Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Arus Balik dari Sebuah Negeri yang Tidak Dibiarkan Berkuasa

  • account_circle Muhammad Suryadi R
  • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
  • visibility 466
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin.” Kalimat ini ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Baliknya. Ia seakan memberi tahu dengan seksama bahwa kalimat itu tak hanya sekadar nostalgia sejarah. Tetapi merupakan sebuah pernyataan geopolitik yang tajam.

Kalimat itu seolah menantang asumsi modern bahwa pusat dunia selalu berada di utara, bahwa kemajuan selalu datang dari Barat, dan bahwa bangsa-bangsa di selatan hanyalah objek sejarah. Pramoedya mengingatkan kita bahwa pernah ada masa ketika Nusantara menjadi poros pergerakan dunia, bukan pinggiran, bukan pelengkap, melainkan pusat arus.

Di masa itu, arus bergerak keluar dari kepulauan Nusantara. Kapal-kapal berangkat dari pelabuhan membawa komoditas, gagasan, dan bergerak ke India, Timur Tengah, hingga Eropa membawa pengaruh. Jalur rempah bukan hanya rute perdagangan, tetapi jaringan peradaban. Nusantara bisa adalah simpul yang menghubungkan dunia Timur dan Barat, Selatan dan Utara.

Tetapi sejarah tidak membeku. Arus itu berbalik arah. Nusantara yang semula menjadi pengendali arus, berubah menjadi wilayah yang dialiri kekuatan asing. Dari subjek sejarah, Nusantara menjelma objek perebutan. Dari pusat dunia menjadi wilayah perebutan kekuatan besar penjajah.

Arus balik inilah yang membentuk wajah Indonesia modern. Di dalamnya tersimpan apa yang kita disebut sebagai kutukan jalur rempah, yakni sebuah ironi panjang, di mana kekayaan justru mengundang penaklukan, dan posisi strategis justru menghabisi kedaulatan penuh.

Jalur Rempah dan Permulaan Takdir Geopolitik

Jalur rempah sering dibingkai sebagai cerita ekonomi masa lalu. Tentang cengkeh, pala, lada, dan kayu manis yang harganya melambung di pasar Eropa. Namun, pembacaan semacam ini terlalu sempit. Jalur rempah sejatinya adalah fondasi geopolitik dunia pra-modern.

Rempah-rempah pada masanya setara dengan teknologi strategis hari ini. Ia bukan sekadar bumbu, tetapi pengawet makanan, obat-obatan, simbol status sosial, bahkan alat kekuasaan itu sendiri atau “siapa yang menguasai rempah-rempah akan menguasai dunia” sebagaimana jargon kolonialisme kuno.

Dalam konteks inilah, Nusantara berada pada posisi yang hampir mustahil diabaikan. Letaknya yang berada di antara dua samudra besar, di persilangan jalur dagang dunia lalu menjadikannya wilayah yang secara alamiah ditakdirkan sebagai poros maritim. Selat Malaka, Laut Jawa, Laut Banda, dan jalur kepulauan Indonesia bukan hanya perairan, melainkan nadi pergerakan laut dunia.

Kerajaan-kerajaan maritim Nusantara memahami logika ini. Sriwijaya membangun kekuasaan bukan melalui ekspansi teritorial darat, melainkan melalui pengendalian simpul-simpul laut. Majapahit menegaskan hegemoni bukan hanya dengan kekuatan militer, tetapi melalui jaringan loyalitas dan perdagangan. Ternate dan Tidore menguasai dunia karena menguasai sumber rempah.

Kekuasaan pada masa itu bersifat cair dan adaptif. Tidak ada batas negara seperti hari ini, tetapi memiliki pengaruh, aliansi, dan pengakuan. Nusantara hidup dalam sistem dunia yang relatif seimbang, sebelum datangnya gangguan besar dari luar.

Gold, Glory, Gospel: Ideologi yang Mengubah Arus

Tetapi kemudian keseimbangan ini runtuh ketika Eropa membuka babak ekspedisi benua. Kekalahannya di Konstantinopel mendorong pelayaran ke benua baru menemukan sumber baru rempah-rempah. Dalih rempah-rempah berubah menjadi akumulasi kekayaan dan penaklukan wilayah. Era Portugis dan Spanyol yang memulai ekspansi ke dunia Barat dan Timur menjadi titik awal kelahiran ideologi Gold, Gold, Gospel.

Gold adalah motif utama. Kapitalisme awal membutuhkan sumber daya baru untuk menopang pertumbuhan. Rempah-rempah Nusantara menawarkan keuntungan luar biasa. Namun keuntungan itu hanya bisa dimaksimalkan melalui monopoli dan kekerasan. Penguasaan atas rempah-rempah ini menjadi titik balik bagi Eropa menjadi kekuatan yang berpengaruh di abad 21 sebagimana catatan Henry Kissinger.

