Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yang Luput dari yang Luput: Respon Atas Tulisan Arief Abas

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
  • visibility 732
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Abas cenderung menyamaratakan semua bentuk sadakah sebagai praktik yang “memberatkan” tanpa melakukan kategorisasi yang lebih nuansial. Padahal, dalam struktur adat Gorontalo, terdapat berbagai jenis sedekah dengan tujuan yang sangat berbeda—seperti sadakah untuk anak yatim, masjid, atau ritual kematian yang memiliki dimensi spiritual dan sosial yang berbeda-beda. Dengan tidak membedakan mana sedekah yang bersifat “penghormatan kepada pembesar” yang mungkin bersifat politis-birokratis dan mana yang murni bersifat “filantropi sosial” untuk solidaritas komunal, argumennya berisiko menyerang seluruh bangunan tradisi secara membabi buta. Kegagalan dalam memilah fungsi-fungsi sosiologis dari tiap jenis sadakah ini membuat kritiknya kehilangan presisi, karena tidak semua bentuk sedekah berkontribusi pada pemiskinan; sebagian justru berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang krusial bagi kelompok rentan di Gorontalo.

Argumen Arief ini juga memposisikan warga rentan murni sebagai “korban” sistem adat yang opresif tanpa ruang gerak sama sekali. Abas kurang melihat sisi agency atau daya pilih warga, di mana bagi sebagian besar orang, melaksanakan adat meskipun secara finansial terasa berat merupakan cara mereka menegosiasikan status sosial dan menjaga harga diri atau u’olo di tengah komunitasnya. Dengan memandang masyarakat hanya sebagai subjek pasif yang terindoktrinasi, analisis ini gagal menangkap dinamika di mana warga secara sadar memilih untuk berkorban demi mempertahankan integrasi sosial dan kehormatan keluarga dalam struktur masyarakat Gorontalo.

Mengabaikan motivasi internal dan otonomi individu warga ini membuat analisis Arief terasa sangat searah dan mengabaikan kompleksitas psikologi budaya masyarakat lokal yang melihat adat bukan sekadar beban, melainkan identitas yang memberi makna pada keberadaan mereka. Perspektif yang terlalu mekanistik-ekonomi ini justru mereduksi manusia Gorontalo menjadi angka-angka pengeluaran semata, padahal terdapat rasionalitas budaya di balik setiap pengorbanan material yang dilakukan. Tanpa mempertimbangkan faktor subjektivitas ini, kritik tersebut tidak akan pernah bisa menyentuh akar mengapa praktik sadakah tetap bertahan kuat meskipun mendapatkan kritik sosiologis yang bertubi-tubi.

Terdapat ambivalensi yang membingungkan di akhir tulisan. Abas mengakui adanya masalah (memberatkan), namun ia juga skeptis bahwa “merekonfigurasi adat” adalah solusinya. Hal ini menciptakan kebuntuan logis: jika sistemnya bermasalah tetapi perubahan sistem bukan solusinya, lalu apa? Tanpa menawarkan kerangka alternatif (seperti penguatan nilai Huyula atau gotong royong yang lebih egaliter), tulisan ini berhenti pada tahap keluhan intelektual tanpa arah transformasi yang jelas.

Mengingat Gorontalo memegang prinsip Adat bersendikan Syara’, mengkritik sadakah tanpa membedah distorsi antara “ajaran Islam yang murni” dan “praktik adat yang menyimpang” membuat argumen ini mudah dipatahkan oleh kelompok konservatif. Abas melewatkan kesempatan untuk menggunakan dalil agama sebagai alat “pembebas” bagi warga miskin dari beban adat yang berlebihan.

Penulis : Akademisi Universitas Negeri Gorontalo

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    Demokrasi yang Kehilangan Bumi

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Julman Hente
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Oleh: Julman Hente, SH., MH (Penulis) Demokrasi kita hari ini seperti pohon yang tumbuh tanpa akar. Tampak hijau di permukaan, penuh daun dan ranting yang menjulang, tetapi mudah roboh ketika angin kencang datang. Ia berdiri di atas tanah yang semakin rapuh, tanah yang terus terkikis oleh keputusan-keputusan yang mengatasnamakan rakyat tetapi mengkhianati bumi tempat rakyat […]

  • DPR Tetapkan Lima Calon Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua

    DPR Tetapkan Lima Calon Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 322
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menetapkan lima calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dalam Rapat Paripurna yang digelar di Gedung Nusantara II, Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Penetapan tersebut merupakan tindak lanjut dari proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang sebelumnya dilakukan oleh Komisi XI DPR RI terhadap […]

  • Berita Duka: Dunia Hiburan Indonesia Kehilangan Mat Solar

    Berita Duka: Dunia Hiburan Indonesia Kehilangan Mat Solar

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Tanah Air. Mat Solar, yang memiliki nama asli Nasrullah, dikabarkan telah meninggal dunia pada pukul 22.30 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Senin, 17 Maret 2025. Berita ini dikonfirmasi oleh Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka melalui unggahannya di akun X. Ia […]

  • Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Datang Tanpa Didampingi Mensos

    Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Datang Tanpa Didampingi Mensos

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Sementara itu, Cono, seorang pemulung, mengungkapkan kondisi tempat tinggal warga yang masih jauh dari layak. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Kunjungan ini berlangsung sederhana namun penuh makna. Tanpa kehadiran Menteri Sosial, interaksi Presiden dengan warga terasa lebih langsung dan personal, mencerminkan pendekatan yang dekat dengan rakyat. Di […]

  • DPR Mengusulkan Sistim Pemilu Campuran Demi Perkuat Demokrasi

    DPR Mengusulkan Sistim Pemilu Campuran Demi Perkuat Demokrasi

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mengusulkan untuk diadaptasinya sistem pemilu campuran dalam rangka untuk memperkuat sistem demokrasi di Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi II yang membahas evaluasi Pemilu Serentak 2024 dan penataan sistem pemilu untuk perubahan Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Pilkada. RDPU tersebut menghadirkan sejumlah, […]

  • Menag Nasaruddin Umar: Moderasi NU Jadi Kunci Diterima Timur dan Barat

    Menag Nasaruddin Umar: Moderasi NU Jadi Kunci Diterima Timur dan Barat

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Salah satu capaian konkret yang menegaskan orientasi global tersebut adalah pengembangan program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI). Program ini tidak hanya mencetak ulama dengan basis keilmuan yang kokoh, tetapi juga berwawasan internasional melalui kemitraan strategis dengan institusi global seperti Universitas Al-Azhar di Mesir, University of California Riverside (UCR), dan Hartford International University (HIU) di […]

expand_less