Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Cerdas dalam Memaknai Isra dan Mi’raj

  • account_circle Ilham Sopu
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 244
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Salah satu peristiwa agung yang wajib diimani oleh umat Islam adalah peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Peristiwa ini secara tegas disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Isra ayat 1. Allah Swt. membuka ayat tersebut dengan kata Subḥāna (Mahasuci). Dalam kajian Ulumul Qur’an, apabila suatu ayat atau surah diawali dengan kata Subḥāna atau Tabāraka, maka hal itu menandakan adanya peristiwa luar biasa (keajaiban ilahiah) yang tidak cukup dipahami hanya dengan pendekatan rasional, melainkan juga membutuhkan penghayatan dan perenungan spiritual yang mendalam.

Peristiwa Isra dan Mi’raj perlu dipahami secara holistik, dengan melihat konteks historis, psikologis, dan spiritual yang melingkupinya. Sebelum peristiwa agung ini terjadi, Nabi Muhammad Saw. mengalami ujian yang sangat berat. Dua sosok terdekat dan terpenting dalam hidup beliau—istri tercinta Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib—telah dipanggil oleh Allah Swt.

Khadijah adalah sumber ketenangan dan penguat mental Nabi. Seluruh harta dan jiwa raganya diabdikan untuk mendukung misi dakwah Rasulullah Saw. Sementara Abu Thalib tampil sebagai pelindung utama Nabi dari tekanan dan kekerasan kaum Quraisy yang menentang dakwah Islam. Dengan wafatnya dua tokoh sentral ini, Nabi kehilangan tempat bersandar secara emosional sekaligus pelindung secara sosial.

Tahun itu dikenal dalam sejarah Islam sebagai “Āmul Ḥuzn” (Tahun Kesedihan), sebuah fase ujian berat yang menguji kematangan spiritual dan emosional Nabi. Secara teologis, peristiwa ini dapat dipahami sebagai bagian dari skenario ilahiah untuk mempersiapkan Rasulullah Saw. menghadapi misi dakwah yang lebih besar di masa mendatang.

Pasca kepergian Khadijah dan Abu Thalib, Allah Swt. mengajak Nabi Muhammad Saw. melakukan sebuah perjalanan istimewa—sebuah “rekreasi ilahiah” yang bersifat intelektual, emosional, dan spiritual. Isra dan Mi’raj menjadi sarana penghiburan, penguatan, sekaligus pencerahan bagi Rasulullah Saw., dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 1:

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Isra adalah “linuriyahu min āyātinā”—agar Allah memperlihatkan kepada Nabi sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Di Masjid Al-Aqsha, Nabi Muhammad Saw. dipertemukan dengan para nabi terdahulu. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa jumlah para nabi mencapai sekitar 120 ribu orang, dengan 313 di antaranya adalah rasul. Nabi Muhammad Saw. mengimami shalat bersama mereka, sekaligus menegaskan posisi beliau sebagai penutup para nabi.

Pertemuan ini bukan sekadar simbolik, tetapi sarat makna. Nabi berdialog dan mengambil pelajaran dari sejarah perjuangan para nabi sebelumnya. Sejarah kenabian adalah sejarah perjuangan, penuh tantangan, penolakan, dan penderitaan. Tidak ada seorang nabi pun yang terbebas dari ujian kaumnya. Dari sinilah Rasulullah Saw. memperoleh penguatan mental dan refleksi mendalam dalam menghadapi tantangan dakwah ke depan.

Dalam perjalanan Isra, Nabi mendapatkan pencerahan intelektual yang diterjemahkan oleh Malaikat Jibril melalui dialog intens sepanjang perjalanan. Beliau juga memperoleh pengayaan emosional—belajar tentang kesabaran, keteguhan, dan manajemen emosi dalam menghadapi umat yang keras dan menentang kebenaran.

Setelah perjalanan horizontal (Isra), Allah Swt. mengangkat Nabi dalam perjalanan vertikal (Mi’raj), menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Secara bahasa, Sidratul Muntaha berarti pohon bidara di batas tertinggi. Secara simbolik, ia melambangkan puncak kedamaian, ketenangan, dan kebijaksanaan tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia pilihan.

Sidratul Muntaha juga dimaknai sebagai batas akhir pengetahuan makhluk, tempat di mana tidak ada lagi kebijaksanaan yang lebih tinggi setelahnya. Makna lain dari sidrah adalah kerindangan dan keteduhan—simbol ketenteraman batin yang paripurna.

Ketika Nabi Muhammad Saw. mencapai Sidratul Muntaha, beliau berada pada puncak kedekatan spiritual dengan Allah Swt. Di sanalah Rasulullah Saw. memperoleh pencerahan spiritual tertinggi, merasakan kehadiran Ilahi secara paling intim dan mendalam. Inilah klimaks dari perjalanan Isra dan Mi’raj.