Glory menyusul sebagai supremasi politik. Legitimasi yang diawali dengan penaklukkan menjadi simbol kejayaan negara dan panglima. Koloni bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga alat supremasi geopolitik.

Gospel selanjutnya menjadi klaim pembenaran moral. Kristenisasi di wilayah jajahan dibingkai sebagai misi peradaban dan pengadaban. Kekerasan dihaluskan dengan narasi keimanan.

Dalam kerangka ini, Nusantara tidak dilihat sebagai peradaban setara, melainkan sebagai ruang kosong yang sah untuk dikuasai. Struktur politik lokal dilemahkan. Elite tradisional dipecah dan dimanfaatkan. Jalur rempah yang semula menjadi sarana interaksi setara, berubah menjadi jalur penaklukan.

Kolonialisme tidak berhenti pada penguasaan fisik, tetapi sekaligus membangun sistem. Ekonomi dikonfigurasi agar berorientasi keluar, pendidikan didesain untuk mencetak tenaga administratif, bukan pemikir kritis, dan hukum disusun untuk melindungi kepentingan kolonial. Inilah awal dari struktur ketergantungan yang panjang.

Dari sinilah kutukan jalur rempah bermula. Kekayaan melimpah ruah Nusantara menjadi alasan utama penjajahan yang menghancurkan kemampuan Nusantara mengelola kekayaannya sendiri.

Dari sisi perekonimian, industri ekstraktif meninggalkan jejak ketimpangan. Infrastruktur dibangun bukan untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk memperlancar arus komoditas ke luar meninggalkan negeri. Negara kolonial tidak membutuhkan masyarakat yang sejahtera dan mandiri, tetapi masyarakat yang stabil dan patuh.

Lebih jauh lagi, kolonialisme meninggalkan warisan mentalitas. Ketergantungan pada kekuatan luar menjadi hal yang dinormalisasi. Keputusan strategis dipandang sebagai sesuatu yang datang dari luar. Elite lokal lebih sering menjadi perantara daripada pemimpin.

Ketika bangsa ini merdeka, Indonesia tidak dibangun dari nol, tetapi dari struktur yang sudah timpang. Negara baru ini harus bernegosiasi dengan sistem dunia yang sudah mapan, di mana posisi Indonesia telah lama ditetapkan sebagai pemasok bahan mentah dan pasar.

Perubahan zaman terjadi, komoditas berubah, tetapi pola tetap sama. Hari ini, rempah telah digantikan oleh minyak, gas, batu bara, nikel, sawit, dan mineral strategis lainnya. Bahkan data dan lokasi geografis Indonesia kini menjadi komoditas geopolitik.

Transisi energi global menjadikan nikel Indonesia sangat penting. Ketegangan geopolitik menjadikan jalur laut Indonesia semakin strategis. Indonesia kembali menjadi pusat perhatian dunia.

Namun perhatian tidak selalu berarti kedaulatan. Tanpa penguasaan teknologi, modal, dan pasar, Indonesia berisiko kembali menjadi objek. Hilirisasi tanpa inovasi bisa menjadi bentuk baru ekstraksi. Pabrik berdiri, tetapi kendali tetap berada di luar. Sejarah seolah berulang, dengan aktor berbeda dan bahasa yang lebih soft.

Membalik Arus sebagai Agenda Masa Depan

Secara geopolitik, Indonesia sebetulnya adalah negara kunci. Ia berada di persilangan kepentingan global. Tetapi kunci tidak selalu membuka pintu. Kadang ia hanya menjadi alat bagi orang lain.

Politik luar negeri bebas aktif memberi ruang manuver, tetapi juga menuntut kejelasan visi. Tanpa strategi jangka panjang, kebebasan bisa berubah menjadi reaksi semata.
Indonesia sering kali sibuk menjaga keseimbangan, tetapi kurang berani dan tegas dalam langkah.

Di dalam negeri, tantangan struktural masih besar. Ketimpangannya adalah lemahnya riset, dan ketergantungan ekonomi mengurangi daya tawar. Indonesia penting, tetapi belum sepenuhnya berkuasa atas posisinya sendiri. Membalik kutukan jalur rempah bukan tugas generasi yang jadi semalaman, tetapi menuntut perubahan rancang-bangun.

Pertama, Indonesia harus menggeser orientasi dari ekstraksi ke penciptaan nilai. Kekayaan alam harus menjadi basis industrialisasi dan inovasi, bukan tujuan akhir.

Kedua, Indonesia harus membangun kedaulatan pengetahuan. Tanpa penguasaan sains dan teknologi, posisi strategis hanya akan diambil alih oleh kekuatan lain.

Ketiga, Indonesia perlu merumuskan ulang perannya di panggung dunia. Bukan sebatas penyeimbang, tetapi pengarah. Jalur rempah dapat dire-imajinasikan sebagai jalur kerja sama Selatan-Selatan, bukan nostalgia kosong.

