Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

  • account_circle Dr. Husin Ali
  • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
  • visibility 229
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama

Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya menyaksikan pertanyaan ini muncul di ruang-ruang yang berbeda, di masjid, di rumah, di ruang publik, bahkan di percakapan santai, dengan satu harapan yang sama: beribadah dengan keyakinan dan tanpa kegaduhan. Di Gorontalo, kegelisahan itu tidak dijawab dengan perdebatan panjang, melainkan dengan sebuah tradisi yang tenang dan bermartabat: Tonggeyamo.

Puasa, dalam pemahaman saya, adalah ibadah yang sangat personal. Niatnya berada di relung hati, pelaksanaannya menjadi urusan individu dengan Allah. Tidak ada ruang bagi manusia untuk mengukur atau menilai kualitas puasa orang lain. Namun, awal dan akhir puasa bukan hanya urusan pribadi. Ia menyentuh kehidupan bersama: kapan masjid memulai tarawih, kapan keluarga bersiap sahur, kapan masyarakat menata ritme sosial selama Ramadhan. Di titik inilah puasa menjadi peristiwa sosial, bukan semata praktik individual.

Al-Qur’an menempatkan puasa dalam bingkai yang sangat manusiawi. Allah berfirman:

“Yā ayyuhallażīna āmanū kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.” (“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”) – (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini selalu mengingatkan saya bahwa puasa bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jalan pembentukan ketakwaan. Dan ketakwaan, dalam kehidupan sosial, tercermin dari sikap rendah hati, kesabaran, dan kemampuan menahan diri, termasuk menahan ego ketika berhadapan dengan perbedaan.

Perbedaan penetapan awal Ramadhan dan Syawal bukanlah sesuatu yang lahir dari niat saling berseberangan. Ia tumbuh dari tradisi keilmuan Islam yang panjang dan beragam. Setiap metode memiliki dasar dan argumentasi yang berangkat dari semangat yang sama: memastikan ibadah dilakukan pada waktu yang diyakini benar. Dalam pengalaman saya mendampingi masyarakat, perbedaan ini sering kali bukan sumber masalah utama. Yang kerap menjadi persoalan justru cara kita menyikapinya.

Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di dalam tradisi dan struktur sosial, saya meyakini bahwa perbedaan tidak harus dihapus, tetapi perlu dikelola dengan bijak. Indonesia memberi mandat kepada negara melalui Kementerian Agama untuk menetapkan awal Ramadhan dan Syawal melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, pakar, dan organisasi keagamaan. Bagi banyak orang, keputusan ini memberi rasa tertib dan kepastian. Bagi sebagian yang lain, rujukan organisasi atau keyakinan personal memberi ketenangan tersendiri. Kedua sikap ini, sepanjang saya pahami, lahir dari niat baik yang sama dan patut dihormati.

Namun kehidupan bersama membutuhkan satu kesepakatan minimal agar ritme sosial tetap terjaga. Di sinilah Tonggeyamo menemukan tempatnya. Tradisi ini tidak mempersoalkan metode, apalagi mengadili keyakinan. Tonggeyamo adalah cara orang Gorontalo menerima keputusan publik dengan bahasa budaya yang mereka pahami dan hormati. Keputusan yang datang dari pusat tidak berhenti sebagai teks administratif, tetapi dihadirkan kembali melalui musyawarah adat, disampaikan oleh pemangku adat, dihadiri ulama dan pemerintah daerah, dalam ruang yang dimuliakan oleh tradisi.

Saya melihat Tonggeyamo sebagai proses pematangan sosial. Keputusan yang sama bisa terasa berbeda ketika disampaikan dengan cara yang berjarak atau dengan cara yang mengajak. Tonggeyamo memilih jalan kedua. Ia tidak memaksa keseragaman hati, tetapi merawat keselarasan langkah. Ia tidak meniadakan perbedaan, tetapi memastikan perbedaan itu tidak berubah menjadi jarak emosional di tengah masyarakat.

Di balik kesakralannya, Tonggeyamo menyimpan rasionalitas sosial yang kuat. Tanpa kesepakatan waktu, Ramadhan mudah kehilangan dimensi kebersamaannya. Masjid memulai tarawih pada hari yang berbeda, aktivitas sosial berjalan sendiri-sendiri, dan suasana kolektif Ramadhan menjadi terpecah. Tonggeyamo hadir untuk menjaga agar ruang sosial tetap tenang, tertib, dan penuh saling pengertian.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang saya hidupi, perbedaan pandangan adalah bagian dari kekayaan keilmuan Islam. Namun menjaga jamaah dan kemaslahatan bersama adalah amanah yang tidak boleh diabaikan. Prinsip inilah yang membuat kesepakatan sosial dipandang sebagai etika bersama, bukan sebagai penyangkalan terhadap keyakinan pribadi. Tonggeyamo, bagi saya, adalah ekspresi kultural dari etika tersebut.

