Breaking News
light_mode
Trending Tags

Cerdas dalam Memaknai Isra dan Mi’raj

  • account_circle Ilham Sopu
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 224
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Salah satu peristiwa agung yang wajib diimani oleh umat Islam adalah peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa ini secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Isra ayat 1. Allah Swt. membuka ayat tersebut dengan kata Subḥāna (Mahasuci). Dalam kajian Ulumul Qur’an, apabila suatu ayat atau surah diawali dengan kata Subḥāna atau Tabāraka, maka hal itu menandakan adanya peristiwa luar biasa (keajaiban ilahiah) yang tidak cukup dipahami hanya dengan pendekatan rasional, melainkan juga membutuhkan penghayatan dan perenungan spiritual yang mendalam.

Peristiwa Isra dan Mi’raj perlu dipahami secara holistik, dengan melihat konteks historis, psikologis, dan spiritual yang melingkupinya. Sebelum peristiwa agung ini terjadi, Nabi Muhammad Saw. mengalami ujian yang sangat berat. Dua sosok terdekat dan terpenting dalam hidup beliau—istri tercinta Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib—telah dipanggil oleh Allah Swt.

Khadijah adalah sumber ketenangan dan penguat mental Nabi. Seluruh harta dan jiwa raganya diabdikan untuk mendukung misi dakwah Rasulullah Saw. Sementara Abu Thalib tampil sebagai pelindung utama Nabi dari tekanan dan kekerasan kaum Quraisy yang menentang dakwah Islam. Dengan wafatnya dua tokoh sentral ini, Nabi kehilangan tempat bersandar secara emosional sekaligus pelindung secara sosial.

Tahun itu dikenal dalam sejarah Islam sebagai “Āmul Ḥuzn” (Tahun Kesedihan), sebuah fase ujian berat yang menguji kematangan spiritual dan emosional Nabi. Secara teologis, peristiwa ini dapat dipahami sebagai bagian dari skenario ilahiah untuk mempersiapkan Rasulullah Saw. menghadapi misi dakwah yang lebih besar di masa mendatang.

Pasca kepergian Khadijah dan Abu Thalib, Allah Swt. mengajak Nabi Muhammad Saw. melakukan sebuah perjalanan istimewa—sebuah “rekreasi ilahiah” yang bersifat intelektual, emosional, dan spiritual. Isra dan Mi’raj menjadi sarana penghiburan, penguatan, sekaligus pencerahan bagi Rasulullah Saw., dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 1:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Isra adalah “linuriyahu min āyātinā”—agar Allah memperlihatkan kepada Nabi sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Di Masjid Al-Aqsha, Nabi Muhammad Saw. dipertemukan dengan para nabi terdahulu. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa jumlah para nabi mencapai sekitar 120 ribu orang, dengan 313 di antaranya adalah rasul. Nabi Muhammad Saw. mengimami shalat bersama mereka, sekaligus menegaskan posisi beliau sebagai penutup para nabi.

Pertemuan ini bukan sekadar simbolik, tetapi sarat makna. Nabi berdialog dan mengambil pelajaran dari sejarah perjuangan para nabi sebelumnya. Sejarah kenabian adalah sejarah perjuangan, penuh tantangan, penolakan, dan penderitaan. Tidak ada seorang nabi pun yang terbebas dari ujian kaumnya. Dari sinilah Rasulullah Saw. memperoleh penguatan mental dan refleksi mendalam dalam menghadapi tantangan dakwah ke depan.

Dalam perjalanan Isra, Nabi mendapatkan pencerahan intelektual yang diterjemahkan oleh Malaikat Jibril melalui dialog intens sepanjang perjalanan. Beliau juga memperoleh pengayaan emosional—belajar tentang kesabaran, keteguhan, dan manajemen emosi dalam menghadapi umat yang keras dan menentang kebenaran.

Setelah perjalanan horizontal (Isra), Allah Swt. mengangkat Nabi dalam perjalanan vertikal (Mi’raj), menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Secara bahasa, Sidratul Muntaha berarti pohon bidara di batas tertinggi. Secara simbolik, ia melambangkan puncak kedamaian, ketenangan, dan kebijaksanaan tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia pilihan.

Sidratul Muntaha juga dimaknai sebagai batas akhir pengetahuan makhluk, tempat di mana tidak ada lagi kebijaksanaan yang lebih tinggi setelahnya. Makna lain dari sidrah adalah kerindangan dan keteduhan—simbol ketenteraman batin yang paripurna.

