Yang Luput dari yang Luput: Respon Atas Tulisan Arief Abas
- account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 190
- print Cetak

Ilustrasi yang menggambarkan ketegangan antara praktik sadaka dalam adat Gorontalo dengan realitas sosial-ekonomi masyarakat, menampilkan beban warga, stratifikasi penerima, serta upaya mencari keseimbangan antara penghormatan tradisi, nilai agama, dan keadilan sosial melalui ruang musyawarah bersama. (Sumber Gambar AI. Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Abas cenderung menyamaratakan semua bentuk sadakah sebagai praktik yang “memberatkan” tanpa melakukan kategorisasi yang lebih nuansial. Padahal, dalam struktur adat Gorontalo, terdapat berbagai jenis sedekah dengan tujuan yang sangat berbeda—seperti sadakah untuk anak yatim, masjid, atau ritual kematian yang memiliki dimensi spiritual dan sosial yang berbeda-beda. Dengan tidak membedakan mana sedekah yang bersifat “penghormatan kepada pembesar” yang mungkin bersifat politis-birokratis dan mana yang murni bersifat “filantropi sosial” untuk solidaritas komunal, argumennya berisiko menyerang seluruh bangunan tradisi secara membabi buta. Kegagalan dalam memilah fungsi-fungsi sosiologis dari tiap jenis sadakah ini membuat kritiknya kehilangan presisi, karena tidak semua bentuk sedekah berkontribusi pada pemiskinan; sebagian justru berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang krusial bagi kelompok rentan di Gorontalo.
Argumen Arief ini juga memposisikan warga rentan murni sebagai “korban” sistem adat yang opresif tanpa ruang gerak sama sekali. Abas kurang melihat sisi agency atau daya pilih warga, di mana bagi sebagian besar orang, melaksanakan adat meskipun secara finansial terasa berat merupakan cara mereka menegosiasikan status sosial dan menjaga harga diri atau u’olo di tengah komunitasnya. Dengan memandang masyarakat hanya sebagai subjek pasif yang terindoktrinasi, analisis ini gagal menangkap dinamika di mana warga secara sadar memilih untuk berkorban demi mempertahankan integrasi sosial dan kehormatan keluarga dalam struktur masyarakat Gorontalo.
Mengabaikan motivasi internal dan otonomi individu warga ini membuat analisis Arief terasa sangat searah dan mengabaikan kompleksitas psikologi budaya masyarakat lokal yang melihat adat bukan sekadar beban, melainkan identitas yang memberi makna pada keberadaan mereka. Perspektif yang terlalu mekanistik-ekonomi ini justru mereduksi manusia Gorontalo menjadi angka-angka pengeluaran semata, padahal terdapat rasionalitas budaya di balik setiap pengorbanan material yang dilakukan. Tanpa mempertimbangkan faktor subjektivitas ini, kritik tersebut tidak akan pernah bisa menyentuh akar mengapa praktik sadakah tetap bertahan kuat meskipun mendapatkan kritik sosiologis yang bertubi-tubi.
Terdapat ambivalensi yang membingungkan di akhir tulisan. Abas mengakui adanya masalah (memberatkan), namun ia juga skeptis bahwa “merekonfigurasi adat” adalah solusinya. Hal ini menciptakan kebuntuan logis: jika sistemnya bermasalah tetapi perubahan sistem bukan solusinya, lalu apa? Tanpa menawarkan kerangka alternatif (seperti penguatan nilai Huyula atau gotong royong yang lebih egaliter), tulisan ini berhenti pada tahap keluhan intelektual tanpa arah transformasi yang jelas.
Mengingat Gorontalo memegang prinsip Adat bersendikan Syara’, mengkritik sadakah tanpa membedah distorsi antara “ajaran Islam yang murni” dan “praktik adat yang menyimpang” membuat argumen ini mudah dipatahkan oleh kelompok konservatif. Abas melewatkan kesempatan untuk menggunakan dalil agama sebagai alat “pembebas” bagi warga miskin dari beban adat yang berlebihan.
Penulis : Akademisi Universitas Negeri Gorontalo
- Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Saat ini belum ada komentar