Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mencari Jalan Keluar dari Krisis Representasi Politik Indonesia

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
  • visibility 123
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam krisis yang sedang dihadapi Indonesia Ini, penting untuk selalu Bertanya namun Substansi pertanyaan hari ini bukanlah siapa yang akan menjadi presiden berikutnya, partai mana yang akan menang pemilu, atau koalisi apa yang akan terbentuk setelah pemilihan. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: siapa yang mampu mengorganisasi kekuatan sosial untuk menandingi dominasi uang dalam politik?

Sebab dalam banyak kasus oligarki hampir tidak pernah runtuh hanya karena kritik moral atau kemarahan publik. Ia tidak tumbang karena para intelektual menulis esai-esai tajam, tidak pula karena masyarakat ramai mengeluh di media sosial. Oligarki dibatasi ketika muncul kekuatan sosial yang cukup besar, cukup terorganisasi, dan cukup sadar untuk memaksa negara kembali bekerja bagi kepentingan publik. Tanpa kekuatan penyeimbang semacam itu, demokrasi akan tetap berjalan secara prosedural, pemilu tetap berlangsung, parlemen tetap bersidang, dan pemerintahan terus berganti. Namun substansinya perlahan menghilang. Representasi politik berubah menjadi barang dagangan yang dapat dibeli oleh mereka yang memiliki modal terbesar.

Tesis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die menjadi sangat relevan untuk membaca kondisi Indonesia. Menurut mereka, demokrasi modern jarang mati melalui kudeta militer atau pembubaran konstitusi secara terang-terangan. Demokrasi justru lebih sering mengalami kemunduran melalui proses yang tampak legal dan konstitusional. Pemimpin yang lahir dari mekanisme demokratis menggunakan legitimasi elektoral untuk melemahkan lembaga pengawas, mengendalikan sistem hukum, menjinakkan oposisi, serta membangun jaringan patronase yang membuat institusi negara kehilangan independensinya. Dari luar, demokrasi masih terlihat hidup. Tetapi di dalamnya, mekanisme kontrol dan akuntabilitas perlahan dilumpuhkan.

Jika kita menoleh pada perkembangan politik Indonesia beberapa tahun terakhir, gejala tersebut terasa semakin nyata. Demokrasi memang masih berjalan, tetapi kualitas representasinya terus mengalami erosi. Partai politik yang seharusnya menjadi jembatan antara rakyat dan negara semakin sulit melepaskan diri dari ketergantungan pada pemilik modal. Ongkos politik yang sangat mahal membuat banyak partai harus mencari sumber pendanaan dari kalangan oligark ekonomi. Konsekuensinya sederhana tetapi serius: kebijakan publik sering kali lebih responsif terhadap kepentingan penyandang dana dibandingkan terhadap kebutuhan masyarakat luas.

Dalam situasi seperti ini, pergantian figur pemimpin sering kali hanya menghasilkan perubahan wajah, bukan perubahan arah. Banyak orang masih berharap bahwa krisis demokrasi dapat diselesaikan melalui pergantian presiden atau elite politik. Padahal persoalan yang kita hadapi jauh lebih dalam daripada sekadar siapa yang sedang berkuasa. Yang bermasalah bukan hanya aktornya, melainkan struktur yang memungkinkan konsentrasi kekuasaan ekonomi dan politik terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, reformasi pembiayaan politik menjadi agenda yang tidak bisa ditunda lagi. Sulit membayangkan lahirnya demokrasi yang sehat ketika biaya untuk menjadi anggota legislatif, kepala daerah, atau presiden begitu tinggi sehingga hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal besar yang mampu bertahan. Selama biaya politik tetap mahal, partai-partai akan terus berada dalam hubungan ketergantungan dengan kelompok oligarkis. Pada titik tertentu, loyalitas politik tidak lagi diberikan kepada konstituen, melainkan kepada para sponsor yang memungkinkan mesin politik tetap hidup.

Meski demikian, reformasi pembiayaan partai bukanlah obat mujarab yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan. Kita perlu jujur bahwa oligarki tidak hanya hidup di dalam struktur pembiayaan politik, tetapi juga dalam budaya politik, birokrasi, media, bahkan dalam cara masyarakat memahami kekuasaan. Oleh sebab itu, perubahan kelembagaan harus berjalan beriringan dengan penguatan masyarakat sipil.