Ketika Nabi Muhammad Saw. mencapai Sidratul Muntaha, beliau berada pada puncak kedekatan spiritual dengan Allah Swt. Di sanalah Rasulullah Saw. memperoleh pencerahan spiritual tertinggi, merasakan kehadiran Ilahi secara paling intim dan mendalam. Inilah klimaks dari perjalanan Isra dan Mi’raj.

Dari peristiwa agung ini, Nabi Muhammad Saw. memperoleh setidaknya tiga bentuk kecerdasan sekaligus: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Ketiganya menjadi bekal utama dalam melanjutkan misi dakwah yang penuh tantangan.

Semoga melalui perenungan peristiwa Isra dan Mi’raj, kita tidak hanya merayakannya secara seremonial, tetapi juga mampu meningkatkan ketiga kecerdasan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Penulis: Ilham Sopu

  • Penulis: Ilham Sopu
  • Editor: Ilham Sopu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MUI Keluarkan Tausiyah tentang Pentingnya Menjaga Kedaulatan Negara untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia

    MUI Keluarkan Tausiyah tentang Pentingnya Menjaga Kedaulatan Negara untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 172
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan tausiyah berisi tujuh poin mengenai pentingnya menjaga kedaulatan negara dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia. Tausiyah tersebut tertuang dalam surat bernomor Kep-30/DP-MUI/III/2026. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Anwar Iskandar dan Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam pernyataannya, MUI menyampaikan keprihatinan terhadap perkembangan […]

  • Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    Neraca di Balik Peluru: Mengukur Efisiensi Akuntansi Perang Iran, AS, dan Israel

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Angca Aldafa
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah sering kali diukur dari intensitas pertempuran atau kerugian infrastruktur yang terpampang di permukaan media. Namun, dalam perspektif akuntansi pemerintahan, dampak sesungguhnya terletak pada kemampuan negara dalam mencatat, mengklasifikasikan, dan mempertanggungjawabkan beban fiskal yang ditimbulkan. Angka pengeluaran langsung mulai dari pengadaan alutsista, logistik tempur, hingga rehabilitasi wilayah terdampak hanyalah representasi […]

  • Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Tamim al-Dari adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari wilayah Palestina di kawasan Syam. Sebelum memeluk Islam, Tamim dikenal sebagai seorang rahib atau pendeta Kristen. Ia hidup dalam tradisi keagamaan yang kuat dan terbiasa dengan kehidupan ibadah. Dalam literatur biografi sahabat seperti Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab dan Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Tamim disebut sebagai […]

  • Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Dalam sejarah Islam, banyak perempuan tampil sebagai figur yang memberi kontribusi penting dalam membentuk kehidupan spiritual umat. Khadijah dikenal karena keteguhan dan dukungannya pada masa awal dakwah, baik secara moral maupun material. Aisyah menjadi rujukan utama dalam periwayatan hadis dan persoalan-persoalan hukum, menunjukkan kedalaman pengetahuan dan ketajaman intelektualnya. Fatimah dihormati karena kesederhanaan, keteguhan sikap, dan […]

  • Menghidupkan Kembali Gagasan Gus Dur: Tantangan bagi NU di Daerah

    Menghidupkan Kembali Gagasan Gus Dur: Tantangan bagi NU di Daerah

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Salah satu agenda penting Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum dan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam adalah menghidupkan kembali pemikiran KH. Abdurrahman Wahid, atau yang akrab dikenal sebagai Gus Dur. Pertanyaannya, seperti apa upaya menghidupkan gagasan tersebut, dan bagaimana implikasinya bagi NU di tingkat daerah? […]

  • A-Space Gorontalo Tunjang Pekerjaan dan Lifestyle

    A-Space Gorontalo Tunjang Pekerjaan dan Lifestyle

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Seiring dengan perkembangan tren di kalangan anak muda, pertumbuhan tempat-tempat berkumpul seperti cafe mulai tersebar luas di kota-kota besar Indonesia. Perkembangan ini akan mendorong pertumbuhan Kota Gorontalo sebagai ibukota provinsi, juga menjadi barometer kemajuan daerah ini, terutama di bidang pariwisata.   Tidak hanya sebagai tempat makan atau hangout, kini cafe pun juga menjadi sasaran empuk untuk […]

expand_less