Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Karomah Palsu

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 348
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak pengajian NU, sering kita dengar nasihat klasik: “Nandur pari ojo ngarep panen jagung.” Menanam padi jangan berharap panen jagung. Sayangnya, dalam dunia investasi bodong, pepatah ini dibalik: modal ditanam sedikit, yang dijanjikan panen raya, bahkan sebelum subuh.

Investasi bodong adalah fenomena ekonomi yang aneh tapi nyata. Ia bukan sekadar persoalan keuangan, melainkan gabungan antara keserakahan, keputusasaan, dan kepolosan massal yang dibungkus presentasi PowerPoint dan testimoni berfoto di depan mobil sewaan. Secara ilmiah, ini dikenal sebagai skema Ponzi, di mana keuntungan investor lama dibayar dari uang investor baru. Tidak ada usaha produktif, hanya perpindahan uang yang disertai doa agar korban berikutnya datang tepat waktu.

Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin beliau akan berkata, “Ini bukan investasi, ini arisan nasional, bedanya, yang terakhir setor malah paling rugi.”

Kasus internasional seperti Bernie Madoff menunjukkan bahwa investasi bodong bukan penyakit orang miskin saja. Madoff menipu investor global hingga puluhan miliar dolar. Ironisnya, para korban adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Ini membuktikan satu hal: IQ tinggi tidak otomatis kebal dari iming-iming untung besar.

Di Indonesia, kasus First Travel, Pandawa Group, hingga MeMiles adalah contoh lokal dari fenomena global. Polanya mirip: janji keuntungan tetap, narasi religius atau nasionalis, dan kalimat sakti: “Ini aman, sudah banyak yang dapat.” Dalam logika NU, ini mirip cerita karomah palsu: ramai diceritakan, tapi tak pernah jelas sanadnya.

Humor ala pesantren akan nyeletuk: “Kalau benar untungnya segitu, kenapa pemiliknya masih sempat ngajak orang lain?”

Dalam perspektif fiqh muamalah NU, investasi bodong bermasalah sejak niat. Akadnya tidak jelas, risikonya disembunyikan, dan keuntungannya dipastikan. Ini melanggar prinsip gharar (ketidakpastian berlebihan) dan dharar (menimbulkan kerugian). Singkatnya: ini bukan bisnis, ini jebakan yang rapi.

Gus Dur pernah menyindir logika semacam ini dengan gaya santainya: “Kalau rezeki bisa dipastikan, nabi-nabi sudah bikin koperasi.” Maka ketika sebuah investasi menjanjikan keuntungan pasti 20–30% per bulan, sebenarnya ia sedang menampar wajah ekonomi modern dan akal sehat sekaligus.

Di era digital, investasi bodong tidak lagi datang lewat brosur lusuh, melainkan lewat aplikasi canggih, akun Instagram kinclong, dan grup WhatsApp bernama ‘Komunitas Cuan Berkah’. Modus pig-butchering scam berkembang: pelaku membangun kepercayaan emosional, lalu menawarkan investasi palsu.

Ini seperti pengajian tanpa kitab: ramai, semangat, tapi isinya kosong. NU punya istilah pas: rame ing gawe, sepi ing isi. Yang ramai hanya notifikasi, yang sepi adalah saldo.

Humor Gus Dur relevan di sini: “Sekarang setan tidak lagi menunggu di perempatan, tapi di notifikasi HP.”

Pertama, literasi keuangan rendah. Kedua, ketimpangan ekonomi membuat orang tergoda jalan pintas. Ketiga, otoritas simbolik: pelaku sering memakai atribut agama, gelar, atau foto bersama tokoh. Dalam kultur NU, ini berbahaya karena kepercayaan sosial diperdagangkan.

Padahal dalam tradisi NU, kepercayaan itu amanah, bukan aset untuk dikapitalisasi. Menipu dengan dalih agama bukan hanya kejahatan ekonomi, tapi kejahatan moral.