Demokrasi tidak pernah bertahan hanya karena adanya pemilu. Demokrasi bertahan karena adanya warga negara yang aktif, organisasi masyarakat yang independen, media yang kritis, kampus yang bebas, serikat pekerja yang kuat, komunitas intelektual yang hidup, dan berbagai kelompok sosial yang mampu mengawasi kekuasaan. Ketika institusi-institusi tersebut melemah, demokrasi kehilangan fondasi sosial yang menopangnya. Pemilu masih ada, tetapi warga semakin kehilangan kemampuan untuk memengaruhi arah negara.

Kampus misalnya, semestinya menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan alternatif. Namun ketika dunia akademik terlalu sibuk mengejar birokrasi dan proyek, fungsi kritisnya perlahan memudar. Media yang dahulu menjadi alat kontrol kekuasaan kini menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Organisasi masyarakat sipil juga berhadapan dengan tantangan fragmentasi dan keterbatasan sumber daya. Akibatnya, ruang publik semakin didominasi oleh narasi yang diproduksi oleh mereka yang memiliki akses terhadap modal dan kekuasaan.

Di sisi lain, posisi otoritas keagamaan juga perlu direfleksikan secara serius. Dalam banyak tradisi keagamaan, agama memiliki fungsi profetik untuk mengingatkan dan mengoreksi kekuasaan. Dalam Islam misalnya, prinsip amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar seruan moral individual, melainkan juga keberanian untuk menegur ketidakadilan yang dilakukan penguasa. Ketika agama terlalu dekat dengan kekuasaan, fungsi kritis tersebut berisiko melemah. Yang tersisa hanyalah legitimasi moral bagi kebijakan negara, bukan kontrol etis terhadap penyelenggaraan kekuasaan.

Tapi apakah ketimpangan struktural ini dapat diatasi melalui ideologisasi?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Jika ideologisasi dipahami sebagai indoktrinasi yang menutup ruang kritik dan keberagaman pandangan, maka sejarah menunjukkan bahayanya. Tetapi jika yang dimaksud adalah membangun kesadaran kolektif tentang ketimpangan, keadilan sosial, hak-hak warga negara, serta arah pembangunan nasional, maka tanpa itu perubahan akan sulit terjadi. Tidak ada gerakan sosial besar dalam sejarah yang lahir tanpa fondasi gagasan. Bahkan oligarki sendiri bertahan karena memiliki ideologi yang bekerja secara halus: keyakinan bahwa kekayaan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi harus menjadi pusat dari seluruh kebijakan negara.

Masalahnya, kelompok-kelompok yang menginginkan perubahan sering kali memiliki kritik yang baik tetapi tidak memiliki organisasi yang kuat. Mereka mampu menjelaskan masalah, tetapi belum mampu mengubah penjelasan itu menjadi kekuatan politik yang efektif. Akibatnya, kritik berputar di ruang diskusi, sementara kekuasaan tetap berjalan seperti biasa.

Seharusnya kekuasaan tidak hanya bertumpu pada uang atau paksaan, tetapi juga pada kemampuan membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, melawan dominasi oligarki bukan hanya soal merebut jabatan politik, melainkan juga membangun kesadaran baru tentang apa yang seharusnya menjadi tujuan negara dan siapa yang seharusnya menjadi pusat dari pembangunan.

Meski demikian, ada satu kenyataan yang sering kali luput dari pembahasan akademik. Banyak masyarakat yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi justru lebih percaya pada bantuan konkret daripada janji perubahan struktural. Dalam kondisi hidup yang serba sulit, uang terasa lebih nyata dibandingkan gagasan. Bantuan tunai, proyek pembangunan, atau akses pekerjaan sering kali lebih mudah dipercaya daripada wacana reformasi demokrasi yang terdengar abstrak.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar bagaimana melawan uang, melainkan bagaimana membangun institusi yang membuat warga tidak harus bergantung pada uang patronase. Selama kesejahteraan warga bergantung pada kedekatan dengan elite politik atau pemilik modal, selama itu pula oligarki akan selalu menemukan ruang untuk bertahan. Demokrasi hanya bisa tumbuh sehat ketika masyarakat memiliki kemandirian ekonomi yang cukup untuk menentukan pilihan politiknya secara bebas.

masa depan demokrasi Indonesia tidak ditentukan oleh pertarungan antara kelompok sekuler dan religius, antara nasionalis dan agamis, ataupun antara tokoh A dan tokoh B. Pertarungan yang sesungguhnya adalah antara upaya memperluas kedaulatan rakyat melawan kecenderungan konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir elite.