Tradisi ini juga mengajarkan sikap saling menghormati pilihan individu. Setiap orang berhak berpegang pada keyakinan yang diyakininya benar. Pada saat yang sama, kita diajak untuk menjaga adab sosial agar perbedaan tidak melukai persaudaraan. Inilah kedewasaan beragama yang sesungguhnya: keyakinan yang teguh, tetapi hati yang lapang.

Dari Gorontalo, kita belajar bahwa tradisi lokal mampu memberi pelajaran penting bagi kehidupan berbangsa. Tonggeyamo menunjukkan bahwa harmoni tidak selalu lahir dari keseragaman pandangan, melainkan dari kesediaan untuk menyepakati waktu bersama demi kebaikan yang lebih luas. Ia bekerja dengan cara yang sunyi, tanpa gaduh, tanpa saling menyalahkan, tetapi justru efektif merawat ketenteraman.

Pada akhirnya, puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menahan ego, termasuk ego untuk merasa paling benar. Ramadhan mengajarkan bahwa ketakwaan tumbuh seiring kemampuan kita menjaga hubungan dengan sesama. Tonggeyamo, dalam kesederhanaannya, mengingatkan saya dan barangkali kita semua bahwa menyambut puasa bukan hanya soal tanggal, melainkan tentang cara kita merawat kebersamaan, menghormati perbedaan, dan menumbuhkan kedewasaan beragama di ruang publik.

Penulis : Antropolog, Wakil Sekretaris Tanfidziyah PWNU  Gorontalo

  • Penulis: Dr. Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Piutang Langit

    Piutang Langit

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan fenomena menarik dalam dunia akuntansi rumah tangga. Tiba-tiba grafik sedekah naik, kurva infak menanjak, dan neraca keikhlasan ikut-ikutan surplus. Di sisi lain, daftar belanja takjil dan THR juga ikut meledak. Inilah bulan ketika manusia rajin “mengirim proposal” ke langit. Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Kalau di dunia ada piutang […]

  • Seni Menjadi Orang Kalah

    Seni Menjadi Orang Kalah

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Siapa yang mau kalah? Rasanya hampir tidak ada. Kalah itu menyakitkan dan secara alami manusia tidak ingin sakit. Semua orang ingin menang. Kemenangan terasa menyenangkan, memberi pengakuan, rasa aman, juga keyakinan bahwa diri kita bernilai. Sejak awal kehidupan manusia pun akrab dengan gagasan tentang kemenangan. Penjelasan biologis mengenai lahirnya manusia sering dimulai dari cerita tentang […]

  • Prancis Diunggulkan Singkirkan Swedia, Les Bleus Bidik Tiket ke Babak 16 Besar

    Prancis Diunggulkan Singkirkan Swedia, Les Bleus Bidik Tiket ke Babak 16 Besar

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 74
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Prancis akan menghadapi Swedia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, Rabu (1/7/2026) pukul 04.00 WIB. Les Bleus datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah tampil sempurna sepanjang fase grup. Tim asuhan Didier Deschamps menutup Grup I sebagai juara grup dengan raihan sembilan poin dari tiga pertandingan. Prancis juga […]

  • Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Imam al-Ghazālī menempatkan kepemimpinan sebagai amanah agung yang tidak hanya diukur dari kecakapan administratif atau kekuasaan struktural, melainkan dari kesatuan antara intelektualitas, spiritualitas, dan akhlak. Seorang pemimpin, menurut al-Ghazālī, bukan sekadar pengatur urusan lahiriah, tetapi tabib sosial—yang mampu mengobati kerusakan moral, kegersangan spiritual, dan kehancuran nilai dalam tubuh masyarakat atau […]

  • Pemkab Bone Bolango Lakukan Rotasi Besar-Besaran Pejabat Eselon II, 24 JPT Pratama Dilantik

    Pemkab Bone Bolango Lakukan Rotasi Besar-Besaran Pejabat Eselon II, 24 JPT Pratama Dilantik

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 160
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango kembali melakukan rotasi besar-besaran terhadap Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di lingkungan Pemerintah Daerah. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bone Bolango Nomor 821.2/KEP/BUP-BB/12/233/X/2025 tertanggal 14 Oktober 2025, sebanyak 24 pejabat eselon II resmi dilantik dan dirotasi. Pelantikan dan pengambilan sumpah/janji jabatan tersebut berlangsung di Ruang Lupa Lelah, Kantor Bupati Bone […]

  • Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 483
    • 0Komentar

    Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, […]

expand_less