Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mahasiswa, Demonstrasi dan Kesantunan

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Minggu, 4 Sep 2022
  • visibility 106
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menarik memang mengelaborasi gerakan mahasiswa sebagai agen of change atau sebagai agen of control. Sudah menjadi tradisi yang terwariskan sejak zaman pra kemerdekaan hingga saat ini, bahwa mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok elit pelajar akan selalu garang ketika berhadapan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populis.

Pada momen-momen tertentu, pemandangan yang sudah lazim akan terlihat di setiap kantor pemerintah, atau di gedung perwakilan rakyat, para mahasiswa berkumpul sambil berorasi menyuarakan sejumlah tuntutan dan aspirasi.

Jika ditanya kepada para mahasiswa, dimana tempat paling strategis menyuarakan tuntutan (?) maka jawabannya adalah di bundaran  persimpangan jalan utama. Inilah tempat paling favorit bagi mahasiswa untuk penyebaran informasi sebagai bentuk perlawanan atau sekadar show of force gerakan pro rakyat.

Demonstrasi merupakan dinamika ekstrnal dunia kemahasiswaan, yang selalu menjadi kebanggaan dan cerita indah, setelah keluar dari lingkungan akademik.

Salah satu hal yang melatarbelakangi konsistensi gerakan mahasiswa turun ke jalan di seantero negeri ini adalah, doktrinasi idealisme yang ditanamkan kepada para mahasiswa melalui organisasi kemahasiswaan baik organisasi internal semisal LDK, dan semacamnya, maupun organisasi eksternal seperti PMII, HMI, IMM, GMNI, GMKI dan lain sebagainya.

Secara umum, idealisme mahasiswa terfokus pada dua tema besar yang selalu diusung, dan diperjuangkan melalui parlemen-parlemen jalanan, yakni menyuarakan penegakan keadilan dan perlawanan atas “kezaliman penguasa”.

Dalam konteks ini, mahasiswa akan terus bersuara menantang kebijakan yang dianggap merugikan rakyat atau kebijakan politis lainnya yang dianggap bias.

Sebagaimana diketahui bahwa, melalui parlemen jalanan, mahasiswa mendapatkan tempat yang paling efektif untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat, terlebih-lebih di era pasca reformasi.

Di mimbar  palemen jalanan ini, tuntutan dan aspirasi dinarasikan dengan bahasa propaganda, disampaikan dengan langgam agitasi serta diorasikan dengan statemen-statemen yang lebih tajam dari silet. Ya, harus seperti itu. Sebab jika tidak, maka momentum demonstrasi itu akan kehilangan ruhnya.

Di samping itu, sang orator harus menampilkan dirinya sebagai orator ulung.  Bersuara tegas lantang dan berapi-api. Untuk apa(?).  Agar suara tuntutan bisa menembus dinding-dinding nurani bangsa.  Mimbar jalanan juga merupakan wasilah untuk mengasah kemampuan komunikasi sang orator untuk bekal ketika dikemudian hari, menjadi anggota parlemen asli apalagi sebagai pimpinan atau anggota partai oposisi. He he he.

Intinya bahwa apapun gerakan mahasiswa harus diberikan  apresiasi, sepanjang gerakan tersebut masih dalam koridor control society. Oleh karena itu, demonstrasi mahasiswa tidak boleh kehilangan identitasnya (lost of identity).

Mahasiswa adalah kalangan terpelajar, kalangan yang mengedepankan akal kritis dan akal sehat sebelum bertindak. Stigma ini harus tetap dipertahankan. Perjuangan mahasiswa dalam mengawal kebenaran dan keadilan tidak boleh diwarnai oleh noktah-noktah hitam, yang lahir dari sikap emosional tak terkendali.

Pada skala lokal dibeberapa forum Mapaba dan PKD, saya selalu menekankan kepada para kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Gorontalo, bahwa NDP (Nilai Dasar Pergerakan) yang berfungsi sebagai kerangka refleksi, kerangka aksi dan kerangka ideologis yang berisikan nilai-nilai ketauhidan, interaksi dengan sang pencipta, interaksi antarsesama serta interaksi dengan alam semseta harus bisa menjadi landasan perjuangan suci, menegakkan kebenaran, keadilan, dan memberangus kebatilan.

Oleh karena itu, perjuangan suci tidak boleh dicederai dengan perilaku yang tak terpuji seperti perbuatan anarki, dan pengrusakan terhadap fasilitas perkantoran, serta fasilitas umum lainnya.

Seharusnya semua kelompok atau  organisasi kemahasiswaan yang memiliki komitmen, dan gerakan yang sama mempedomani frame perjuangan ini. Apalagi organisasi yang telah dengan jelas menamai dirinya dengan simbol-simbol “ISLAM”.

Ironi memang, jika teriakan “Allahu Akbar” yang mulia tidak berbanding lurus dengan ucapan lisan yang tak terkontrol, atau gerakan tangan yang liar, tercela dan merusak. Mungkin kita harus kembali kepada kitab suci yang mengajarkan komunikasi dalam bingkai adab, kesopanan dan kesantunan.

