah dengan senyum dan keyakinan. Katakan bahwa capek itu ada, tetapi cinta dan tanggung jawab jauh lebih besar. Karena pada akhirnya, orang tua memang diciptakan untuk anak-anaknya—untuk memastikan mereka tumbuh kuat, berkarakter, dan suatu hari memahami bahwa di balik langkah sukses mereka, ada orang tua yang memilih tetap berdiri tegak, tanpa mengeluh, demi masa depan putera-puterinya.

Penulis : Antropolog Gorontalo dan Wakil Sekretaris Tandfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima photo_camera 2

    Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 170
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Pemerintah Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan IV Tahun Anggaran 2025 di Kantor Desa Majannang, kamis (18/12/2025). Penyaluran ini mencakup periode Oktober, November, dan Desember. Sebanyak 39 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menerima bantuan tunai dengan total Rp900 ribu per orang, masing-masing Rp300 ribu per bulan […]

  • Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Pagi 31 Januari 2026, saat saya sedang mengikuti sertifikasi dai yang diselenggarakan PB DDI di Hotel UIN Alauddin Makassar, kabar duka itu datang tiba-tiba: Bapak Salim S. Mengga mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Makassar. Informasi itu saya baca lewat grup WhatsApp. Kaget, saya terdiam sejenak, menundukkan kepala, lalu membacakan […]

  • McDonalisasi PMII…..!!!

    McDonalisasi PMII…..!!!

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Sahabat Senior: ente tahu tanggal 17 April torang akan merayakan HARLAH PMII? Sahabat Yunior: Jelas taulah (sambil tersenyum)…! PMII itu kan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, ya? Ada apa senior? Sahabat Senior: Iya, butul! Harlah ini bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga momen untuk refleksi atas perjuangan dan kontribusi PMII dalam pengembangan kader dan […]

  • PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 498
    • 0Komentar

    Di negeri yang segala sesuatunya ingin distandarkan, dari Standar Nasional Pendidikan sampai Standar Operasional Prosedur parkir motor di minimarket, kita mengenal PSAK sebagai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Biasanya tebal, serius, dan membuat mahasiswa akuntansi lebih cepat mengantuk daripada khutbah tarawih 23 rakaat plus witir tiga. Tapi Ramadhan ini, izinkan saya mengusulkan PSAK versi lain: Pernyataan […]

  • PAD Bone Bolango Baru 21,75 Persen, Pemda Gaspol Digitalisasi dan Intensifikasi Pendapatan

    PAD Bone Bolango Baru 21,75 Persen, Pemda Gaspol Digitalisasi dan Intensifikasi Pendapatan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bone Bolango pada awal 2026 masih jauh dari target. Hingga Maret, realisasi PAD baru mencapai 21,75 persen, mendorong pemerintah daerah untuk bergerak lebih cepat, agresif, dan inovatif dalam mengoptimalkan pendapatan. Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin berjalan dengan pola biasa. Optimalisasi PAD […]

  • Korban Masih Dirawat Intensif, PAC Maros Baru Desak Keadilan

    Korban Masih Dirawat Intensif, PAC Maros Baru Desak Keadilan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Bentuk kepedulian terhadap dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota kepolisian terus mengalir. Kali ini, Pengurus Anak Cabang (PAC) Maros Baru turun langsung menjenguk korban yang masih menjalani perawatan medis akibat insiden yang terjadi pada malam pergantian Tahun Baru. Ketua PAC Maros Baru bersama rombongan mendatangi Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, tepatnya […]

expand_less