Pramoedya mengingatkan kita bahwa arus pernah mengalir dari selatan ke utara. Artinya, dunia pernah mendatangi Nusantara dengan hormat, bukan dengan meriam. Kendati arus sejarah tidak pernah netral, ia kadang dibentuk oleh kekuasaan. Jika Indonesia ingin mengakhiri kutukan jalur rempah, Indonesia harus berani menjadi subjek sejarahnya sendiri.

Negeri ini tidak miskin. Negara hanya terlalu lama tidak dibiarkan berkuasa. Dan masa depan Indonesia akan ditentukan oleh keberaniannya untuk membalik arus, bukan dengan retorika dan memukul-mukul podium, tetapi dengan strategi, kesadaran, dan kedaulatan.

(Penulis Buku Pengetahuan Sebagai Strategi, Sekertaris PC GP Ansor Barru)

  • Penulis: Muhammad Suryadi R
  • Editor: Muhammad Suryadi R

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sebanyak 499 Warga Miskin di Boalemo Terima BLP3G

    Sebanyak 499 Warga Miskin di Boalemo Terima BLP3G

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Sebanyak 499 warga kurang mampu atau Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Boalemo menerima Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G). Jumlah tersebut terdiri dari 272 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kecamatan Tilamuta, 129 KPM di Botumoito, serta 98 KPM tersebar di Kecamatan Mananggu. “Distribusinya dilakukan oleh Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah. Selain BLP3G, ada […]

  • Aliansi Anak Muda Nahdliyyin Maluku Utara Tuntut Bebaskan 11 aktivis Pejuang Lingkungan dan Cabut IUP PT Position

    Aliansi Anak Muda Nahdliyyin Maluku Utara Tuntut Bebaskan 11 aktivis Pejuang Lingkungan dan Cabut IUP PT Position

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Aliansi Anak Muda Nahdliyin Maluku Utara menggelar aksi demonstrasi pada Selasa (3/6), menuntut pembebasan 11 warga Maba Sangaji yang ditahan oleh Polda Maluku Utara serta pencabutan izin tambang PT Position yang dianggap menyerobot lahan masyarakat adat dan merusak lingkungan. Selasa, 3 Juni 2025. Aksi dimulai sekitar pukul 13.20 WIT dengan titik kumpul di depan lankmart […]

  • Tersesat di Antara Makna: Tanggapan terhadap Donald Tungkagi soal Makuta Ilmu sebagai Paradigma Epistemologi UIN Smart

    Tersesat di Antara Makna: Tanggapan terhadap Donald Tungkagi soal Makuta Ilmu sebagai Paradigma Epistemologi UIN Smart

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 1.376
    • 0Komentar

    Sebagai seorang alumni, ketika mendengar kabar baik bahwa IAIN Sultan Amai Gorontalo sedikit lagi menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo (selanjutnya: UIN Smart), saya kegirangan minta ampun. Saya tahu prosesnya amat lama, melibatkan banyak sekali pihak, dan pekerjaan yang tidak mudah. Pada 17 Oktober 2025, alhasil terbit surat MenPAN-RB kepada presiden tentang Permohonan Izin Prakarsa Penyusunan […]

  • Bulan Mei Transportasi Angkutan Udara Gorontalo Lesu

    Bulan Mei Transportasi Angkutan Udara Gorontalo Lesu

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Jumlah pesawat yang berangkat dari Bandara Djalaluddin dan Bandara Panua Pohuwato pada Mei 2025 sebanyak 163 penerbangan atau menurun 9,94 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebanyak 181 penerbangan. Jumlah pesawat yang datang di kedua bandara tersebut pada Mei 2025 sebanyak 163 penerbangan, atau menurun 9,94 persen dibanding pada April 2025 yang tercatat sebanyak […]

  • Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti SDN 215 Inpres Taipa, Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, saat bangunan sekolah yang telah lama dinantikan akhirnya diresmikan, baru-baru ini. Peresmian tersebut langsung dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, S.STP., MM, disaksikan para guru se-Kecamatan Maros Baru, jajaran Dinas […]

  • Salat Id Lebih Awal di Depok, Warga Ikuti Rukyatul Hilal Global

    Salat Id Lebih Awal di Depok, Warga Ikuti Rukyatul Hilal Global

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 427
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sejumlah warga Muslim di Depok melaksanakan salat Idulfitri lebih awal pada Kamis (19/3/2026) pagi. Pelaksanaan ini dilakukan berdasarkan rujukan rukyatul hilal global yang dilaporkan terlihat di Afghanistan. Kegiatan salat Id tersebut berlangsung di lapangan terbuka di depan sebuah restoran dan diikuti oleh jamaah dalam jumlah terbatas. Momen ini juga sempat dibagikan melalui video […]

expand_less