Dalam komunikasi dakwah misalnya, keramahan dan kesantunan sangat ditekankan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Musa as. dan Harun as. agar berkata yang lembut kepada Fir’aun.

Kepada Fir’aun yang kezalimannya sudah melampaui batas saja, tetap dianjurkan untuk bersoft speech, apalagi kepada pemimpin, atau siapa saja yang masih beriman dan melaksanakan kewajiban agamanya, meskipun dalam pandangan subjektif kita mereka masih belum sepenuhnya mempraktikan  keadilan.

Di sinilah pentingnya merefresh kembali model dan strategi gerakan kemahasiswan yang suci, murni, konsisten dan konsekwen agar tidak terdegradasi oleh perilaku anarki, dan hate speech di mimbar orasi yang berakhir di meja polisi.

Mungkin hari ini kita harus banyak belajar lagi, dari beberapa kasus demonstrasi suci berujung benci. Sebut saja kasus terakhir yang dilakoni oleh Yunus Pasau, mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Gorontalo dari organisasi kemahahasiswaan Islam ternama pula.

Hate Speechnya kepada sang presiden yang beraroma “seksual sensitif” dan memang telah melampaui batas-batas kesopanan dan kesantunan, yang digelar di Bundaran Perlimaan Telaga pada Jumat, 02/09/22 itu berbalas bullian, cacian dan parodi nyinyiran dari publik dan warganet. Meskipun akhirnya yang bersangkutan telah melayangkan permohonan maaf melalui  media sosial.

Akhirnya, pepatah ini ternyata masih up to date untuk direnungkan : “Mulutmu Harimaumu”

#SalamSantun

Penulis : Pemerhati Sosial dan Keagamaan

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menertawakan Kekuasaan

    Menertawakan Kekuasaan

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 496
    • 0Komentar

    Orang kecil itu sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma capek. Capek mendengar janji, capek membaca berita korupsi, capek melihat pejabat miskin di LHKPN tapi kaya di pesta pernikahan anaknya. Maka jangan heran kalau rakyat akhirnya memilih tertawa. Karena kalau tidak tertawa, bisa-bisa marah. Dan kalau marah terus, tekanan darah naik, sementara kebijakan tidak pernah turun. Dalam […]

  • Pendidikan Inklusi: Merangkul Perbedaan, Menguatkan Kemanusiaan

    Pendidikan Inklusi: Merangkul Perbedaan, Menguatkan Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 170
    • 2Komentar

    Nulondalo.com. Denpasar- Keberagaman adalah kenyataan yang melekat dalam kehidupan manusia. Tidak ada dua individu yang lahir dengan kondisi yang benar-benar sama. Perbedaan kemampuan, latar belakang sosial, budaya, ekonomi, hingga kondisi fisik merupakan bagian dari mozaik kehidupan yang membentuk masyarakat. Kehadiran kelompok disabilitas dalam perbincangan publik menjadi penanda bahwa masyarakat semakin menyadari kekayaan keberagaman tersebut. Dalam […]

  • Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    Nasionalisme: Etalase Kekuasaan dan Imajinasi yang Terbajak

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 532
    • 0Komentar

    Nasionalisme berangkat dari pertanyaan paling mendasar tentang manusia: siapa saya dan di mana posisi saya. Jawaban atas identitas inilah yang kemudian membimbing cara hidup, pilihan moral, dan tindakan politik. Dalam kerangka ini, bangsa diposisikan sebagai komunitas utama yang membentuk kewajiban normatif individu. Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Benedict Anderson yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah […]

  • Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi dan pelaku pasar. Salah satu kritik datang dari intelektual Nahdlatul Ulama sekaligus ekonom, Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, yang menilai dinamika tersebut memunculkan kekhawatiran terkait independensi lembaga moneter. Dalam tulisan opininya yang berjudul; “Pasar Masuk Angin” tayang di […]

  • Aktivis Pohuwato Desak Gubernur Gusnar Ismail Advokasi Revisi Permen ESDM 18/2025

    Aktivis Pohuwato Desak Gubernur Gusnar Ismail Advokasi Revisi Permen ESDM 18/2025

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 448
    • 0Komentar

    nulondalo.com  –  Aktivis asal Kabupaten Pohuwato, Muhajir Laindi, mendesak Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail untuk mengambil langkah lebih konkret dalam menyelesaikan persoalan pertambangan rakyat di daerah tersebut. Ia meminta pemerintah provinsi tidak hanya berfokus pada percepatan penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), tetapi juga aktif mengadvokasi revisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2025 yang dinilai belum […]

  • Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Terkait penanganan sejumlah kasus korupsi di Kota Gorontalo yang dinilai lamban, ratusan massa aksi seruduk Kantor Wali Kota Gorontalo, pada Senin (17/3/2025). Pemerintahan Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel diminta untuk tidak tinggal diam dalam penanganan kasus korupsi di Kota Gorontalo yang telah merugikan negara ratusan rupiah. Meski sibuk dalam penanganan […]

expand_less