Investasi bodong bukan sekadar urusan uang, tapi ujian akal sehat kolektif. NU mengajarkan sikap tawassuth (moderat): berani berusaha, tapi tidak rakus. Gus Dur mengajarkan humor sebagai senjata kritik: tertawa agar tidak tertipu.

Maka, jika ada yang menawarkan investasi dengan janji “cuan pasti”, ingat pesan Gus Dur versi ekonomi: “Kalau hidup bisa instan, santri tak perlu ngaji bertahun-tahun.”

Dan seperti pesan kiai di kampung: rezeki itu berkah kalau jelas asal-usulnya. Kalau tidak jelas, biasanya cuma jelas satu hal: yang kaya pelakunya, yang capek korbannya.

Penulis : Intelektual Muda NU Indonesia Timur dan Akademisi UNUSIA Jakarta

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Curanmor Kilat di Tigaraksa Terekam CCTV, Polisi Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan

    Curanmor Kilat di Tigaraksa Terekam CCTV, Polisi Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 326
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) kembali terjadi di wilayah Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (26/3/2026). Kejadian ini menjadi sorotan setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang memperlihatkan aksi cepat para pelaku viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di Kampung Bolang, Desa Pasir Bolang. Dalam video yang beredar, terlihat dua orang pelaku menjalankan aksi […]

  • Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – Dugaan kasus yang menyeret Sekretaris Daerah (Sekda) Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, terus menguat. Komite Perjuangan Rakyat (Kopra Institute) meminta Bupati dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) tidak tinggal diam. Direktur Kopra Institute, Faisal Habeba, menegaskan bahwa dugaan yang mencuat, khususnya terkait praktik judi online (judol), harus segera ditindaklanjuti secara serius. “Ini […]

  • Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 425
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Isu pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (P-BMR) kembali memantik perdebatan tajam di Sulawesi Utara. Setelah Muhamad Ersad Mamonto menyampaikan kritik konseptual terhadap fondasi historis dan relasi kuasa dalam wacana P-BMR, penolakan keras juga datang dari Ketua KNPI Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Donal Palandi. Dalam responsnya terhadap tulisan Tyo Mokoagow berjudul: “Dekonstruksi PBMR”, Ersad […]

  • Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

    Paradigma yang Berkembang: Menempatkan “Mahkota Ilmu” sebagai Proses Dialektis-Epistemologis

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
    • visibility 877
    • 0Komentar

    Pengantar Tulisan ini merupakan respon atas kritik Tarmizi Abbas terhadap sanggahan saya sebelumnya. Ia menulis sangat baik, “Tak Ada Yang Integratif Dari ‘Epistemologi Integratif’ dalam Paradigma Makuta Ilmu: Itu Kesesatannya” (10 Januari 2026) di nulondalo.com. Saya tetap mengapresiasi, serta belajar banyak hal dari kritik tersebut. Sebelumnya, diskursus melalui beberapa tulisan dengan Tarmizi Abbas, dipantik dari […]

  • Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Pada edisi terakhir tulisan Ramadan tahun 2026 ini, saya menutupnya dengan kisah seorang tokoh yang unik dan penuh teladan: Uwais al-Qarni. Namanya mungkin terdengar asing dibanding tokoh-tokoh sahabat yang lain, tetapi kisah hidupnya menyimpan pelajaran yang mendalam tentang kesalehan, ketulusan, dan bakti kepada orang tua. Meskipun hidup sezaman dengan Nabi Muhammad, Uwais tidak dikategorikan sebagai […]

  • Tingkat Hunian Lapas Medan Didominasi Narapidana Narkotika

    Tingkat Hunian Lapas Medan Didominasi Narapidana Narkotika

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 345
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Tingkat hunian Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Medan didominasi oleh narapidana kasus narkotika. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Pemasyarakatan Komisi XIII DPR RI, sekitar 70 persen warga binaan di Lapas Kelas I Medan merupakan pelaku tindak pidana narkoba. Data tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja Panja Pemasyarakatan Komisi XIII […]

expand_less