Dari peristiwa agung ini, Nabi Muhammad Saw. memperoleh setidaknya tiga bentuk kecerdasan sekaligus: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Ketiganya menjadi bekal utama dalam melanjutkan misi dakwah yang penuh tantangan.

Semoga melalui perenungan peristiwa Isra dan Mi’raj, kita tidak hanya merayakannya secara seremonial, tetapi juga mampu meningkatkan ketiga kecerdasan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Penulis: Ilham Sopu

  • Penulis: Ilham Sopu
  • Editor: Ilham Sopu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ringankan Beban Lansia, BUMDes Dulohupa Berbagi di Bulan Puasa photo_camera 2

    Ringankan Beban Lansia, BUMDes Dulohupa Berbagi di Bulan Puasa

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dulohupa Desa Buti, Kecamatan Mananggu, menyalurkan paket sembako kepada sejumlah warga lanjut usia (lansia) di Desa Buti. Program sosial ini menyasar para lansia yang dinilai membutuhkan perhatian lebih, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pokok selama menjalankan ibadah puasa. Direktur BUMDes Dulohupa, Akram Talibana, menjelaskan bahwa paket yang dibagikan berisi […]

  • Wahdah Islamiyah Kota Gorontalo Gelar Mukerda XII, Ismail Madjid Tekankan Pembinaan Pemuda dan Kebersihan Kota

    Wahdah Islamiyah Kota Gorontalo Gelar Mukerda XII, Ismail Madjid Tekankan Pembinaan Pemuda dan Kebersihan Kota

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Kota Gorontalo menggelar Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) XII, Ahad (11/1/2025). Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, yang diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Gorontalo, Ismail Madjid. Dalam sambutannya, Sekda Ismail Madjid menyampaikan sejumlah pesan penting kepada Wahdah Islamiyah, khususnya terkait pembinaan generasi […]

  • Perkuat Metodologi Riset di UCR, Prof. Muhamad Ali Tekankan Menulis sebagai Akhlak Akademik

    Perkuat Metodologi Riset di UCR, Prof. Muhamad Ali Tekankan Menulis sebagai Akhlak Akademik

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 227
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana akademik yang intens mewarnai kegiatan mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) di University of California, Riverside. Pada Kamis (2/4/2026), para mahasiswa mengikuti bimbingan akademik mendalam terkait penulisan tesis dan disertasi. Kegiatan yang berlangsung di ruang INTN 2009, CHASS Interdisciplinary Building ini menghadirkan Muhamad Ali sebagai pembimbing utama. Dalam sesi tersebut, ia […]

  • Sukses Digelar,HARLAH KE 74 dan LDK PD IP DDI Maros Bentuk Kader Muda DDI Berakhlak dan Berdaya Pimpin

    Sukses Digelar,HARLAH KE 74 dan LDK PD IP DDI Maros Bentuk Kader Muda DDI Berakhlak dan Berdaya Pimpin

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,MAROS–Harlah ke 74 IP DDI Dan Semangat spiritual serta kepemimpinan menyatu dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan atau LDK Keagamaan PD IP DDI Kab Maros sukses digelar pada tanggal 24-28 Juni 2026 di Pondok Pesantren Ulumul Qur’an DDI hasanuddin Maros

  • Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal berlangsung meriah dan penuh inspirasi. Salah satu momen yang paling menarik perhatian jamaah adalah kehadiran dai kondangan Tionghoa, Koko Liem, yang membagikan kisah perjalanan spiritualnya memeluk Islam dalam dialog inspiratif yang menggugah hati. Dalam paparannya, Koko Liem menjelaskan bahwa kekagumannya terhadap umat Islam berawal dari tradisi membaca […]

  • Perda Data Desa Presisi: Langkah Strategis Pohuwato Tinggalkan Kebijakan Berbasis Asumsi photo_camera 7

    Perda Data Desa Presisi: Langkah Strategis Pohuwato Tinggalkan Kebijakan Berbasis Asumsi

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 213
    • 0Komentar

    nulondalo.com – DPRD Kabupaten Pohuwato bersama Pemerintah Daerah secara resmi mengesahkan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Berbasis Data Desa dan Kelurahan Presisi dalam Rapat Paripurna ke-29 DPRD Kabupaten Pohuwato. Perda ini diproyeksikan menjadi fondasi baru tata kelola pembangunan daerah yang lebih tepat sasaran, terukur, dan terintegrasi hingga level desa dan kelurahan. Abdullah K. Diko, […]

expand_less