Karena itu, tugas terbesar generasi hari ini bukan hanya memenangkan pemilu atau mengganti penguasa. Tugas yang jauh lebih penting adalah membangun kembali kekuatan-kekuatan sosial yang mampu mengawasi negara, menghidupkan ruang publik yang kritis, memperkuat organisasi masyarakat sipil, mereformasi pembiayaan politik, serta menanamkan kembali gagasan bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur memilih pemimpin, melainkan cara memastikan kekuasaan selalu tunduk pada kepentingan rakyat.

Jika pekerjaan besar itu gagal dilakukan, demokrasi Indonesia mungkin akan tetap berdiri sebagai bangunan formal. Pemilu akan terus digelar, pejabat akan terus dilantik, dan pidato-pidato tentang rakyat akan terus disampaikan. Namun perlahan ia kehilangan maknanya yang paling mendasar: menjadi alat bagi warga negara untuk mengendalikan kekuasaan. Pada saat itulah demokrasi tidak benar-benar mati, tetapi hidup dalam keadaan yang paling menyedihkan—tetap berjalan, namun tidak lagi mewakili mereka yang seharusnya menjadi pemiliknya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    Tak Ada Yang Integratif Dari “Epistemologi Integratif” dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 944
    • 0Komentar

    Tulisan Donald Tungkagi berjudul Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas (9/1) di nulondalo.com., sebagai tanggapan atas tulisan saya (8/1) setidaknya memuat tiga poin utama, yakni: (1) penjelasan historiografis makuta problematik karena tidak cukup valid dalam simbol makuta dalam paradigma epistemologi Makuta Keilmuan; (2) ketegangan antarpilar itu produktif, alih-alih saling menegasikan satu […]

  • Aksi Teror Menimpa Wartawan di Tanjungbalai, Mobil Diduga Dibakar OTK

    Aksi Teror Menimpa Wartawan di Tanjungbalai, Mobil Diduga Dibakar OTK

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 226
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Aksi teror diduga menimpa seorang wartawan media online di Kota Tanjungbalai. Mobil milik korban diduga dibakar oleh orang tak dikenal (OTK) di depan rumahnya pada Kamis malam (29/1/2026). Beruntung, api berhasil dipadamkan dengan cepat berkat bantuan warga sekitar sehingga tidak sempat merambat dan menyebabkan kerusakan lebih parah. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa […]

  • Diduga Ada Permainan Distribusi BBM di Balikpapan, Pemuda Borneo Minta Penegak Hukum Untuk Menyelidiki

    Diduga Ada Permainan Distribusi BBM di Balikpapan, Pemuda Borneo Minta Penegak Hukum Untuk Menyelidiki

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali terjadi di Balikpapan, Kalimantan Timur, hal ini mendapat sorotan dari Wakil Ketua Umum Pemuda Berneo, Minggu, 25 Mei 2025. Menurut Sulthan, Wakil Ketua Umum Pemuda Berneo, sebagai kota minyak dan pusat energi nasional Balikpapan kembali mengalami kelangkaan BBM yang menumbulkan keresahan publik terutama dikalangan pemuda borneo. “Kondisi ini menimbulkan […]

  • Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 290
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerima laporan hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut dioperasikan oleh IAT selaku pemegang AOC 034, dan sedang melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) […]

  • Ramadan dan Jurang Kesenjangan

    Ramadan dan Jurang Kesenjangan

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Ramadan selalu hadir dengan semarak yang khas. Beragam ekspresi keagamaan mencuat ke ruang publik, mulai pengajian rutin, ceramah agama, semarak majelis taklim, hingga seruan sahur jelang dini hari. Ramadan seolah telah menjadi panggung besar ekspresi keagamaan. Selain dimaknai sebagai bulan suci, juga diyakini sebagai bulan penuh berkah; bulan yang dirindukan umat Islam karena pahala amal […]

  • BBPOM di Makassar Jalani Reakreditasi ISO/IEC 17025:2017, Perkuat Keandalan Laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan

    BBPOM di Makassar Jalani Reakreditasi ISO/IEC 17025:2017, Perkuat Keandalan Laboratorium Pengawasan Obat dan Makanan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Nulondalo.com Makassar – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar melaksanakan kegiatan reakreditasi SNI ISO/IEC 17025:2017 yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan Tim Asesor dari Komite Akreditasi Nasional (KAN), yaitu Tri Pratiwi selaku Asesor Kepala bersama Ani Suwitaningsih, Effi Setiawati, Anissa Tiana Sheilayanti, dan Herawati, yang melakukan asesmen dan witness […]

expand_less